
Pertunangan Alvero dan Reyna memang sudah terlaksana, namun sikap Alvero kepada Reyna tetaplah sama, acuh dan menyebalkan. Siang itu Elvan sengaja mengundang Alvero dan Reyna untuk makan siang bersama disebuah restauran.
Marisa dan Elvan sudah tiba lebih dulu saat Alvero dan Reyna sampai di restauran.
"Hai Elvan, Marisa." Reyna menyapa Elvan dan Marisa dengan senyum cerianya.
"Hai, kak Reyna." "Hai Reyn." Marisa dan Elvan menjawab sapaan Reyna.
"Kalian sudah dari tadi?" Alvero duduk di kursi terlebih dulu.
"Baru aja kok, kakak udah aku pesenin tadi." Kata Elvan.
"Gara-gara ni cewek aneh jadi telat dateng kesininya." Kata Alvero.
"Ya maklum lah, sebagai perempuan kan harus menjaga penampilan, apalagi mau makan siang di luar sama calon suami dan adiknya kayak gini, iya kan Marisa?" Reyna mengedipkan matanya pada Marisa.
Marisa hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Siapa juga yang akan perhatiin orang makan, lagian siapa calon suami kamu, kita cuma tunangan bukan berarti kita akan menikah." Alvero dengan sinisnya.
"Selalu aja gitu, serah kamu lah Al." Reyna cemberut.
Marisa dengan sigap memegang tangan Reyna, "Sabar Kak, jangan nyerah. Cinta itu ajaib kok Kak, pasti akan tumbuh seiring waktu, Kakak yang sabar ya." Marisa menyemangati Reyna.
Elvan menatap istrinya kagum, meski sebelumnya Marisa begitu cemburu dengan Reyna, namun sekarang Marisa justru sangat dekat dengan gadis periang yang dulu mengejarnya itu.
Sementara Alvero yang sudah bertunangan dengan Reyna justru semakin mengagumi kelembutan hati Marisa.
"Iya, aku tau kok, dulu aku ngejar-ngejar Elvan udah kayak orang gila di kampus, kemanapun dia pergi dan apapun yang dilakuin Elvan aku ikutin, padahal si cowok aneh disebelahku ini begitu sering kasih aku perhatian. Sekarang malah aku yang kejar-kejar balik dia. Bener kata kamu, Cinta memang ajaib." Kata Reyna lalu menyeruput minumannya.
Marisa hanya tersenyum mendengar curhatan Reyna itu.
Hingga makanan pun datang dan mereka segera mengisi perut lapar mereka.
Elvan begitu perhatian dengan istrinya, beberapa kali ia menyuapi makanannya untuk Marisa, membuat Reyna terharu sedangkan Alvero terlihat jengah. Entah apa yang dirasakan Alvero, ia masih berusaha keras menyingkirkan istri adiknya itu dari hatinya.
Saat makan siang mereka selesai, mereka kembali mengobrol membicarakan perkembangan perusahaan, meski lebih tepatnya Elvan dan Alvero yang membahasnya. Tiba-tiba Marisa menangkap sosok wanita yang ia kenal baru saja duduk di kursi yang cukup jauh dari meja mereka.
"Nyonya Anita?" Marisa menyebut nama ibu tiri Elvan yang tak lain adalah ibu kandung Alvero.
Ketiga pasang mata itu sontak ikut mengarahkan pandangannya kepada seorang wanita bergaun putih yang tengah berbincang cukup serius dengan seorang laki-laki dengan jas biru dongker itu.
"Mama." Alvero juga terkejut, "sama siapa dia?" Alvero memperhatikan laki-laki dihadapan Mamanya.
"Bukankah itu Pak Daniel dari ABC grup Pak?" Marisa mengenali laki-laki yang bersama ibu mertuanya itu.
"ABC grup yang pernah kita ambil alih proyeknya itu?" Kata Alvero menatap mata Marisa meminta penjelasan.
"Iya Pak, waktu itu saya sebenarnya merasa aneh, bukankah mereka yang memenangkan tender dan sudah tanda tangan kontrak, tapi tiba-tiba Pak Daniel membatalkan kontrak mereka hingga akhirnya kita yang mendapat proyek itu." Kata Marisa menjelaskan.
