Mencari Kemuliaan Diantara Manusia

Mencari Kemuliaan Diantara Manusia
Awal Pertemuan : PoV Yarinoda


__ADS_3

Sebagai orang luar, aku mengenal manusia dengan cukup baik.


Banyak bahasa manusia yang kukenal, dan aku cukup menguasai bahasa umum mereka. Bahasa ini harus dikuasai oleh mereka yang selalu berpergian, contohnya pedagang dan pengelana.


Para Elf juga tidak terkecuali jika mereka ingin berpergian.


Tapi anehnya anak manusia di depanku tidak mengenali bahasa itu. Tidak, bukan itu yang harus ku perhatikan saat ini.


Melainkan alasan bagaimana anak manusia bisa memahami bahasa kami para Elf.


Elf hanya memiliki 1 bahasa. Aku tidak tahu dengan mereka yang berada di sebrang lautan, tapi mereka yang ada di daratan ini hanya memiliki satu ini sebagai bahasa mereka.


Terlebih bahasa ini sangat jarang kami gunakan kecuali di dalam hutan atau ketika sesuatu yang ingin kami bicarakan sangatlah penting hingga tidak boleh didengar oleh ras lain.


Dengan kata lain, untuk ras selain elf bisa berbicara bahasa kami itu sangatlah tidak mungkin.


Tadinya aku mengira itu kalau aku salah dengar, tapi ternyata dia benar-benar bisa berbicara bahasa kami.


Apa dia ini benar-benar Iblis seperti yng dikatakan Zarbanam?


"Itu... Adalah bahasa umum yang biasa digunakan manusia, apa di tempatmu lahir tidak ada yang memberitahumu? " jelasku.


"Hihi, mana mungkin ada. Bahkan aku baru tahu ada bahasa itu. "


Kalau begitu kenapa kau bisa berbicara bahasa umum?


Anak ini aneh, terlalu aneh. Aku sudah terlanjur memotong ikatan kakinya, aku tidak bisa melanjutkan ini lebih jauh lagi.


"Begitu yah. "


Aku berdiri dan memasukkan kembali pisau ku ke sarungnya.


Anak itu memandangku bingung dan memperlihatkan tangannya yang masih terikat.


"Anu... Yari. Ini masih belum dipotong? "


"Jika kau ingin aku memotong tanganmu juga, aku akan dengan senang hati melakukannya. "


Mendengar balasanku, dia seketika menegang.


"Baiklah, begini saja tidak masalah. Aku akan melepas ikatan tanganku sendiri. "


"Sendiri. Apa kau berniat kabur? "


"Kabur? Dari apa? "


Apa-apaan anak ini? Apa dia benar-benar Iblis? Apa dia meremehkanku?


"Dari ku. "


"Kenapa? "


"Kenapa? Bukankah kau dengar apa yang dikatakan Zarbanam sebelumnya, aku harus membawamu masuk ke penjara. "

__ADS_1


"Apa! Tapi aku bukan Iblis! "


"Huft... Mana ada pencuri yang mengaku pencuri. "


Ekspresi wajahnya terlihat terkejut. Apa itu karena penyamarannya ketahuan? Untuk jaga-jaga aku harus waspada.


Menggenggam gagang pisau yang telah ku sarungkan, aku melanjutkan pembicaraanku.


"Tunggu apa lagi, cepat jalan. "


Menarik pundak anak itu, aku menyuruhnya jalan ke arah yang ku tuju.


Sambil berjalan, dia megumamkan sesuatu dengan bahasa yang tidak kukenali. Apa dia sedang membaca manra?


"Oi." Menahan pundaknya, dia lantas berhenti berjalan dan menoleh padaku dengan tatapan tajam.


"Apa lagi? "


"Berhenti menggunakan mulutmu, atau aku akan menyumpalnya. "


"Setelah mengambil kebebasan tanganku, sekarang kau juga berniat mengambil kebebasan mulutku?! "


"Benar, akan kulakukan. Bahkan jika perlu, aku akan memotong lidahmu. "


Sial, aku kelewatan. Sepertinya aku terlalu terpengaruh oleh budaya manusia.


"Heh. Sepertinya kalian sangat bermusuhan dengan ras yang kalian sebut Iblis ini. " ucapnya dengan ketus


Memangnya salah? Hutan kami berbatasan dengan negara-negara manusia. Jika ada rumor kalau Hutan tempat tinggal para Elf menampung ras Iblis, kejadian yang tak menyenangkan bisa terjadi.


