Lukisan Rapuh Bercerita

Lukisan Rapuh Bercerita
3. PERSETERUAN


__ADS_3

β€”β€”β€”πŸŽ¨πŸŽ₯


Athena mendengus kesal disepanjang jalan trotoar namun bercampur juga dengan perasaan bersalah karena tidak langsung ke ruangan Klub Seni, sesuai perjanjian mereka yang ingin membersihkan ruangan itu bersama.


Langkah kaki Athena terhenti di Minimarket tempat ia bekerja paruh waktu dan melihat seseorang telah menggantikannya sementara sesuai dengan omongan Yaksa.


"Ah, iya gue lupa..."


Akhirnya ia duduk di kursi halte yang bersebrangan dengan Minimarket dengan pikirannya yang berantakan.


Tring!


"Halo, Ibu?"


"Abis pulang dari kerjaan kamu, tolong beliin Ibu obat ya."


"Kambuh lagi...?"


"Kamu nggak usah banyak tanya, Ibu makin pusing jadinya."


"Ibu tinggal bilang 'iya' lho? Kenapa ketus gitu?"


"IYA."


"Nggak cuma Ibu yang capek, aku jug-"


Tuttt...


Belum selesai bicara, tiba-tiba saja baterai ponsel Athena habis hingga ia semakin kesal saat ini bahkan mengacak-acak rambutnya sendiri.


Ia melihat kearah langit yang semakin meredup dengan matanya yang berbinar, ia merasa orang-orang di dunia ini begitu kejam untuk ia hadapi dengan hati kecilnya yang tak sekuat itu.


"Hah... Kangen Ezar deh, tapi sayang banget gue udah putusin dia waktu itu..."


β€”β€”β€”πŸŽ¨πŸŽ₯


Sementara di sudut pandang Yaksa saat ini, ia sedang membersihkan ruang klub-nya sendirian dengan sangat cepat. Entah kenapa ia merasa kesal dengan omongannya barusan, padahal jika ia tidak bicara itu pasti ia sekarang sudah membersihkan ruangan ini bersama Athena dengan damai.


Yaksa melihat jam di ponselnya dan dengan segera menyelesaikan kegiatan bersih-bersihnya lalu mengunci ruang Klub Seni, ia berlarian keluar Sekolah yang untung saja belum tertutup gerbangnya.

__ADS_1


Di tengah perjalanannya ia berusaha menelpon Athena namun selalu tidak bisa dihubungi hingga berkali-kali mencoba tetap saja hasilnya sama, tidak bisa dihubungi.


Cring!


Pandangan Yaksa tertuju pada suara yang menarik perhatiannya, suara pintu Apotek. Ia melihat dengan jelas wajah wanita yang familiar dengan senyum manis ramahnya kepada kasir, wanita itu juga menunduk sopan lalu pergi keluar.


Rasanya ingin sekali mulut Yaksa menyapa Athena, namun ia mengurungkan niatnya dan malah bersembunyi dibalik jalan gang sempit.


Setelah jaraknya sudah agak jauh dengan Athena, dengan ragu ia mengikuti Athena dari belakang dengan kewaspadaan yang tinggi jika tidak ingin ketahuan. Entah apa motif pria ini mengikuti wanita itu, yang jelas rasa penasaran memang bisa membutakan segala sesuatu.


Hingga langkah Athena terhenti di depan perkarangan rumah sederhana, rumah Athena sekeluarga.


Pranggg! Bukkk! Bukkk! ARGHHH!


Yaksa terkejut bukan main saat mendengar keributan yang menggelegar di dalam rumah itu, ia melihat kearah Athena yang memasang mimik wajah dingin disana. Seperti sudah terbiasa dengan keributan sekarang ini.


"AYAH! KENAPA PULANG SIH?!"


Athena memasuki rumah dan membanting tasnya, wanita itu menatap gentar Ayah tirinya yang linglung setelah membuat keributan dan di bawah lantai Ibunya tergeletak lemah namun masih sadar dengan kehadiran Athena yang tersulut amarah.


Di mata Ibu dan Adiknya, biasanya Athena jarang sekali menunjukkan emosinya di rumah. Jadi sulit melihat dia sedang bahagia ataupun sedih, namun sekarang wajahnya tergambar amarah yang akan meledak.


Ayah tirinya berdiri di depannya hingga indra penciumannya merasa agak terganggu karena aroma minuman keras yang begitu menyengat.


Ugh...


Tangan kasar Ayahnya bergerak mencekik leher Athena sekuat tenaga hingga nafas wanita itu terengah-engah tak karuan, tangan kurusnya pun berusaha melepaskan cekikkan kuat itu. Ia akhirnya menendang tulang kering Ayahnya dengan tenaga sisa, hingga Ayahnya meringkuk dilantai memegangi kakinya kesakitan.


