
Tengah Malam,
Mansion Kerajaan Korintus,
Seorang gadis berambut emas tengah duduk termenung diatas ranjang dengan merangkul kedua kakinya. Pikirannya benar-benar dilanda dilema atas kejadian malam tadi. Melihat lelaki yang ia sukai percaya dengan mudah pada perkataan gadis lain, membuat hatinya tertusuk.
Namun disisi lain pula, ia sadar akan kedudukannya hanya sebagai budak menyedihkan yang ditolong seorang tuan baik hati. Sekarang Sheila bahkan rela mengabdikan dirinya untuk Lucius jika lelaki itu memintanya.
Angin malam datang berhembus menyentuh kulit putihnya. Sheila perlahan menyelingak ke arah jendela besar di dekat balkon. Dirinya kemudian berjalan ke arah jendela yang masih terbuka lebar itu, berniat menutupnya.
Kaki penuh lecet itu perlahan melangkah ke depan. Ia sedikit meringis saat salah satu jari kakinya terlalu keras menekan lantai.
"Aw." Sheila tak bergeming dan kembali ke tujuan awalnya yaitu menutup jendela. Saat akan menutup, pandangannya tak sengaja terpaku pada lelaki berambut hitam yang tengah berbincang dengan lelaki berambut hijau di bangku panjang di taman mansion
Sheila tersenyum hangat mentap Lucius dari jendela kamarnya. Wajah Lucius yang tegas dan rambut cokelat kehitamnya yang terkena terpaan angin serta sorot matanya yang tenang mampu menambah pesona nya di mata Sheila. "Tuan sangat tampan." Wajahnya kembali memanas karena terbius pesona Lucius.
Detik berikutnya Ia segera menggelengkan kepala dan menepuk pelan pipinya. "Tidak! Tuan sudah bertunangan! Aku tidak boleh mengharapkan apapun!" Gadis itu berusaha bangkit kembali pada kenyataan dan menampik pikiran liar di otaknya.
"Tapi sedang membicarakan apa tuan malam-malam begini?" Tanya gadis itu penasaran. Ia kembali menatap ke arah Lucius dan Steven dengan lekat. Sheila melihat Lucius yang bersin hingga dua kali. Dirinya menjadi khawatir.
Gadis itupun memilih untuk membuat secangkir teh dan membawa benda itu segera ke taman. Meski ia sedikit kesulitan dalam menentukan arah dapur, namun Sheila cukup beruntung karena para pelayan menyukainya dan mau membantunya.
"Nona Sheila ini berhati baik dan lembut sekali. Semoga dewa selalu memberkati nona dengan kebahagiaan." Celoteh salah seorang pelayan yang kagum dengan gadis itu. Sheila hanya membalasnya dengan senyuman dan segera membawa teh itu ke taman.
Sesampainya di taman, Sheila sedikit gugup saat akan berhadapan dengan Lucius. Jantungnya berdegup kencang seakan bisa melompat kapan saja.
"Pe-Permisi Tuan, Sa-Saya membawakan ini untuk Anda."Gadis itu berkata terbata sembari memperlihatkan cangkir berisi teh buatannya.
Lucius mengernyit keheranan. "Sejak kapan aku memintamu mengantarkan teh?" Lontarnya dingin.
Sheila membeku. "Sa-Saya melihat tuan bersin dan saya rasa tuan kedinginan. Jadi saya berinisiatif untuk membuatkan teh." Gadis berambut putih emas itu mengatakan sembari menutup matanya. Dirinya tak sanggup jika melihat Lucius marah karena perbuatannya.
Setelah beberapa saat, Lucius tak berniat untuk membalas. Steven yang bersamanya pun langsung paham. "Nona manis, kemarikan teh nya." Lelaki itu berkata dengan lembut dan menggoda seperti yang biasa ia lakukan pada para gadis.
Sheila yang mendapati sapaan seperti langsung bersemu. Wajahnya semerah semangka. Tangan kecil yang gemetar itu berusaha tetap seimbang dan menyerahkan teh buatannya pada Steven.
