
Prisya dikenal dengan gadis tomboy yang ceria, dia mempunyai dua sahabat namanya Rey dan Rezza. Rey dikenal dengan lelaki yang tampan, bertubuh tinggi, berkulit putih, dan religius, sedangkan Rezza dikenal dengan lelaki gagah, berkulit hitam manis, dan juga religius. Mereka juga dikenal dengan lelaki yang sopan, ramah dan baik hati, sehingga tak heran banyak teman-teman dan guru yang menyukai mereka. Tapi ketomboyan Prisya tidak menjadi penghalang dalam persahabatan mereka, mereka selalu bersama dimana ada Prisya disitu ada Rey dan Rezza. Hmmm… sungguh persahabatan yang menyenangkan.
Ujian pun telah selesai liburan semester telah usia kini mereka kembali ke sekolah dengan jenjang kelas yang tertua yaitu kelas XII SMU. Senyum manis di bibir Prisya menyambut kembali dua sahabatnya itu, keceriaan Prisya tak pernah berubah ia selalu tersenyum dan tertawa, canda dan tawanya ternyata sudah menjadi ciri khasnya. Hari itu kelas kesenian dimulai, waktunya kelas drama, Prisya, Rey dan Rezza dipilih dalam satu kelompok untuk memerankan drama tentang persahabatan yang berakhir dengan cinta. Tepuk tangan yang meriah ketika Rey berlutut di hadapan Prisya dengan setangkai bunga meminta Prisya menjadi kekasihnya.
“Pris kamu mau ngga jadi kekasih ku”, ucap Rey dengan malu.
Prisya pun tersenyum malu dan mengambil setangkai bunga itu. “iya aku mau”, ucapnya.
Rezza tersenyum melihat sahabatnya itu, tepuk tangan dan ejekan teman di kelas terdengar begitu ramai, “cieee… hahaha…”,mereka tertawa. Tenyata setelah drama itu usai perasaan cinta itu mulai tumbuh di hati Prisya, di matanya sosok Rey begitu istimewa, sehingga ia sebisa mungkin membuat Rey senang dengannya, tapi sayang nya Rey pernah cerita kalau ia menyukai wanita yang keibuan dan religius, mengingat cerita itu membuat Prisya patah semangat.
Pagi itu bu Intan guru kesenian masuk ke kelas Prisya dan mengumumkan bahwa akan diadakan lomba Fashion Show busana muslim tingkat kabupaten yang diselenggarakan oleh Depertemen Agama. Bu intan dengan yakinnya menunjuk Rey dan Rezza mewakili kelas XII sebagai peserta lelaki, mendengar itu prisya pun memberanikan diri mengangkat tangannya untuk ikut di perlombaan itu,
“wahhh… ini kesempatan untuk mencari perhatian Rey”, pikir Prisya. Setelah itu bu Intan pergi,
“Kamu yakin Pris mau ikut lomba itu?”, Tanya Rey dengan ragu
“yakin”, jawab prisya dengan mantap.
Prisya pun akhirnya bingung harus berbuat apa jangankan punya baju muslimah yang bagus sepatu hak pun dia tidak ada. Akhirnya Prisya mencoba mendekati Imut teman sekelasnya meskipun tidak akrab dia berusaha membujuk Imut untuk meminjamkan sepatunya.
“Mut aku boleh kan pinjam sepatu hak kamu?”, Tanya Prisya dengan malu
“memangnya kamu bisa pakai sepatu hak?”, Tanya imut dengan ragu.
“ah… itu gampang, latihan sedikit juga bisa”, jawab prisya dengan pasti.
Melihat keyakinan Prisya yang memang ingin ikut lomba itu akhirnya Imut pun meminjamkan sepatunya, senyum bahagia terlihat di wajah Prisya. Keesokan harinya sepatu hak itu sudah Prisya dapatkan, ia pun berusaha keras latihan berjalan dengan anggun, bila istirahat atau sedang tidak ada kelas ia tak lupa untuk latihan, tekat dan kerja kerasnya itu sungguh luar biasa. Rey dan Rezza pun kadang tertawa melihat tingkah lucu Prisya yang dengan kakunya memakai sepatu hak itu.
Dua minggu sudah berlalu, perlombaan tinggal satu hari lagi, Prisya pun bingung karena ia tak punya baju muslimah yang bagus untuk perlombaan itu, dan akhirnya ia pun memberanikan dirinya membujuk Dena gadis yang anggun di kelasnya untuk meminjamkannya.
“Dena, aku boleh ngga pinjam baju muslimah mu, buat lomba besok,” ucap Prisya dengan manja.
