Mencari Kemuliaan Diantara Manusia

Mencari Kemuliaan Diantara Manusia
Altar Pengorbanan


__ADS_3

"Kami ini bukanlah manusia... Melainkan Elf. " Ungkapnya sambil menunjukkan telinganya yang panjang dari balik rambutnya.


Huh? Tunggu sebentar.


Elf? Aku tahu banyak manusia yang membanggakan ras mereka sendiri, tapi mereka tidak pernah menyanggah kalau diri mereka adalah manusia.


Atau mungkin, mereka ini golongan orang-orang yang senang mengaku sebagai Dewa? Atau mungkin orang-orang yang bangga akan ras mereka sendiri dan menganggap itu lebih unggul dari ras lainnya?


Meski telinga mereka lebih panjang dari pada telinga manusia pada umumnya, secara fisik mereka tidak jauh berbeda dengan manusia.


Mereka memiliki dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, satu mulut untuk berbicara, satu hidung untuk bernafas, dua tangan untuk menggenggam, dua kaki untuk berjalan, dan akal untuk berpikir.


Bahkan, sekali pun bagian-bagian itu diambil ketika bayi sehingga mereka terlahir cacat, selama mereka memiliki akal, mereka tetaplah manusia. Apakah mereka ini tidak menyukai manusia? Atau tidak bangga terlahir sebagai mereka? Aku ingin tahu.


"Kenapa kau menyanggah kalau dirimu adalah manusia? " Aku bertanya dengan nada biasa saja walau sebenarnya hatiku tengah di serang oleh gejolak euforia karena menemukan manusia yang tidak mengakui dirinya manusia.


Perasaan ini, belum pernah kurasakan sebelumnya. Bahkan ketika penguasa negeri yang tinggal di dekat sungai terpanjang di dunia mengaku sebagai Tuhan, atau ketika sebuah bangsa membangun menara tinggi untuk menantang Tuhan, aku yang kala itu melihatnya, sama sekali tidak merasakan hal seperti ini.


Aku memang penasaran akan jalan pikir mereka, tapi itu tidak sampai membuatku berani melakukan kontak dengan mereka dan berbicara.


Dan mungkin karena sekarang aku berada di dalam tubuh manusia, nafsuku mendorong hatiku untuk mengungkap kebenaran itu.


"Itu pertanyaan yang aneh? Kau yang bisa berbicara dalam bahasa kami menanyakan hal seperti itu. Seakan-akan kami Elf dan manusia—... " Orang itu berhenti bicara seakan baru saja menyadari sesuatu, lalu seketika tatapan matanya berubah tajam. "Kau... Apa kau ini berasal dari ras Iblis?! "


Ketika orang itu mengungkap hal tersebut, orang-orang disekitarnya ikut menoleh kepadaku, bahkan mereka yang sedang mendayung ikut menoleh setelah berhenti mendayung.


"Ras Iblis?! "


"Apa maksudmu, Zarbanam? Bagaimana bisa mereka memasuki Hutan? "


"Aku tak bisa percaya, apa mereka kesini untuk membunuh Penjaga Danau? "


Sementara mereka sibuk dengan pemikiran mereka sendiri-sendiri, aku yang mendengar kata iblis mulai berpikir.


Apakah aku tidak salah dengar? Tadi dia bilang ras Iblis?


Berdasarkan apa yang ku ketahui, Iblis hanya ada satu. Mereka bukanlah sebuah Ras atau sejenisnya, melainkan hanya seseorang.


Selain itu, Iblis memiliki makna Makhluk Terkutuk atau Makhluk yang dilaknat Tuhan. Dengan kata lain, jika ungkapan Iblis diperlebar hingga seperti itu, maka satu ras tersebut bisa di maknai sebagai ras yang dilaknat Tuhan.


Aku tahu orang-orang yang di akhir zaman sedikit keliru dalam memaknai Iblis dan Setan, mereka malah memaknai 2 hal tersebut sebagai suatu entitas yang sama, walau faktanya keduanya berbeda.


Iblis mungkin bisa dikategorikan sebagai Rajanya para Setan, atau lebih jelasnya Iblis adalah Setan tapi Setan bukanlah Iblis. Karena bagaimanapun juga, Setan selalu berada diantara Manusia dan sebangsa dengan Iblis.


"Aku tidak menyukai ungkapan mu! Sekarang aku berada dalam tubuh manusia pemberian Rajaku, untukmu yang menganggapnya (tubuhku) sejenis dengan Iblis, aku tak terima! " Ucapku dengan sorotan mata tajam karena marah dipanggil sebagai sesuatu yang sejenis dengannya.


Ini bukan karena aku dendam maupun benci padanya, tapi untuk menyebut Makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna (Manusia) sebagai Iblis, itu sangatlah buruk.


