Mengejar Cinta Si Gadis Tsundere

Mengejar Cinta Si Gadis Tsundere
Sisi Kesepian dibalik keceriaan Kusuma


__ADS_3

Tuan Wijaya terlihat tersenyum sejenak, merasakan bagaimana kini Keira mulai terbuka. Dia mulai merasa berguna sebagai orang tua, setelah sebelumnya Keira terlalu dingin dan tertutup.


"Aku pikir anak yang bernama Kusuma telah bersikap menyebalkan di mata putri kita.," ucap ibunya Keira.


"Kirra, apakah kau tidak merasa ini janggal? Menurutku Aston yang kita lihat begitu menempel Keira, namun tidak mampu membuatnya kepikiran seperti ini. Sementara saat ini Kusuma telah masuk di hatinya, sama Sepertimu di masa remaja."


"Lalu apakah nantinya akan ada perasaan yang mulai tumbuh nantinya?" tanya Kirra yang malah bersemangat.


"Biarkan waktu yang menjawabnya."


Sementara itu, di sebuah kamar, terlihat Keira menghempaskan tubuhnya ke Kasur mewahnya itu. Dia merasa begitu lelah setelah mencoba mengejar adiknya yang kalau bicara suka sekali terdengar menyebalkan. Sudah cukup lelah baginya untuk menjalani harinya yang terasa berubah hanya karena kemunculan anak baru itu sejak 3 hari yang lalu.


Keira sendiri sadar, isi pikirannya telah dipenuhi oleh lelaki super menyebalkan itu. Meskipun begitu, Keira masih enggan mengakuinya. "Mana mungkin aku suka sama Dia? Sudahlah, otak. Ayo beristirahat dulu dan jangan pikirkan Kusuma lagi!" ucapnya sembari melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 3 sore.


Sementara itu, Kusuma sendiri baru sampai di Rumahnya. Dia mengetuk pintu dan berucap salam, namun tidak ada jawaban yang terdengar. Suasana rumah ini begitu sepi karena memang tidak ada siapapun yang tinggal di sini.


"Seperti biasa, suasana sepi selalu menemani di rumah ini," ucap Kusuma.


Dia langsung mengganti pakaian Seragam sekolahnya dan kemudian pergi ke dapur, memulai memasak. Tidak butuh waktu lama bagi Kusuma untuk memasak karena dia hanya menggoreng beberapa potong tempe dan memasak nasi menggunakan Rice Cooker.


Dia kemudian makan sendirian di meja makan berbentuk bulat yang memiliki 4 sudut kursi, namun tiada seorang pun yang menemani dia selain kesunyian. Kusuma masih teringat di masa kecilnya, ayah, ibu, dan kakaknya selalu menempati kursi itu, namun sejak insiden kepergian kakaknya dan kecelakaan ayah dan ibunya, tempat ini menjadi kosong.


Selesai makan, Kusuma segera memasuki ruangan milik orangtuanya, yang dimana kini hanya ada berbagai diri kebersamaan keluarga di sana. Kusuma mulai mengambil sebuah diri yang terletak di meja, uang dimana terlihat ayah dan ibunya tersenyum bahagia dengan pakaian pengantin, yang sudah pasti foto ini diambil saat mereka menikah.


Mata kusuma menatap foto itu dengan perasaan rindu, karena sekarang, sudah 2 tahun tidak bertemu dan mustahil dapat bertemu lagi. Matanya kemudian beralih ke sebuah piano besar yang terletak di ujung kamar. Kusuma bergerak menuju piano tersebut dan meraba setiap inci dari piano tersebut.


Dia akhirnya untuk duduk di sebuah kursi dan memainkan alat musik tua ini. Melodi yang dua mainkan membuka kenangan bersama keluarga di masa lalu. Dia teringat bagaimana ayahnya memperlakukan dia dengan begitu baik dan juga dimanja, meskipun tidak terlalu. Ibunya juga mengajarkan kemandirian dan nasihat yang menurutnya begitu luar biasa untuk didengarkan.

__ADS_1


Jangan lupakan kakaknya yang kelihatannya suka cemberut, namun juga menyayanginya. Namun pada akhirnya kini dia tahu, kakaknya sebenarnya merasakan ketidakadilan yang disebabkan oleh dirinya yang lebih dimanja.


Melalui melodi piano yang dia mainkan, Kusuma mengenang kenangan dengan keluarganya. Foto pernikahan ayah dan ibunya, melodi-melodi yang diajarkan oleh kakaknya, nasihat bijak yang selalu diberikan oleh orangtuanya. Semuanya adalah kenangan yang berharga baginya.


Setelah sekian lama dia memainkan piano itu, akhirnya dia menghentikan permainannya, kemudian air matanya mengalir air matanya mengalir perlahan melewati pipi dan akhirnya jatuh ke tanah. Kusuma mulai merasakannya, dimana itu adalah airmata kesedihan, penyesalan, dan kerinduan yang bercampur menjadi satu.


