
Desaku terpencil, bisa dibilang jauh dari kota. Tiap hari berjalan puluhan kilo meter untuk mencari sumber makanan. Aku tinggal bersama Mak Ida, seseorang yang begitu menyanyangiku. Hidup penuh perjuangan sudah lama ku nikmati. Walaupun sederhana hidupku, tapi sangat bahagia. Iya, itulah yang kurasa.
Namaku Mirelda, tinggal di Desa flambouse. Aku masih duduk di bangku kelas XI SMU Landasan Bangsa. Karena kecerdasanku, aku dapat menikmati rasanya sekolah gratis tanpa biaya sepeserpun. Sebuah keberuntungan dan juga Doa Mak Ida. Sebenarnya, Mak Ida bukanlah ibu kandungku. Ia menemukanku ada di pinggir air terjun curug bidadari wangi, ketika ia sedang mencuci pakaian. Ah, aku sangat banyak berhutang budi padanya.
"Irel... Rel..." Terdengar suara Mak memanggilku
Tap
Tap
Mendekat ke sumber suara
"Mak memanggil Irel?" berjongkok disamping Mak Ida, yang terlihat sedang menghidupkan tungku
"Ambilkan kayu disamping kebun !"
"Ini belum matang, tapi kayunya mau habis" memegang lenganku, pandangan Mak Ida beralih pada masakan yang belum matang
"Ah, baiklah mak... Tenang saja"
__ADS_1
Krak
Krak
Aku mengumpulkan beberapa kayu dan ranting yang kering. kemudian mengikatnya jika di rasa sudah terkumpul agak banyak.
"Ini mak, biar Irel saja yang menambahkan kayunya"
Aku memasukkan beberapa kayu ke dalam tungku
"Biar Irel saja yang melanjutkan memasaknya mak, mak istirahat saja" Ucap Irel dengan lembut kemudian duduk di samping Mak Ida
Setelah di rasa sudah matang, ku pindahkan semua makanan ke piring yang berada di atas meja
"Mak, ayo makan dulu. Makanannya sudah siap !"
Tanpa babibu...
Mereka langsung duduk di meja makan, sambil menikmati makan malam pada saat itu
__ADS_1
"Wahh, enak sekali masakanmu rel"
"Tak sia sia aku mengajarimu" Mak Ida tersenyum ke arahku
"Kayaknya tadi yang masak bukan Irel mak. Kan Irel hanya meneruskan masakan mak yang hampir matang saja"
"Haha..."
Ruang makan ramai dengan suara tawaku
"Ohh iya, bagaimana dengan sekolahmu?"
"Alhamdulillah lancar mak, besok Irel sudah masuk sekolah. Liburan telah usai" ucapku dengan ekspresi sedih menatap Mak Ida
"Sekolahnya yang rajin, harus semangat, harus jadi orang bermanfaat untuk sesama !" mengangkat kedua tangannya bak mengangkat barbel
"Siap makkk !" Aku juga mengangkat tangan, dengan posisi hormat seperti upacara bendera
Piring piring yang kotor segera ku angkat ke kamar mandi, menaruhnya di dalam ember. Aku mulai membersihkannya satu persatu, setelah selesai di cuci semua, aku kembalikan lagi pada tempat semula...
__ADS_1