Mencari Kemuliaan Diantara Manusia

Mencari Kemuliaan Diantara Manusia
Anak Manusia dan Pohon Besar


__ADS_3

...Diedit pada tanggal : 20-02-2022...


...----------------...


Di kala kesadaran ku mulai terkumpul, sengatan cahaya matahari terasa menembus kelopak mataku. Karenanya aku yang tidak butuh tidur, terbangun... dan menyadari kalau tubuhku saat ini tengah terikat oleh sesuatu.


Dari apa yang kulihat, itu adalah tanaman merambat. Apa aku tidak sadarkan diri hingga tanaman merambat mengikatku?


Berpikir ke sana, aku mencoba melepas ikatan itu, tapi bahkan untuk menggerakkan tanganku itu sudah sangat menyusahkan karena ikatannya cukup kuat. Selain itu, aku merasa kedinginan ketika angin berhembus menerpaku.


"Aku lupa meminta pakaian. " Gumamku, kemudian menyerah untuk melepas ikatanku.


Saat aku merilekskan leherku sambil memandang langit, terdengar bisikkan dari sisi kanan, tapi aku mengabaikannya karena melihat sebuah sebuah cabang pohon besar yang membentang lurus ke depan jauh di langit.


Cabang pohon itu memiliki cabang-cabang kecil lainnya yang ditumbuhi dedaunan rimbun.


Lalu, ketika aku mencoba menelusuri sumber cabang itu, aku mendengar suara seseorang terkejut.


"Zarbanan, anak itu masih hidup?! "


Sontak aku menoleh pada sumber suara itu.


Di sana, 4 orang —1 menunjuk ku dengan tubuh setengah berlutut, dan tiga lainnya hanya menoleh padaku— dengan mata seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Mereka berada di atas rakit dan memiliki penampilan mirip seperti orang-orang yang tinggal di benua dekat kutub utara, jika kita mengabaikan telinga mereka yang tidak terlihat biasa dimiliki manusia.


Kalau harus dijabarkan, rambut mereka pirang panjang tergerai dengan mata berwarna hijau zamrud, kulit mereka kencang berwarna kuning tapi mendekati putih, bertelinga panjang, lebar dan runcing di ujungnya.


Untuk pakaian, mereka mengenakan pakaian yang tipis. Warnanya seperti campuran antara hijau daun tua dan muda, lengannya terpotong dan bagian depannya terbelah. Sementara bagian bawahnya, itu pendek berada di atas lutut.


Pakaian mereka terlihat seperti dibuat khusus untuk menghindari cuaca panas.


Juga, di leher mereka tergantung kalung dengan 3 hiasan berwarna putih ke abu-abu berbentuk menyerupai taring. Ada juga gelang di pergelangan tangan dan kaki, tapi hiasan yang dipasang berupa 3 helai daun muda.


Ditambah, mereka tidak mengenakan alas kaki, namun anehnya kaki mereka bersih. Tidak terlihat seperti orang yang akan berjalan-jalan tanpa alas kaki.


Lalu tepat dibelakang mereka ada perahu, jumlahnya dua dan bentuknya menyerupai perahu yang ada di negara-negara kepulauan dekat garis khatulistiwa, dimana mereka menggunakan itu sebagai kendaraan untuk menangkap ikan di laut.


Masing-masing perahu dinaiki oleh 2 orang yang berpenampilan sama seperti seperti mereka, tapi mereka yang ada di atas perahu hanya melihatku dengan mata sipit.


Sepertinya mereka tidak bisa memahami apa yang baru saja terjadi, sehingga mereka berusaha keras untuk melihat apa yang orang-orang ini lihat.


Yah, aku sendiri tidak memahami kenapa ini bisa terjadi. Mengesampingkan itu, bahasa yang mereka gunakan terdengar asing, meski aku bisa memahaminya berkat kemampuan pemberian Raja ku yang sekarang kumiliki.


Apakah dunia ini juga mengembangkan bahasa mereka sendiri?


Jika aku mencoba merujuk ekspresi mereka dengan kata-kata sebelumnya, maka ada kemungkinan tadi mereka mengira aku sudah mati.


Meskipun pada dasarnya aku tidak bisa mati. Tapi apa mungkin sebelum kesadaran ku pulih, tubuh ini berada dalam keadaan yang bisa membuat mereka berpikir aku mati?


Syukurnya, berkat kemampuan ini, aku jadi tidak memiliki masalah dalam berkomunikasi dengan mereka.


Jadi aku bisa menjelaskan keadaanku pada mereka, tapi sebelum itu–.


"Uhm... Manusia. Sebelum kita bicara, bisa kalian bantu aku terlebih dahulu? "


Mendengar permintaan ku, mata mereka terbelalak seakan baru saja melihat sesuatu yang mengejutkan, jadi aku menoleh ke sisi lain untuk mengecek, tapi tidak ada sesuatu yang mengejutkan.