"Astaga apa ini? Bagaimana bisa ada gadis semanis dirimu yang tidak mengenakan alas kaki?" Heboh lelaki bermanik hijau itu setelah melirik ke arah kaki Sheila.
"I-ini tidak masalah." sahut gadis itu cepat-cepat.
Alis Steven hampir menyatu. Ia segera menyaut teh dari gadis bermanik emas itu. "Ngomong-ngomong sejak kapan kau punya peliharaan ? Kukira kau sama sekali tak tertarik pada gadis." Steven tertawa di akhir kalimatnya.
"Kalau sudah selesai kau dipersilahkan pulang." Lucius sudah muak dengan kelakukan sahabatnya itu yang asal cerocos. Ia memutuskan untuk kembali ke ruang kerja dan menetap di mansion selama satu malam.
Sementara itu, ditaman tersisa Sheila dan Steven. Gadis itu menggigil kedinginan terlihat dari kaki dan tangannya yang bergetar. Ia berniat untuk masuk, namun Sheila harus menunggu Steven menyelesaikan teh nya dan kemudian gadis itu baru bisa mengambil cangkir tehnya. Entah kenapa Sheila bisa memiliki pemikiran polos seperti itu.
"Hei apa yang kau lakukan nona manis, duduklah disebelahku." Lelaki itu berkata sembari melemparkan kedipan mematikan yang biasa ia gunakan untuk menggoda para gadis. Sheila menjadi kikuk. Namun tetap menuruti kemauan Steven. Gadis itu akhirnya duduk dengan terus memainkan jemari tangannya.
"Kau itu gadis yang berani ya." Steven meneguk teh dan kemudian melanjutkan kalimatnya. "...berani sekali kau menyapa Lucius tanpa embel-embel 'Yang Mulia'." Imbuhnya, lelaki itu kembali menenggak teh nya sampai ludes.
__ADS_1
"Tapi itu semua karena saya terbiasa menyapa majikan saya dengan sebutan 'tuan'."sangkal gadis itu dengan keringat dingin yang mengalir di dahinya. Ia terlihat panik.
Apa karena itu tuan Lucius sedikit marah padaku. Pikir gadis berambut putih keemasan itu bimbang.
"Sudahlah kau masuk nona manis. Bisa-bisa kau sakit." Perintah Steven sembari menepuk pelan pundak Sheila. Gadis itu pun segera menuruti. Namun sebelum pergi, Sheila harus meminta sesuatu.
"Tuan, cangkirnya." Dengan polosnya gadis itu menodongkan tangan nya dan meminta gelas kosong yang masih di genggaman Steven. Lelaki itu menautkan alisnya. "Jadi karena ini kau mau berlama-lama denganku." Lontarnya sembari mengulurkan gelas di tangannya pada Sheila.
Gadis itu segera beranjak meninggalkan Steven yang kini tengah keheranan. "Dimana Lucius menemukan gadis itu. Aneh sekali." Gummanya.
"Sepertinya aku juga akan tinggal di mansion ini untuk semalam." Steven berkacak pinggang setelah menyadari bahwa Wim, bawahannya tak kunjung datang untuk menjemput.
***
Malam telah pergi dan berganti dengan pagi. Awan-awan nampak begumpal seperti gerombolan domba. Kawanan kupu-kupu pun ikut menari meramaikan suasana di taman mansion. Salah satu dari kupu-kupu itu hinggap di punggung seorang gadis berambut merah yang tengah tergesa ke suatu tempat.
"Bagaimana bisa Lucius tidak ada istana dan malah ada di mansion." Gumam gadis itu. Ia baru saja pergi ke istana untuk kembali bertemu lelaki itu. Namun, Lucius malah dikabarkan masih berada di mansion. Imajinasi nya yang liar telah menuntunnya untuk segera menemui lelaki itu dan memastikan dia baik-baik saja.
