Lukisan Rapuh Bercerita

Lukisan Rapuh Bercerita
2. WAWANCARA OUTDOOR


__ADS_3

β€”β€”β€”πŸŽ¨πŸŽ₯


"Ezar? Kenapa ngelamun?"


Ezar memandang dari kejauhan seorang gadis bersama dengan lelaki yang tampak asing di matanya, mereka terlihat berbincang dengan riang.


"Siapa yang lagi sama dia ya..."


"Emang apaan sih? Apa yang lo liat..."


Kalea berusaha menyamakan apa yang dilihat oleh Ezar sedari tadi sampai mengabaikan omongannya.


"Oh, Athena? Sama temennya lah."


"Temen? Tapi dia kan introvert."


"Ya terus apa masalahnya kalo dia introvert? Nggak boleh gitu berteman?"


"Boleh aja, tapi dia keliatannya seneng banget ya tanpa gue..."


Kalea mengusap pelan punggung Ezar, bermaksud menyemangatinya.


"Daripada dia sedih, mending dia seneng gitu kan?"


Ezar mengangguk dan melihat kearah lain dengan tatapan sendu.


"Keliatan banget kalo lo yang gamon!"


Kalea tertawa keras dan Ezar tertawa pahit.


Sementara di kejauhan sana, Athena mendengar tawa keras dan mencari tahu siapa. Saat ia menemukan pemilik suara itu, Kalea tertawa dan Ezar juga ikut tertawa renyah. Athena seperti terpaku saat melihat terus kearah mereka berdua, ia merasa sedikit sakit melihatnya.


Yaksa yang melihat Athena memandangi mantan pacarnya pun terheran, ia menepuk pundak Athena.


"Alat perekam suaranya udah nyala."


"Eh? Oh."


Athena berhenti memandangi Ezar ketika pundaknya merasakan tepukkan pelan dari tangan Yaksa.


"Ini take yang terakhir ya, jangan ngulang lagi. Gue capek."


Yaksa mengangguk paham.


Athena menyesuaikan posisi kamera dan ia duduk memulai melanjutkan wawancara.


"Mengapa kamu sering sekali berada di ruang klub seni? Bahkan saat jam pelajaran?"


"Hobi."


"Apakah kamu mendapatkan inspirasi untuk melukis dari seseorang? Bisa kamu jelaskan seseorang itu seperti apa?"


"Saya mendapatkan inspirasi melukis hanya dari tumbuhan, binatang dan apa yang saya lihat saja. Tapi tidak dari manusia."


"Mengapa kamu selalu menyendiri? Apa ada masalah?"


"Saya suka menyendiri, tapi sekarang mungkin tidak lagi."


"Apa kamu punya teman yang membantumu di sekolah?"


"Tidak ada."


"Kapan kamu akan memperbaiki nilai mata pelajaranmu yang kurang?"


"Secepatnya."


"Apakah keluargamu mendukung hobimu?"


"Keluarga saya sangat sibuk, jadi saya akan mendukung diri sendiri."


Athena bergerak memberhentikan kameranya yang merekam dan mendekat kearah Yaksa lalu melepaskan perekam suaranya yang terpasang dikerah seragam Yaksa, saat itu juga Yaksa gugup. Hanya saja jarak wajah gadis itu terlalu dekat dengannya.


"Selesai, makasih ya."


"Iya, nih."


Yaksa menyodorkan kotak susu yang sedari tadi ia bawa.

__ADS_1


Athena menerima kotak susu tersebut setelah selesai merapikan peralatan wawancaranya.


"Makasih."


Athena menghela nafas saat duduk bersebelahan dengan Yaksa, ia meminum susu tersebut seraya melihat kearah taman kecil sekolahnya.


"Maaf soal kemaren, gue baru tau kalo lo sama Ezar udah putus."


Athena menggeleng dengan seulas senyum.


"Gaya banget pake minta maaf segala."


"Lo yang gaya pake gamon segala."


"Siapa bilang gue gamon? Nggak ya."


"Iya, jangan gamon."


Athena menoleh kearah Yaksa, menatapnya terheran.


"Kenapa? Gue ganteng?"


Athena meminum susunya habis dan menaruh kotak susunya ke tangan Yaksa, lalu ia membawa kotak kardus berisi peralatan wawancaranya dan melenggang pergi menuju ruang klub photography.


Yaksa tertawa geli melihat kelakuan jahil Athena dan bergumam.


"Bisa ya selucu itu?"


β€”β€”β€”πŸŽ¨πŸŽ₯


Mereka sampai di ruang klub photography, Yaksa melihat sekeliling ruangan sempit itu dengan tatapan kagum.


"Bersih banget? Beda jauh sama ruang klub gue."


Athena ikut mengitari pandangan setelah menaruh kotak kardus berisi peralatan wawancaranya barusan.


"Kak Anggara, ketua klub gue agak sensitif sama kebersihan jadi dia rajin bersih-bersih dan anggotanya juga jadi ikut inisiatif bantu bersihin."


"Pantes aja lo nggak wawancarain gue di ruang klub gue yang suram dan malah wawancara outdoor, sekarang gue paham."


"Hah... Nggak gitu, emang kata Kak Anggara setting tempat awalnnya outdoor. Besok Indoor kok, di ruang klub seni lo itu."


