Master Tamer

Master Tamer
Mati


__ADS_3

Aku adalah seorang mantan veteran dalam hal bermain game VR, Dulu setiap aku main selalu menggunakan Class paling buruk yaitu Tamer walaupun begitu entah kenapa aku selalu menjadi peringkat satu dalam game yang aku mainkan, mungkin itu dipengaruhi oleh pengalaman atau akunya yang memang jago dalam ini.


Aku sekarang sudah berumur 30 tahun, aku sudah berhenti bermain game VR itu disebabkan oleh penyakitku yang tiba-tiba muncul.


Sejak itu aku dilarang bermain game oleh kedua orang tuaku, untung saja waktu bermain game aku banyak mendapat penghasilan jadi aku tidak menyusahkan orang tuaku sedikitpun.


Sekarang aku tinggal di rumah sakit untuk menjalani sisa hidupku yang tinggal sedikit lagi, aku terkena kangker dan di ponis akan meninggal tidak lebih dari satu tahun lagi sekarang sisa hidupku tinggal 1 bulan lagi karena waktu sudah berlalu cukup lama disaat aku pertama kali diperiksa.


"Nak.. Maafkan ibu dan ayahmu ini karena tidak bisa menyembuhkanmu" ucap ibu sambil menangis.


"Sudah.. Jangan menangis.. Aku sudah bahagia selama ini dan juga aku harus berterima kasih kepada ibu dan ayah karena sudah melahirkanku" ucap ku.


"Nak kami pun bahagia karena bisa melahirkan anak berbakti sepertimu" ucap ayah dengan hangat.


"Hisk.. Nak ibu akan selalu bersama mu" ucap ibu dengan terisak menangis.


"Emm.. Tidak ibu kalau aku sudah pergi ibu harus merelakan aku ya.. Apa ibu bisa janji" ucapku sambil tersenyum.


"Baiklah.. Kami akan merelakan mu tapi kalau masih ada kesempatan kami akan terus berdoa dan berusaha" ucap ayah sambil menenangkan ibu.


"Iya.. Sekarang sebaiknya kalian pulang.. Ini sudah larut malam" ucapku.


"Baiklah.. Kamu juga tidur ya" ucap ibu.


"Emm" angguk ku.


Srekk.. ( suara pintu )


Srekk..


Setelah ayah dan ibuku pulang aku tinggal sendiri di ruang rawat, aku tidak bisa tidur karena masih kepikiran tentang kedua orang tuaku.


"Heii.. Kenapa kau harus membuat kedua orang tuaku menderita dulu sebelum aku mati.. Kenapa kau tidak langsung membuatku mati secara langsung saja agar mereka tidak terlarut dalam kesedihan" gumam ku sambil meneteskan air mata.


"Apa.. Kau ingin pergi sekarang" muncul suara misterius.


"Siapa itu" ucap ku tersentak.


"Aku.. Aku akan bertanya lagi.. Apa kau ingin pergi sekarang" ucap suara misterius.


"Apakah.. Itu bisa" tanyaku.


"Bisa.. Tapi apa kau yakin" tanya suara misterius.


"Kalau begitu.. Apakah besok juga bisa" tanya ku lagi.


"Tentu.. Kalau begitu kau tinggal bicara lewat kepala besok" ucap suara misterius itu lalu menghilang.


"Huh.. Akhirnya aku bisa tenang.. Tapi sebelum itu aku harus melakukan sesuatu besok" gumamku.


Akupun tertidur agar besok bisa melakukan apa yang aku inginkan agar aku bisa segera pergi dan agar aku bisa meredakan tangis kedua orang tuaku.


Keesokan paginya para suster melakukan pengecekan terhadap tubuhku.


"Tuan rama.. Apakah anda meresa baik" sapa suster itu.


"Ya.. Aku meresa baik" balas rama.


"Syukurlah" ucap suster senang.


"Nee.. Lisa" ucap rama kepada suster.