Agatha akhirnya mencapai pintu utama mansion. Ia segera masuk dan bertanya pada pelayan yang tengah sibuk mengerjakan pekerjaan. Sementara itu, Lucy yang sedari tadi mengekori Agatha terlihat kewalahan karena dirinya harus membawa tas dengan berat yang lumayan.
Setelah mengetahui informasi dari pelayan, Agatha segera pergi ke ruang kerja mansion untuk menemui Lucius.
Tak butuh waktu lama bagi dirinya menemukan ruang kerja itu. Agatha mengetuk pintu hingga dipersilahkan masuk, sementara Lucy menunggu di ruang tamu mansion.
Saat baru memasuki ruangan kerja bergaya klasik itu, Agatha sudah disambut pemandangan tak mengenakan. Dimana Sheila sudah duduk salah satu kursi empuk yang berada lumayan dekat meja kerja Lucius dan memandangi lelaki itu yang tengah fokus mengerjakan dokumen, dengan tatapan tak berkedip.
Seperti biasa , Lucius hanya mengangguk. "Bagaimana Sheila bisa berada disini?" Agatha segera menghampiri gadis berambut putih keemasan itu dan duduk berhadapan dengannya.
"Maaf jika nona terganggu, sebenarnya saya hanya khawatir dengan tuan. Tuan sedari tadi bersin dan saya berusaha menawarkan obat buatan saya untuk membantu tuan dan tuan berkata akan meminumnya nanti. Jadi saya tidak akan pergi sampai tuan meminum obat yang saya buat." Terang Sheila dengan wajah khawatir bercampur kesal.
Agatha menghela nafas. "Kau pergilah! Biar aku yang akan memastikannya."Lontarnya.
Hati Sheila berdenyut. Tidak! Ia tidak ingin pergi. Dirinya ingin tetap berada di dekat tuan baik hati itu. Tangannya terkepal. Setidaknya biarkan dirinya menatap Lucius jika dirinya tak ditakdirkan untuk memiliki tuan itu.
"Tapi---"
"Sudah kubilang daritadi kau pergi saj-- hatcuh." Suara maskulin milik Lucius berubah parau disertai bersinan di akhir. Ternyata benar ucapan Sheila bahwa Lucius sedang sakit. Pikir Agatha.
"Sheila pergi dari sini! Biar aku yang merawat Yang Mulia." Agatha menatap Sheila dengan bersungut.
"Tapi Nona saya juga ingin merawat tu--" Ucapannya tergantung karena Agatha segera mendahului. "Atas dasar apa kau ingin merawatnya?" Gadis itu menegaskan dengan sorot mata tajam.
Sheila hanya bisa menggertakan giginya dan lagi-lagi meremas kuat gaun putih miliknya. Kepalanya tertunduk dalam. "Kalau begitu saya pamit. Permisi tuan , nona." Lontarnya. Ia segers beranjak pergi meninggalkan ruang kerja.
Agatha menghela nafas lega. "Yang Mulia, tolong berhenti bekerja." Pinta Agatha di depan Lucius. Lelaki itu tetap saja berfokus pada dokumen di hadapannya.
"Aku akan berhenti setelah menyelesaikannya." Sahut lelaki itu bersikukuh. Kening Agatha berkerut. Bagaimana bisa ada orang yang gila kerja seperti ini. Dengan cepat jemari nya mengambil kertas yang sedang diperhatikan oleh Lucius.
"Yang Mulia, hari ini sebaiknya Anda ambil cuti karena sakit." Saran Agatha. Lucius tentu saja menolak mentah-mentah.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau memutuskan bahwa aku memang sedang sakit?" Lucius berkata menantang. Sebenarnya itu hanyalah agar Agatha tak mengusiknya dan membiarkannya bekerja dengan tenang.
Mendengar kalimat Lucius, gadis dengan manik biru itu segera terpikir kan sesuatu. "Saya tau caranya." ia mendapatkan ide seperti ada lampu hijau dikepalanya.
