
[Selamat datang di Evangenesis!]
Aku terdiam, tanpa kusadari gerbong-gerbong lainnya telah dipenuhi monster, dan mereka sedang mengarah kemari.
Pada saat yang bersamaan, beberapa monster merayap menaiki jembatan rel ini, dan berbondong-bondong memasuki kereta ini.
Menyadari kepungan monster kurus itu, aku mempererat genggaman tanganku, dan memasang kuda-kuda yang kuat.
Pandanganku terpaku pada monster-monster itu. Pikiranku dipenuhi dengan keraguan, aku ingin maju dan langsung menyerang mereka, namun senjataku hanyalah sebatang sapu yang pendek ini.
Suara gemuruh terdengar semakin mendekat, sehingga perhatianku teralihkan kebelakang.
Aku melirik kebelakang, dan mendapati sebuah helikopter rusak yang mendekat kemari.
"Awas!"
Seketika helikopter itu menyambar gerbong ini dan merusak dinding kereta ini. Baling-baliingnya memotong dinding kereta ini, kemudian benda itu terjatuh dan meledak di laut.
Ledakan itu menyebabkan guncangan besar dan menghamburkan air laut yang bening itu. Kereta ini terguncang dengan keras dan kepalaku terbentur ke lantai.
"Ah!!"
Kepalaku sakit karena terbentur, dan leherku hampir patah karena guncangan tadi. Sambil mengusap kepalaku aku mencoba untuk berdiri, dan mendapati beberapa monster yang mulai memasuki gerbong ini.
"Devin!"
Monster-monster itu merangkak dan menyerang Devin, dan Devin menahan serangan mereka dengan tumpukan kertas yang membalut tangannya itu.
Tanganku meraba-raba batang sapu itu dan menggenggamnya dengan erat. Aku menggertakkan gigiku dan meledakkan kakiku dengan keras, dan aku berlari kearah Devin.
Disamping tubuhku yang berlari cepat itu, aku mendengar suara pecahan dari arah kananku.
Aku melirik kesamping dan mendapati seekor monster yang sedang menjulurkan lidah panjangnya kearahku.
Aku menghentikan langkahku dan memundurkan kepalaku, sehingga lidah itu melesat tepat di depan wajahku.
Lidah itu begitu panjang dan gemuk, dan urat-urat tebal terlihat timbul di dagingnya. Tanpa rasa ragu aku mengangkat sapu itu dan menghantam lidah itu dengan keras.
Praakkk!!!
Lidah itu terpukul dan terhempas kesampinng, dan sapu itu patah karena menghantam lidah yang keras itu.
Pada saat yang sama beberapa monster mulai memasuki gerbong ini dan memekik kearahku. Mulutnya dibuka dengan lebar dan suara aneh dikeluarkannya, seolah-olah menunjukkan bahwa mereka telah menguasai tempat ini.
Tatapanku menajam, langkah demi langkah mulai dimajukan kakiku, dan aku berteriak membalas pekikan mereka.
"HAAAAAAA!!!!"
Langkahku semakin cepat dan pada akhirnya aku berlari kearah mereka. Beberapa dari mereka mulai membuka mulutnya, dan salah satu dari mereka menjulurkan lidahnya kearahku.
__ADS_1
Dengan seluruh kekuatanku yang tersisa aku mengayunkan kayu itu dan menghantam lidah panjang yang dikeluarkan monster itu.
Seketika monster itu terlihat pusing setelah aku memukul lidahnya. Tanpa memikirkan rasa belas kasihan, aku mengayunkan kayu itu kearah kepalanya dengan keras.
Darah berhamburan keluar dari makhluk itu. Dengan pikiranku yang mulai ternodai rasa haus darah, aku menoleh dan menendang salah seekor monster yang mencoba menyerangku dari belakang.
Tatapanku yang tajam melirik monster-monster itu dengan cepat. Rupe mereka terasa familiar di mataku, namun ini adalah pertama kalinya aku melihat monster ini.
Aku menghempaskan sikuku kebelakang dan menghajar monster lain yang mencoba menyarangku diam-diam. Dengan darah yang mendidih dan emosi yang meluap-luap, aku meluruskan lenganku dan melangkah ketengah kerumunan monster itu.
Aku mengayunkan sapu itu layaknya sebuah pedang, erangan kecil terdengar dari mulutku, dan ayunan tongkat itu menghantam seluruh monster yang kulihat.
Serbuah lidah bersilangan dengan ayunan sapu. Karena keinginan hidupku yang kuat, aku bisa menggunakan cara apapun untuk bertahan.
