
Di sebuah gedung pencakar langit yang terlihat megah, terlihat sosok lelaki paruh baya yang merupakan kepala keluarga Wijaya. Dia tengah menatap keluar sembari memikirkan sesuatu. Tidak berselang lama, dia kemudian malah mondar mandir tidak karuan. Bunyi pintu diketok mulai terdengar, namun itu sudah sukses membuat lelaki ini terkejut.
"Permisi, tuan."
Lelaki paruh baya itu segera duduk di meja kerjanya, bersikap seolah-olah begitu berwibawa. "Masuklah."
Pintu terbuka dan terlihat seorang asisten mulai masuk ke ruangan tersebut. Lelaki paruh baya ini menatapnya sekolah, lalu mendadak senyuman terbit di sudut bibirnya. Sang asisten pun mulai menyerahkan sebuah dokumen. "Tuan, aku berhasil menemukan data diri anak yang bernama Kusuma itu."
"Kerja bagus. Dengan begini aku tahu siapa Kusuma itu, apa latar belakangnya, dan bagaimana talentanya. Setelah itu baru aku pikirkan apakah dia layak untuk mendekati Putriku atau tidak," ucap Lelaki itu.
Dia mulai membaca laporan itu begitu serius, bahkan Rawut wajahnya seringkali berubah-ubah. Setelah selesai membacanya, doa menutup laporan itu, lalu malah memegangi kepalanya.
"Tuan Wijaya, apa kah tuan sedang sakit kepala?" tanya Asisten.
"Tidak. Aku menjadi teringat karyawan lama kita yang sudah mebjadi almarhum itu, Gede Suka sama Putri Sri," ucapnya dengan nada bersalahnya.
"Maksud tuan, karyawan yang anda tabrak di jln. bypass ngurah rai secara tidak sengaja itu?" tanya asisten.
"Ya, kau benar. Ternyata mereka memiliki putra, yang aku tahu bernama Antara, dan kini aku baru tahu bawa mereka punya dua putra, yaitu Kusuma, orang yang mengejar Putriku," ucapnya menyesal.
"Bukankah tuan sudah membalasnya dengan memberikan bantuan beasiswa kepada Antara sebelumnya? Begitu juga dengan Kusuma, dia mendapatkan beasiswa dari yayasan yang tuan dirikan," ucapnya.
"Ya, namun itu masih belum cukup untuk membayar kesalahanku. Mungkin aku perlu melakukan sesuatu padanya," jawab Tuan Wijaya sambil menatap langit ruangan
"Maksud tuan?" tanya Asisten bingung.
"Aku berharap Kusuma masuk ke bagian dari keluarga Wijaya," ucap tuan Wijaya serius.
"Jadi, tuan akan merestui hubungan mereka?" tanya sang asisten.
"Di sisi lain, dia juga sangat Kompeten. Sejak insiden itu, mereka sudah hidup mandiri, terpisah satu sama lain. Begitu juga kompetensi Kusuma sangat menjanjikan, dia mampu mempelajari Ekonomi, yang bahkan Putriku sendiri tidak menyukai pelajaran itu," ucap tuan Wijaya sambil kembali membuka dokumen itu. "Dia bahkan peraih medali perak olimpiade Fisika yang juga diikuti Putriku."
"Tetapi, Putrimu tidak menyukai Kusuma. Bukankah tuan tersendiri bahwa Putriku selalu mengeluh setiap kali dia pulang karena Kusuma terus mendekatinya?" tanya Asistennya.
"Disitulah letak ketertarikan Putriku nantinya. Putriku itu selalu bersikap dingin dan selalu tertutup, namun sekarang dia berubah. Meskipun dia selalu pulang dengan wajah kesal, dia menjadi lebih terbuka. Lagipula, aku tidak yakin bahwa Putriku membenci Kusuma secara sepenuhnya," ucap Tuan Wijaya sembari tersenyum.
Asisten itu malah menggaruk kepalanya kebingungan. "Maksud tuan? Bukankah putrimu selalu mengeluhkan Kusuma Itu?"
"Kau ingat Aston dari keluarga Atmadja? Dia pernah mengejar Putriku sedemikian rupa, namun Putriku bahkan sama sekali tidak bergeming. Sekarang, dia mulai mengubah ekspresinya, itu adalah pertanda bahwa Kusuma telah masuk ke pikirannya. Lambat laun, Putriku pasti akan sadar dengan hal itu. Dulu saat masih SMA aku juga begitu untuk mendapatkan cinta Istriku."
Asisten itu mengangguk mengerti, namun masih memiliki beberapa kekhawatiran. "Tapi, Tuan, apakah Kusuma akan setuju? Kita perlu berbicara dengan keluarga Kusuma, dan mereka mungkin tidak setuju dengan rencana ini."
"Maksudmu apa? Apa kau tidak mengerti maksudku? Kita biarkan saja Putriku dan Kusuma berinteraksi seperti biasa, tugas kita hanya mengawasi. Lagipula, mereka hanya hidup berdua, kau mau membicarakannya pada siapa?" ucap tuan Wijaya.
