Mencintaimu Secara Diam-diam

Mencintaimu Secara Diam-diam
Kesetiaan


__ADS_3

“Eh Ren, Rio kayaknya naksir lo deh, samperin gih” celetuk Mita dengan tiba-tiba membuat Iren tersedak dengan es batu yang baru saja di kunyahnya. “Iya tuh Ren, dari tadi ngelirik lo terus” timpal Tami sambil melirik ke arah Rio yang sedang asyik ngobrol sama sobat cowoknya. Dipastikan kurang dari 5 menit sekali bola mata Rio berputar ke arah Iren Cs. “Ren, ini kesempatan bagus untuk mencoba ngelupain cowok lo yang lagi ada di planet lain itu” ucap Mita dengan nada yakin. Sementara Tami hanya mengangguk-angguk sambil melahap pisang aroma yang ada dalam genggamannya. “Ren, kita tuh nggak betah ngeliat lo ngelamunin pacar lo yang diculik alien itu” ucap Mita sekali lagi. Iren hanya terdiam sambil mengaduk es jeruknya yang tinggal setengah gelas. “Cakep sih cakep tapi yaaa… dia tuh kan jauh di sono Ren” tambah Tami. Iren semakin terdiam.


Sebenarnya ada gejolak marah dalam hatinya saat mendengar pembicaraan kedua sobatnya yang terus memojokkan Kak Ramon, cowok Iren. Mereka jadian saat Iren masih kelas 2 dan Kak Ramon kelas 3. Dipastikannya, itu adalah kenangan terindah dalam benak Iren. Saat dimana Kak Ramon selalu di dekatnya sambil tersenyum. Telah setahun peristiwa itu berlalu. Kak Ramon kini meneruskan kuliah di Teknik Informatika ITB Bandung. Memang kedengarannya keren sih, tapi karena itu pula Iren jadi kesepian berat. Itu karena Kak Ramon yang mulai jarang menelpon dan ponselnya juga nggak aktif. Hal itu membuat Iren cemas. “Mungkin kali aja dia udah punya cewek” celetuk Mita tiba-tiba membuat Tami menyenggol lengannya keras-keras. Memang, mendengar ucapan Mita membuat emosi Iren memuncak. Iren berdiri meninggalkan kedua sobatnya dengan tergesa, sorot matanya marah karena tersinggung.



“Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif, silahkan tinggalkan pesan.” Kalimat itu selalu mendengung nyaring saat Iren berusaha menghubungi Kak Ramon. Hal itu membuat Iren cemas. “Apa benar yang diucapkan Mita?” tanya Iren dalam hati. Mungkin Kak Ramon sudah ngelupain aku, tapi… ah nggak mungkin!!. Mungkin dia lagi sibuk. Sementara pikiran–pikiran itu berkecamuk dalam kepala Iren. Ia tidak menyadari kalau ada seorang cowok yang duduk menyandingnya. “Woi, ngelamun aja” ucap cowok itu setengah membentak membuat Iren gelagapan karena terkejut. “Apaan sih, Yo…” ucap Iren sambil menepuk lengan Rio. “Aku cuma mau bilang kalau dari tadi tuh kamu melamun teruuss” ucap Rio dengan nada berlebihan. Iren hanya terdiam kesal karena Rio telah mengganggu jam melamunnya. Lagian memangnya dari tadi Rio merhatiin aku terus, ucap Iren kesal dalam hati. Walaupun sebenarnya dalam hati Iren nggak terlalu marah saat menatap wajah Rio yang terlihat keren dengan rambut menantang langitnya. Pantas saja banyak cewek yang mengidolakan seorang Rio sama seperti kedua sobat yang dimiliki Iren. “Woiii!!! benerkan kamu tuh kerjaannya melamun aja, jangan-jangan kamu ngelamunin aku yaaa…” tebak Rio dengan percaya diri. Ihhhh please deh ngelamunin Rio, GR-ran banget sih ni anak. Mulut Iren hanya bisa komat-kamit menggumam setelah mendengar tebakan Rio yang es teh alias sok teu. “You wish” ucap Iren dengan mulut mirip ikan cucut membuat Rio ketawa ngakak. Dalam tatapan Iren tawa Rio kelihatan manis banget. Tapi tiba-tiba saja dalam pandangan mata Iren sosok Rio berubah menjadi sosok Kak Ramon. Bibir Kak Ramon yang melebar merah dengan kerutan indah di tambah dengan gigi putihnya yang rapi berjajar. Memang dulu Iren naksir berat sama Kak Ramon karena terhipnotis gaya Kak Ramon waktu ketawa. Mungkin jika wajah Kak Ramon diam ia akan terlihat dewasa dan garang tapi kalau sudah ketawa mukanya lucu… banget kayak bayi. Tawanya yang terus terlintas dalam benak Iren membuat Iren tidak bisa memikirkan cowok lain.