Manusia dan monster saling bertarung dalam gerbong ini. Kami kalah jumlah dan terlihat kelelahan, sedangkan monster yang berdatangan semakin banyak.
'Sial, apa mereka tidak ada habis-habisnya?'
Aku mulai menggertakkan gigiku. Pertarungan ini mulai terasa berat sebelah.
Kraakkk....
'Apa?'
Salah seekor monster itu melilit sapuku dengan lidahnya yang tebal itu. Lilitannya kuat bagaikan baja, dan tanganku gemetaran saat berusaha menarik sapu itu darinya.
Kemudian beberapa monster yang lainnya mulai menembakkan lidah mereka kearahku. Aku menundukkan kepalaku dan menahan serangan mereka dengan tumpukan kertas yang terpasang di lengan kananku.
Tanganku menembus tepat ditengah tubuh monster itu, sehingga kulitnya pecah dan darah berhamburan keluar.
[Anda telah mengalahkan shadowbringer. Mendapatkan 1528 exp.]
[Level anda telah meningkat.]
'Apa?'
Seketika aku terdiam sejenak. Dengan tatapan kosong aku mengangkat kepalaku, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Disaat aku lengah, seekor monster menjulurkan lidahnya dan menyerangku dari samping. Aku menyadari hal itu dan mengayunkan tinjuku dengan spontan.
Karena kecerobohanku itu, tinjuku mengarah langsung ke gigi-gigi tajam yang melingkar didalam lidah itu. Seketika tanganku terlahap kedalam lidah itu.
"Ugh!"
Lenganku gemetaran dan berdenyut-denyut, darah mengalir layaknya tinta yang bocor.
Aku menarik tanganku kebelakang dan berusaha untuk melepaskannya dari gigitan monster itu, namun gerigi yang mengelilingi lidah itu mencengkram tanganku dengan keras.
Sekilas terlihat poin HPku yang berkurang secara terus menerus. Tubuhku melemah dan mataku mulai tertutup dengan sendirinya.
__ADS_1
'Ah, lelah sekali.'
Rasa sakit yang menjalar di tanganku perlahan-lahan menghilang. Kepalaku tertunduk dan kakiku melemah, dan aku merasa diriku sedang diserap oleh sesuatu.
Pada akhirnya pendirianku roboh, dan aku berlutut di hadapan monster itu. Dengan jiwa yang hampi hilang diserap monster itu, aku tersungkur di tengah gerbong itu.
'Tubuhku begitu lemas, aku merasa ingin tidur.'
Di dalam mataku yang hampir tertutup itu, aku melihat percikan api ungu yang menyala-nyala.
.......
'Aku....tidak punya tenaga lagi....'
'Sial.'
Mataku semakin sayu dan pandanganku semakin gelap. Bagaikan ponsel yang kehabisan daya, kepalaku terus tertunduk dan mataku terus menutup.
Huooo......
.......
Percikan api ungu itu terlihat lagi didepanku. Warnanya begitu jernih, mencerminkan keberanian yang tiada duanya.
'Api...apa itu?'
Didalam kesadaranku yang memudar itu, aku dapat merasakan panasnya api ungu yang membara itu. Suara kobaran api terdengar di telingaku, seakan-akan api itu menari-nari disekitarku.
*****....
Darah menyembur didepan mataku, lidah monster itu terpotong dan aku terjatuh kebelakang.
Sesosok pahlawan tersungkur di hadapanku. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka dan lengannya dipenuhi oleh garis-garis ungu yang bersinar terang.
"Kau...."
Keringatnya bercampur dengan garis ungu itu, segaris senyum terpampang di wajah letihnya, dan Devin melihatku dengan mata ungunya yang bersinar itu.
Pada saat yang bersamaan, ingatan-ingatan pahit itu terulang kembali di pikiranku. Ingatan mengenai polisi malang yang meledakkan dirinya itu, dan juga ingatan mengenai Devin dan juga monster itu.
'Benar juga. Semua ini adalah skill.'
Aku melayangkan tanganku yang lemas itu kedepan, dan aku mempertaruhkan kelangsungan cerita ini pada jari telunjukku.
Aku menutup mataku dan merasakan sisa energi yang mengalir dalam tubuhku. Aku merasakan adanya jiwa-jiwa orang yang mati di gerbong ini, dan kekuatanku bertambah kuat seiring berjalannya waktu.
Nafas ringan kuhembuskan perlahan-lahan, kemudian aku membuka mataku.
Seketika sebuah tato aneh muncul di tanganku. Warnanya merah dan bentuknya unik, dan energi serasa meluap-luap di tubuhku.
__ADS_1
"Dimension breaker. Raphael!"