"Tidak ada, aku hanya penasaran seperti apa wujud mereka hingga kalian menganggap aku mirip dengan mereka. " Ungkapnya sambil mengangkat bahu, seakan menganggap itu tidak begitu penting.


Kemudian, dia mengambil langkah ke depan, tapi tidak berjalan karena aku masih menahan pundaknya.


"Akan sampai kapan kau menahan ku disini? "


Memang secara fisik, dia sama sekali tidak mirip dengan Iblis. Aku juga tidak merasakan Aura kematian dari tubuhnya. Meski begitu, apa mungkin untuk anak manusia yang terlihat seperti baru berumur 7 tahun bisa berbicara bahasa Elf dan tidak mengenali bahasa Umum mereka sendiri?


Jawabannya jelas tidak. Sekalipun kau bukan Iblis, kau jelas bukanlah manusia. Menganggap enteng keberadaanmu yang sangat ambigu, mana mungkin bisa kulakukan.


Aku yakin Zarbanam juga berpikiran sama. Karena itu menganggapmu sebagai Iblis akan jauh lebih memudahkan ku, kami semua dalam memahami betapa berbahayanya eksistensi mu.


Hingga para Tetua mengumumkan bahwa kau tidak berbahaya, maka saat itulah aku juga akan berhenti menganggap mu Iblis.


"Aku ingin bertanya sesuatu. "


"Apa? "


"Kenapa kau datang ke hutan kami? "


Mendengar pertanyaanku, dia menarik nafas dan menghembuskannya seakan sedang menenangkan dirinya.


Setelah bahunya terasa rileks oleh tanganku, dia berbalik dan menunjukkan ekspresinya yang tenang dan santai.

__ADS_1


"Aku sendiri tidak tahu. Hanya Rajaku yang Maha Mengetahui kenapa aku dibawa kemari. "


"Rajamu? "


Untuk seorang anak mengabdi langsung pada rajanya... Tidak, tunggu. Apa dia benar seorang anak kecil?


Dari kulitnya itu terasa lembut, usianya jelas masih terbilang muda.


...


Aku tahu beberapa raja manusia yang menyukai anak kecil, apa rajanya seperti itu? Apa dia ini budak yang dibuang? Tapi dari kulitnya lebih terasa seperti kulit yang terawat.


Kalau begitu, budak yang seperti itu. Tapi kenapa dia dibuang? Apa untuk menjadi mata-mata? Atau...


"Yarinoda. "


Anak itu melambaikan tangannya dihadapan wajahku.


"Apa yang kau lamunkan? "


"Huh? Oh, aku sedang memikirkan kenapa Rajamu mengirim mu kemari. "


"Huft... Hentikan. "


"Kenapa? "


"Jika Aku saja tidak tahu alasannya, maka kau pun akan sama. Selain itu, aku ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah ini dan segera memakai sesuatu. "


"Apa Zarbanam melucuti pakaianmu? "


"Entahlah.Tapi jika itu merujuk pada alasan kenapa aku di bawa ke daratan ini, maka kemungkinan besar itu disebabkan karena aku tidak meminta pakaian pada Rajaku. "


Itu alasan yang konyol. Tapi dari kata-kata nya, tampaknya dia berasal dari luar benua ini.


"Aku tahu manusia itu sangat pelit, tapi apa kebutuhan pokok sekalipun sampai harus kau minta? "


"Yah... Mungkin– Tidak, aku tidak suka berasumsi akan niat Rajaku. Untuk saat ini aku hanya akan menerima apa yang sudah Beliau berikan, dan menilainya setelah masalahku selesai. "


Dari kata-katanya, dia sepertinya sangat menghormati Rajanya. Selain itu, aku tidak merasakan tanda-tanda kemarahan selama berbicara dengannya.


Itu lebih seperti panik dan kesal, tapi tidak ada amarah.


Apakah normal untuk manusia yang mendapat perlakuan seperti ini tapi tidak marah sedikitpun?


Selain budak– Tidak, bahkan budak sekalipun akan marah dan takut.


"Mari akhiri disini jika kau ingin segera masalah ini selesai. "


"Kau benar. "


Dia berbalik dan mulai berjalan.


Mengikutinya dari belakang, aku kembali mengawasinya termasuk dengan sekitarku.

__ADS_1


__ADS_2