Menikah Dengan Idola

Menikah Dengan Idola
Suami aku


__ADS_3

Pagi itu.


Okta mengerjapkan matanya. dia merabah-rabah kasurnya mencari benda pipih kesayangannya.


Okta mengusap layar handponenya. Kini terlihat tampilan walpaper di handponenya. seorang pria tampan, bahkan sangat tampan, kulit putih, mata, bibir, hidung semua tampak sempurna di mata Okta. Di gambar tersebut di edit dengan bertuliskan nama "My Husband Kim Taehyung".


"Selamat pagi suami, kamu tidur nyenyak?" Ucapnya tersenyum tipis.


"Aku tidur nyenyak kok" Ucapnya. Sudah menjadi kebiasaan Okta berbicara sendiri dengan foto Kim Taehyung yg ada di balik layar handponenya itu.


"Saranghae..Oppa" Okta mengecup Handphonenya. Cukup lama dia berhalu kemudian menaruh handphonenya di atas nakas dekat tempat tidur.


Okta bangkit dari tidurnya, meregangkan tubuhnya dengan malas.


Okta mengedarkan pandangannya melihat seluruh isi kamarnya yg di penuhi poster Kim Taehyung. Hampir semua benda-benda disitu bergambar wajah sang idolanya. Mulai dari lemari, cermin, meja, tas, bantal, selimut, beberapa pakaian, dan masih ada lagi.


Okta berjalan menuju poster besar di samping lemarinya. Kemudian memeluk poster tersebut.


"Kamu pagi ini ganteng banget sayang."Ucapnya manja.


Okta memajukan bibirnya mendekati Bibir Taehyung di balik poster itu.


"Okta!" Teriak mama Okta dari luar kamar membuat Okta mengurungkan niatnya yg hendak mencium Taehyung.


Okta berdecak kesal "Iya!"teriaknya balik. "Pasti di suruh mandi" gumamnya.


*


*


*


Okta tengah bersiap-siap untuk kesekolah. Setelah mandi dia memakai seragam sekolahnya kemudian berjalan menuju meja belajarnya, melihat jadwal di kertas yg tertempel pada mejanya tersebut dan menaruh buku-bukunya di tas sesuai dengan jadwal hari ini.


Selesainya dia memakai sepatu kemudian menuju poster suaminya di dinding dan memberi kecupan singkat di sana.

__ADS_1


"Dadah..suami"


Okta bergegas keluar kamar menuju dapur untuk sarapan yg sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi sebelum berangkat sekolah.


Setelah sarapan Okta pamit kepada orang tuanya yg sebelumnya dia meminta uang jajan dan diberi uang kertas dua lembar dengan nominal 10Rb.


Okta terlihat masih berdiri di pembatas pintu rumahnya, menunggu seseorang yg tidak lain adalah jemputannya.


Okta mengangkat tangannya, melihat jam yg melingkar di sana. Sudah hampir jam tujuh tapi yg menjemputnya belum kelihatan batang hidungnya.


Tidak lama seseorang yg sebelumnya melajukan motornya berhenti di depan rumah itu.


"Okta, Ayo!" Teriak Mika, adik kelasnya Okta yg selalu memberi tumpangan kepada Okta untuk kesekolah.


"Kenapa gak sekalian datang jam 12?" Ingin sekali Okta mengatakan itu kepada Mika. Tapi itu tidak mungkin, dirinys cukup tau diri karena dia hanya menumpang.


"Tapi aku sering beri uang bensin sama dia" Gumamnya dalam hati. kakinya merangkak menaiki sadel motor tepat di belakang Mika.


*


*


*


Seluruh Siswa berbaris di lapangan. Seperti biasa, walaupun bukan hari senin, para guru selalu setia dengan sambutannya setiap pagi sebelum masuk kelas.


Tita yg sedari tadi berdiri memandang kedepan itu seketika menoleh Okta.


"Okta" Panggil Tita dengan suara kecilnya nyaris tak terdengar namun masih bisa di jangkau oleh Okta.


Okta sekilas melirik tajam Tita tanpa menggerakkan kepalanya ataupun memberikan suara.


Tita yg mendapat lirikan tajam itu langsung memonyongkan mulutnya ke arah Okta merasa tak dipedulikan kemudian kembali menoleh ke depan dengan malas karena guru yg sedari tadi berbicara di depan sangatlah membosankan.


Beberapa menit kemudian.

__ADS_1


"Syukurlah" Ucap Tita sembari melemaskan tubuhnya yg lelah karena sedari tadi berdiri.


Seluruh siswa bergegas membubarkan diri masing-masing setelah guru memberikan salam terakhirnya.


"Ngomong apa sih tadi?" Tanya Tita sambil seraya merangkul Okta.


"siapa?" Jawab Okta.


"Itu, Pak guru tadi ngomong apa?"


Okta mengernyitkan dahinya "Kamu ngapain aja tadi?tidur?"


Tita terkekeh "Ngehalu.."


"Ngegalu siapa? Sehun?" Ucap Okta kemudian tertawa.


"Ada deh, mau tau ajah?"


"Jangan haluin suami aku yah, awas kamu"


"iya iya suami kamu dan.. suami lainnya"


"No, suami aku, gak ada kata orang lain, ok?" Ketus Okta melototkan matanya ke arah Tita. sedang Tita hanya tertawa ngakak dengan sikap Sahabatnya yg sangat berlebihan itu"


Selesai dengan aktivitas tawanya. Okta dan Tita langsung ke kelas mereka masing-masing yg hanya bersebelahan. Sebelumnya Okta satu kelas dengan Tita, namun setelah naik ke kelas sebelas, Okta harus merelakan sahabatnya itu dipindahkan dan itu sudah menjadi aturan sekolah.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like:)


__ADS_2