
...Diedit pada tanggal : 19-02-2022...
...----------------...
Hari ini adalah hari yang cerah, langit biru tanpa awan adalah pemandangan langka dari yang terlangka.
Karena bagaimanapun, pemandangan ini hanya bisa ku nikmati selama beberapa saat saja, paling lama sekitar 400 tetes air.
Kenapa aku menyetarakan nya dengan penghitung waktu yang rumit begitu? Jawabannya karena sekitar ku, disini tidak ada jam mekanik ciptaan manusia maupun jam matahari yang bisa ku buat dengan mudah.
Jadi aku hanya bisa berpatokan pada itu, embun dari cabang pohon rimbun yang tak jauh dariku, itupun jika air embun nya menetes. Dan terkadang tetesannya tidak konsisten, benar-benar alat penunjuk waktu terburuk yang ku gunakan.
Ngomong-ngomong tempatku saat ini adalah penjara menggantung, itu 100% terbuat dari batang kayu yang diikatkan dengan tanaman merambat.
Kurasa manusia menyebut tanaman itu Liana atau sejenisnya, tapi lebih mudah jika disebut tanaman merambat.
Itu dibuat menggantung cukup tinggi di atas permukaan danau dengan hanya mengikatnya pada sebuah cabang pohon tebal dimana 2 kereta kuda bisa berjalan di atasnya tanpa masalah.
Ah, benar. Alasan kenapa aku membicarakan ini adalah untuk memberitahukan keadaanku saat ini.
Di dalam penjara yang memiliki panjang 7 langkah kakiku dan lebar 5 langkah serta tinggi mungkin sekitar 3 atau 4 tubuhku, aku... sendirian, bahkan tanpa sehelai pakaian maupun kain untuk menghalau angin maupun serangga.
Syukurnya, berkat peniruan yang kulakukan berdasarkan tindakan dari orang-orang yang mencukur rambutnya hingga habis, aku bisa mengatur suhu tubuhku dengan benar.
Walau itu membutuhkan waktu sekitar 3 hari agar aku bisa menguasainya.
Di dalam penjara ini, tidak ada yang bisa kulakukan selain berusaha keras menjaga suhu tubuhku tetap hangat atau ketika aku harus berurusan dengan hukum alam.
Kau tahu maksudku, kan?
Meski begitu, aku tetap berterimakasih pada orang-orang yang mau merawat ku. Walau perawatan yang mereka lakukan sangatlah buruk hingga secara pasti bisa ku katakan, jika ada manusia yang diperlakukan seperti ini, mereka pasti akan menyerah hingga memohon-mohon untuk dibebaskan, mereka bahkan mungkin tak segan akan melakukan apapun yang orang-orang itu suruh. Tapi karena itu aku, aku bisa dengan sabar menunggu mereka membebaskan ku.
Oh, alasan kenapa aku bisa memiliki mental sekuat ini, karena ketika tidak ada kegiatan yang bisa kulakukan, aku akan menggunakannya mengingat Rajaku.
Rajaku adalah Dzat yang Maha Kuasa, Ia (Rajaku) adalah pencipta dari tubuh ini. Ia (Rajaku) juga yang membawaku ke tempat ini, walau aku sendiri tidak tahu apa alasan-Nya, karena sekalipun aku memikirkannya, jawabannya itu tidak akan ditemukan.
Selain itu, Rajaku lebih mengetahui daripada diriku sendiri, jadi mari kita pasrahkan itu dan biarkan Takdir membimbing kita.
"Oh... "
Penjaranya mulai dinaikkan, sepertinya sudah waktunya makan. Lagipula saat ini aku tidak bisa memikirkan alasan lain kenapa penjara dinaikkan.
Selain itu, makanan di tempat ini tidaklah buruk. Itu enak dan bisa dicerna perutku.
Kemudian, ketika penjara telah sejajar dengan cabang pohon, aku bisa melihat 3 orang berdiri sambil menatapku.
__ADS_1
2 Laki-laki dan satu perempuan.
Kedua Laki-laki itu masing-masing membawa busur kayu yang diperkuat dengan tulang dengan quiver yang dibuat menggantung dipunggung mereka dengan mengikatnya di bahu.
Di pinggang mereka juga terlihat pisau yang mereka sembunyikan sehingga hanya terlihat gagangnya saja.
Pakaian mereka sederhana, campuran warna hijau dan coklat. Bagian ketiaknya dibuat lebih terbuka agar memudahkan mereka dalam menggerakkan tangan, sementara celananya dibuat pendek.
Sepatu mereka berwarna coklat kehitaman. Itu terlihat seperti sepatu yang biasa orang-orang gunakan untuk berburu.
