My Amazing Husband

My Amazing Husband
Aku Beruntung (Ending)


__ADS_3

Pagi yang cerah, menjadi awal yang indah untuk Kakek Darma. Untuk pertama kalinya, laki-laki tua itu merasakan damai dan bahagia yang sesungguhnya.


Di belakang rumahnya, Kakek Darma sedang merasakan indahnya hari tua. Ditemani dua bocah lucu yang tengah mencoba sepeda barunya.


"Ayo Zea cepat!" seru Zayn yang terus mengayuh sepedanya.


Dua bocah itu sedang beradu keahlian. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka telah ahli mengayuh sepeda.


Zayn dan Zea mendapat hadiah sepeda dengan tambahan dua roda di bagian belakangnya. Sepeda itu diberikan khusus oleh Kakek Darma, setelah menghubungi salah satu koleganya yang mempunyai pabrik sepeda berkualitas.


"Zayn, Zea sudah berhenti, ayo kita sarapan!" ajak Pak Erwin setelah mendapat instruksi dari Pak Rudy.


"Grandpa nanti saja, kita mau main sepeda dulu." Zea menjawab sambil terus mengayuh sepedanya, tak ingin tertinggal jauh dari Zayn.


"Ayolah Zea, Zayn, nanti kita bisa lanjut lagi." Pak Erwin sudah terlihat lelah, entah berapa kali kakek si kembar itu meminta mereka berhenti.


"Ah, Zayn lapar Zea, ayo kita makan dulu, nanti lagi," kata Zayn yang mulai merasakan lapar.


"Tapi nanti main lagi ya." Zea mengikuti Zayn yang telah memarkir sepedanya.


"Lihat! Mereka akan berhenti kan saat merasa lapar." Kakek Darma tersenyum bahagia.


***


Aneka hidangan telah tersaji di meja makan, meja panjang itu penuh dengan makanan. Zea masih terheran-heran, siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak itu?


Gadis kecil itu begitu heran, namun ia tetap duduk dengan manis. Di sampingnya, ada Zayn yang sudah sangat kelaparan.


"Zayn, nanti yang akan habiskan ini siapa? Mama Papa saja belum pulang," bisik Zea pada Zayn.


"Aku nggak tau, sudahlah ayo kita makan, aku lapar." Zayn mulai melahap nasi dan ikan gurame yang berukuran besar.


"Zayn, aku takut sama kepiting itu." Zea kembali berbisik.


"Ambil yang lain saja, sudah … aku mau makan," jawab Zayn begitu kesal.


"Zea kamu kenapa?" tanya Pak Erwin yang sedari tadi memperhatikan tingkah kedua cucunya.


"Nggak papa Grandpa."

__ADS_1


...🌱🌱🌱M.A.H🍀🍀🍀...


Marisa menggeliat di balik selimut tebalnya. Ia melirik suaminya yang masih terlelap dalam mimpinya.


Semalam, Marisa dibuat remuk oleh suaminya. Bagaimana tidak, jika siang harinya ia lelah dengan rentetan acara ulang tahun anak mereka, lalu malamnya ia harus berkali-kali dibuat melayang dengan kerja keras suaminya.


Melihat matahari yang telah bersinar terang, Marisa teringat jika mereka belum melaksanakan kewajiban mereka.


"Mas … Mas … Mas, bangun Mas." Marisa menggoyang-goyangkan tubuh polos Elvan.


"Hmmmmm …." Elvan hanya berdehem dan kembali melanjutkan mimpinya.


"Mas kita belum sholat subuh." Marisa setengah berteriak agar suaminya segera bangun.


"Apa?" Elvan langsung terbangun, mencoba mengembalikan kesadarannya dengan menepuk-nepuk kepalanya.


"Aku mandi dulu Mas," kata Marisa setelah berhasil membangunkan suaminya.


"Ikut." Elvan menangkap tangan istrinya saat berusaha bangun dari ranjang.


