Married With A Stranger

Married With A Stranger
Gulat yang Bikin Salah Paham


__ADS_3

"Bentar Bryan. Kenapa kamu senang banget Devan ninggalin aku, kamu nggak cinta sama aku kan?" tanya Raisa.


Bryan tertawa keras mendengar ucapan Raisa, bagaimana bisa dirinya mencintai Raisa.


"Kamu suka mengada-ngada, mana mungkin aku cinta sama kamu Raisa," jawab Bryan.


"Cowok kamu itu bukan cowok baik-baik aku nggak mau saja kamu menggunakan uang bulanan kita untuk memberi cowok itu," sambung Bryan kemudian.


Raisa nampak terdiam, dia baru menyadari betapa bodohnya dia dimanfaatkan oleh Devan tapi tidak sadar.


"Aku memang buta Bryan, aku mengira dia tulus padaku," sahut Raisa lalu menyeka air matanya.


Seperti kata pepatah dari negara China Cupatkay sejak dulu memang beginilah cinta penderitaannya tidak pernah berakhir.


"Sudahlah Raisa jangan kamu tangisi minimal parasit itu sudah pergi dari hidup kamu," timpal Bryan.


Raisa mengangguk, memang benar minimal Devan kini tidak menjadi parasit di hidupnya.


**********


"Begini Raisa dan Bryan, kami ingin mengadakan pernikahan sah secara agama dan negara untuk kalian mengingat sebelumnya kalian hanya menikah di bawah tangan," jelas Papa Bryan.


Raisa dan Bryan saling pandang, mereka saja ingin segera berpisah la ini malah diminta untuk nikah secara agama dan negara.


"Bryan rasa nikah di bawah tangan sudah cukup deh pa, lagipula kita masih kuliah apa kata teman-teman kami kalau kita menikah muda." Nampak Bryan tidak setuju.


"Benar itu pa, masa depan kami kan masih panjang, biarlah kami dengan status lajang di KTP." Raisa menimpali.


Papa Bryan dan papa Raisa saling pandang, mereka tetap bersikeras untuk menikahkan mereka secara negara dan agama.


"Raisa nggak mau," protes Raisa.


"Tapi sayang kalian tidak memiliki opsi untuk menolak," sahut Papa Bryan.


"Tunggu, bukanlah kalian beberapa hari yang lalu sudah menunjukkan gelagat saling cinta, lantas kenapa sekarang tidak mau menikah? atau...." Papa Raisa telah mencium akting mereka, untung Bryan dengan cepat merangkul pundak Raisa.


"Tentu kami saling jatuh cinta pa, tiap malam juga sudah mencicil cucu utuk kalian meski yang jadi baru giginya saja," ucap Bryan.


Raisa yang kesal menginjak kaki Bryan sembari menyuguhkan senyuman yang dipaksakan.


"Awas kamu Bryan," ancam Raisa dengan berbisik.

__ADS_1


Para papa tertawa mendengar ucapan Bryan, syukurlah kalau setiap malam Bryan dan Raisa mencicil cucu untuk mereka.


"Kamu memang mantu idaman Bryan," puji papa Raisa.


Raisa yang mendengarnya berekspresi ingin muntah, idaman apaan yang ada Bryan adalah mantu laknat.


Selepas kepergian para papa, Raisa dan Bryan ribut kembali, Raisa sungguh kesal pada Bryan yang selalu berakting menyebalkan.


"Kenapa sih kamu nggak talak aku saja, biar kita nggak ada hubungan lagi toh hanya nikah bawah tangan," maki Raisa.


"Dengar Sasa, aku tidak mau ambil resiko besar dengan menalak kamu karena masih banyak cara lain untuk berpisah ya dengan terkesan aku tidak salah," sahut Bryan dengan terkekeh.


Raisa menatap Bryan dengan tajam, Bryan sungguh licik, lebih licik dari seorang siluman rubah.


"Jangan panggil aku Sasa karena aku bukan nama produk penyedap rasa, namaku R-A-I-S-A," tukas Raisa.


Bryan tertawa, Raisa ataupun Sasa baginya sama saja.


"S3," ucap Bryan.


Raisa merasa ambigu dengan ucapan Bryan sedangkan Bryan tertawa melihat istri jadi-jadiannya.


"Sama saja Sasa," sambungnya lalu pergi meninggalkan Raisa dengan rasa kesalnya.


