
tanpa menunggu lebih lama lagi Rasya bergegas menuju rumahnya yg sudah ramai itu, dengan masih bertanya - tanya.
OOO ia hari ini aku ulang tahun pasti mereka mau berikan kejutan padaku gumam Rasya dalam hati, lalu bergegas menuju rumahnya
Lho kok pada nangis emang ada apa pak buk kak ada apa sih??
Rasya sayang yang sabar ya yang kuat, kamu harus kuat nak menghadapai ini, kamu harus tabah demi adik-adik kamu, seru Bu Ratna tetangga sebelah rumah ku.
ia Bu tapi ada apa ? terus Rasya yang semakin dibuat penasaran langsung berlari ke ruang tengah rumah nya itu.
Duaaarr bagaikan petir di siang bolong menyambar, memekakkan telinga,
Rasya menjatuh kan tubuhnya , taktahu harus berbuat apa , dia menangis pilu menjerit membuat semua yang ada di sana pun merasakan apa yang dirasakan oleh Rasya dan keluarga nya,
Ibuuuu ibuu kenapa tadi ibu baik-baik saja ibu kenapa tinggalkan kita Bu ,
tiba-tiba Reina adik nya Rasya menghampiri Rasya dan mereka sama-sama menangisi ibunya yang terbujur kaku dihadapan mereka.
Kenapa ibu ninggalin kami Bu bangun Bu seru Reina , Bu kita harus gima kita harus kemana Rasya gak tahu harus bagaimana kit asemua masih membutuhkan ibu, jangan tinggalkan kita Bu, Zaid masih kecil masih butuh ibu, Rasya gak bisa mengurus mereka, ibu banguuuun hiks hiks mereka terus saja menangisi ibu nya.
Sementara Ayah nya Rasya yang memang masih berada di luar kota dan belum juga sampai.
__ADS_1
Hingga senja menjelang setelah ibunya Rasya selesai dikebumikan barulah Pak Halim ayahnya Rasya sampai dari luar kota, dia hanya terdiam tanpa kata sepatah pun dan langsung memeluk pusara sang istri yang tidak akan pernah lagi dia lihat , Ibuuu maaf ayah terlambat andai waktu itu ayah pulang lebih awal mungkin ini gak akan terjadi, ayah harus bagaimana Bu , gumam pak Halim terisak di atas pusara istrinya itu.
satu persatu para warga yang tadinya mengantarkan ibunya Rasya ke tempat peristirahatan terakhir nya mulai meninggalkan tempat tersebut, hingga tinggalah pak Halim dan ke tiga anaknya
sampai hari sudah semakin gelap baru mareka beranjak meninggalkan tempat itu,
Ibu kita pulang dulu ya nanti kita kesini lagi hmmmm hiks kita pasti repot tanpa ibu ,kita pasti merindukan ibu, lalu mereka segera pergi meninggalkan orang yang sangat Meraka sayang , yang mereka butuhkan selalu, namun sekarang tinggal kenangan nya saja lagi, orangnya tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini .
setelah semua berada di rumah, pak Halim dan ketiga anaknya itu segera membersihkan diri dan segera meju ke ruang keluarga yang sudah mulai dipenuhi oleh bapak-bapak pengajian yang mau tahlilan .
sebagian menyalami pak Halim mereka mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya almarhumah istrinya itu.
pak kita turut berdukacita ya , semoga bapak dan keluarga di berikan ketabahan, kesabaran dan keikhlasan atas musibah ini,
amiiin seru para bapak-bapak yang ada di situ.
selama tujuh hari tujuh malam rumah Pak Halim selalu ramai dengan orang-orang yang mengadakan pengajian di rumah duka itu.
Hari ini hari ketujuh dan sudah selesai tahlilan dan pengajian nya. sehingga suasana yang ramai menjadi mendadak sunyi itu yan dirasakan oleh pak Halim dan ketiga anaknya itu.
Zaid diam dong celetuk Reina , membentak adiknya yang sedari tadi terus menangis tidak henti-hentinya ,
__ADS_1
ada apa sih kok ribut-ribut , kenapa ?? tanya pak Halim pada Reina, ini Lo yah si Zaid gak mau diam nangis terus sakit tau kuping ku mendengarnya ,
oo jawab pak Halim , sini sayang nya ayah oo kenapa sayang , Ibnu ibu kata Zaid terbata yang memang baru pandai berbicara karena umurnya masih 2 tahun , pak Halim menetes kan air mata nya mendengar anak bungsunya yang masih balita itu memanggil ibu, dia terisak pilu harus bagaimana ini gumamnya .
yah panggil Rasya , ia seru pak Halim ,
mungkin Zaid lapar kali sebentar ya Rasya belikan biskuit dulu .
oo ia jawab si ayah, pak Halim gak tau harus bagaimana karena dia memang jarang di rumah jadi dia gak tau cara mengurus anak dengan baik apalagi ini Zaid yang masih sangat kecil.
Hallo Zaid sini sini kakak gendong kata Rasya seraga mengambil Zaid dari gendongan ayahnya itu lalu Rasya menyuapi Zaid biskuit yang sudah di cairkan dengan susu formula lalu di berikannua pada Zaid .
sebenarnya Rasya juga ingin menagis melihat adiknya ini, karena masih sangat kecil, apalagi mereka yang dirumah itu selama ini gak pernah yang benar-benar mengasuh Zaid semasa ibunya ada dulu, karena kata ibu Rasya dan Reina tugasnya sekolah dan belajar yang giat , sehingga tidak dibebankan apapun apalagi mengasuh Zaid segala.
tidak lama Zaid pun memgantuk karena sudah kenyang di suapi oleh kakak nya .
dan Rasya mbaring kan Zaid di tempat tidur nya
lalu Rasya bergegas ke kamar nya yang tak jauh dari kamar Zaid ,
sesampainya di kamarnya Rasya menghempaskan tubuhnya ke atas kasur , seraya bergumam, hufft ternyata hadiah ulangtahun yang menyakitkan , aku benci 13
__ADS_1
hiks hiks Rasya menangis sejadi-jadinya.