Menikahi Budak Tak Berguna

Menikahi Budak Tak Berguna
Thalia adalah Maria


__ADS_3

KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹


💐 HAPPY READING 💐


Namun, ada yang aneh ketika Ren menatap Thalia yang duduk di kursi bagian belakang.


“Kenapa kamu duduk di sana?” Tanya Ren, sedikit membentak.


“Karena Tuan dan Budak tidak boleh duduk bersampingan, bukan begitu?” Jawab Thalia, tak kalah bingung dengan pertanyaan dari Ren itu.


“Tapi aku juga bukan supirmu!” Sentaknya, membuat Thalia mengalah dengan helaan nafasnya yang lelah.


Dan mau tidak mau dia akhirnya pindah ke kursi depan, untuk duduk di sebelah pengemudi.


Kini mobilpun terlihat sudah membelah jalanan yang sangat macet di pagi hari. Karena banyaknya yang akan berangkat kerja dan juga berangkat sekolah.


“Siap!” Umpat Ren, tak habis - habisnya karena merasa sesak melihat kemacetan di pagi hari ini.


“Initinya, sampai di sana, kalau mereka bertanya bilang saja kita sudah berpacaran dua tahun! Mengerti?!” Ucapnya, mengatue sebuah sekenario, agar ketika mereka di tanya di sana mereka tidak salah - salah.


“Oh iya, ini identitas baru kamu,” ucapnya lagi, memberikan amplop coklat berisikan semua identitas baru milik Rapthalia.


“Di situ, ada Id card, ada pasport, ada akte dan semua dokumen yang di perlukan untuk mendaftarkan pernikahaan. Kamu bisa menggunakannya nanti! Tetapi untuk Pasport, akan di gunakan di saat kamu harus mengurusku di saat aku dinas keluar!” Jelasnya lagi, membuat Thali terdiam, ketika melihat identitas barunya itu.


Dia diam karena dia sedang berpikir, apakah id card itu benar - benar asli? Karena setahunya nomor Id card, hanya bisa di berikan satu kali untuk si pemegang. Namun Thalia -


Ah sudahlah, yang penting sekarang dia punya identitas, dan akan semakin mudah untuk menyembunyikan identitas asilnya.


***


Sesampainya di kantor pencatatan mereka masuk ke dalam ruangan, yang memang sudah tersedia untuk pasangan yang akan membacakan sumpah pernikahaan.


Ke dua pasangan itu terlihat sangat - sangat serasi, seperti memang benar sepasang kekasih yang saling mencintai dan memang menikah karena panggilan hati.


Tapi, tidak ada yang tahu kalau mereka berdua menikah karena sebuah kemauan pribadi.


Jika Ren menikah untuk mempertahankan Harta warisan Mamahnya, berbeda halnya dengan Thalia, yang menikah karena ingin bersembunyi dari masa lalu yang terus mengejarnya.


***

__ADS_1


Setelah mendapatkan surat nikah, kini Ren sudah tidak punya waktu lagi untuk kembali ke rumah. Dia sudah harus buru - buru ke kantor untuk menghadiri meeting. Sekaligus ingin memperkenalkan Thalia sebagai istrinya. Guna meyakinkan pengacara mamahnya jika pernikahaan itu benar adanya.


Ketika di kenalkan pada karyawan dan karyawatinypuan, banyak sekali yang memuji keserasian pasangan itu. Membuat banyak wanita bahkan pria yang merasa cemburu dengan cipataan Tuhan yang sangat sempurna ketika bersatu.


“Thalia, pergi ke Patry! Dan buatkan aku Coffe sekarang!” Perintah Ren, untuk pertama kalinya yang akan menjadi tugas Thalia menjadi seorang babu.


Thalia sedikit melirik ke arah Ren, sebelum akhirnya dia bangkit dari duduknya untuk menuruti keinginan suaminya.


Di saat Thalia baru saja keluar dari ruangan Ren. Dia bertemu dengan Valda yang sepertinya baru saja datang. “Eh, Thalia, kamu mau kemana?” Tanya Valda dengan begitu lembut. Sangat berbeda sekali dengan Ren yang sejak tadi hanya membentaknya saja.


“Mau ke patry, tadi Tuan Ren meminta di buatkan Coffe.” Jawabnya, dengan perasaan canggung.