Karena tindakanku, mereka yang mengaku sebagai Elf mengambil langkah mundur. Itu tidaklah lebar, mungkin hanya beberapa senti saja.


Yah, aku tidak bermaksud menakuti mereka, tapi ungkapan seperti itu lumayan menyayat hatiku. Tolong berhati-hatilah kedepannya, aku tidak ingin tersulut amarah seperti Qabil yang membunuh saudaranya Habil hanya karena kedengkian dan rasa amarah sesaat.


"Y–yah, itu bukan sesuatu yang bisa ku putuskan. Akan ku serahkan kau pada para Tetua nanti. " Ucapnya agak takut.


Lalu–


"Zarbanam, kita hampir sampai! " Seseorang yang menaiki perahu berseru padanya.


Aku penasaran arti dari nama itu.


Semua orang yang mendengar ucapan itu menoleh ke depan, dan mendapati sebuah Altar Batu yang mirip seperti kuil yang kulihat di benua barat. Itu tidak terlalu tinggi seperti yang ada di sana, mungkin sekitar 5 sampai 7 meter.

__ADS_1


Melihat itu, seketika aku teringat akan ritual yang dilakukan oleh suku itu.


Aku tidak akan dikorbankan, kan? Mereka tidak akan membelah dadaku dan mempersembahkan jantungku pada sesuatu yang mereka sembah, kan?


Entah kenapa aku mulai khawatir.


Setelah akhirnya perahu tiba, orang-orang mulai berdiri.


"Ayo segera kita selesaikan urusan ini, dan temui Tetua untuk mengurus anak itu. " Ucap orang yang bernama Zarbanam.


Semuanya lantas bergerak, 4 orang naik ke kuil dan 4 sisanya tetap di rakit. 2 dari keempat orang itu bergerak mendekatiku, salah satunya adalah Zarbanam.


Orang yang ikut mendekat, menunjukkan ekspresi cemas seakan takut akan menyerang setelah ikatannya terlepas.


"Zarbanam, kau yakin akan hal ini? "


"Yakin atau tidak, kita tetap harus melakukannya! Dan kau, kurasa salah menganggap mu sebagai anak manusia, jadi akan ku panggil kau Iblis! "


"Hey, sudah kubilang aku tak terima itu! " Keluhku dengan suara agak tinggi.


"Kau bisa jelaskan itu pada para Tetua nanti, aku hanya akan melakukan apa yang harus kulakukan. " Zarbanam mengeluarkan sebilah pisau yang terlihat seperti terbuat dari batu dan mengarahkannya ke dadaku, lebih tepatnya jantungku. "Jika kau melakukan hal yang mencurigakan, akan ku tusuk jantungmu! "


Yang benar saja?! Sekarang kau mau mengancam!


"Potong akar di ujung sana dan ikat tangannya. "


"Eh? Baiklah. "


Orang yang mendekat bersama Zarbanam, berjalan menuju ujung rakit dan memotong akar di sebelah sana, lalu dia kembali kepada Zarbanam dan mulai mengikuti instruksi Zarbanam setelah melepas tanganku dari ikatan akar lainnya.


Sementara itu, 2 orang yang sebelumnya menganggur mulai bergerak. Mereka mengeluarkan pisau dan memotong akar lainnya, lalu memindahkan apa yang terikat di sana.


Kemudian, dia membantu memotong ikatan sisanya, dan menggunakan nya untuk mengikat lengan bagian bawah ku beserta kakiku.


Dan meninggalkanku tergeletak begitu saja di atas rakit, sementara dia ikut membantu yang lainnya memindahkan bangkai binatang itu.


Dari mereka, air menetes seakan habis terkena hujan.


Jika di lihat baik-baik, aku tidak menemukan luka maupun darah. Bagaimana cara para binatang itu mati? Dan juga, para binatang ini sebenarnya dikorbankan untuk siapa? Dan manfaat apa yang akan mereka dapat dari pengorbanan ini? Dan bagaimana jadinya jika tidak ada binatang lagi yang bisa dikorbankan?


Pertanyaan itu terus berputar di dalam benakku.


Lalu, setelah semuanya dipindahkan ke atas Altar Pengorbanan.


Mereka semua mulai menaiki perahu dan rakit kembali, lalu menjauh dari Altar.


Eh? Sudah selesai? Apakah mereka tidak memiliki ritual khusus? Sebenarnya mereka mengorbankan para binatang itu pada apa?


Tanpa bicara apapun, kendaraan yang kami tumpangi semakin menjauh dari Altar Pengorbanan. Karena situasi ku yang buruk, aku enggan menanyakan situasi saat ini dan memilih berbaring sambil menghadap Altar Pengorbanan yang kami jauhi.


Lalu, kendaraan kami berhenti.


Aku menoleh pada mereka kembali dan mendapati Zarbanam berdiri.


