Lukisan Rapuh Bercerita

Lukisan Rapuh Bercerita
1. LANGKAH BARU


__ADS_3

β€”β€”β€”πŸŽ¨πŸŽ₯


Sebelum fajar terbit dihari Senin, Athena sudah sibuk memasukkan buku-buku yang sesuai dengan jadwal pelajarannya. Lalu beralih membuka lemari dan mengambil dompet, mengeluarkan lembaran uang yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarga kecilnya.


Ia menghampiri Ibu dan Adik perempuannya di meja makan, menaruh lembaran uang barusan di meja tersebut. Ibunya menatap sendu wajah Athena yang terlihat lelah.


"Santai masih gelap, makan dulu Na."


Ibunya menyodorkan roti isi telur.


"Aku kan jalan kaki, takutnya telat."


Athena menaruh roti di mulutnya tanpa di kunyah, lalu memakai sepatu dan langsung melenggang pergi.


Selama perjalanan Athena memandangi langit bergradasi sembari makan roti isi telur buatan Ibunya, ia memandangi langit hingga semakin menjadi warna gradasi muda.


"Langit indah, tapi tidak dengan yang dibawahnya."


Gumamnya.


Sesampainya di kelas, ia langsung menuju meja kesayangan yang menurutnya meja yang strategis untuk tidur tanpa ketahuan guru. Paling samping dan paling belakang, ia pun langsung ambruk tidur selagi bel masuk belum berdering.


Athena punya banyak teman namun tidak menetap, di kelas pun ia sebatang kara. Di kelas sebelah sebenarnya ada karena pengaruh ia pernah berpacaran dengan Ezar, jadi ia turut bergabung dengan para kawanan Ezar. Namun sekarang renggang dan canggung karena mereka berdua putus.


"Athena."


Athena seketika menegapkan badannya karena baru saja ada yang menepuk punggungnya, memanggilnya, dan ia menoleh ke arah sang tersangka.


"Bangun, ada Bu Haya."


"Oh iya, makasih."


Ternyata tersangkanya ialah sang ketua kelas, Renjana Wilson.


Kini Athena merasa pandangannya telah berubah karena sekarang ia bisa melihat dengan jelas bahwa ia tak sepenuhnya sebatang kara, padahal awalnya pandangannya buram ketika melihat teman sekelasnya. Karena saat itu ia sudah ber-ketergantungan dengan Ezar, sementara pandangannya buram jika dengan yang lain. Untunglah sekarang tidak seperti itu lagi.


Hingga tiba jam istirahat, Athena langsung menuju ruang klub-nya.


Ruang Klub Photography.


Sesampainya di depan pintu, ia melihat samar-samar dari kaca pintu terlihat Ezar memasukkan barangnya yaitu dua buah kamera, beberapa buku, alat tulis, berbagai macam disk, dan lainnya kedalam kotak kardus. Seketika Athena berpikir bahwa Ezar akan keluar dari klub.


Athena melirik arlojinya. Waktu tidak singkat jadi harus masuk kedalam ruang klub secepat mungkin, pikirnya lalu perlahan membuka pintu berusaha tidak melihat kearah Ezar dan berusaha tidak terlalu dekat dengannya. Keduanya sibuk masing-masing tanpa kebisingan.


"Na."


Athena menoleh cepat ketika mendengar Ezar yang tiba-tiba memanggilnya dengan intonasi suara yang rendah.


"Boleh minta tolong?"


Athena mengangguk.


"Boleh, apa?"


"Tolong bawain laptop itu ke kelas aku ya, maaf ngerepotin kamu."


Athena dan Ezar pun membawa semua barang itu menuju kelas Ezar. Selama perjalanan mereka sama sekali tidak saling berbicara hingga sampai di kelas Ezar, Athena langsung menaruh laptop itu di meja milik Ezar.


"Udah ya."


Athena langsung menuju kembali ke ruang klub.


"Iya makasih ya, Na."


Ezar mempertahankan senyum hangatnya sedari tadi sampai Athena benar-benar menghilang dari pandangan matanya.


Sesampainya Athena di ruang klub. Ia langsung disambut hangat oleh ketua klub photograpy yang tiba-tiba ada didalam ruangan setelah ia kembali, Anggara Sanjaya.


"Hei, Siang Athena!"


"Siang."


"Boleh bicara sebentar?"


Athena mengangguk lalu duduk menghadap Anggara.


"Lo bisa bantu masalah para guru nggak? Belakangan ini guru selalu ngomongin ada anak murid yang selalu mengabaikan pelajaran, cuek aja gitu kalo nilainya kurang."


"Iya, terus?"


"Para guru udah bujuk supaya anak itu mau berusaha ningkatin nilainya tapi tetep aja anak itu cuek, dan lagi OSIS udah disuruh mantau tapi anak itu monoton aja di ruang klub-nya."


"Anak itu emang nggak diberi peringatan atau point sama guru?"


