
Hari libur semester telah habis, hari ini lilis kembali ke kota untuk memasuki semester baru, dikabarinya satria bahwa ia akan segera berangkat. Satria yang mengetahui hal tersebut langsung menawarkan jemputan di terminal nanti kepada lilis, tentu saja lilis tak menolak.
"Haloooo...Dimana kak? aku udah didepan pintu terminal, jemput disini ya"
"Oke , lagi OTW nih..tunggu ya"
selang beberapa menit satria sampai, diengan segera menyambut kekasihnya itu, menggandeng tas jinjing yang lumayan berat diangkat dan menarohnya di bagian depan motor metik yang ia bawa, lilis dengan muka lelahnya dari desa yang jika berangkat menggunakan bus bisa menghabiskan waktu 9 jam naik dibagian belakang dan berpegangan pada jaket satria saat mereka mulai jalan menuju rumah tempat lilis tinggal.
Suara berisik kendaraan lain selama perjalanan membuat lilis makin pusing karena kelelahan, bau asap disepanjang jalan membuatnya agak mual namun ia berusaha menahan dengan sekuat tenaga agar tidak muntah, Satria menyadari kekasihnya itu sedang dalam keadaan mabuk darat , ia pun membawa motor dengan cepat agar segera sampai tujuan, dan ... benar saja baru sampai di depan gerbang rumah lilis..
""*wwweekkk"
Lilis memuntahkan isi perutnya di selokan depan rumah, satria segera membantu membukakan pintu dan menolongnya masuk, malu bukan main pikir lilis tetapi ia tidak berdaya dan tidak bisa melakukan apapun dengan keadaan kesehatan yang begitu.
Satria memvuatkan lilis segelas teh hangat, lalu menemaninya sampai lilis pulih dan bisa beraktifitas, setidaknya lilis sudah bisa diajak
bicara dan kemydia ia berpamitan pulang.
Keesokan harinya lilis masih belum bisa mengikuti perkuliahan karena ia sedang memulihkan tenaganya akibat perjalanan jauh dari desa. Satria yang mengetahui hal tersebut hanya menyemangati dari kejauhan agar cepat sembuh melalui sms.
sampai saat lilis telah sehat, lilis ingin sekali lari sore di lapangan seperti biasa namun kali ini lilis hanya sendiri, ia juga tidak mengabari satria karena ia berfikir satria sedang asik main footsal sore begini.
putaran demi putaran sudah dilalui lilis, ia berlari perlahan diputaran terakhirnya..sambil mendinginkan badan setelah putaran terakhir lilis masih mengelilingi lapangan dengan berjalan.. ditengah tengah langkahnya hampir selesaj mengelilingi lapangan dari kejauhan ia seperti melihat sosok pria yang postur tubuhnya hampir mirip dengan satria, namun ia tidak begitu yakin karena lelaki tersebut sedang berjalan santai mengelilingi lapangan bersama seorang wanita,
"Ah, mana mungkin kakak " pikir lilis , ia lalu terhenti dan melihat sekitarannya mencari tempat duduk yang nyaman..tepat di sampingnya ada sebuah hamparan rumput dibawah pohon yang rindang, ia duduk dibawah pohon tersebut sambil meneguk air minum dari botol minum bawaannya.
keringat masih menyucuri tubuh,wajah lilis yang putih nampak merah karena kelelahan berlari, Dijulurkannya kaki kedepan,, sambil menghirup udara segar dan mendinginkan badan..tiba tiba laki-laki yang tadi ia lihat dari kejauhan nampak mendekat kearahnya, lilis masih kurang yakin, ia benar benar menunggu mereka berdua berjalan tepan didepannya. Menunggu langkah laki laki dan wanita itu menuju tempat duduknya sekitar 12 meter namun seperti 1 Km saja terasa. langkah demi langkah laki-laki itu, mata lilis semakin dijeli-kannya, jidat lilis mengerut dan memperhatikan dengan seksama
__ADS_1
Aakkhh benar saja rupanya laki-laki itu adalah Satria, dan wanita yang ada di sebelahnya tak lain adalah Mega kakak tingkat lilis juga dijurusan yang sama pula. Lilis hanya mengerutkan keningnya sambil kesal..akan tetapi rupanya Satria dan Mega tak mengetahui dan tidak memperhatikan gadis yang duduk dibawah pohon yang mereka lewati adalah Lilis. Keduanya terlihat asik mengobrol sambil mengelilingi lapangan, dari raut wajah dan ekspresi mereka seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, Setelan baju mereka pun terlihat serasi sekali, seperti disenghaja memakai kaos olahraga dan trening yang sama. Begitu lewan didepannya Lilis tidak menegur dan membiarkan mereka lewat begitu saja, perasaan lilis campur aduk dengan rasa malas menegur, kesal, dan benci, ia sangat kecewa ternyata wanita yang diceritakan Satria yang saat itu pulang dari Jakarta dan minta ditemani belanja tak lain adalah Mega kakak tingkatnya yang memang cuti 1 semester karena urusan keluarga diluar Kota.