Alih-alih Athena menghampiri Ibunya yang tergeletak dilantai, ia malah menghampiri sang adik perempuannya di kamar yang sedari tadi berjongkok disudut kamar dengan telinga yang ia tutupi dengan tangan mungilnya. Matanya berkaca-kaca, mulutnya terus berhitung sampai ratusan angka untuk menenangkan diri.


Athena duduk di hadapan adiknya.


"Arsha."


"Iya Kak..."


"Kamu hitung ampe berapa?"


"597 Kak..."

__ADS_1


Athena mengusap-usap rambut sebahu adiknya dan mengambil tangan mungilnya untuk digandeng keluar rumah.


"Pencapaian bagus jadi sesuai janji lama, malem ini kita keluar jalan-jalan cari angin."


Arsha mengangguk antusias.


Mereka keluar kamar melewati Ayah dan Ibu mereka yang sama-sama tergeletak, semoga saat mereka kembali keadaan rumah sudah lebih baik. Athena hanya takut satu hal yaitu, mental adiknya akan rusak.


β€”β€”β€”πŸŽ¨πŸŽ₯


Yaksa semakin terkejut saat mendengar teriakan amarah Athena, hingga suara keributan mereda ia tetap setia berdiri disana dan melihat Athena dengan Arsha berjalan keluar rumah.


Mata Yaksa menyipit memfokuskan pandangannya pada leher Athena yang terlihat merah dan memar lalu pandangannya beralih melihat mata Athena yang terlihat jelas menahan tangis, wanita itu menahan tangisnya demi terlihat kuat di hadapan adik perempuannya.


Yaksa ingin sekali memeluk tubuh rapuh itu untuk menenangkan jiwa Athena yang pasti sangat terluka, namun tak bisa karena mereka baru saja berseteru di sekolah jadi mungkin akan canggung jika Yaksa berani memeluk Athena.


"Gue mikir apa sih, telepon gue aja di cuekkin."


Yaksa mengacak-acak rambutnya sendiri sambil tertawa pahit pelan.


Yaksa kembali memandangi lagi Athena dan adiknya yang berjalan menjauh membelakangi.


"Tapi gue seneng kita punya kesamaan, sama-sama punya keluarga ancur."


"Mungkin ini awal langkah kita buat jadi temen dalam jangka lama buat cari ketenangan, gue bakal setia nunggu lo reda."


Lanjut ucapannya lalu berjalan menuju rumahnya di arah lain seraya melihat lampu remang-remang menyinarinya.


Pria itu mendongak keatas dengan mengeluarkan nafas kasar kearah apartement yang menjulang tinggi, ia melanjutkan langkahnya hingga ke dalam lift. Dengan gusar menekan tombol dan melipat tangan di dada, hingga sampai dilantai 16 ia keluar lift lalu memasuki salah satu ruangan dengan angka 448 di pintunya.


Gelap, Sunyi dan aroma kayu manis campur vanila menyeruak di indera penciumannya. Semakin lama, semakin mual ia berada di ruangan luas ini. Rasanya seperti tidak ada udara yang bisa ia gapai untuk bernafas.


Lalu ia memasuki kamarnya di ujung ruangan luas ini. Jika kalian membayangkan kamar seorang anak seni adalah penuh coretan indah penuh makna, penuh bingkai dengan kanvas bercorak warna-warni ataupun sekedar figuran seni bermakna. Itu semua salah dan berbanding terbalik bagi Yaksa.


Kamarnya sejak dahulu penuh dengan tempelan-tempelan sticky notes berwarna putih monoton yang bertuliskan berbagai macam rumus, materi, kosakata Inggris dan lainnya yang di tulis oleh Ayah dan Ibu tirinya. Ia dituntut untuk sempurna dalam nilai seluruh mata pelajaran, harus cepat menguasainya dan harus bisa menggantikan kejeniusan Kakak laki-laki tirinya yang sudah 2 tahun meninggal dunia, Jordan.


Awalnya Yaksa adalah anak laki-laki biasa yang dirawat di panti asuhan, karena ia yatim piatu. Hingga akhirnya ia mendapatkan pergantian hak asuh oleh keluarga kaya ini dengan alasan anak laki-lakinya, Jordan kesepian.


Pahitnya setelah kepergian Jordan, Yaksa mengalami pelampiasan kekerasan fisik dan bahkan mentalnya sangat terganggu saat itu. Hingga ia terus berjuang menyamaratakan kemampuannya dengan kemampuan Jordan, sampai akhirnya ia tidak sanggup lagi dan memilih seni sebagai obat terbaiknya untuk tetap semangat melanjutkan hidup.

__ADS_1


Selain seni, kini ia juga punya teman.


β€”β€”β€”πŸŽ¨πŸŽ₯


__ADS_2