"Tunggu, aku tidak melakukan hal yang mencurigakan atau sejenisnya, aku hanya melihat Altar pengorbanan yang kita tinggalkan! " Jelas ku agak panik.


Namun Zarbanam mengabaikan semua perkataan ku.


Aku mulai cemas, jika dia tang kemari dan mencoba menusuk Jantungku, akan ku jatuh kan dia dari sini dan melepas ikatan ku secara paksa.


Tapi untungnya, apa yang ku cemaskan tidak terjadi. Atau lebih tepatnya, Zarbanam hanya berjalan melewati ku begitu saja untuk sekedar berdiri di ujung rakit.

__ADS_1


Lalu dengan tangannya ia mengambil batang kayu yang menggantung di pinggangnya. Batang kayu itu memiliki lubang, mirip seperti seruling yang kulihat di negara-negara benua selatan.


Kemudian, dia menggunakan itu untuk memainkan sebuah suara.


Suara halus dan jernih hingga bisa membuat riak di dekatnya. Itu muncul sejauh mata memandang seakan menanggapi melodi dari suara yang keluar dari alat musing yang Zarbanam mainkan.


Itu aneh. Suara memang bisa mempengaruhi air, tapi tidak mungkin untuk mempengaruhi air sebanyak ini.


Dan setelah permainannya tersebut selesai, ia menggantungkan alat itu kembali di pinggangnya dan mulai merentangkan tangannya ke atas seakan sedang berdoa.


"Wahai Roh Air! Kami bersihkan rumahmu, dan membawa kotorannya ke atas batu. Sekarang panggil lah Penjaga mu untuk memakannya agar bisa menjadi makanan bagi rumah kami. "


Apa itu doa? Itu terdengar seperti perintah daripada sebuah doa, bahkan tidak ada kata permohonan. Apa-apaan orang-orang ini? Mereka bukanlah orang Religius maupun percaya leluhur, mereka lebih seperti orang-orang yang siap menantang Tuhan jika ada di dunia Rajaku.


Setelah Zarbanam menyelesaikan ucapannya, danau mulai beriak kembali namjan kini lebih intens. Aku bisa melihat berbagai macam riak air di sekitarku saling bertabrakan satu sama lain.


Lalu setelah beberapa saat berlalu, butiran-butiran cahaya biru langit muncul ke permukaan air. Mereka melompat keluar dan mulai mengisi sekitar kami layaknya kunang-kunang di musim kawin.


Mereka berjumlah sangat banyak, tapi tidak menghalangi pandangan kami.


Ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan berseliweran kesana kemari.


Aku yang menyaksikan itu terpana, jika terjadi di malam hari, aku yakin akan tampak lebih indah.


Mengecek sekitarku, aku mendapati semua orang terpana oleh pemandangan di depan mereka, beberapa bahkan bergumam, “Berapa kali pun aku melihatnya, ini memang lah luar biasa. ”


"Kau benar. "


Namun, tanpa membiarkan kami menikmati pemandangan tersebut lebih lama, Zarbanam menyuruh semua orang untuk kembali bekerja.


"Ayo kembali, sebelum Penjaga Danau muncul. "


"Ya."


Balas yang lainnya kecewa.


Orang-orang kembali duduk dan mendayung, sementara sisanya fokus memperhatikan segala penjuru danau.


Aku yang sudah tidak merasakan ketertarikan akan mereka, mengalihkan perhatianku menuju Altar.


Aku penasaran siapa penghuni danau ini.


Lalu, ketika Altar mulai terlihat sukuran kuku jari manusia, aku melihat beberapa tentakel yang ukurannya melebihi Altar muncul dan menarik bangkai-bangkai di atas Altar batu ke dalam air.


Apa itu?


Tentakelnya menyerupai tentakel gurita, tapi apakah gurita memang bisa sebesar itu? Aku yakin bahkan itu belum semuanya.


Secara perlahan, aku mencoba mendekati ujung danau untuk melihat apa yang tersembunyi di dalamnya, tapi Zarbanam menahan ku.


"Bukankah tadi aku bilang akan menusuk jantungmu jika kau bertingkah mencurigakan?! "


"Itu... Anu... Aku mau melihat pemilik tentakel itu... "


"Jangan bertindak bodoh, saat ini seluruh penghuni danau di dekat permukaan tengah berenang menjauh. Kau yang tiba-tiba memasukan kepalamu ke dalam air hanya akan di anggap ancaman. Jika hanya kau yang dianggap ancaman, aku tidak akan mempermasalahkannya, tapi itu juga akan menjadi ancaman untuk kami. "


"Begitu yah, maaf soal itu. "


Aku mengurungkan niatku dan terdiam sambil melihat tentakel-tentakel itu menarik bangkai binatang di atas Altar satu persatu.


Ku harap nanti bisa melihat siapa pemilik dari tentakel itu.

__ADS_1


__ADS_2