"Tapi kenapa Mama bisa mengenal Pak Daniel?" Alvero lalu kembali memperhatikan Mamanya yang kini terlihat tertawa lepas bersama mantan kompetitornya itu.
"Mungkin Mama teman baiknya Pak Daniel." Kali ini Elvan yang menyahut.
Mereka berempat memperhatikan gerak-gerik dua orang setengah baya yang terlihat sangat akrab itu. Bahkan sesekali Pak Daniel terlihat menggenggam tangan Bu Anita.
Tiba-tiba ponsel Alvero berbunyi, layarnya menampilkan panggilan telpon dari Pak Erwin. Alvero pun menjawab panggilan itu.
"Iya Pa, ada apa?" Kata Alvero setelah menggeser layar ponselnya yang berwarna hijau.
"Kamu dimana?" Tanya Pak Erwin di balik telepon.
__ADS_1
"Aku masih makan siang di luar Pa, sama El, Marisa, sama Reyna juga."
"Cepat kembali ke kantor, Papa mau bicara sama kamu sama Elvan juga."
"Iya Pa, aku akan balik."
Alvero pun mengakhiri panggilannya. Dan mereka berempat kembali ke kantor tanpa diketahui oleh Bu Anita dan Pak Daniel yang masih berada di restauran itu.
***
Elvan masih tetap mengurus bengkelnya walau kini ia juga sibuk di kantor. Sementara Marisa masih bekerja sebagai sekretaris suaminya.
Hari itu adalah akhir pekan, Marisa dan Elvan baru saja pulang mengunjungi Kakek dan Nenek Elvan seperti akhir pekan biasanya.
"Mas, nanti mampir ke supermarket ya, belanja bulanan." Kata Marisa kepada suaminya yang tengah fokus menyetir.
"Oke, siap ratuku." Kata Elvan.
Marisa tersenyum, lalu mengecek ponselnya, ada beberapa pesan dari Ratna dan juga Reyna. Marisa dan Reyna memang sering berkirim pesan, selalu ada saja yang mereka bicarakan, Marisa selalu mendengar cerita-cerita seru Reyna yang masih berusaha mendapatkan hati Alvero.
Marisa dan Elvan kini telah selesai berbelanja, mereka mampir di sebuah kafe yang berada di dalam Mall, karena Elvan mengajak Marisa untuk nonton film sebelum berbelanja.
"Sayang, Mas pengen deh rumah tangga kita kayak di film tadi." Kata Elvan yang kemudian meminum jus mangganya.
"Emm,,, Iya Mas, aku juga berharap gitu, walaupun suaminya digodain wanita lain, tapi dia setia banget." Kata Marisa yang memuji tokoh dalam film yang baru saja mereka tonton.
"Istrinya juga percaya semua yang dikatakan suaminya." Elvan menimpali.
"Karena wanita itu peka Mas, kalau suaminya main-main pasti istrinya punya firasat." Kata Marisa dengan bangga.
"Kalau Mas kenapa-kenapa kamu juga akan dapat firasat nggak sayang?"
Elvan tak langsung menjawab, ia malah tertawa karena istrinya begitu terpancing omongannya.
"Enggak lah sayang." Kata Elvan.
"Jangan bohong ya Mas, awas aja kalau Mas sampek selingkuh." Marisa melotot mengancam suaminya.
"Galak bener sekarang? Kamu lagi PMS ya sayang?"
"PMS? aku malah belum haid Mas dua minggu ini kayaknya telat." Kata Marisa yang baru menyadarinya.
"Apa kamu hamil?"
"Aku nggak mual nggak pusing juga Mas, kayaknya enggak deh Mas, mungkin belum normal aja setelah keguguran itu."
"Tapi itu kan udah hampir tujuh bulan yang lalu sayang, bukankah bulan lalu haid kamu sudah normal."
"Ya mungkin saja Mas, ya sudah nanti kita beli testpek ya, sepulang dari sini." Kata Marisa bersemangat.
"Mas ada satu di rumah. Besok kita coba ya."
Meski sedikit bingung Marisa pun akhirnya mengiyakan perkataan suaminya.
***
Pagi harinya sebelum sholat shubuh. Elvan membangunkan istrinya yang masih terlelap. Dengan lembut ia menepuk nepuk bahu Marisa seraya berbisik agar Marisa cepat bangun.