Sementara yang perempuan, ia memiliki penampilan yang tidak jauh berbeda dengan kedua lelaki itu. Hanya saja di pinggangnya terdapat tambahan rok yang mungkin untuk memberikan kesan feminim, dan dia tidak membawa senjata melainkan keranjang berisi buah.
Kemudian, setelah puas saling menatap, aku berdiri dan berjalan ke sudut penjara yang berada di sisi terjauh dari cabang pohon.
Melihat tindakanku, kedua lelaki itu mengangguk dengan wajah dipenuhi ketegangan lalu salah satunya berteriak sambil menoleh ke sisi cabang pohon yang kian menebal ketika itu semakin dekat dengan batang pohon besar.
"Hei! Bawakan papan penyeberangannya kemari! "
Tak lama setelah itu, 3 orang laki-laki yang berpenampilan sama dengan mereka datang sambil membopong sebuah papan kayu selebar tinggi ku.
Papan itu lantas mereka masukkan ke sebuah lubang penyangga yang terdapat di bawah penjara.
Kemudian, salah satu dari mereka bersama si perempuan menaiki papan penyebrangan itu, sementara sisanya menyiapkan anak panah mereka sambil di arahkan padaku.
Ini bukan eksekusi, melainkan sebuah kewaspadaan yang tidak perlu. Bagaimanapun, aku tidak bisa memberikan perlawanan apapun.
Jadi mari tunggu dengan sabar.
Ketika pintu terbuka, kedua orang itu masuk.
Si Laki-laki mencabut pisau yang dirinya sembunyikan sambil berdiri penuh kesiagaan antara aku dengan perempuan itu.
Sementara itu, si perempuan mengambil keranjang kosong bekas minggu kemarin yang berada di sudut penjara terjauh denganku, dan menukarnya dengan keranjang yang dirinya bawa, lalu pergi keluar dengan terburu-buru.
Jika dia tidak hati-hati, dia mungkin jatuh di jembatan penyebrangan nya.
*Sret*
"Eh-! Kyaa...! "
Lihat.
"Nona! "
*Tring*
__ADS_1
Laki-laki yang sebelumnya berdiri dengan penuh kewaspadaan kepadaku bergegas berbalik dan berlari keluar penjara.
"Pegang tanganku erat-erat. "
"Huhu... Aku sudah tidak mau melakukan ini lagi... "
Hm? Sepertinya dia terselamatkan. Meski di bawah ada air, tapi jatuh dari sini tetaplah beresiko. Terlebih jarak antara titik kau jatuh dengan pesisir danau cukup jauh, jika tidak memiliki stamina yang cukup kau mungkin hanya akan mati tenggelam.
"Aku akan membantu, satu orang tetap awasi Iblis itu. "
"Baik."
Mereka berkoordinasi dengan baik, tapi berapa kali pun aku mendengarnya, kata Iblis itu sangat tidak menyenangkan untuk di dengar. Jadi, tanpa sadar aku menajamkan mataku dan–
*Slub*
Sebuah panah kayu menancap di jeruji penjara di sampingku.
Oi oi, bukankah itu berbahaya. Jika meleset sedikit saja itu akan mengenai kepalaku.
"Hei! Apa yang kau lakukan?! " Teriak salah seorang dari mereka yang tidak jadi menolong perempuan yang terjatuh.
"Itu... Iblis itu tadi tiba-tiba menatap tajam pada ketua... "
"Bukan itu yang ku maksud, kenapa kau malah meleset! Apakah akurasi mu sejelek itu! "
Apa-apaan ini?! Apa kau berharap itu mengenai ku?! Meski itu tidak akan membunuhku, sakit tetaplah sakit.
Ah~ buruk, aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku sekarang.
"Kalian, awasi saja Iblis itu. Dan kau cepat bantu aku. " Teriak orang yang sebelumnya memberi perintah, sepertinya dia adalah ketua nya.
Ketika mereka sibuk menyelamatkan perempuan itu, pandanganku jatuh pada sebuah pisau yang sebelumnya dikeluarkan oleh laki-laki yang berdiri antara aku dan si perempuan.
Tapi untuk sekarang aku tidak berani mengambil tindakan, jadi diam saja sebagaimana mestinya.
Setelah keributan yang tak jelas itu, mereka berhasil menyelamatkan si perempuan. Tapi keranjang bekas minggu kemarin sekarang telah terjatuh ke danau, dan dia terlihat tengah menangis karena syok sebelumnya.
Dan tampa panjang lebar, si ketua memerintahkan untuk menutup kembali pintu penjara dan menarik papan, lalu menurunkannya.
Dari sini aku sendirian lagi, tapi pisau milik laki-laki itu masih tertinggal di dalam penjara.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
!
__ADS_1
Sebelum memikirkan masa depan, aku harus mengurusi masalah alam ini dulu.
"Pisang pisang, aku butuh kulit pisang. "