Mengejar Cinta Si Gadis Tsundere

Mengejar Cinta Si Gadis Tsundere
Hari pertama Di SMA Sidhi Karya


__ADS_3

Di sebuah bangunan yang begitu megah, bernama SMA Sidhi Karya. Di depan gerbang, terlihat seorang lelaki yang tengah menatap tempat itu dengan perasaan kagum. Dia tidak menyangka akan bersekolah di Sekolah elit ini, walaupun karena Beasiswa selama 2,5 tahun penuh.


Dia bernama Kusuma, Murid pindahan dari SMA yang jauh di sana, kebetulan dipertemukan oleh para donatur yayasan dan diberikan bantuan beasiswa untuk bersekolah di SMA elit ini setelah berhasil menyabet medali perak pada olimpiade Fisika tingkat Provinsi di tahun lalu.


"Sungguh megah," ucap Kusuma tidak berhenti merasa kagum. Gedung ini terdiri atas gedung 3 lantai, lalu ada lapangan basket yang luas, juga ada kolam renang, parkiran yang sangat rapi, dan juga banyak fasilitas lainnya, yang membuat Kusuma begitu takjub.


"Rasanya seperti mimpi untuk bersekolah di sini. Tidak heran jika semua teman lamaku langsung merasa iri. Aku beruntung," ucapnya senang.


Mendadak, dari belakang dia didorong, entah sengaja atau tidak, Kusuma tidak tahu. Kusuma jatuh terduduk, yang kemudian orang yang menabraknya tertawa. "Murid baru coy, tulang lunak."


"Ekhem, enak nih kalau kita bully keknya," ucap temannya.


Kusuma mulai bangkit, dan menatap mereka yang rupanya bertiga. Terlihat mereka itu lelaki bertampang layaknya berandalan, telinga saja diisi anting, lalu mengenakan kalung Rantai, tangannya juga tatto-an, jangan lupakan style rambutnya yang seolah kebakaran.


"Kenapa lu liat-liat?" tanya lelaki itu sembari mendorong kepala Kusuma sampai membuatnya terpukul mundur selangkah.


"Mungkin ngajak berantem kali," ucap temannya mengompori.


"Dia cuma tulang lunak, sekali ketiup angin doang udah terbang ke atas awan," ucap temannya satu lagi dengan nada mengejek, yang kemudian tawa mengudara kembali.


Kusuma terlihat menghela nafasnya, namun tidak menyiratkan ketakutan sedikitpun. Di sisi lain, semua murid kini telah menatapnya, merasa sangat kasihan melihatnya. "Sayang sekali murid baru itu. Baru masuk sekolah saja sudah berurusan dengan preman sekolah."


Di antara mereka, terlihat sosok lelaki menatap Kusuma dengan sorot mata dingin, seolah tiada kepedulian sedikitpun, namun dia malah terlihat maju mendekati mereka.


"Heh, dengar ya. Lu itu cuma banci di sini. Jadi, jangan Coba-coba-"


"Bobi, sudah berapa kali aku ingatkan untuk tidak berulah?" tanya Lelaki itu.


Ketiga preman kelas itu mendadak merasa takut. Ini agak menggelikan, sebab sebelumnya dia sok paling berani dan berkuasa, kini malah ciut. "Ketua OSIS, kami hanya-"


"Tidak ada yang perlu dijelaskan di sini. Mulai besok, kau aku Skors 1 minggu," ucapnya penuh wibawa.

__ADS_1


Kusuma terdiam sejenak, memandangi lelaki itu. Lelaki itu membalas tatapan Kusuma, namun Ekspresinya adalah ketidakpedulian. Dia kini berlalu begitu saja sebelum kusuma mulai membuka mulutnya, hendak berucap terima kasih. 'Apa dia masih marah?' tanya Kusuma di dalam hati.


Kusuma menghela nafas sejenak, lalu berjalan menuju ke ruang guru. Namun, dia adalah orang yang baru mengenal tempat ini, tentu saja dia tidak tahu letak ruang guru. Kusuma mulai sedikit kebingungan, sampai dia menemukan seorang gadis yang sangat kusuma kenal tengah memainkan ponselnya "Bukankah dia peraih medali emas olimpiade Fisika itu?"


Kusuma tidak menyangka, setelah hampir setahun lamanya bertemu di Undiksha(Universitas Pendidikan Ganesha) lalu di ibukota, kini dia dipertemukan oleh Gadis itu kembali. Kusuma kembali merasa terpesona olehnya dan ini yang kedua kalinya.


Dengan langkah hati-hati, Kusuma mendekati gadis itu dan tersenyum lebar. "Hai, maaf mengganggu. Aku Kusuma, murid pindahan baru. Kita pernah bertemu di olimpiade Fisika, bukan?"


Gadis itu mulai menatap Kusuma, lalu berbalik menatap ponselnya sambil menjawab menjawab, "Itu hanya piagam kosong. Bagaimana kau tahu aku pernah ikut Olimpiade?"