"Mas.." Marisa membuka matanya pelan, silau lampu kamar membuatnya enggan membuka lebar netranya.
"Sayang, katanya mau coba ngetes." Kata Elvan melihat istrinya yang belum juga bangun.
__ADS_1
Marisa lalu duduk dengan cepat, matanya terbuka lebar memandang suaminya yang ikut terkejut dengan pergerakannya yang tiba-tiba.
"Sekarang Mas?" Tanya Marisa semangat. "Tapi Mas dapat alatnya dari mana?"
"Waktu kamu keguguran itu, sebenarnya paginya Mas beli alat itu atas saran ibu-ibu komplek, tapi belum sempet Mas kasih ke kamu malah ada kejadian itu." Kata Elvan menjelaskan kejadian sebelum Marisa mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ia keguguran.
"Maafkan aku Mas." Marisa tertunduk.
"Bukan salah kamu sayang." Elvan memeluk tubuh istrinya.
"Kalau kali ini aku nggak hamil gimana Mas?" Marisa melepas pelukan Elvan dan memandang lekat sepasang bola mata yang terlihat bersinar itu.
"Apapun itu, kita coba aja ya sayang. Mas temenin mau?" Elvan berdiri lalu mengajak Marisa ke kamar mandi.
"Mas tunggu sini, jorok Mas." Kata Marisa setelah sampai di depan kamar mandi lalu masuk ke dalam dan menutuo pintunya.
Beberapa menit kemudian ia keluar dengan alat yang masih di genggamnya erat.
"Gimana?" Tanya Elvan penasaran.
"Aku belum lihat Mas. Aku takut." Marisa menyerahkan alat berwarna biru itu kepada suaminya.
Elvan langsung meraih alat itu dan membaca hasilnya.
Marisa memejamkan mata, sembari berdoa semoga hasilnya tidak mengecewakan.
"Nggak ada tulisan positif hamilnya sayang. Cuma ada dua garis merah gini maksudnya gimana." Kata Elvan lalu menatap istrinya dengan bingung.
Marisa mengangkat wajahnya menatap suaminya lalu merebut alat itu dan, benar Marisa hamil. Ia lalu memeluk tubuh suaminya. dengan perasaan yang sangat bahagia hingga butiran air bening mengalir di pipinya.
"Kenapa sayang, maksudnya gimana?" Elvan melepas pelukan istrinya, ia masih tak mengerti bagaimana cara membaca hasil alat sederhana itu. "Kanapa kamu menangis sayang?"
Marisa hanya menjawab dengan senyumnya yang lebar dan air mata yang masih setia mengaliri wajahnya.
"Kamu hamil?" Elvan mulai paham dengan ekspresi istrinya.
Marisa hanya mengangguk, lalu secepat kilat Elvan memeluk tubuh istrinya, ia menciumi rambut Marisa bertubi-tubi.
"Sayang, aku akan jadi papa?" Tanya Elvan yang lagi-lagi dijawab anggukan oleh Marisa.
Elvan lalu menurunkan berat tubuhnya, lututnya menyentuh lantai demi memandang perut datar Marisa.
"Anak papa, kuat-kuat ya di dalam sana, Papa akan jaga kamu sayang, bertahanlah disana sampai saat kamu dilahirkan nanti." Kata Elvan yang memeluk perut Marisa dan terus mengelusnya dengan kasih sayang, seolah ia tengah mengelus wajah bayinya.
"Mas, aku bahagia sekali Mas." Marisa mengusa rambut Elvan.
"Iya sayang, Mas juga sangat bahagia. Ayo kita berterimakasih sama Allah, kita sholat dulu." Elvan mengajak istrinya untuk menunaikan kewajibannya.
Setelah mengambil wudhu dan sholat berdua, dilanjutkan dengan dzikir, Elvan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk calon bayinya.
Mereka menikmati awal pagi yang sangat membahagiakan itu dengan indah.
Kini keduanya telah berada di dapur.
"Mas, aku akan berhenti kerja ya." Kata Marisa yang menyajikan makanan di meja makannya.
"Sayang, jangan bilang ke semua orang dulu ya kalau kamu hamil." Kata Elvan.
"Kenapa Mas?"
bersambung....
__ADS_1