__ADS_1
Tuan Wijaya kini telah berada di rumahnya, tengah duduk di Sofa dengan koran di hadapannya. Meskipun begitu, dia sering kali menatap pintu depan Ini sudah pukul 3 sore, seharusnya putrinya sudah pulang.
Pintu mulai terbuka dan terlihat putrinya kini dengan Ekspresi kesal. Melihat ekspresi putrinya itu membuat tuan Wijaya sudah paham apa yang terjadi. "Mengapa kau terlihat Kesal begitu?" tanya Tuan Wijaya.
"Itu karena Kusuma tidak berhenti mengikuti aku di sekolah. Sial, bahkan dia dengan berani mengkritik hasil jawaban Ekonomi sebagai jawaban yang sangat tidak jelas perhitungannya," ucapnya dengan nada yang penuh kekesalan.
Tuan Wijaya tertawa. Lagi lagi karena Kusuma jadi alasan. "Mungkin karena dia lebih kompeten daripada-"
"Hah? Dia lebih pintar dariku? Aku selalu dapat mengalahkannya dalam perhitungan Fisika dan Seni. Lagipula aku tidak kalah dengannya jika berurusan dengan Sejarah dan Ekonomi!" ucap putrinya merasa sangat tidak terima.
"Astaga, Keira. Ada apa ini? Mengapa kau marah-marah seperti itu?" tanya seorang wanita paruh baya yang merupakan istri dari tuan Wijaya, yang juga berarti dia ibunya Keira.
Tuan Wijaya hanya bisa tersenyum mendengar keluhan putrinya. "Keira, jika dia benar-benar mengganggumu, mengapa tidak mencoba bicara dengannya? Mungkin ada sesuatu yang dia ingin sampaikan atau baginya, kritiknya itu adalah caranya untuk mendekatimu."
"Dia mungkin memiliki cara yang aneh untuk menunjukkan ketertarikannya, Keira. Cobalah untuk lebih memahami apa yang sebenarnya dia rasakan," ucap Ibunya
Keira hanya menghela nafas dalam-dalam. "Tapi, ibu, itu benar-benar mengganggu. Setiap saat dia di dekatku, aku merasa tidak bisa fokus. Lagipula ada banyak gadis cantik di sekolah sana, kenapa harus aku dikejar? Ditanya apa alasannya, malah jawab entahlah. Itu cowok maunya apa sih?"
"Hmm? Dia bilang begitu?" tanya Ibunya terkejut lalu melirik Suaminya.
"Aku rasa kak Kusuma belum tahu apapun tentang kak Keira," ucap seorang gadis berusia 14 tahunan. Dia adalah Mita, adik dari Keira.
__ADS_1
"Mita, kau selalu kepo dengan urusan kakak," ucap Keira kesal.
"Salahkan dirimu sendiri karena suka ngedumel setiap kali sampai di rumah sejak 3 hari yang lalu," ucap Mita sambil menunjukkan ekspresi imutnya.
Keira terlihat cukup kesal sejenak pada adiknya, namun mendadak dia mulai merasa bingung. Biasanya orang tuanya pulang kerumah hari ini, lalu 6 jam kemudian pasti pergi lagi. Namun, ini sudah 2 hari ayah dan ibunya menemaninya.
"Ayah, ibu. Apa yang terjadi? Kalian tidak berangkat kerja?" tanya Keira heran, meskipun dia malah berharap itu akan terus terjadi.
"Yah, paginya kami berangkat kerja dan sorenya kami pulang. Apa tidak boleh? Lagipula kami mendengar bahwa kau sudah mulai terbuka jadi itu membuat kami merasa dibutuhkan di sisimu," ucap ayahnya Keira.
Sambil mengecup dahi Keira, ibunya berkata, "Kami ingin tahu apa yang kamu rasakan, Keira. Jika ini mengganggumu, kami akan mencoba mencarikan solusi bersama."
Keira mulai tersenyum tipis, merasa ini adalah hari terindah di hidupnya. Biasanya, dia kesepian di rumah ini, kini doa sudah punya tempat untuk curhat.
"Apa mungkin Keira ingin pindah sekolah?" tanya Ayahnya mencoba memberikan saran.
"Aku mau pindah, namun tentunya aku akan merasa terganggu lagi sebagai anak baru. Lagipula, aku memiliki teman baik di sana, jadi aku tidak mungkin mau untuk pindah," ucap Keira setelah berfikir. "Namun si anak baru itu telah merusak hidup damai aku, sialan! Maunya dia sih?" teriaknya kesal.
"Aku tahu solusinya. Kak Keira tinggal pacaran saja sama dia, pasti beres kan?" tanya Mita menggoda kakaknya, lalu bangkit dari tempat duduknya
Keira langsung melotot ke arah Mita. Pipinya juga mendadak bersemu merah. "Berpacaran kepalamu! Sini kau!"
__ADS_1
Mereka pun akhirnya berkejer-kejaran, membuat Tuan Wijaya tertawa. "Itu anakku. Terkadang, cinta bisa hadir dalam cara yang tidak kita duga."