"Hmm... Kalaupun diberi peringatan atau point dia nggak pernah ada kasus ngelanggar aturan sekolah, guru pun nggak tega karena anak itu pendiem dan tenang banget. Bicara juga secukupnya aja."


"Jadi masalah ruwet itu gimana caranya gue bisa bantu?"


"Nah caranya itu modus-"


"HAH SEBENTAR! Modus?"


"Tenang... Tenang... Ini bukan modus yang menjerumus kearah yang negatif, modusnya itu dengan lo minta izin ke anak itu buat rekam kegiatan dia dan sedikit demi sedikit lo kasih dia beberapa pertanyaan tentang apa yang terjadi selama ini sampe bikin dia nggak peduli sama nilainya. Yah, mungkin aja bisa ada perubahan."


"Kenapa nggak lo aja kak, lo kan lebih meyakinkan karena ketua klub ini. Kalo gue kan cuman anggota biasa."


Anggara menghembuskan nafas kasar, lalu menurunkan pundaknya dengan rasa pasrah.

__ADS_1


"Gue juga udah merasa meyakinkan. Nah pas gue ketemu anak itu dan gue baru aja perkenalan, dia nganggep gue kayak angin lalu doang terus nutup pintu klub-nya..."


"Jujur gue malu, dicuekkin gitu."


Lanjut ucapan Anggara setelah diam beberapa detik karena malunya masih terasa walaupun itu sudah beberapa hari yang lalu.


Athena merasa simpati melihat Anggara, lalu ia bergantian melihat kamera yang sejak tadi ia kalungi dilehernya.


"Supaya apa klub kita yang ngelakuin hal itu?"


Pikir Athena saat ini adalah tanggapan para guru yang selalu menganggap remeh Klub Photography karena hanya itu-itu saja yang dikerjakan, pencetus adanya klub ini juga hanya seorang siswa biasa bukan seperti klub lain yang pencetusnya ialah pendiri sekolah.


"Supaya kita bisa menarik perhatian pendiri sekolah karena klub kita pasti bisa nyelesain masalah ini, gue pengen ngebersihin nama klub kita dari omongan jelek para guru ke pendiri sekolah."


Anggara memberi penjelasan dengan setenang mungkin.


"Oke, gue bersedia."


Seketika Athena merasakan aura kewibawaan Anggara begitu silaunya terpancar, hingga ia ingin sekali cepat-cepat menyelesaikannya.


Anggara mengulas senyum serta menjulurkan tangan kanan-nya.


"Semoga berhasil."


Athena sedari tadi berwajah datar hingga kini pun tetap konsisten sembari menjabat tangan Anggara sebentar lalu melepaskannya.


"Sepulang sekolah lo langsung aja samperin ruang klub-nya."


β€”β€”β€”πŸŽ¨πŸŽ₯


Athena langsung terburu-buru mencari ruang Klub Seni di lantai tiga sekolahnya, berharap ia bisa meyakinkan anak itu dengan cepat lalu segera berangkat kerja paruh waktu.


Sesampainya di depan pintu ruang Klub Seni. Ia mengetuk pintu ruangan tersebut, menunggu beberapa menit untuk mendapat respon. Namun tak sama sekali mendapat respon, lalu ia mencoba lagi, lagi, lagi, lagi.


Hingga ia akhirnya benar-benar menyerah dan beranjak pulang.


Ceklek!


Pintu terbuka. Alhasil Athena mundur lagi, menarik nafas panjang.


Fyuh...


Terlihatlah sang Ketua Klub Seni, Yaksa Rayazan. ia berdiri memperhatikan seorang gadis yang membelakanginya setelah berulang kali mengganggu ketenangannya saat melukis didalam.


Diposisi Athena saat ini adalah berusaha mengisi kembali tenaga bersosialisasinya yang sudah lama terkuras habis dihari-hari lalu, setelah cukup terisi ia langsung membalikkan badannya lalu mengulas senyum lebar.


"Halo! Selamat siang menjelang sore, boleh minta waktu nya sebentar?"


Entah apa isi hati Yaksa saat ini sampai ia membuat mimik wajah tercengang, namun isi kepalanya adalah... Bukankah gadis ini teman sekelasnya? Anak pendiam murung yang setiap harinya tidur di kelas? Wah, sekarang berbeda? Menjadi gadis hangat dan ceria.


Karena Yaksa tetap diam, Athena pun kembali berbicara.


"Oh."


Tangan Yaksa terbuka mengarah kedalam ruangan bermaksud menyuruh masuk Athena, lalu ia melepaskan apron dan melenggang keluar ruangan. Athena menyadari bahwa ia disuruh melihat sendirian kedalam tanpa Yaksa, jadi ia mengejar Yaksa dan berjalan sejajar bersamanya menelusur lorong koridor.


"Apa jadinya lukisan tanpa seorang seniman?"