"Kemarikan kening Anda." Pinta Agatha. Lucius menghela nafas dan menuruti perkataan Agatha. Gadis itu segera berjinjit dan menempelkan kening miliknya ke kening Lucius. Itu sedikit sulit dilakukan karena mereka terhalang oleh sebuah meja.
Lelaki bermanik kecokelatan itu membelalak sempurna. Ia dibuat terkejut dengan tingkah Agatha.
"Cukup panas." Gumam gadis itu. Ia segera memisahkan kening miliknya dari Lucius.
Sesaat setelah itu, pintu terbuka menampilkan sosok tinggi dengan rambut dan manik hijau tengah memegang sebuah kertas. "Lucius kupikir kita bisa meminta kerjasama dengan daerah utara. Kurasa perdagangan disana cukup menguntung---" Ia menjeda kalimatnya setelah menyadari kehadiran Agatha.
"Sayang ternyata kau berada disini juga? Apakah ingin mencariku?" Setelah mendengar pertanyaan itu Agatha menggelengkan kepala secepat mungkin.
Sementara itu, setelah Agatha berbalik membelakangi dirinya, Lucius menyadari sesuatu. Gaun yang Agatha kenakan telalu mengekspos bagian punggung. Dengan cepat ia berdiri dan mencomot paksa jepit rambut di kepala gadis itu hingga rambut merahnya tergerai sempurna.
Steven yang memperhatikan gerak gerik Lucius langsung paham. Ia sedikit kesal dan hanya mengepalkan tangan."Sayang apa kau sudah makan?" Pertanyaan asal itu yang ia lontarkan. Steven hanya berniat menjauhkan Agatha dari Lucius yang menurutnya memiliki gelagat aneh.
"Sudah , tentu saja sudah."
"Kalau begitu, bisakah kau keluar aku dan Lucius akan membicarakan pekerjaan." Cara terakhir yang Steven gunakan yaitu mengungkapkan ke inti.
Agatha menggeleng. "Hari ini Yang Mulia ambil cuti karena sakit dan saya berencana merawatnya" Timpalnya.
Steven menaikan salah satu alisnya. "Uhuk, uhuk, sayang sepertinya aku juga sakit. Tolong rawat aku juga." Steven ber akting dengan sangat buruk tentu saja Agatha langsung menyadarinya.
"Tidak mau."
Mendengar itu Steven menjadi kesal. Ia dengan langkah yang dihentakan datang menghampiri Agatha. Secepat kilat tangannya menerkam lengan Agatha. "Kau itu sebenarnya kekasih siapa?! Jangan berbuat baik pada lelaki lain selain aku!" Kecam Steven yang terlampau kesal. Sementara, Lucius berusaha menahan amarahnya.
"Lepas Steve! Apa mungkin kau cemburu?" Lucius memperingatkan. Tunggu cemburu! Itu tidak mungkin kan. Steven yang hobi mempermainkan hati wanita bisa cemburu. Pikir Lucius.
"Ya!" Lelaki berambut hijau itu menyahut tanpa basa basi. Lucius melotot. Namun detik berikutnya ia kembali tenang. Mungkin saja Steven mengatakan itu tanpa berpikir.
"Sudah kuperingatkan jangan buat keributan!" Kecam lelaki bermabut hitam kecokelataan itu. Ia segera membantu Agatha untuk lepas dari genggaman Steven.
"Ukh." Steven akhirnya melepaskan cengkeramannya.
Dari balik pintu Sheila tengah memperhatikan kejadian itu. Ia menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya erat. Padahal dia sempat berpikir bahwa tuan berambut hijau menyukainya, ternyata dia hanya menyukai nona Agatha. Hatinya memanas ketika melihat Lucius berada di dekat Agatha. Tanpa sadar air matanya menetes.
"Apa kah salah jika aku juga menginginkan perhatian tuan?" Gumamnya dengan wajah berurai air mata.
***
Maaf ya kalau part kali ini kepanjangan.
***
Jangan Lupa untuk like, komen(kritik saran), dan tambah favorit ya. Terima kasih😘
__ADS_1