“Ren besok malem minggu ada acara nggak, nonton bareng yuk!!” ajak Rio dengan suara bass. Iren hanya terdiam. Ia bingung terima atau nggak. Akhirnya dalam hati Iren berniat untuk menolaknya. Iren tak mau memberi harapan kosong jika toh Rio benar-benar naksir dia. “Pokoknya kamu harus bisa” ucap Rio sambil menggenggam erat tangan Iren yang mungil. Genggaman tangan Rio terasa hangat dan membuat wajah Iren sedikit memerah. “Aku akan jemput kamu jam 7” tambah Rio. Kemudian badannya yang besar itu berbalik bergabung bersama sobat cowok yang lain sebelum memberi kesempatan Iren untuk berkata apa-apa.

__ADS_1



“RIO NGAJAK KAMU NONTON, KEREN BANGET TUH REN JANGAN LO SIA-SIAIN” ucap tami histeris seakan baru saja menang undian keliling dunia 7 kali. “Bener kan tebakanku, ntar lagi dia bakalan nembak lo pasti. Taruhan deh…” tambah Tami. Mita yang lagi ngunyah bakso sampai kesedak karena terkejut. Hingga bakso yang akan masuk ke dalam kerongkongannya loncat ke dalam mangkok lagi. Hyeksss. “He nggak usah sekaget itu dong” ucap Tami sambil menepuk-nepuk pundak Mita perlahan. Terlihat kalau Mita berusaha berkata-kata di sela–sela batuk, membuat Iren heran. “Ren, Rio nggak kalah cakep sama Kak Ramon, nyesel lo kalo sampe lo tolak” ucap Mita. “Bener tuh, tapi kalo sampe lo tolak jangan lupa oper ke kita-kita yang dengan senang hati menerima. Barang langka.” Sambar Tami. Iren hanya terdiam karena heran mendengarkan orasi Tami dan Mita yang mengkampanyekan Rio. Memangnya Rio benar-benar naksir Iren!? Mereka terlihat amat yakin dengan membanggakan sosok Rio yang seakan Pangeran William saja.


Malam minggu tepat pukul 07.00 suara motor Tiger Rio mendengung masuk ke halaman. Seorang Iren berpakaian kasual banget takut kalau Rio GR. Make up tipis, rambut kuncrit kuda, celana jeans, dan baju kerah warna merah marun tak lupa dilengkapi dengan tas selempang hitamnya. Malem itu Rio terlihat lebih keren. Kemeja warna putih dipadu dengan celana gombrong dan parfum yang enak baunya. Mungkin jika Iren bukan tipe cewek yang cuek bebek sama cowok yang bukan miliknya, mungkin Iren akan terlarut dengan pesona Rio. “He’s perfect guys” Itu adalah bunyi dari SMS Tami yang sengaja mengingatkan Iren.