“memangnya kamu tidak punya baju muslimah?”, tanya Dena
__ADS_1
“ya… kamu tau sendiri aku seperti apa, heee…”, Prisya tersenyum
“ya udah nanti kamu ambil ke rumah ku ya”, ucap Dena dengan tersenyum
“mmm… sekalian ya rias wajah ku, kamu kan jago rias wajah”, ucap Prisya dengan senyum
“Iya… nanti sekalian aku rias”, jawab dena
“asikkkkk… makasih ya”, Prisya tersenyum bahagia.
Keesokan harinya lomba pun dimulai, dengan anggunnya Prisya berjalan di panggung, ia terlihat begitu cantik, Rey dan Rezza terdiam kaku melihat wajah sahabatnya itu, mereka tak menyangka kalau sahabatnya itu begitu cantik. Namun sayangnya Prisya gagal ketika masuk ke final, walaupun begitu ia tetap senang karena dua sahabatnya itu masing-masing mendapkan juara pertama dan ketiga, Rey dan Rezza.
“ngga papalah aku tidak menang, aku cukup senang sahabat ku bisa dapat juara satu dan tiga”, ucapnya dalam hati dengan menghela nafas.
Setelah satu tahun berlalu kini ujian kelulusan dimulai dengan tekunnya Prisya, Rey dan Rezza belajar, waktu bermain mereka sedikit demi sedikit mereka kurangi, belajar tambahan selalu mereka ikuti dengan tekun. Akhirnya dengan perjuangan dan do’a mereka mampu menyelesaikan ujian, tinggal menunggu hasil nya seperti apa nanti. Kini setelah beberapa bulan berlalu hasil ujian pun diumumkan, Prisya, Rey, dan Rezza begitu senang nya menerima pengumuman itu, mereka lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Tak lupa tradisi coret mencoret seragam sekolah menyertai kesenangan mereka itu.
“Pris, nanti pulang bareng ya..”, ajak Rey
Kebetulan jalan ke rumah mereka satu arah. Rey, Prisya, dan Rezza pulang bersama dengan santainya mengayuh sepeda polygon milik mereka.
“Pris boleh ngga pinjam tas kamu”, ucap Rey dengan gugup
“untuk apa?”, tanya Prisya dengan bingung
“udah sini tas kamu”, Rey mengambil tas Prisya dan memasukkan sesuatu ke tas sahabatnya itu.
“apa-apaan sih”, ucap Prisya dengan bingung
“udah nanti kalo sampai rumah baru tasnya dibuka”, ucap Rey sambil mengayuh cepat sepedanya dan meninggalkan Prisya. Rezza hanya tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu dan segera mengejar Rey,
“Rey tunggu..”, teriak Rezza
“Hmmmm… dasar..”, desah Prisya sambil membelokkan sepedanya ke komplek rumahnya. Setibanya Prisya di rumah ia segera membuka tasnya dan terlihat kado cantik dengan sampul merah dan les biru, Prisya tersenyum dan segera membuka kado itu. Gelang dan cincin tertup oleh sehelai kertas putih yang berisikan kata-kata.
__ADS_1
Sekuntum bunga yang sedang mekar begitu indah bila ku memandangnya
Seringkali ku pandang membuat hati kecil ini tersenyum
Bunga yang mekar begitu indah
Seolah-olah menunjukkan keindahannya kepadaku
Serasa hati ingin memetiknya namun aku tak bisa
Ku hanya bisa diam dan tak begitu peduli
Ku tak pernah menyiramnya, tak pernah memupuknya
Tapi apa? yang membuatnya tetap bertahan dan terus mekar setiap waktu
Aku takut memetiknya kalau dia layu kerna ku
Aku pun menjauh
Agar rasa ingin memetikmu ini hilang dari pikiranku
Akhirnya akupun memutuskan
untuk membiarkannya terus mekar dengan sendirinya
Aku hanya bisa memohon pada Tuhan
Agar bunga itu dapat terus mekar dengan Indahnya
Selamanya…
Tak terasa Prisya meneteskan air matanya, ia tak menyangka kalau sahabatnya itu juga memiliki perasaan yang sama dengan nya, sayangnya Rey tidak mengiinginkan Prisya menjadi kekasihnya, ia hanya ingin Prisya menjadi sahabatnya karena baginya sahabat jauh lebih berarti dari segalanya, ia takut kalau suatu saat nanti ia tak mampu membahagiakan prisya, karena ia akan pergi entah kemana mengikuti roda kehidupan yang terus berputar. Setelah kelulusan dan pembagian ijasah akhirnya Prisya melanjutkan pendidikannya di kebidanan, Rezza kini berkerja di salah satu perusahaan milik swasta, dan Rey tak tau entah kemana, bagaimana kabarnya, dan seperti apa ia sekarang. Prisya hanya bisa memohon kepada Tuhan agar nanti ia bisa bertemu dan mengukir cerita indah bersama kedua sahabat nya itu Rey dan Rezza, meskipun dia tak tau apakah cerita cintanya dapat dipersatukan.
__ADS_1