
Hari Jum'at adalah hari yang paling Keira tidak sukai karena di jadwal mata pelajaran Sejarah dan Ekonomi. Dia kini berada di Sekolah dengan perasaan lesu, membuat Shara mulai menatapnya bingung. "Mengapa kau terlihat lesu seperti itu?"
Keira enggan menjawab, justru dia hanya berjalan ke arah bangkunya dan duduk di sana. Shara mencoba mengikutinya, lalu duduk di sisinya. "Kau selalu lesu setiap hari Jumat, Keira. Coba cerita kepadaku."
Kusuma mulai terlihat memasuki kelas dan langsung menuju ke bangkunya. Begitu melihat Keira yang terlihat lesu membuat Kusuma sedikit bingung. "Ada apa denganmu, Keira?"
Keira menghela nafas pelan dan kemudian menjawab, "hari ini adalah bagaimana pelajaran yang tidak aku sukai numpuk di mata pelajaran di hari ini."
"Hee? Ketika aku tanya, kau tidak mau jawab, tetapi jika Kusuma yang bertanya, kau malah menjawabnya," ucap Shara sedikit menggoda Keira.
"Tidak apa-apa, Shara. Terkadang Keira mungkin hanya lebih suka menjawab pertanyaan dari orang tertentu," kata Kusuma dengan senyum lembut.
Keira mengerling pada Kusuma, sedikit terkejut dengan komentar itu. "Idih, kau terlalu kepedean untuk mengaku bahwa kau orang yang spesial bagiku." ucapnya kesal.
"Spesial?" tanya Shara yang sepertinya benar-benar salah paham.
"Sebaiknya kau tidak berpikiran macam-macam. Kami masih belum punya hubungan apa-apa," ucap mereka berdua kompak, seolah membaca arah pikiran Shara
"Lah, malah kompak begitu, sehati banget deh," ucap Shara.
"Terserah kau saja, Shara," jawab Keira dengan perasaan kesal mulai menumpuk.
"Aku dengar, sekarang adalah hari terakhir kita belajar, ya. Mulai besok kita sudah sibuk untuk melakukan pemetaan bangku karena minggu depan sudah mulai ulangan akhir semester," ucap Kusuma mencoba memecah kecanggungan.
"Kau takut?" tanya Shara merasa bingung.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan. Bagiku ulangan hanya terasa biasa saja," ucap Kusuma sembari memangku kepala dengan kedua tangannya.
"Jangan meremehkan ulangan akhir semester, Kusuma. Kau harus tahu bahwa ini adalah penilaian yang sangat penting," ucap Keira lagi.
"Tidak ada yang perlu dicemaskan, Keira. Jika nilai di bawah target, pasti akan diadakan Remedial," ucap Kusuma terlalu santai.
Shara sedikit memutar bola matanya malas saat mendengarnya, namun Keira malah terlihat mendidih. "Bisa serius dikit tidak sih? Kepalamu batu sekali sampai ingin sekali aku getok!" teriaknya gusar sembari menunjukkan kepalan tangannya, sukses membuat Kusuma kelabakan.
"Ah, iya-iya! Aku akan serius dalam ulangan nanti, sungguh," ucap Kusuma sambil tergidik ngeri.
"Awas kau jika nilai kau jatuh di bawah target, akan aku hajar kau!" ancam Keira dengan amarahnya yang terasa berapi-api.
__ADS_1
"Ah, iya-iya. Aku pastikan untuk tidak jatuh di bawah target," jawab Kusuma sembari gemetaran.
Shara mendadak terdiam seribu bahasa. Bukankah mereka bilang tiada hubungan, lalu bagaimana Keira bisa sampai perhatian seperti itu, pikirnya. "Kalian berdua-"
Keira langsung melotot ke arah Shara, yang membuat nyali Shara langsung ciut. "Kami tidak memiliki hubungan apapun, namun aku tidak suka jika seseorang meremehkan ujian jenis apapun."
Keira menghela nafas pelan. Pelajaran Sejarah tadi benar-benar tidak mudah untuk dia pahami. Meskipun isinya teori, tanpa perhitungan yang berarti, namun sukses membuat kepala Keira panas. Ingin rasanya dia absen dari mapel ini, namun sepertinya mustahil. Jika dia melakukannya, maka dia tidak akan mendapatkan pelajaran yang berguna di ulangan nanti.
"Kau terlihat gelisah, Keira. Ada apa?" tanya Kusuma terheran.
"Tidak apa apa," ucap Keira berbohong.
"Dia hanya kesulitan memahami Sejarah," jawab Shara.
