
Malam hari,
Sepulang dari parade, Agatha tidak langsung kembali ke kedimaan duke. Ia memilih untuk menemui Sheila di mansion milik kerajaan. Tentu nya ia sudah izin pada Lucius.
Agatha mencari-cari dimana ruangan gadis bernama Sheila itu berada. Ia memutuskan bertanya pada pelayan untuk mempersingkat waktu.
Tak lama setelah berkeliling, Agatha akhirnya menemukan Sheila. Gadis berambut emas itu tengah duduk di pinggir ranjang di dalam sebuah ruang serba putih polos.
Agatha mengetuk pintu dan langsung masuk. "Sheila?" Sapa gadis berambut merah itu. Sheila menyelingak dan tersenyum lembut.
"Nona bukankah Anda yang pernah menabrak saya waktu itu?" Sheila masih setia mengulum senyum dengan polosnya.
Agatha hanya mengangguk. Ia tau maksud dari Sheila. Dirinya pernah bertemu Sheila setelah pulang mengantar Julian. Mungkin saja Sheila masih mengingat Agatha karena rambut merah gadis itu yang terkenal langka.
"Silahkan Nona, masuklah." Sheila bangun dari tempat duduk berusaha untuk sesopan mungkin. Kakinya masih dalam keadaan telanjang.
Agatha masuk ke kamar serba putih itu dan duduk di kursi polos yang tersedia. "Bagaimana lukamu?" Tanya nya dengan memperhatikan kening Sheila yang diperban.
Gadis berambut emas itu kembali duduk dipinggiran ranjang."Sedikit sakit tapi sudah jauh lebih baik. Semua ini berkat kebaikan tuan itu." Sheila tersenyum membayangkan wajah Lucius.
Agatha yang melihat wajah Sheila bersemu tidak tinggal diam. "Oh tentu saja dia baik, karena dia adalah tunanganku." Lontar nya penuh penekanan. Agatha harus segera mengakui ini atau Sheila akan salah paham dan mengira Lucius hanya baik padanya.
__ADS_1
Terlihat wajah Sheila berubah drastis. "Tu-tunangan? Anda sangat beruntung Nona." Ujar gadis itu mencengkam jemari tangannya. Menahan perasaan kecewa.
"Em...Sheila mau berapa lama kau tinggal disini? Maksudku , aku bisa menyewakan sebuah penginapan untukmu."Tanya Agatha disertai tawaran. Sungguh ia tidak betah jika Sheila berada di mansion kerajaan. Meski Lucius jarang kemari, tetapi tetap saja ia khawatir.
Sheila tampak berpikir. "Saya juga tidak tau Nona. Saya masih takut untuk keluar sendirian. Saya takut majikan saya masih mencari saya." Sheila berubah sedih. Ia bahkan sampai menitikan air mata.
Melihat itu Agatha berubah datar. "Tenanglah jangan menangis." Cerocosnya asal.
Namun Sheila tak kunjung berhenti mengeluarkan tangisan. Seorang pelayan yang mendengar tangisan Sheila dari luar, lantas menelisik melalui pintu karena penasaran.
Maniknya itu melihat sosok Agatha tengah duduk bersilang kaki dengan wajah datar dan Sheila yang sedang menangis. Pelayan bertubuh kurus itu sudah memiliki pikiran macam-macam yang berkeliaran di dalam otaknya. Merasa iba, ia memilih masuk dan menghampiri gadis bernama Sheila itu.
Ia mengabaikan Agatha yang menatap nya tajam. Pelayan itu kemudian mengelus pundak Sheila"Ya ampun Nona Sheila tenanglah. Bagaimana bisa ada orang yang tidak menyukai gadis sebaik dirimu." Sindir pelayan itu pedas sembari melirik Agatha.
"Mungkin hanya orang iri yang berlaku kasar padamu Nona Sheila." Imbuh pelayan itu. Namun Sheila tak kunjung berhenti menangis ataupun berniat menyangkal perkataan si pelayan.
Sementara Agatha yang sudah terlampau kesal langsung menghampiri pelayan itu. Ia menyeret lengan baju si pelayan dan mendorong pelayan itu menjauhi Sheila. Gadis berambut merah itu kemudian tak segan melemparkan pukulan ke wajah si pelayan hingga warna merah tercetak jelas di pipi si pelayan.
"Apa kau sadar siapa orang yang kau sindir hah?" Tegas gadis itu dengan menggertarkan giginya. Ia akan kembali melemparkan pukulan. Namun, tiba-tiba ada sebuah tangan melingkar di kakinya dan mendekap kakinya erat.
"Nona jangan hiks, dia tidak salah hiks hiks, seharusnya aku yang meminta maaf karena menagis terlalu berlebihan hiks hiks." Sheila memegangi kaki Agatha dan melontarkan kalimat pemohonan di sela isakan nya.
__ADS_1
Bibir Agatha terangkat ingin mengucapkan sesuatu. Namun, belum sempat ia mengeluarkan suara, pintu masuk kamar terbuka dan menampilkan sosok lelaki berperawakan tinggi dan berambut cokelat kehitam. Lelaki itu menyipitkan matanya setelah melihat pemandangan di depannya.
"Ada keributan apa ini?" Tanyanya penuh penekanan.
"Salam Yang Mulia." Agatha menunduk hormat. Pelayan itu pun sama. Sheila segera berdiri dan hanya menunduk serta mengelap air matanya.
"Mejawab Yang Mulia Putra Mahkota, Tadi saya hanya melihat Nona Sheila menangis dan kemudian membantu menenangkannya.Namun saya tidak menyadari keberadaan Nona Agatha, mungkin Nona Agatha merasa tersinggung dengan perlakuan Saya hingga---"Ucapannya tercekat saat Ia menyadari mendapatkan tatapan membunuh dari Lucius.
Lelaki itu memincingkan matanya. "Aku bertanya pada Agatha bukan padamu!" Kecam Lucius yang membuat pelayan itu menciut.
"Begini Yang Mulia, Saya hanya menawarkan sebuah penginapan untuk tinggal Sheila. Namun, Sheila terbawa suasana dan menangis. Pelayan ini tak sengaja melihat nya dan jadi salah paham. Tetapi dengan kata-kata tidak sopan pelayan ini malah menyindir saya. Saya hanya berusaha mendisiplinkannya agar dia tau tatakrama dan bersikap lebih sopan pada bangsawan." Terang Agatha panjang lebar. Sebenarnya ia tidak terlalu yakin Lucius akan percaya dengan penjelasannya setelah melihat ekspresi wajah lelaki itu.
"Kalau begitu mulai besok dan seterusnya kau dibebaskan dari kewajibanmu dan mansion ini." Tegas Lucius. Pelayan yang sadar dirinya dipecat langsung berimpuh dan memohon pengampunan. Namun, sudah terlambat, keputusan yang diambil tidak bisa diganggu gugat.
"Yang Mulia terimakasih karena sudah mempercayai saya." Lontar Agatha dengan senyum mengembang.
Lucius melirik."Hmm." Sahut lelaki itu.
Sheila yang melihat itu hanya bisa meremas gaunnya. Entah mengapa hatinya menjadi sakit.Ia sadar bahwa perasaan seperti itu sangat tidak pantas, tapi ini pertama kalinya ia ditolong oleh seorang. Melihat kebaikan Lucius yang ditujukan untuk dirinya, hatinya menjadi melayang dan lupa akan kedudukannya.
***
__ADS_1
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