Athena terkekeh.


"Lo lupa? Gue kan nanti kerja."


Yaksa membalas kekeh Athena dengan seringai.


"Tadi pagi gue mampir ke tempat kerja lo dan bilangin bos lo buat gantiin lo sama orang suruhan gue, jadi tenang aja itu udah beres."


"Gaji gue apa kabar?"


Yaksa tertawa renyah.


"Amanlah, kan di gantiin bukan di pecat."


"Oke oke, gue bantu. Jadi sekarang ayo balik ke kelas kita."


Yaksa membuka mulutnya lebar.


"Kelas kita? Wah, ternyata lo udah sadar kita sekelas."


"Setelah lo bilang kemaren, gue sempet mantau sebelah gue walaupun gue tidur."


Yaksa memberi tatapan penuh harap.


"Jadi sebelah lo siapa?"


Athena melipat tangan di dada dan memincingkan matanya.


"Lo."


Yaksa tersenyum puas seolah-olah itu jawaban yang paling ia dengar.


Pria itu membuntuti wanita yang lebih pendek darinya menuju kelas mereka, bahkan teman-teman sekelas mereka terheran sejak kapan mereka jadi dekat? Padahal mereka sama-sama acuh tak acuh, jadi itu cukup mengherankan.


β€”β€”β€”πŸŽ¨πŸŽ₯

__ADS_1


Di ruangan sempit itu terlihatlah seorang pria duduk dengan tatapan serius dengan kantung hodie abu-abunya yang di masukkan tangannya, matanya kini sedang serius menatap layar laptop.


Lalu ia tiba-tiba bertepuk tangan heboh.


"Nggak salah gue milih lo sebagai anggota."


Athena berdehem agak canggung.


"Bukannya yang daftar emang cuman dua orang?"


"Ah iya, lo sama Ezar doang..."


"Tapi sekarang Ezar udah resign kan?"


Tanya Athena tiba-tiba.


Anggara mengangkat alisnya lalu menggeleng.


"Nggak tuh."


"Tapi kemaren dia packing barangnya lho, Kak."


Athena berusaha mengingat-ngingat kejadian kemarin yang jelas ketika Ezar meminta bantuannya membawakan laptop ke kelasnya.


Anggara memberi tatapan ragu.


"Karena kalian berdua putus, mungkin dia berusaha jaga jarak dari lo. Jadi dia taruh barangnya di lokernya dan editting mungkin di kelas dia atau rumahnya."


Athena tak percaya apa yang baru saja ia dengar dan berusaha melihat kearah lain karena nafasnya tiba-tiba memburu, ia terdiam tanpa sepatah kata pun menanggapi Anggara.


"Gue balik duluan, Kak."


Athena beranjak pergi dengan tas di pundaknya.


Namun ternyata langkah kakinya malah membawanya menuju kelas Ezar alih-alih menuju Klub Seni, ia melihat ke jendela kelas Ezar dan mendapati pria kulit eksotis itu sedang sibuk bergulat dengan laptop di hadapannya sendirian.


Jantung Athena berdegup dengan tempo yang cepat, rasanya ingin sekali tangannya menggapai gagang pintu kelas itu dan membukanya. Namun akal sehatnya masih ada jadi ia sadar untuk mengurungkan niatnya.


"Na?"


"AH!"


Athena terlompat kaget karena tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dan bicara tepat di telinganya sampai ia sempat bergidik merinding.


"Lo ngapain disini?"


Sssttt...


Athena menaruh telunjuk di bibirnya dan menarik lengan orang itu membawanya jauh menuju ke dalam ruang Klub Seni.


"Sumpah, jantung gue hampir pindah ke dengkul tau nggak sih."


Athena mengusap-usap dadanya.


"Lo boong?"


"Hah?"


"Lo bilang ada urusan di ruang klub. Bisa ya tiba-tiba malah di depan kelas itu."


Ucap Yaksa penuh penekanan pada kalimatnya.


Athena sadar kini ia sedang di introgasi, jadi ia menggigit bawah bibirnya ragu dan malah membisu.


"Oh, jadi lo beneran boong. Gapapa sih kalo emang ada hal lain yang bikin lo nggak bisa bantu gue, gue nggak masalah."


Athena merasa nada bicara pria ini seperti sedang kecewa padanya, ini membuat ia merasa bersalah sekarang namun entah kenapa mulutnya kelu untuk menyangkal omongan Yaksa. Kini ia hanya bisa tertunduk melihat kearah lantai.


"Maaf."


"Maaf? Kenapa lo nggak nyangkal omongan gue yang salah barusan? Katanya mau cari ketenangan bersama, tapi hal sepele kayak gini aja nggak lo selesain dengan bener."


"Kalo lo udah tau omongan lo salah, kenapa lo introgasi gue begini? Kenapa malah mempersulit?"


Yaksa menurunkan pundaknya pasrah saat melihat Athena mendongak menatapnya serius dan ia menghembuskan nafas berusaha menenangkan diri di keadaan yang menengang sekarang ini.


Sorot matanya seketika menjadi sendu saat Athena melenggang keluar ruangan tanpa sepatah kata pun ucapan pamit ataupun sekedar senyum.

__ADS_1


β€”β€”β€”πŸŽ¨πŸŽ₯


__ADS_2