"Tumben.. Manggil namaku" ucap lisa heran.


"Ehehe.. Bolehlah untuk terakhir kali" ucap rama.


"Huss.. Jangan seperti itu.. Kamu harus sembuh" ucap lisa kesal.


".. Bisa kau membantuku.." ucap rama dengan serius.

__ADS_1


".. Baiklah.. Aku akan membantu sebisa mungkin" ucap lisa heran karena rama mendadak serius.


"Makasih.. Kalo gitu tolong ambilkan kertas dan pulpen.." ucap rama.


"Emm.. Tunggu sebentar" ucap lisa.


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya lisa kembali dengan membawa sebuah kertar dan pulpen.


"Ini.. Untuk apa itu" tanya lisa.


"Rahasia.. " ucap rama sambil mengedipkan satu matanya.


"Ihh.." dengus kesal lisa.


Setelah itu rama menulis pesan terakhir nya untuk kedua orang tuanya agar mereka berdua bisa lebih tenang ketika nanti rama meninggalkan mereka.


"Baiklah.. Ini simpan dan kasih kepada orang tuaku besok.. Oke" ucap rama sambil melipat kertas itu.


".. Baiklah.. Aku akan kasih ini besok.. Kalo gitu aku akan pergi dulu" ucap lisa.


"Tunggu.." ucap rama.


"Emm.. Ada apa" tanya lisa.


"Bisa.. Kau mendekat" pinta rama.


Lisa langsung mendekat kearah rama tanpa berpikir yang lain-lain.


Setelah dekat rama menarik tangan lisa dan akhirnya lisa jatuh keatas tubuh rama.


"A-apa.. Yang kau lakukan" tanya lisa gugup.


Rama mendekatkan bibirnya ketelinga lisa dan berkata.


".. Aku menyukaimu" ucap rama.


Cupp..


".. B-bodoh.." ucap lisa gugup sambil berlari keluar.


"Ahahaha.. Dia sangat lucu" ucap rama.


"Huh.. Baiklah.. Heii suara misterius.. Apa kau ada disana" batin rama.


"Ada.. Apakah kau sudah siap" tanya suara misterius.


"Sudah.. Kau bisa membuatku mati sekarang" ucap batin rama dengan tenang.


"Baiklah.. Kau akan meresa mengantuk dan setelah itu kau akan mati" ucap suara misterius.


Tiba-tiba rama mendapat serangan rasa kantuk yang sangat besar, dia tidak menahan rasa kantuk itu tapi dia malah meresapi dan lama kelamaan di terlelap dengan tenang.


Waktu sudah menunjukan sore hari, itu adalah waktu dimana lisa mengurus rama, dia tidak tau kalau lama sudah mati, jadi ketika dia mengecek rama dia sangat terkejut.


"I-ini.. Hisk.. Tidak mungkin.. Kenapa kau menjauh.. Padahal aku belum menjawabmu.. Hisk.." ucap lisa menangis.


"Dokter.. Cepat kesini.. Tolong periksa pasien rama" teriak lisa di tambah suara tangisan.


Mendengar suara teriakan para dokter dan perawat lain langsung menghampiri arah suara itu.


Tap.. Tap.. Tap..


"Ada.. Apa" tanya dokter.


"P-pasien rama.. Hisk.. Aku sudah tidak bisa merasakan nadinya berdetak.. Hisk" ucap lisa sambil menangis.


"Sela.. Tenangkan lisa.. Kalian telpon orang tuanya" perintah dokter.


Setelah itu semuanya berbagi tugas dokter memeriksa rama, sela menenangkan lisa, dan perawat yang lain mencoba menghubungi orang tua rama.

__ADS_1


"Sudah.. Kenapa kau menangis" ucap sela menenangkan.


"Hisk.. A-aku.. Merasa sesak.. Tadi pagi dia mengungkapkan perpisahan tapi aku anggap bercanda.. Tapi kenyataannya sekarang dia pergi.. Hisk" jelas lisa sambil nangis.