Athena berucap seraya mendongak menatap wajah lelaki itu dari samping, Athena berpikir untuk apa ia masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan lukisan tanpa seniman yang menjelaskan makna indah yang ada di dalamnya.


"Jadi karya tanpa nama."


"Karya tanpa nama? Nggak terkenal dong?"


"Untuk apa terkenal? Jadi orang biasa jauh lebih tenang."


"Jadi lo butuh ketenangan, Sa?"


Langkah Yaksa terhenti dan menoleh kearah Athena lalu menatapnya.


"Lo tau caranya?"


Athena menggeleng.


"Nggak tau, gue juga pengen tapi bingung."


"Mau cari ketenangan bersama?"


Setelah mendengar pertanyaan itu, Athena langsung terdiam dan matanya membesar agak tertegun mendengarnya.


"Maksud lo?"


"Kita bisa berteman terus cari ketenangan bersama, kalo lo nggak tertarik yaudah."


Yaksa merasakan rasa canggung setelah berbicara dan melanjutkan jalannya, meninggalkan Athena di belakang sana sedang mematung bingung.


Athena menggeleng memecahkan lamunannya, ia berlari dan menarik lengan Yaksa. ia berpikir barusan itu kesempatan emas untuk merekam dan mewawancarai Yaksa.


"Ayo berteman! Ayo cari ketenangan bareng!"


Seketika Yaksa menoleh ke belakang dan agak terkejut, padahal ia hanya asal bicara. Tapi siapa sangka gadis ini mau?


"Jadi selama ini lo nggak sadar ya?"


"Maksud lo? Apa sih gue nggak ngerti mulu daritadi, lo suka banget nanya tiba-tiba gini."


"Jadi lo nggak sadar? Selama ini kita kan udah jadi temen sekelas, bangku kita aja sebelahan."

__ADS_1


"EH? HAH? BENERAN?"


Yaksa menggeleng pasrah.


"Pastilah, orang yang lo liat emang Ezar doang kan."


Mimik wajah Athena yang awalnya ceria malah menjadi sendu seketika setelah mendengar nama itu keluar dari ucapan Yaksa.


"Kenapa? Gue salah ngomong?"


Yaksa sedikit panik dengan perubahan mimik wajah gadis di sebelahnya itu.


"Salah, sekarang udah nggak akan pernah begitu lagi."


Yaksa hanya terdiam.


"Sebenarnya tujuan awal gue itu ngerekam dan wawancarai tentang lo."


Yaksa menghela nafas pasrah dan mimik wajahnya menjadi dingin.


"Kenapa lo dan ketua lo bersikeras begini? Suruhan guru? Bisa lo jelasin?"


"Awalnya gue cuma fokus ke tujuan awal gue itu, tapi setelah lo ngomong mau berteman sama gue..."


"Apa?"


"Gue jadi ngerasa nggak kesepian lagi, gue berharap kita bener-bener bisa berteman..."


Yaksa merasakan ketulusan di setiap kata yang terucap oleh gadis ini.


"Sini, kasih jadwal wawancaranya."


"EH? LO MAU?"


"Jadwalnya."


"SERIUSAN LO MAU?"


"Iya, sekarang jadwalnya."


Ting!


"Nah, udah gue kirim."


Yaksa memeriksa ponselnya.


"Lo tau nomor gue dari mana?"


"Siapa lagi? Ya, Kak Anggara."


Yaksa membaca Dokumen Jadwal Wawancaranya.


"Kenapa di jam istirahat kedua mulu? Kenapa nggak pulang sekolah?"


"Pulang sekolah gue sibuk."


"Oh."


"Kalo gitu gue pergi duluan ya!"


"Kita udah berteman kan? Nggak mau pulang bareng gitu?"


"Yaudah, ayo."


"Gue kunci pintu ruang klub dulu."


Yaksa berlarian dan dengan cepat mengunci pintu ruang klub-nya, lalu kembali berlari mendekat kearah Athena yang sama-sama sudah siap membawa ransel.


β€”β€”β€”πŸŽ¨πŸŽ₯


"Gue berhenti disini aja, dah!"


Athena berdiri di dekat Minimarket.


Yaksa menghentikan langkahnya dan menatap gadis itu bingung.


"Lo mau beli sesuatu?"


Athena menggeleng dan tersenyum.


"Gue kerja paruh waktu disini."


"Oh... Kalo gitu, dah."


Yaksa berpikir bagaimana bisa anak sekolah bekerja paruh waktu seperti ini? Bukankah belum cukup umur?


Setelahnya ia membalikkan badan.


"Lho? Rumah lo beda arah? Kenapa ngikut gue kesini?"


Yaksa membalikkan badannya lagi.


"Sengaja, nganterin lo."


"Dah."


Yaksa pun benar-benar melenggang pergi setelah melambaikan tangannya.

__ADS_1


β€”β€”β€”πŸŽ¨πŸŽ₯


__ADS_2