Sudah cukup lama dia tidak menangis sampai sembab karena dirasa air matanya telah kering. Ia menenangkan dirinya sendiri, mengingat kata-kata bijak ibunya. Tapi terkadang, meskipun dia berusaha keras untuk kuat, emosi manusia tak selalu bisa dikendalikan.


'Kusuma, aku perlu mengingatkan padamu bahwa kau adalah seorang lelaki, jadi jangan menangis seperti anak kecil. Begitu pula jikalau ada masalah, sebaiknya kau pecahkan dengan kepala dingin. Kau tahu, hidup seseorang tidak ada yang tahu selain tuhan yang maha kuasa. Jadi penting untuk memupuk kemandirian di dalam dirimu, loh!'


Nasihat dari Ibunya itu kembali terngiang di telinganya. Itu membuat Kusuma perlahan-lahan menghentikan tangisannya. Dia menghela nafas dalam-dalam, menghapus air mata dengan punggung tangan, dan kemudian tersenyum. Meskipun kehilangan keluarganya adalah pukulan besar dalam hidupnya, kenangan yang mereka tinggalkan tetap menjadi sumber kekuatan dan inspirasi baginya.


"Ayah, Ibu... akan aku tunjukkan seberapa kuat putramu ini. Aku harap ayah dan ibu tenang di alam sana, melihatku di sini dengan perasaan bangga."


Malam harinya, Kusuma tengah dalam pekerjaan nya di bagian kasir, terlihat Keira mulai merasa ragu untuk mendatangi nya. Entah mengapa perasaan kesal kembali menyerang pikirannya sehingga mood dia menjadi agak terganggu.


Ini giliran belanjaan Keira. Gadis ini terlihat sedikit tegang saat Kusuma mengambil sesuatu untuk di cek barcode barangnya lalu mengetik di depan komputer. Masalahnya, itu adalah Pembalut wanita, yang menurut Keira, Kusuma pasti akan terkejut melihatnya dalam sebanyak itu.


"Ini untuk dijual kembali ya, mbak?" tanya Kusuma sembari menatap ke pemilik belanjaan. "Keira?"


"Ah, ini hanya untuk stok. Sebaiknya kau tidak berpikiran macam-macam," jawab Keira sembari memalingkan mukanya.


"Sebanyak ini?" tanya Kusuma lagi. Dia sedikit terkejut karena Keira membeli sebanyak 10 pack sekaligus, yang 1 pack nya berisi 10 pcs.


"Memangnya kenapa?" tanya Keira gusar.


Melihat ekspresi Keira membuat Kusuma langsung kelabakan sendiri. "Ah, lupakan. Total belanjaan sebesar Rp. 129.000,00."

__ADS_1


Keira mulai membayar dan pergi berlalu begitu saja."Humph!"


Kusuma yang tengah memasukkan yang ie laci dan mengeluarkan uang untuk kembalikan sontak terkejut melihat gadis ini berlalu. "Hey, kembaliannya-"


"Buat kau saja!" teriaknya sembari berlari.


Kusuma terdiam sejenak, lalu menghela nafasnya, lalu hendak mengembalikan uang itu ke laci.


"Masukkan saja ke dalam kantongmu." Kusuma tersentak lalu melihat ke arah orang yang berbicara tadi. Itu adalah bos nya. "Uang itu adalah rejekimu. Lagipula, kau beruntung bertemu dengan dia," ucapnya.


"Hah?" Kusuma mulai bingung. "Dia adalah teman sekelasku. Yah, memang aku suka mengikuti dia kemana pun dia pergi di sekolah, sih."


"Ternyata rumor itu benar. Apa kau tahu siapa gadis itu?" tanya bos nya itu.


"Bukankah dia hanya seorang gadis saja, seperti gadis pada umumnya?" tanya Kusuma balik.


"Kau sama sekali tidak tahu latar belakang keluarganya, dimana rumahnya, dan lain sebagainya?" tanya Bosnya itu lagi.


"Tidak. Yang aku tahu hanyalah dia pernah memenangkan olimpiade Fisika. Hanya itu, sih," jawab Kusuma jujur.


"Kau tidak pernah bertanya padanya?"


"Boro boro menanyakan semua itu, ingin berteman dan bersalam sapa saja susahnya minta ampun," jawab Kusuma sembari menghela nafas.


Bos nya menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, kejarlah dia sampai dapat. Lagipula, sedikit yang kau tentang latar belakang keluarganya, semakin baik juga untuk perjuanganmu," ucap Bos nya sambil berlalu, meninggalkan kusuma yang mulai kebingungan. "Bos, apa maksudnya dengan itu?"


bersambung

__ADS_1


__ADS_2