
Matanya tertuju kepada sebuah buku berwarna merah mudah berkilauan, ditengahnya terdapat pola berbentuk hati berwarna keemasan.
Tangannya kini memegang buku merah muda itu."album apa ini?, cantik banget" Ucap Okta sambil mengusap-ngusap sampul buku tersebut.
Okta membuka lembaran demi lembaran buku itu. Ia mengira itu adalah buku diary seseorang yg ditinggalkan di kas itu, namun dugaannya salah, itu bukanlah buku diary seseorang, melainkan hanya buku tebal kosong. Hanya ada satu tulisan dengan beberapa kalimat berada pada lembar kedua buku tersebut.
"Sebutkan impianmu" kalimat pada pada paragraf pertama.
"maka kau akan memilikinya" kalimat paragraf ke dua.
"dan semua akan lenyap pada hari ke 100" kalimat paragraf ke tiga.
Okta membaca kalimat yg tertera disana."Siapa sih yg nulis?" Gumam Okta. Dia mengangkat bahunya tidak perduli dengan tulisan yg ada di buku itu.
Okta menutup buku itu. tangannya segera kebawah menaruh buku tersebut kembali pada tempatnya namun, sesuatu yg melintas di pikirannya mengurungkan niatnya untuk mengembalikan buku tersebut.
"Bagaimana kalau ku bawa pulang saja, daripada hanya tersimpan disini kan sayang" Gumamnya sambil tersenyum.
Okta segera menaruh buku tersebut di dalam tas nya Kemudian bergegas keluar sebelum seseorang melihatnya.
Okta kembali melanjutkan aktifitasnya yg tertunda tadi yaitu mencari buku Kimia. Di sela-sela kegiatannya tiba-tiba seseorang memanggil.
"Okta?"
Okta menoleh. Terlihat bu Ula berdiri menatap Okta penuh heran.
"ibu dari mana?"
"Ibu tadi kebelet pipis"
"Ooh.."
"Kamu masih disini?"
"Oh..ini saya belum ketemu bukunya bu. Biasanya kan disituh" menunjuk rak buku yg dimaksud.
__ADS_1
"Oh, maaf ibu sudah memindahkannya. Coba kamu liat rak paling ujung sana, ibu taruh paling bawah" Ucap bu Ula.
Okta menuju tempat yg dimaksud dan benar adanya buku tersebut berada di rak paling ujung dan di taruh paling bawah.
"Ya ampun ku cari kemana-mana taunya disini" Ucap Okta.
"Makannya cari bukan di satu tempat aja" Ucap bu Ula.
Okta terkekeh membenarkan perkataan bu Ula karena sedari tadi dia hanya berkeliling di rak depan itu saja.
Okta membawa buku tersebut ke meja dan segera Bu Ula menuliskan catatan pinjaman atas nama Oktavia Adama dan tidak lupa tanggal peminjamannya.
Okta pamit kepada bu Ula dan keluar dari ruang perpustakaan tersebut. Okta terlihat berlari kecil karena teringat Mika yg sedang menunggunya.
"Ya ampun Mika..."
Sampainya di depan gerbang, Okta tak menemukan Mika disana.
"Tuh kan, dianya udah pulang duluan, aku pulang naik apa?" Ucapnya cemberut.
Okta menoleh."Maman, kamu belum pulang?"
"Ini udah mau pulang, kamu kenapa belum pulang?" Tanya Maman.
"Aku gak tau mau pulang sama siapa, Mika udah pulang duluan"
"Yah udah sama aku ajah" ajak Maman.
"terus Mauren? bukannya dia pulang sama kamu?"
"gak, dia dijemput Papanya'
"Ooh, yaudah aku pulang sama kamu aja yah"
"Sip..."
__ADS_1
*
*
*
Sampai di rumah.
Okta bergegas menuju rumahnya yg sedikit terbuka itu. Dari arah sana Terlihat Nanda adik Okta yg tomboy itu sedang menatapnya penuh tanya dari pembatas pintu.
"Kenapa gak pulang sama Mika? berantem?" Tanya Nanda polos membuat dahi Okta berkerut kesal.
"Sok tau banget sih" Seru Okta.
"Terus kenapa malah di antar sama Om-om tadi?"
"Om..om, cowokmu tuh yg om om, itu si Maman ****"
"aku mana punya cowok?" ketus Nanda.
"Udah ah, awas sana" Seru Okta seraya menyenggol bahu Nanda dan berlalu meninggalkannya.
"Biasa aja dong jelekk!!" teriak Nanda. Okta tak menggubris teriakan adiknya yg sangat menjengkelkan itu. Dia langsung masuk ke kamar melewati mama papanya yg sedang berbincang di ruang tengah itu?
*
*
*
*
*
Jangan lupa like:)
__ADS_1