“Kalau begitu, biar aku antar, kamu pasti -“


“Valda!” Tegur Ren, yang ternyata mendengar obrolan mereka dari dalam.


“Ya Tuan.” Sahut Valda, merasa tidak enak dengan tatapan Ren yang sepertinya ingin memangsanya.


“Aku tidak menggajimu untuk mengobrol di sini dengan seorang budak ya!” Tegasnya, dengan tatapan penuh selidik pada Thalia dan juga Valda.


“Baik Tuan.” Sahut Valda, merasa tidak enak dengan Thalia. Karena dirinya yang mengajak ngobrol, jadilah dia terkena amarah dari Ren.


Sedangkan Ren, ketika melihat Thalia sudah memasuki lift. Dia kembali masuk ke dalam ruangannya, bersiap untuk menghadiri rapat.


***


Sedangkan di lift, Thalia tidak benar - benar mencari di mana letak patry, tapi dia malah ke Lobby dan memasuki taxi yang sedang mangkal di depan kantor.


“Mau kemana Nyonya?” Tanya Supir itu.


“Kamu tahu alamat kita sekarang?” Tanya Thalia, pada supir itu. Karena dia tidak mau ada masalah salah jalan atau lupa jalan nantinya.


“Iya Nyonya saya tahu, karena saya setiap pagi pasti ada di sini.” Jawab supir itu dengan sopan.


“Bagus, kalau begitu, bawa aku ke alamat Yyyyy.” Perintahnya lagi.


Dan segera supir itu mengendarai mobilnya untuk pergi ke alamat tujuan Thalia.


***

__ADS_1


Sesampainya di alamat tersebut, Thalia meminta agar supir itu menunggu. Sedangkan dia terlihat masuk ke dalam sebuah restoran dengan kosep yang sangat minimalis.


Tetapi, Thalia datang ke situ bukan berniat untuk makan, karena dia berjalan terus sampai masuk ke dalam pintu yang di dalamnya terdapat banyak barang dan kursi. Namun, di balik ruangan itu ada sebuah bar yang sangat tersembunyi.


“Maaf, kami sedang tutup, tidak menerima pelanggan.” Kata seorang pria paruh baya, dengan memegang koran di tangannya.


Thalia menghela nafasnya, lalu menarik koran itu turun, agar pria tua itu bisa melihat ke arahnya. “Apa yang sedang kamu lakukkan di sini?” Tanya pria itu dengan ketus pada Thalia.


“Aku tidak mau terkena masalah lagi untuk saat ini, kamu boleh pergi.” Ucapnya, mengusir Thalia dari tempatnya.


“Aku butuh bantuan, aku butuh uang dan aku butuh gencatan senjata.” Ujarnya, dengan wajahnya yang sangat - sangat memohon pada pria tua itu.


Pria paruh baya yang biasa di panggil Bunchi itu, terlihat menghela nafasnya dengan hisapan rokok di mulutnya.


“Maria, tidak bisakah sekarang kamu hidup dengan damai? Tidak lelahkah kamu hidup dalam kejaraannya?” Tanya Bunchi sedikit memarahi Thalia yang dia kenali sebagai Maria.


“Aku bukan Maria lagi! Aku adalah Thalia, Rapthalia! Maria sudah lama mati tenggelam oleh masa lalu!” Jawabnya tegas membuat Bunchi hanya bisa menggaruk kepalanya bingung.


“Mau kamu Maria, Thalia, atau siapapun tidak ada bedanya, jika kamu belum menyelesaikan masa lalumu.”


“Kalau begitu aku akan menyebut diriku Jesus. Karena itu adalah kesukaanku.” Balas Bunchi memang terbiasa untuk bermain - main. Tidak pernah serius dalam menanggapi suatu hal.


“Tapi satu yang kamu ingat! Jika mereka tahu kamu masih hidup, bukan hanya kamu yang mereka kejar, tapi saya juga akan menjadi korban!” Kalimat yang keluar dari mulut Bunchi sangat di pahami oleh Thalia. Namun dia tidak bisa bertindak apapun juga saat ini, selain berlindung dan mengatur strategi.


“Aku tahu, dan karena itu aku ke sini.”


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*

__ADS_1


__ADS_2