
Hari pun berganti, dan Jane yang bangun lebih awal daripada Alda itupun bergerak dan berjalan ke ruangan depan untuk membuka pintu rumah nya dan pada saat ia membuka pintu rumahnya itu. Tiba tiba ia mendapati ada sebuah bunga mawar hitam yang terletak tepat di depan pintu rumahnya.
Mawar hitam terkenal dengan simbolisme negatifnya di seluruh dunia. Beberapa simbolisme itu termasuk hilangnya nyawa, kebencian dan romansa yang tragis.
Ketika seseorang mengirim bunga tersebut itu artinya orang tersebut berharap jika di penerima bunga itu akan mendapatkan hal hal buruk.
Jane yang tidak tahu menahu mengenai arti bunga mawar itu dia pun dengan santainya mengambil bunga tersebut, dan pada saat Jane mengambil bunga itu dia menemukan ada sebuah kertas surat sehingga iapun untuk membukanya.
Jane yang telah membuka kertas itupun kaget dan teriak histeris yang ternyata lagi dan lagi itu adalah sebuah teror yang diberikan kepadanya karena isi kertas surat itu adalah:
"MATI!!"
"Ahhggg" teriak Jane dan melemparkan bunga itu jauh jauh dari hadapannya.
Alda yang baru saja bangu dan berada di ruangan tamu itupun mendengar teriakan Jane sehingga iapun berlari keluar menemui Jane.
"Jane, ada apa Jane?" Tanya Alda.
"Li.. liat bunga itu dah" ucap Jane.
"Haa, bunga?" Ucap Alda bingung.
"Itu bunga di depan, tadi pas buka pintu gua dapat bunga itu dan ada sebuah kertas yang bertuliskan Mati." Ucap Jane.
"Ini pasti ulah chef gila itu" ujar Alda.
"Gua syok banget dah liat itu" ujar Jane lagi yang masih terlihat merintih ketakutan.
"Ya udah, ayo kita masuk kedalam" ujar Jane sembari memegang bahu sahabatnya itu dan mencoba menenangkan nya.
Hari demi hari pun berlalu dan tak ada satu hari pun yang mereka lewati tanpa teror tersebut. Berbagai bentuk teror pun mereka dapati di setiap malam nya. Dan macam macam teror yang menghantui mereka itu selalu berhubungan dengan pulau Heidel. Sehingga, dengan teror tersebut, Jane dan Alda pun begitu frustasi dan seperti ingin gila dengan teror yang terus menghantui mereka.
Hingga tepat pada suatu hari, Jane dan Alda yang selalu bersama itupun mendapat telepon dari sahabatnya yaitu, Liya.
"Jane, tolongin gua Jane" suara Alda terdengar meminta bantuan kepada Jane di dalam telepon tersebut.
"Liya!! Liya!!" Ujar Jane menyahuti.
__ADS_1
Namun, suara Liya itu terputus putus dan hanya berkata minta tolong dan menyebut nama Jane saja setelah itu teleponnya pun mati. Namun, pada saat Jane mencoba menghubungi Liya kembali, panggilan Jane tidak bisa tembus karena tiba tiba nomor Liya itupun sudah tidak aktif lagi. Karena hal itu Jane dan Alda pun dibuat panik dan khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
"Jane, Liya kenapa Jane?" Tanya Alda penasaran.
"Gak tau, dia nelpon kayak minta tolong gitu" sahut Jane.
"Coba telpon kembali" ujar Alda.
"Gak bisa tembus dah, udah beberapa kali gua coba tetap ajah gak bisa." Ujar Jane lagi.
"Ada apa ya dengan Liya" ujar Jane dalam hati.
"Hemmm, semoga ajah Liya gak kenapa napa!" Ucap Alda berharap sahabatnya itu baik baik saja.
"Ayo sekarang lohh siap siap kita berangkat ke rumah Liya" ucap Jane tegas mengajak Alda.
