
"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian tidak bisa memikirkan diri sendiri?"
Pria berkacamata itu meninggikan nada bicaranya. Pakaiannya rapi dan mahal. Gaya bicaranya setinggi langit, seakan-akan menganggapnya lebih tinggi dari orang lain.
Orang-orang yang tersisa menundukkan kepalanya, seakan-akan menjauhi masalah dengan orang sepertinya. Beberapa dari mereka menahan emosi, dan beberapa lagi menahan tangis.
Kesunyian kembali menyelimuti gerbong ini, suara deru mesin yang menggebu-gebu menjadi satu-satunya suara yang kudengar saat ini.
Pria kaya itu meraba-raba kantong celananya dengan gemetaran, kemudian dia mengeluarkan sebuah kartu dengan perlahan, seolah-olah lansia yang kehilangan tenaganya.
"De-dengarkan aku. Aku adalah Lee Kuan Shik. Lindungi aku sampai akhir, akan kuberi kalian 500 juta dolar ya?"
Setelah dia mengatakan itu, situasi kembali sunyi. Tidak ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun.
Lee Kuan Shik menunjukkan senyum yang dinodai dengan rasa takut, dan berharap bahwa orang-orang akan menerima tawarannya.
"Ayolah, apa kalian ingin menerima lebih banyak? Ba-bagaimana kalau 600 juta?"
Aku mengangkat kepalaku dan menatap pria itu dengan hina, kemudian aku mencoba untuk berdiri dengan pelan.
Aku menatapnya dengan wajah yang diselubungi emosi. Nafasku terengah-engah, dan aku mencoba untuk menenangkan diri.
Dia melirik kearahku, dan tanpa rasa malu dia melangkah kearahku dengan penuh harapan. Dia berpikir bahwa aku akan tergiur akan tawarannya itu.
"Hei anak muda, aku adalah Lee..."
Aku mengayunkan tanganku sebelum mulutnya selesai berkata-kata. Dia terkejut dan tubuhnya membeku, matanya membelalak seakan-akan hendak keluar.
Cengkraman tanganku menahan lidah monster itu. Ujung lidahnya terbuka dan mengeluarkan gigi-gigi kecil, dan benda itu memberontak hendak melepaskan diri.
Kuan Shik terkejut karena lidah monster itu yang hampir melahapnya. Nafasnya terengah-engah, kemudian dia berteriak sambil meronta kebelakang.
"Monster, monster!!!"
Teriakannya menarik perhatian orang-orang, sehingga mereka langsung panik dan ketakutan.
__ADS_1
Suara histeris langsung memenuhi gerbong ini. Dengan tangan kiriku yang masih mencengkram lidah itu, beberapa monster menampakkan dirinya dari jendela.
Lidah itu meronta-ronta dan aku diombang-ambingkannya dengan keras, membuat kepalaku pusing dan isi perutku hampir kumuntahkan keluar.
"Ugh..ooh!!"
Pada akhirnya aku mengangkat tanganku dan menggantungkan diriku pada sebuah kursi, dan lidah itu masih meronta-ronta seperti seekor ular yang buas.
Lidah itu terus membuka ujungnya dan menunjukkan giginya yang menjijikan, gigi itu disodorkannya kearahku seakan-akan hendak menerkamku.
Aku memundurkan kepalaku dan mencoba untuk menghindari gigitan lidah itu. Di tengah pembantaian berdarah ini, aku tidak bisa meminta bantuan siapapun.
Lidah itu terus memojokkan diriku yang bersandar di kursi itu. Aku melirik kearah samping, dan menemukan sebuah tongkat kasti yang tersimpan didalam sebuah tas.
Aku melihat gertakan-gertakan gigi yang agresif itu, kemudian aku terdiam sejenak, dan langsung mendorong lidah itu dariku.
Dengan cepat aku beranjak dan menyambar tongkat itu, kemudian langsung berbalik dan mengayunkannya kearah lidah itu.
Pukulan telak diarahkan kearah benda itu. Ayunan tongkatku menghantam lidah itu dengan keras, yang dilanjutkan dengan ayunan bertuntun yang dimeriahkan oleh suara eranganku.
Tongkatku meremukkan lidah itu, perasaaan amarah bercampur dalam tongkat itu, sehingga lidah itu terkapar dan darah mengalir keluar.
Monster-monster yang sama mulai berdatangan dan menyantap makan malamnya. Pembantaian terjadi dimana-mana, dan orang-orang berjuang mempertahankan dirinya.
Pria yang menyelamatkanku tadi berjuang mati-matian, dan menahan serangan monster itu dengan gagang sapu yang dipegangnya.
Kaos birunya dibasahi keringat dan dia tertekan ke lantai. Lidah panjang itu terus menyerangnya dengan agresif, dan satu-satunya senjata penahannya hanyalah gagang sapu yang menahan gigi itu.
"Tuan!"
Aku berdiri dan mulai berlari kearahnya. Aku tidak ingin membiarkan penyelamatku mati, dan keringatku menetes-netes ke lantai.
Sebuah lidah diluncurkan dari arah jendela. Pada itu aku sedang mengangkat tanganku, sehingga lidah itu menghancurkan jam tanganku.
Aku terpental kesamping dan membentur deretan kursi itu. Kursi itu terasa empuk, dan sebuah buku tebal terdapat diatasnya.
__ADS_1
Aku berdiri dari kursi itu, dan sebuah monster terlihat sedang menargetkan pria itu.
Tanganku menyambar buku itu. Sambil melangkah maju, aku berteriak dan melemparkan buku itu kearah monster itu.
Buku itu menghantam monster dan menjatuhkannya dari jendela, dan aku berlari kearah pria itu sambil mengambil tongkat kasti yang tergeletak di lantai itu.
"Hiiiaaa!!!!"
Dengan sekuat tenaga aku mengayunkan tongkat itu dan meremukkan lidah itu, lalu aku mengulurkan tanganku kearah pria itu.
"Ayo pergi, tidak aman disini."
Pria itu menatapku dengan matanya yang berbinar-binar, kemudian dia menerima uluran tanganku.
Begitu tangannya menyentuhku, aku langsung menyambarnya dan menariknya kearah gerbong yang lain.
Semburan darah menghiasi pelarian kami, dan pembantaian menjadi pemandangan disekitar kami. Kami terus berlari dan menghadap kedepan, tidak peduli apapun yang ada disamping.
Sebuah pintu terletak didepan kami. Pintu itu adalah tujuan dari pelarian kami, dimana pintu itu menghubungkan gerbong ini dengan gerbong selanjutnya.
Di tengah pintu itu terdapat sebuah kaca. Sesosok monster terlihat dibelakang kaca itu, kemudian dia mulai meluncurkan lidah anehnya kearahku.
Aku mengeluarkan tongkat yang ada di genggamanku, lalu mengayunkannya kearah lidah itu, namun lidah itu sanggup menghancurkan tongkatku dalam sekali serang.
Dor dor dor!
Suara tembakan menggelegar di tengah pertempuran. Tiga buah peluru menembus lidah itu, dan benda itu tersungkur tepat di hadapanku.
Dengan tatapan kosong aku menoleh kebelakang. Sebuah pistol yang berasap terlihat di genggamannya, dan pria itu terlihat sangat familiar dengan senjata itu.
Rasa bingung dan takut menyelimuti pikiranku. Aku menatapnya dengan mata yang terbuka lebar, berharap dia tidak mengarahkan benda itu kepadaku.
Keheningan melanda tempat ini. Tanpa kusadari monster-monster itu telah meninggalkan gerbong ini.
......
__ADS_1
"Kau...."
"Siapa kau sebenarnya?"