"Kau bingung di materi mana? Biar aku bantu kau," ucap Kusuma setelah memahami situasinya.
"Kau bukan seorang guru, jadi jangan mencoba menggurui aku," jawab Keira kesal.
Keira yang masih dalam keadaan kesal dan frustrasi merasa bersalah setelah menolak tawaran Kusuma untuk membantunya memahami pelajaran Sejarah. Tapi dia juga terlalu keras terhadap dirinya sendiri untuk mengakui kesalahannya. Meskipun dia merasa kecewa pada dirinya sendiri, dia tetap bersikeras dalam mendekati pelajaran tersebut dengan cara yang dia rasa benar. Lagipula, terlalu gengsi rasanya untuk minta bantuan ke anak baru, sementara dia sendiri di cap jenius oleh teman sekelasnya.
Meski begitu, Keira tetap saja merasa kesulitan hingga dia memegangi kepalanya. Kusuma menatap Keira bingung, lalu menggaruk kepalanya. Dia mulai mengerti, bukan pelajarannya yang sulit, namun sang guru yang menjelaskannya terlalu terbelit-belit. Di lihat dari sekeliling, banyak juga yang kebingungan memahami penjelasan gurunya.
"Kau ini keras kepala sekali, Keira. Sini akan aku bantu cara memahaminya," ucap Kusuma.
Keira awalnya terkejut dengan tawaran bantuan Kusuma, terutama karena sebelumnya dia sempat menolak tawaran serupa. Namun, melihat ekspresi Kusuma yang tampak sangat mengerti, dia merasa perlu menerima tawaran tersebut. "Baiklah, aku terima tawaranmu. Tetapi bukan berarti aku akan menaruh rasa apapun padamu," ucap Keira pada akhirnya.
"Rasa apapun? Memangnya aku minuman?" tanya Kusuma meledek, walaupun sebenarnya dia mengerti maksud dari Keira.
__ADS_1
Kusuma akhirnya menjelaskan tentang Sejarah dan Keira akhirnya mulai mengerti sedikit demi sedikit. Shara sendiri menatap interaksi mereka berdua sambil tersenyum. 'Mereka benar-benar cocok,' ucapnya di dalam hati.
Waktu begitu cepat berlalu. Tidak terasa bel istirahat telah berbunyi. Mereka semua kini berhamburan Keluar kelas, Kusuma kini mulai berdiri dari mejanya sembari berucap, "ke kantin yok?"
Shara langsung berteriak, "ayo! Keira harus ikut, dong!"
Keira menghela nafasnya, sesungguhnya Dia sangat enggan untuk pergi saat ini karena bakalan terus ditempeli oleh lelaki super menyebalkan ini, namun masalahnya Shara tidak mau diajak kompromi. Dia selalu mendesaknya untuk ikut serta. "Iya, aku ikut," ucapnya cemberut.
Mereka semua meninggalkan kelas menuju kantin bersama. Shara dengan penuh semangat menyusul Kusuma, sedangkan Keira mengikutinya dengan ekspresi cemberut.
Di kantin, mereka memesan makanan dan minuman. Kusuma terlihat ceria dan bersemangat, mencoba mengobrol dan membawa suasana yang lebih hidup. Keira, meskipun awalnya cemberut, perlahan mulai terbawa suasana di dalam kehangatan kusuma dalam berbicara dan akhirnya dia melupakan rasa cemberutnya untuk sementara.
Kusuma memang dikenal sebagai raja matahari yang mampu membuat siapapun akan merasa hangat dengan senyuman, tingkah, nada bicara, dan interaksinya. Dia mampu meluluhkan hati dingin seseorang dengan sifatnya itu sehingga banyak yang menyukai keberadaan nya sejak SD.
"Aku harap Ujian nanti tidak begitu sulit," ucap Keira sedikit mengeluh.
"Jangan mengeluh begitu. Kalau kau terus seperti itu, mental kau akan down dan dalam mengerjakan tugas akan lebih sulit, loh!" ucap Kusuma, yang membuat Keira berucap, "aku tahu."
"Ingat, ya. Jika nilai aku di bawah rata-rata, kau akan menghajar aku. Tetapi jika nilai kau jatuh di bawah rata rata, akan aku cium kau," ucap Kusuma dengan nada bercanda, namun itu sudah cukup untuk membuat muka gadis ini memerah.
"Me-menciumku? Memangnya kau siapa hingga berani melakukan itu? Walau kau akan menjadi pacarku pun, tidak akan aku biarkan kau mencium aku!" teriaknya gusar.
Tawa di kantin mengudara. Mereka benar benar menikmati persahabatan dengan begitu baik.
__ADS_1
\---