Saat dalam perjalanan pulang lilis hanya melamun dijalan, ia tak menyangka Satria yang ia percaya telah membohonginya, kekasih pertamanya yang ia junjung dan ia yakini akan menjadi kekasih terakhirnya juga karena selama ini terlihat begitu peduli dan sayang padanya ternyata tak berbeda dengan lelaki lainnya. Lilis tak habis pikir Mega kakak tingkat yang ia kenal sebagai wanita yang anggun, dan baik hati ternyata menikungnya dari belakang. ia tak mengerti mengapa Mega begitu , padahal Mega tahu tentang hubungannya dengan Satria.
Sebelum cuti, Mega pernah mengulang mata kuliah sehingga masuk kelas yang sama dengan lilis, selama kuliah bersama mega sering berdiskusi dengan lilis mengenai materi, tak jarang mega juga suka meminta kepada lilis untuk mengajarinya beberapa rumus dalam materi kebutuhan pakan ternak. Di kesempatan lain Mega juga merupakan teman satu kelompok lilis saat matakuliah praktek di Laboratorium, meski bukan satu leting mereka berdua sering berinteraksi didalam kelas yang sama. itulah kenapa lilis tak menyangkah Mega akan menikungnya begitu
Sesampai dirumah Lilis membersihkan diri dari keringat, setelah itu ia melihat Hp dan mencoba menghubungi Satria, ia ingin tahu apakah Satria akan jujur padanya atau tidak
Lilis "Sore kak , lagi apa"
satria " iya dek, ini baru mau mandi abis maen footsal seperti biasa"
Lilis semakin geram, kali ini kecurigaannya ternyata benar. ia sering dibodohi Satria..
Lilis tak langsung memprotes Satria ia memberikan kesempatan saat nanti malam waktu mereka biasa komunikasi melalui telepon. yaaa,,seperti sepasang kekasih pada umumnya Lilis dan Satria biasanya punya waktu telpon dimalam hari, Hati lilis tak menentu, pikirannya galau ia merasa berada di sebuah ruang kosong yang gelap gulita dan hanya ada dirinya yang tengah duduk dikursi sambil terpuruk lalu seseorang dati belakang menghajarnya menggunakan kayu balok ,
"Kriiiiingg...kriiingghhh..kriiinnggg
Suara Hp lilis terdengar dan bergetar kuat diatas meja rias. Lilis sadar dari lamunannya
"Halo, Assalamualaikum kak"
*"waalaikumsalam dek, lagi apa kamu?"
"Aaah biasa lagi rebahan, siap siap mau tidur, Oh iya gimana tadi footsalnya?"
* "seperti biasalah, tidak terlalu ramai"
__ADS_1
"Oh gitu, memangnya tadi footsal dimana ya?"
*tempat biasa dong,kenapa sie memangnya?"
*Heeemmm...jadi begini kak, tadi sore aku joging sendirian di lapangan komplek dekat kampus"
Seeerrrr........Satria sudah bisa membaca apa yang akan dijelaskan dan ditanyakan kekasihnya itu, selama ini kekasihnya adalah wanita yang tidak banyak cakap saat berbicara tetapi maknanya sungguh dalam, mengingat sifat lilis yang begitu ia berusaha tetap tenang dan berpura pura tak mengeri arah pembicaraan lilis, begitulah lelaki
*"Wah sehatnya yang joging, dapet berapa puteran?"
"ada yang mau dijelaskan tidak kak??"
Dagdigdu..dagdigdug
Satria bak dilempar sebilah pisau, padahal ia hanya dilempari sebuah pertanyaan. sungguh wanita ini kusayang, kucintai, tetapi aku juga menginginkan hubungan sepasang kekasih seperti yang lain, lalu bagaimana aku menjawabnya, apakah kali ini ia akan mempercayaiku seperti biasa ,
Agggkkh .... pikiran Satria mulai bekerja, mencari celah dan memilih kalimat apa yang akan diucapkannya..
"Kak??"
*Eh,iya dek..gimana gimana tadi?"
Sambil menghela nafas dan menahan amarahnya lilis hanya mengulang pertanyaannya saja
"jadi ada yang mau dijelasin gak nih?"
Lilis mengulang pertanyaan dengan nada yang lemah lembut dan dingin , satria yang mendengar semakin bingung harus berkata apa, ada rasa takut kehilangan ia sangat menyayangi lilis meskipun ia mencari wanita lain namun baginya lilis lah yang menjadi prioritasnya, ia ingin menutupi akan tetapi ia juga memiliki rasa takut untuk berbohong kepada lilis.
__ADS_1
Sunyin,,keduanya terdiam Satria masih belum menjawab dan lilis menunggu memberi kesempatan Satria untuk berbicara..Tetap hening untuk sesaat, keduanya tetap standby dengan ponsel masing-masing..hitungan detik menjadi menit masih tetap hening lalu hitungan menit ke 5 menit Satria memulai jawabannya..