Raisa terus mengumpat, mengeluarkan sumpah serapahnya.


Raisa mondar mandir memikirkan cara untuk berpisah dari Bryan, dia tidak ingin menghabiskan masa mudanya dengan menjadi istri Bryan, dirinya masih ingin hidup bebas layaknya mahasiswa pada umumnya.


"OMG, apa kata dunia jika di usia dua puluh tahun aku sudah menyandang gelar Nyonya Bryan, aaaaaahhhh oh no, is very bad Raisa," kata Raisa sambil berteriak.


********


Pernikahan sudah dipersiapkan tapi Raisa meminta pada kedua orang tuanya kalau merahasiakan ini semua dari siapapun, dia tidak ingin teman-temannya tau kalau dirinya telah menikah.


"Baiklah," kata Papa Raisa.


Acara pernikahan dilakukan di rumah Raisa, meski kedua mempelai sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini tapi apa boleh buat mereka harus menuruti kemauan dari papa mereka.


Sah


Sah

__ADS_1


Sah


Untuk kedua kalinya kata sah diucapkan oleh saksi, Papa Bryan dan papa Raisa sangat senang karena kini anak mereka telah sah secara agama maupun negera.


Setelah acara pernikahan selesai, Raisa dan Bryan memutuskan untuk istirahat lebih dulu, mereka kali ini tidak bisa tidur berpisah mengingat ini adalah rumah orang tua Raisa.


"Dengar ya Bryan, jangan macam-macam. Jangan mencuri kesempatan di dalam kesempitan," kata Raisa.


Bryan yang kesal mengambil ponselnya lalu dia menunjukan gambar papan selancar pada Raisa.


"Kamu tau ini apa?" tanya Bryan.


"Papan selancar," jawab Raisa.


"Ya ini body kamu, rata seperti papan selancar. Apa yang membuat aku tertarik dengan wanita yang bodynya seperti papan selancar," ucap Bryan.


Raisa mengepalkan tangannya, amarahnya perlahan naik mendapati Bryan menghina dirinya.


Apa yang dilakukan Bryan sudah termasuk body shaming (celaan fisik) dan ini tidak bisa dimaafkan.


"Ini sudah body shaming Bryan!" teriak Raisa.


"Enggak, tapi ini adalah fakta yang memang menunjukan kalau kamu jelek, body rata seperti papan selancar dan juga hitam," sahut Bryan yang semakin membuat Raisa kesal.


"Brengsek kamu Bryan," umpat Raisa lalu mereka bergulat.


Raisa menarik rambut Bryan begitu pula sebaliknya, Para papa mendengar teriakan Raisa dan juga Bryan nampak tersenyum karena baru saja masuk kamar keduanya sudah beraksi.


"Anak jaman sekarang, lain di mulut lain di hati, awal dulu meraka tidak mau menikah namun lihatlah kelakuan mereka, jadi ingat waktu muda dulu," kata Papa Bryan.


Kenangan akan mama Bryan menyeruak masuk ke dalam pikiran papa Bryan, ketidakberdayaannya dalam hal ekonomi membuat papa Bryan harus kehilangan mama Bryan karena sakit yang tidak terobati, Bryan kecil tumbuh menjadi anak yang mandiri karena selain ditinggal mamanya Bryan juga ditinggal papanya kerja.


Oleh sebab itu kalau urusan rumah, Bryan lebih mengerti dari Raisa, meskipun begitu papa Bryan sangat memanjakan Bryan terlebih saat dia sukses semua yang diminta Bryan selalu dituruti.


Berbeda dengan Mama Raisa yang meninggal karena sebuah kecelakaan, papa Raisa yang sangat menyayangi anak semata wayangnya memanjakan Raisa dari kecil mengintai Raisa tidak memiliki mama.


Semua papa punya alasan masing-masing kenapa mereka memanjakan anak mereka akhrinya kewalahan akan tingkah anak mereka yang lambat laun tidak bisa diatur, uang dihabiskan dengan mudah tanpa mikir kedepannya.


"Gak sabar nunggu mereka lulus kuliah supaya kita bisa menimang cucu," kata papa Raisa.


Para papa membayangkan cucu yang sedang dicicil anak mereka sedangkan di kamar Raisa dan Bryan kelelahan karena gulat mereka.

__ADS_1


"Kita istirahat sebentar habis ini lanjut lagi, kurang puas aku," kata Raisa.


__ADS_2