"Tenanglah.. Mungkin ini yang terbaik untuk dia kau harus merelakannya" ucap sela.


"Apanya yang tenang.. Aku bahkan belum bisa membalas ungkapannya tadi pagi.. Dan ketika aku ingin membalasnya dia sudah pergi.. Hisk" ucap lisa kesal kepada dirinya sendiri.


"I-ini.. Maaf aku tidak tau apa-apa" ucap sela tidak tau harus berkata apa lagi sambil memeluknya.


"Hisk.. Rama.. Hisk" ucap lisa.


Setelah itu dia pingsan di pangkuan sela.


"Kasihan sekali.. Kau sudah menyukainya sejak lama.. Tapi ketika dia mengungkapkan dia sudah berada di ujung tanduk" gumam sela sambil membelai rambut lisa.


Tap.. Tap..


"Bagaimana.. Keadaan lisa" tanya dokter.


"Dia.. Pingsan karena tidak bisa menahan rasa sakit" ucap sela.


"Apakah.. Karena dia belum mengungkapkan nya" tanya dokter.


"Sebenarnya.. Rama duluan yang mengungkapkan nya tapi ketika dia ingin membalas dia sudah pergi" ucap sela murung.


"Hah.. Kasihan sekali anakku yang satu ini" ucap dokter.


Setelah lebih dari 1 jam pemeriksaan dan kematian rama kedua orang tuanya datang kerumah sakit untuk memastikan.


Tap.. Tap.. Tap..


"Hah.. Hah.. Dok.. A-apa itu benar.. Dok tolong jawab.. Hisk.." tanya ibu rama sambil menangis.


"Dengan berat hati.. Itu memang benar sekarang ibu dan bapak bisa masuk melihat jasad anak kalian" ucap dokter dengan enggan.


Kedua orang tuanya rama langsung masuk kedalam kamar pasien untuk melihat anaknya yang sudah meninggal.


"I-ini.. Nak.. Kenapa kau meninggalkan kami begitu cepat" ucap ayah rama dengan suara rendah.


"Hisk.. Nak.. Ini ibu.. Tolong bangun nak" ucap ibu rama sambil menggoyangkan tubub rama.


"Bu.. Tenanglah.. Bukankah kita sudah berjanji akan melepaskannya" ucap ayah rama sambil mengeluarkan air mata.


"Tapi.. Pak.. Rama.. Hisk" ucap ibu rama terus menangis.


Setelah beberapa saat mereka berdua mulai menerima atas kepergian anak mereka satu-satunya, rasa kehilangan mereka sangat besar karena rama adalah anak yang baik dan berbakti.


Mereka berdua langsung keluar untuk menemui dokter untuk meminta dia agar memandikan jenazah anaknya dan antar dia kerumah mereka agar bisa dengan segera melakukan sesi doa untuk mendoakan anak mereka.


"Dok.. Tolong segera bersihkan anak saya dan terus langsung antar saja kerumah kami.. Agar malam ini kami bisa memulai doa agar dia bisa tenang disana" ucap ayah rama.


"Baiklah.. Saya akan lakukan.. Dan saya juga akan datang nanti malam dengan kedua anak saya" balas dokter.


"Baiklah.. Kalau begitu.. Kami pulang dulu" ucap ayah rama sambil membawa istrinya pergi.


"Sungguh.. Kau memang telah berhasil menjadi seorang ayah sahabatku.. Sekarang aku tinggal memikirkan cara agar membuat anakku tenang" gumam dokter.


"Huh.. Nak.. Kau sudah ku ponis bulan depan tapi malah pergi sekarang.. Sekarang aku harus menenangkan dia untukmu lo" sambung dokter.


.


.


.


.


Bagaimana.. Seru gak.. Rapih gak.. Kalo ada sesuatu komen aja ya..

__ADS_1


Jangan lupa Rate nya.. Like.. Serta Vote.. Mohon dukung Oke.. :)


__ADS_2