
Di pagi yang cerah, aku menuju sekolah ku yang berlokasi tepat di depan asrama kami. Aku pun pergi sendirian, dan aku ingat hari ini adalah jadwal piket kelasku. Dan tak disengaja, aku berpapasan dengan si dia. Aku pun pura-pura cuek dan tak melihat dia di sampingku. Dia hanya senyum-senyum kepadaku. Aku pun bergegas mempercepat jalanku. Aku gak habis fikir samanya, aku sering marah-marah, bersikap cuek, jahat, dan sering jelek-jelekin dia. Dia gak pernah balas perlakuanku kecuali membalasnya dengan senyuman dan tertawa. Aku sempat berfikir apanya yang lucu, tapi yang buat aku salut dia sangat berfikiran dewasa dan hidup mandiri tanpa seorang ayah yang hadir dalam kehidupannya. Huhh… tetap saja aku kadang gak suka lihat dia. Dia sering belain orang lain daripada aku, memang sih dia pernah bela aku tapi kadang-kadang.
Well.. balik lagi ke ceritaku tadi. Aku pun masuk kelas di bareng sama dia. Pagi-pagi itu hanya aku sama dia yang berada dalam kelas. Aku pun mengambil sapu, terus nyapu kelas, dia pun keluar. Tak berapa lama bel pun berbunyi tanda apel pagi kami setelah semua orang terkumpul. Ini hal rutin yang sekolah kami lakukan setiap hari. Aku pun meletakkan sapuku dan pergi mengikuti apel.
__ADS_1
Habis apel aktivitas kami adalah sarapan pagi terus pergi ke sekolah. Setelah sarapan aku pakai bedak lagi dan bergegas pergi ke sekolah. Ternyata dia ada di depan kelas, mungkin dia gak puasa. Dia pun tersenyum dan tertawa. Aku pun heran dan mengatakan, “apa?”. Dia pun menjawab, “lihat wajahmu bedakmu belepotan kemana-mana. Emangnya gak ada kaca yah di kamarmu”. Aku hanya dia memandangnya dengan sinis, tapi dalam hati aku sangat gengsi. Aduh kok bisa yah wajahku kayak gini, aku pun mengusap-usap wajahku dan berharap bedakku hilang.

__ADS_1
Setelah itu kami semakin dekat, kami sering ngobrol dan curhat-curhatan. Kadang aku gak permisi keluar kelas, dia gak pernah marah. Setiap pelajaran Fisika atau Matematika aku selalu bertanya padanya, dia selalu mengajariku dan mendahulukanku daripada orang lain. Dan pernah kejadian waktu kami ngobrol. Aku berkata, “kamu kurus kali. Lihat lebih kurusan kamu daripada aku”. Dia pun menjawab, “mana masih kurusan kamu yah”. Dia mengatakan itu sambil menggenggam pergelangan tanganku. Aku agak terkejut baru dia cowok yang menggenggam tanganku. Setelah itu dia pun menanyakan ukuran kakiku dan membandingkan kakiku sama kakinya. Aku pun menanyakan berat badan dan tingginya. Dari itu aku mulai merasakan aku suka sama dia dan merasa dia juga suka samaku. Karena pernah kepergok dia melihatku dan saat aku melihat ke arah dia, dia cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Dan saat aku duduk berduaan sama cowok di belakang kursi kelas, dia kayak marah dan menyuruh kami duduk ke bangku masing-masing. Dan pernah juga waktu kami ngobrol, aku yang becanda nanyak sama dia kayak siapa calon istrinya nanti, dia pun menjawab dengan menyebut diriku. Aku pun agak terkejut dan mengalihkan pembicaraan.
Setiap hari kalau kami tidak bertengkar, kami selalu ngobrol. Dan dari situ kami pernah dibilang orang-orang pacaran. Aku menepis berita itu, tapi kalau dia menanggapi dengan sikap yang biasa. Aku pun tiap malam kadang memikirkan dia, apakah aku suka sama dia, apakah aku terserang virus merah jambu seperti yang dibilang guru kami. Virus merah jambu adalah virus yang membuat kita tidur tak nyaman, makan tak enak, dan selalu terbayang-bayang wajah si dia. Sanking penasarannya aku apa aku suka samanya dan apa dia suka samaku. Aku mencari ke google tanda-tanda orang jatuh cinta, aku menemukannya dan membuka salah satu situs, ternyata tanda-tanda yang ku rasakan pas seperti di situs itu sebaliknya dia juga. Tapi sampai saat ini aku tidak terlalu yakin, karena sekarang dia sudah agak berubah dan menjauh. Apa karena aku yang menganggap gombalan dan hal-hal yang dia katakan biasa aja, dan karena aku sering marah-marah dan jelekin dia. Tapi jujur aku sangat kehilangan dia dan hatiku kadang tak tenang kalau aku gak melihat dia sehari dan kangen akan gombalannya. Banyak kisah yang ku alami dengannya sampai sekarang, tapi aku tak bisa merangkaikan dengan kata-kata. Aku berharap dia bisa lebih serius jika ngobrol samaku karena aku sulit membedakan mana yang becanda dan serius. Dan sekarang kamu yang disana, tiga kata untukmu, “Aku Kangen Kamu”.
__ADS_1