Kusuma terdiam sejenak, ingin rasanya dia menjerit kesal. Gadis ini ternyata tidak seramah yang dia kira. "Aku pernah melihatku saat olimpiade itu dimulai. Oh, ya. Apa kau tahu dimana letak ruang guru? Aku adalah murid pindahan, jadi belum tahu-"


"Aku mengerti. Sangat sulit untuk menjelaskan lokasi ruang guru kepadamu, jadi ikuti aku," ucap Gadis itu sembari berjalan mendahului. Kusuma yang melihatnya langsung mengikuti gadis itu.


Di perjalanan, Kusuma mulai mencoba berbicara kepada Gadis itu, yang ternyata sangat sulit. Gadis ini agak pendiam rupanya, berbeda dengan dirinya yang ceria bukan main, walaupun dibalik keceriaannya, ada penderitaan hidup yang dia tanggung sendirian.


"Kita sudah sampai," ucapnya dengan nada datar.


Gadis itu tersenyum tipis, dan meskipun ekspresinya masih agak tertutup, Kusuma merasa ada sedikit kehangatan dalam senyum itu. "Kalau begitu aku kembali dulu."


Kusuma terdiam kembali, merasa melupakan sesuatu. Mendadak dia teringat bahwa dia belum bertanya siapa namanya. "Hey, kau belum beritahu namamu! Siapa namamu? Bagaimana caraku memanggilmu?!"


Tidak ada jawaban. Gadis itu tetap berjalan pergi begitu saja. Kusuma mulai merasa bahwa gadis itu menarik, pikirnya. Tidak mau membuang waktu, Kusuma memutuskan untuk memasuki Ruang guru.


Bel pelajaran pertama telah dimulai. Terlihat Kelas X IPA 1 tengah begitu ramai dengan murid yang saling berbincang bincang mengenai beberapa hal. Terlihat gadis itu duduk bersama sahabatnya, namun dia tidak terlihat seperti yang lainnya. Alih alih mendengarkan gosip, gadis ini malah fokus membaca bukunya.


Terdengar suara langkah kaki, yang dimana Sang guru bersama Kusuma mulai masuk ke dalam kelas yang seketika begitu hening.


Sang Guru menyapa kelas dan memperkenalkan Kusuma sebagai murid baru yang akan bergabung di kelas tersebut. "Perkenalkan, ini adalah Kusuma, Murid baru di kelas kita. Aku harap, kalian dapat belajar dan berteman dengannya, oke. Baiklah, Kusuma. Silahkan perkenalkan dirimu."


Kusuma merasa sedikit gugup di bawah sorotan perhatian teman-teman barunya. Namun, dia mencoba menjaga ketenangannya dan memulai memperkenalkan dirinya. "Perkenalkan, namaku Made Kusuma. Aku pindahan dari SMA negeri 3. Hanya itu yang bisa aku perkenalkan, mungkin ada di antara kalian mau bertanya?"

__ADS_1


Seisi kelas tampak bingung mendengarnya. Sungguh perkenalan yang sangat singkat, namun dia juga menawarkan untuk mengajukan pertanyaan.


"Aku mau bertanya. Kapan hari ulang tahunmu? Akan aku siapkan telur dan tepung di saat itu tiba."


"Aku juga. Dimana kau tinggal sekarang? Hanya penasaran."


"Apa saja prestasi yang kau dapat selama Ini?"


"Apa pekerjaan orang tuamu?"


"Apa kau punya pacar?"


Pertanyaan bertubi-tubi mulai dilayangkan kepadanya, membuat Kusuma agak kewalahan. "Hey, tenangkan. Cukup berikan aku pertanyaan satu demi satu. Jadi, aku harus jawab yang mana dulu?"


Seseorang yang duduk di samping gadis itu mulai mengangkat tangannya. "Aku dulu!"


"Sangat aneh karena kau pindah menjelang ulangan akhir semester. Kenapa kau pindah ke mari? Pasti ada alasannya, bukan?"


Kusuma terdiam sejenak, kemudian menghela nafasnya. "Itu karena aku mendapatkan beasiswa dari yayasan, namun dengan syarat aku harus melanjutkan sekolahku di sini. Selanjutnya?"


"Kusuma, semuanya, cukup sampai disini dulu perkenalannya. Lanjutkan saja nanti saat jam istirahat. Kau, silahkan duduk di meja kosong sana," ucap Sang guru sembari menunjuk bangku kosong yang tepat di belakang gadis itu. Hey, keberuntungan macam apa ini?


Kusuma mulai duduk di bangku yang kosong di situ, lalu dia mulai memperhatikan suasana kelas dan di dalam hati, dia berharap bisa menjalani hari pertamanya di SMA Sidhi Karya dengan baik.


Pelajaran pun mulai berlangsung, dan secara mengejutkan, di hari pertamanya ini dia sudah menerima soal penilaian harian Pelajaran Biologi. Hadeh, belum sempat belajar juga, keluhnya.


Kusuma mulai menatap soal Biologi ini, mulai membaca soalnya, mendadak dia sedikit terbelalak. Soal ini begitu mudah untuk dikerjakan, jadi mengapa dia mengeluh barusan?. 'Hadeh, soal segampang ini bisa aku kerjakan dengan mata merem. Mengap aku harus cemas begitu barusan?


Tidak terasa waktu cepat berlalu. Para murid mulai berhamburan Keluar, dan Kusuma memulai aksinya untuk mendekati Keira. Dengan begini, kisah cinta ini segera dimulai.


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2