"Lohh serius Jane mau pergi jam segini?" Sahut Alda ragu.
"Ya serius lah. Kalau Liya sampai kenapa napa, gimana coba?" Ujar Jane tegas.
"Iya juga si" sahut Alda singkat.
Namun, pada saat sampai di rumah Liya itu. Sepertinya, rumah itu kosong karena pintu yang terkunci dan lampu halaman depan juga tidak menyala.
"Tok tok tok" suara ketokan pintu yang dilakukan oleh Jane sambil memanggil nama Liya:
"Liya"
"Tok tok tok"
"Liya" ucapnya sambil mengetoki pintu rumah Liya.
"Kayaknya Liya gak ada di rumah deh Jane!" Ujar Alda.
"Iya ni, kayaknya dia emang gak ada dirumah" sahut Jane.
Jane pun terdiam sebentar sehingga Alda pun menawarkan Jane untuk pergi ke kantor Liya.
__ADS_1
"Gimana kalau kita ke kantor nya ajah Jane" ucapnya.
"Hemmm. Masa si Liya belum pulang jam segini" sahut Jane.
"Ya gak tau juga. Tapi, apa salahnya kita coba dulu. Siapa tau ajah ada disana dia!" Ujar Alda kembali.
Jane dan Alda yang tidak mau berpikir panjang lagi itupun dengan cepat naik ke mobil dan Alda pun kembali menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi dan melaju ke arah kantor Liya.
"Jane, piling gua kok gak enak ya?" Ucap Alda mengatakan itu kepada Jane.
"Maksud lohh?" Tanya Jane
"Gua ngerasa terjadi sesuatu deh dengan Liya" ujar Alda lagi menjelaskan mengenai pilingnya itu.
"Udah, gak usah pikir aneh aneh. Gua yakin kok Liya gak kenapa napa!" Sahut Jane kemudian melanjutkan:
"Yang penting sekarang kita cek dulu di kantor nya, ada apa enggak si Liya" ujarnya.
Tiba tiba Jane yang sedang melaju itupun seperti merasakan ada sesuatu. Dan pada saat ia melihat ke spion mobilnya sepertinya ada sebuah mobil yang sedang membuntuti mereka.
"Alda, coba deh lohh perhatiin. Kayaknya mobil di belakang kita dari tadi ngikutin kita deh" ucap Jane.
"Ahhh serius loh Jane" sahut Alda.
Jane yang merasa jika mobil itu sedang mengikuti dia itupun mencoba membuktikan. Ketika melihat ada sebuah jalan dengan persimpangan Jane pun mencoba belok ke kana di persimpangan itu. Dan ternyata, memang betul mobil itu sedang mengikuti mereka.
"Beneran dah, mobil itu ngikutin kita dari tadi!" Ucapnya.
"Buruan Jane" ucap Alda panik.
Jane pun tanpa ragu menambah kecepatan mobilnya hingga pada kecepatan 100 kilo meter per jam. Namun, sayangnya ketika melaju tiba tiba Jane harus memberhentikan mobilnya karena di depan sudah ada dua mobil berwarna hitam menghalangi jalan mereka dan Jane pun berhenti.
Dan pada saat mobil Jane berhenti. Terlihat, beberapa orang dengan memakai pakaian hitam serta menutupi wajahnya dengan topeng menghampiri mobil Jane. Dan berusaha menyuruh Jane membuka pintu mobilnya itu. Tapi Jane yang tidak mau keluar dari mobil itupun hanya berdiam sehingga membuat orang orang bertopeng itu membuka paksa pintu mobil Jane dengan cara memecahkan kaca mobil Jane.
"Ahhhggg" teriak Jane dan Alda saat orang orang bertopeng itu memecahkan pintu mobilnya.
"Keluar!!" Teriak orang orang bertopeng itu dan menarik paksa Jane dan Alda keluar dari mobil dan yang membuat Jane dan Alda pun dengan terpaksa keluar dari mobil itu.
__ADS_1
*Bersambung*