Malam minggu merupakan malam yang padat sekaligus menyenangkan. Jalanan ramai penuh dengan remaja sebaya Iren yang berpasang-pasangan. Angin malam yang berhembus dingin serta lampu-lampu jalan yang mengingatkan masa-masa saat Iren dan Kak Ramon menghabiskan malam minggu mereka. Mereka makan di pecel lele yang letaknya di pinggir jalan karena itu adalah permintaan Iren sebelum Rio mengajaknya di tempat makan romantis. Setelah kenyang mereka memutuskan untuk nonton salah satu film remaja komedi yang baru saja diputar perdana. Di mata Iren ternyata Rio anaknya asyik kalau di ajak ngomong, penggemar berat warna merah, and humoris.


Motor Rio tiba-tiba berhenti di sebuah taman bermain tak jauh dari komplek perumahan Iren. “Ren aku mau ngomong bentar” ucap Rio ragu-ragu sambil melepas helmnya. Mereka berdua duduk di ayunan kosong terpisah di bawah bentangan langit yang penuh bintang. Suasana semakin hening larut akan kesunyian malam. Suara yang terdengar jelas adalah suara jangkrik dan dencitan suara ayunan. “Bintang yang indah” ucap Rio memecah keheningan dan Iren hanya membalas dengan senyuman kecil. Rio menengadah menatap langit dan kemudian menoleh menatap sepasang bola mata Iren dengan tajam. Hal itu membuat Iren sedikit grogi.

__ADS_1


“Iren, sudah sejak dulu lo kayak bintang itu dalam tatapan mataku, mau nggak kamu jadi cewekku” ucap Rio yang terdengar jelas dengan suara bass. Iren terdiam medengar perasaan yang di utarakan Rio. “He’s handsome, he’s perfect, and extraordinary guys.” Itu pasti adalah kalimat yang bakalan diutarakan dua sobat Iren jika tahu akan hal ini. Mata Rio menatap bola mata Iren tajam. Saat bayangan Kak Ramon mulai pudar dalam pikirannya. Iren hampir menganggukan kepala. Seorang sosok Kak Ramon terlukis dengan jelas dalam bola mata Rio. Bagaimana mungkin ia akan menerima Rio jika ia masih mencintai Kak Ramon!?


“Yo… sorry di hatiku masih ada seseorang yang belum dapat aku lupakan” ucap Iren dengan suara serak. Wajah Rio tampaknya tak berubah, hanya tersenyum kecil. Iren sungguh berharap Rio bakal memahaminya. Pandangan Rio teralih menengadah ke langit yang penuh hamparan bintang.


“Yo… kamu nggak usah nganter aku, rumahku deket kok” ucap Iren tiba-tiba lalu berjalan setengah berlari sebelum Rio sempat berkata-kata untuk mencegahnya.


Langkah yang penuh keheningan di malam minggu ini membuat telapak kaki Iren terasa lebih berat. Langkah kaki yang berteman aspal licin karena basah membuat kaki harus berhati-hati. Iren menghela nafas berat nan panjang dan kepalanya menegadah menatap ke arah bintang-bintang di langit. Iren berharap dapat melihat bintang jatuh. Iren tetap pada pendiriannya dan ia yakin itu benar. Kelak pasti Rio akan mendapatkan cewek yang sempurna dan juga tulus mencintainya. Layaknya seorang anak kecil saat melihat suatu benda kecil yang berpijar melintas menuruni kaki langit, Iren ikut memejamkan mata. Iren memanjatkan sebuah permohonan. Walaupun dalam pikirannya ia tahu, itu hanyalah hal bodoh.


Langkah Iren terhenti saat matanya memandang seorang cowok yang berdiri di tengah dingin di depan gerbang rumahnya. Sesosok cowok yang sudah lamaaa banget tidak ia tatap. Iren benar-benar rindu padanya. Cowok itu dengan sabar berdiri di depan rumah Iren menunggu. Perasaan Iren senang banget… mengetahui ini bukan hanya fatamorgana. Ini kenyataan. Ia Tersenyum pada Iren.

__ADS_1


Sekarang tubuh mungil Iren benar-benar nyaman di malam yang dingin ini. Ia berada dalam dekapan hangat cowok yang sangat dia rindukan.


__ADS_2