"Nggak, nanti malah nggak jadi mandi, kita harus segera meng-qadha sholat subuh kita Mas." Marisa segera berlalu meninggalkan suaminya.


Elvan terkekeh pelan, ia teringat kembali kejadian semalam yang membuatnya tak bisa berhenti. Hingga akhirnya mereka harus tidur menjelang subuh.


***


"Mas, kamu beneran beli rumah ini?" tanya Marisa yang masih belum percaya dengan semua yang terjadi.


"Ya beneran dong sayang." Elvan memeluk Marisa yang duduk di sampingnya. "Mas, masih punya kejutan untukmu."


"Apa lagi Mas?" tanya Marisa yang kini bersemu kemerahan.


"Tutup mata dulu," kata Elvan.


Marisa memutar bola matanya, jengah. Dengan malas, ia menutup kedua matanya dengan kedua tangan.


"Aku nggak mau dibeliin apa-apa lagi ya Mas, udah berlebihan banget loh ini." Marisa mengomel dengan mata tertutup.


Elvan kemudian mengeluarkan gulungan kertas dari saku jaketnya.

__ADS_1


"Udah Sayang, sekarang lihatlah!" Elvan meletakkan gulungan kertas itu tepat di depan wajah Marisa.


"Apa ini Mas?" tanya Marisa, namun tangannya yang tak sabar, membuka sendiri gulungan kertas dengan pita merah itu.


Elvan tak sabar melihat reaksi bahagia istrinya.


"Kartu keluarga. Elvano Putra Wiguna. Marisa Anggun Cahyadi. Zayn Elvan Wiguna. Zea Elvan Wiguna." Marisa membaca satu persatu nama dalam kertas itu. Raut bahagia tergambar jelas di wajah cantiknya.


"Itu salinannya, yang asli ada di rumah kita, bersama buku nikah yang kamu tinggalkan dulu," kata Elvan yang tersenyum melihat istrinya bahagia.


"Makasih ya Mas, semoga tidak ada lagi yang menghalangi kebahagiaan kita." Marisa memeluk erat tubuh istrinya.


"Semoga setelah ini nama dalam kertas itu bertambah ya." Elvan membalas pelukan hangat istrinya.


"Seminggu lagi jadwalnya haid, nanti kalau telat kita tes ya, Mas," kata Marisa.


Aku bersyukur memiliki istri sepertimu, yang memiliki cinta yang tulus, kesetiaan, juga rela berkorban untuk diriku. Aku akan selalu mencintaimu selamanya.


Aku beruntung memiliki suami sepertimu, Mas. Suami yang benar-benar mengagumkan, aku akan selalu mencintaimu, selamanya.


...TAMAT...


Halo readers, Aku Itta Haruka, gimana endingnya? Puas nggak? Semoga puas ya. Kalau belum puas, tunggu di season 2 ya (Insya Allah) nggak akan panjang kok babnya 🤭🤭


Kalau mau nunggu season 2, jangan hapus dari rak dulu ya. Supaya kalau author dapat hidayah, terus nulis lanjutannya, kalian tetap dapat info updatenya 😍😍


Special thanks untuk sahabatku :


❤ KAY_21 Author "Wanita Simpanan"


❤ AG Sweetie Author "Simple That Perfects"


❤ Dj'Milano Author "Penantian CEO Tampan"


❤ pencil_kecil Author "My Qolbi"


Yang selalu aku repotkan dengan ini dan itu, terima kasih banyak 🙏🙏🙏


Oh iya, jangan lupa mampir ke karya keduaku "MENIKAHI ANAK SOPIR" yang launching hari ini ya. Masih anget banget loh 😍😍 silahkan cek di profil Author

__ADS_1



Terima Kasih juga untuk kalian para readers yang selalu setia dan suport karya ini. Kita bertemu di season 2 ya 🙏🙏🙏


__ADS_2