Menjadi Baik

Menjadi Baik
Part 4


__ADS_3

"Mengenai adab seorang anak kepada orang tuanya juga pernah dibahas oleh Imam Al-Ghazali dalam risalah yang berjudul Al-Adab fid Diin yang terdapat dalam buku Majmu’ah Rasail. Dalam tulisan tersebut disebutkan beberapa adab seorang anak kepada orang tua yang perlu diperhatikan, yaitu: Tidak mudah merasa capek dalam berbuat baik kepada orang tua, Memenuhi panggilan orang tua, dan Mendengarkan kata-kat orang tua" ucap Irel sambil menulis di buku tugasnya


"Kamu salah ! harusnya bukan itu jawabannya"


"Terus apaa?" tanya Irel dengan ekspresi bingung


"Entahlah, gue juga gak tau haha"


Irel hanya mendengus karena kesal dengan jawabannya Ghani. Sedangkan Ghani masih menahan tawanya. Sebenarnya Ghani orang yang baik, cuma terkadang suka jahil pada orang yang tidak disukainya. Hanya karena melihat wajahnya saja, ia sudah tidak suka. Entah kenapa? padahal baru pertama kali bertemu dengan Irel.


Diskusi berjalan dengan lancar, banyak pertanyaan sanggahan dan komentar untuk menambah nilai para siswa. Emiel murid yang tak terkalahkan di kelas itu juga sangat antusias untuk bertanya. Tak jarang juga memberikan pertanyaan yang sulit untuk teman-temannya. Sampai-sampai hanya bu Imma yang langsung memberikan penjelasan. Ia juga ketua osis di SMU Landasan Bangsa. Tentunya sangat disegani para siswa dan guru. Perawakannya tinggi, kulit putih langsat, hidup mancung, bisa dibilang mendekati sempurna. Tak sedikit pula banyak siswa yang menyukainya.


Emiel juga memiliki latar belakang keluarga yang berada, ehh... iya. Di sekolah itu rata-rata memang yang ekonominya berada, karena terkenal mahal, tentunya kualitasnya juga sangat bagus. Orang tua Emiel menolak, ketika anaknya mendapatkan beasiswa selama sekolah, lantaran mereka masih mampu untuk membiayai. Pikirnya untuk murid yang lainnya saja, yang benar-benar membutuhkan. Salah satu murid tersebut yaitu Mirelda, berdasarkan pertimbangan wali kelas, ketika pertama kali mendaftar di SMU Landasan Bangsa.


Bel istirahat berbunyi...


Kringgg...


Kringgg...

__ADS_1


Kringgg...


Setelah bu Imma keluar dari kelas semua murid baru keluar. Karena Adab lebih utama dari pada ilmu, begitulah salah satu semboyan sekolah itu.


"Rel, mau kemana?" tanya Rike


"Ke toilet, mau ikut?"


Rike menggelengkan kepala "Engga, kirain mau ke kantin"


tap


tap


tap


"Aduhhhh" kepala Irel memegangi kepalanya


'kenapa lantainya tidak terlalu keras ya' batin Irel yang masih menutup mata

__ADS_1


"Sampai kapan kamu akan menutup mata?" tanya seseorang yang berada di belakangnya


Irel belum sepenuhnya terjatuh, karena ada yang menarik kerah belakangnya. Dengan segera ia menarik kerah Irel lagi agar berdiri dengan seimbang


"Emiel?" Irel menoleh ke belakang


"Kalo jalan lihat atas bawah juga !" jawab Emiel dengan ketus, langsung pergi begitu saja


"Apa-apaan sih, gak jelas banget !" gerutu Irel kemudian melihat atas dan bawahnya, ia baru menyadari kalo tali sepatunya terlepas. Inilah yang membuat Irel hampir terjatuh tadi.


"Ohh ini yaa" ia langsung merapikan kembali tali sepatunya, dan bergegas ke kamar mandi. Karena terburu-buru ia salah masuk kamar mandi cowok, sampai di walk in closet...


"Aaaaaa......." Irel berteriak, namun ada tangan yang membekapnya dari depan


"Diammm !" jawab orang yang membekap mulut Irel dengan tangannya


"Emiel? kamu kenapa di sini? dasar...." hendak memukul lengan Emiel, ia berhasil mencegahnya, dan memutar pundak Irel untuk melihat sebuah tulisan...


"Tuh lihat !" menunjuk tulisan tadi

__ADS_1


__ADS_2