Apa mereka salah lihat? Juga, dimana ini?


Aku hanya bisa melihat air yang membentang luas.


Aku kembali menoleh pada mereka yang sekarang menunjukkan tatapan bingung, penasaran dan cemas. Serta mereka yang menunjukkan telah menurunkan tangannya.


Ternyata benar salah lihat.


Jadi aku meminta tolong sekali lagi.


"Anu... Bisa bantu lepas ikatan ini dulu. Aku juga kedinginan, jika kalian bisa berbaik hati, tolong berikan pakaian atau kain untuk menyelimuti tubuhku. "


Seketika wajah mereka menegang, keringat terlihat mengalir turun dari pelipis dan kening mereka.


Lalu salah satu dari mereka bergumam lirih.


Aku tidak bisa mendengarnya, tapi ucapan orang yang menunjukku sebelumnya masih terdengar jelas.


"Zarbanam, bagaimana sekarang? "


Kemudian, orang yang bergumam lirih berdiri dan maju sambil berkata, “aku akan mengurusnya.”

__ADS_1


Terdapat jarak antara aku dengannya, itu sekitar 3 atau 4 langkah.


Setelah itu, dia memulai pembicaraan.


"Anak manusia, siapa namamu? "


"Nama? "


"Yah, namamu? " Dia bertanya kembali masih dengan wajah tegang, namun kini tatapan matanya hanya menyisakan kecemasan dan penasaran.


Hm... Berbicara soal nama, tidak ada yang pernah memanggilku dengan nama yang merujuk padaku, walau julukan memang ada. Selain itu, aku bahkan tidak tahu namaku sendiri.


Selain itu, keadaanku ini mulai membuatku tidak nyaman. Ayo selesaikan pembicaraan ini secepatnya.


"Bisa kita kesampingkan itu dulu, aku benar-benar merasa tidak nyaman berada dalam keadaan seperti ini. "


Dengan menajamkan tatapannya, ia membalas “apa sesulit itu memberikan jawaban. ”


Jadi aku menjawab, “bukan, bukannya sulit. Lebih tepatnya, aku sendiri tidak memiliki nama, dan menjelaskan itu akan memakan waktu lama. Jadi tolong, setidaknya lepaskan ikatan ini terlebih dahulu. "


Dia mendengus kesal.


"Jika kau tidak ingin berada dalam keadaan seperti itu lebih lama, sebaiknya kau cepat jelaskan alasan itu terlebih dahulu. "


Yang benar saja, sepenting itukah namaku?


Kalau tidak salah, beberapa manusia bisa mengutuk manusia lainnya hanya dengan nama dan foto menggunakan bantuan Jin, Setan, atau Iblis.


Apakah mereka berniat melakukan itu?


Kalau diperhatikan baik-baik, mereka ini tidaklah biasa. Baik penampilan maupun pakaian, bahkan kendaraan.


Sebenarnya mereka ini mau kemana? Dan kenapa mereka membawa tubuhku yang mereka perkirakan sudah mati?


Tempatku berbaring juga aneh, ini empuk tapi juga kasar.


Terasa seperti bulu binatang.


Namun anehnya tidak ada bau binatang, melainkan aroma menyengat yang terasa agak pahit.


Itu tidak terlalu menggangguku, jadi aku mengabaikannya. Lagipula, ini bukan tujuanku mulai mempertanyakan niat mereka.


Jika tujuan mereka adalah menyelamatkan tubuhku, seharusnya mereka menyiapkan kain untuk menutupi tubuhku.


Sepertinya, aroma menyengat yang kucium bertujuan untuk menyingkirkan bau tersebut.


Tapi yang lebih penting dari itu semua, aku benar-benar mulai tidak menyukai perasaan yang tertimbun di dalam hatiku.


"Aku yang tidak memiliki nama bukanlah karena keinginanku sendiri, melainkan Rajaku sendiri tidak memberikan aku nama. Bahkan makhluk yang Rajaku ciptakan memanggilku dengan sebutan Makhluk Hitam. "


Mendengar penjelasan ku, orang itu mulai berpikir. Tak lama kemudian, dia melontarkan pertanyaan baru.


"Apa tubuh manusia yang terikat sekarang ini, bukan tubuhmu? "


"Aku tidak tahu, jika aku bisa melihat wajahku sendiri kurasa aku bisa menjawabnya. "


Orang itu kembali termenung sebelum akhirnya memberikan jawaban yang bisa membuatku senang.


"Seperti yang kau katakan, ini akan memakan waktu. "


Dengan wajah bahagia, aku segera meminta mereka melepaskan ku lagi. Tapi, balasan yang kudapat malah gelengan kepala.


"Apa! Kenapa? "


"Kami sedang dalam perjalanan untuk memulai ritual pengorbanan. Jika kami melepas mu sekarang, bangkai tempat kau terbaring akan berjatuhan. Karena bagaimanapun juga, kami mengikatnya dengan simpul mati. "


Aku hanya bisa terbengong mendengar penjelasannya.


Ritual pengorbanan?


"Apa kalian hendak menjadikan tubuhku tumbal? "


"Jika kami tidak sadar kau masih hidup, kemungkinan itu pasti terjadi. "


OI Oi oi, yang benar saja?! Aku baru saja mendapat tubuh manusia ini tak lama, masa harus meninggalkannya secepat ini?!


Tidak, tenang. Aku harus tenang.


Mari pahami dulu keadaanku saat ini.

__ADS_1


Benar, sesuatu yang mendasar adalah memahami sekitarku terlebih dahulu.


Tapi mulai darimana?


"Hm... Makhluk Hitam? "


Mendengar aku dipanggil, aku mengembalikan perhatianku padanya.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Menunggu? Atau... Kabur? "


Mendengar perkataan yang, Orang-orang disekitarnya melihat padanya dengan ekspresi tercengang, sayangnya aku tidak punya waktu untuk memikirkan itu.


Jika aku ingin lepas dari perasaan yang tidak nyaman ini, kabur adalah pilihan yang tepat. Selain itu, aku bisa melepas ikatannya sendiri setelahnya dan kembali pada tubuhku untuk mencegah sel-selnya mati.


Namun, jika kulakukan itu, maka ritual mereka akan terganggu. Berdasarkan nama Ritual mereka saja, aku sudah tahu bahwa bangkai binatang ini sangat penting bagi mereka.


Akan tetapi, jika aku harus memilih menunggu, aku harus menanggung perasaan tidak nyaman itu lebih lama.


Sadar akan sesuatu, ketegangan yang kurasakan seketika sirna.


"Berapa lama aku harus menunggu? "


Orang-orang yang berada di atas rakit menepi, membuatku bisa melihat sebuah batu yang jaraknya masih lumayan jauh.


Tapi perhatianku segera tertuju pada sebuah tanah yang meninggi semakin itu ke sisi kanan.


Jadi dengan mengikuti itu, aku menengadah dan menemukan sesuatu yang luar biasa.


"Altar batu itu, bisa kau–? Ah, itu adalah Pohon besar rumah kami. Kau bahkan bisa melihat dari negara-negara yang berbatasan dengan hutan. . "


Aku tidak mendengarkan, meski itu terdengar jelas.


Jika ku ingat-ingat kembali, aku sempat melihat cabang pohon raksasa yang menjorok ke depan.


Aku tadinya mencoba menelusuri dari mana sumber cabang itu berasal, sebelum akhirnya fokus ku tercuri karena mereka.


"Besar sekali. "


"Menakjubkan bukan? "


Itu sangat besar, terlalu besar.


Tentu aku pernah melihat yang jauh lebih besar dari ini di Surga, tapi untuk sebuah pohon yang tumbuh di dunia, ini terlalu besar.


Berapa tingginya, ah... Itu bahkan menembus awan. Aku tidak bisa melihat ujungnya.


Cabangnya juga tersebar ke mana-mana.


"Makhluk hitam. "


"Hm! Yah, ada apa? "


Perhatianku kembali tertuju padanya, tapi hatiku masih menuntut ku untuk memandang pohon besar itu.


"Apa kau akan menunggu? "


"Um? Yah, kurasa. "


"Baiklah." Balas orang itu, lalu menyuruh semuanya kembali bekerja.


Aku memutuskan untuk mengabaikan mereka, dan kembali menatap pohon besar itu.


Aku jadi penasaran, “Jika ku tebang, kurasa cukup untuk membuat Bahtra yang sama dengan yang dibuat Nuh”.


Tidak, melihat ukuran dan tinggi pohonnya, itu seharusnya cukup untuk membuat yang lebih besar.


Kira-kira seberapa besar itu, apa cukup untuk menampung jutaan nyawa manusia?


Kuharap itu bisa sampai ratusan juta.


Aneh, aku merasa pergerakkan kita masih lambat. Apa mereka sengaja agar aku bisa menikmati pemandangan pohon besar itu? Meski begitu, aku lebih senang jika mereka cepat-cepat menuju altar agar aku terbe... Bas?


Mereka yang berada di atas rakit menatapku tercengang, sementara yang berada di kapal menunjukkan ekspresi "ada apa lagi ini? "


"Ada yang salah? " Tanyaku, karena sepertinya sumber dari ekspresi mereka disebabkan olehku.


Dan orang yang sebelumnya mengobrol denganku mewakili mereka, menutup mata. Kemudian, dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


Lalu, seketika tatapan tajam terlihat.

__ADS_1


"Kau... Apa kau ini sebenarnya ras Iblis? "


Huh?


__ADS_2