My Amazing Husband

My Amazing Husband
Pertemuan dengan Sylvia


__ADS_3

Keluarga kecil yang bahagia, seperti itulah orang-orang menilai keluarga Elvan dan Marisa. Memiliki sepasang anak kembar yang begitu didamba oleh banyak orang tua, Elvan dan Marisa begitu beruntung. Zayn dan Zea adalah bukti nyata cinta mereka, setelah dulu pernah kehilangan, namun Tuhan begitu adil dengan menggantinya dua anak sekaligus.


Zayn dan Zea memang terpisah, Zayn yang diculik saat baru dilahirkan harus rela hidup tanpa kasih sayang ibu yang sesungguhnya. Sementara Zea yang dibesarkan oleh Marisa, masih cukup beruntung karena Andi yang selalu mengunjunginya di hari liburnya, membuat Zea tak kehilangan kasih sayang seorang ayah.


Dan kini, setelah lima tahun berpisah, akhirnya mereka pun kembali bersama, menjadi keluarga utuh. Zayn dan Zea pun mendapatkan kasih sayang lengkap dari kedua orang tua kandungnya.


Siang itu, Elvan bersama keluarga kecilnya menikmati masakan Marisa. Menu sederhana yang dimasak istrinya, begitu menggugah nafsu makannya. Sepiring nasi telah tandas, namun Elvan masih melanjutkan makannya. Paduan sayur sop dan tahu goreng yang dicolek dengan sambal kecap memang selalu menjadi favorit Elvan. Bahkan masakan para pembantu di rumah Kakek Darma tak bisa mengalahkan masakan yang dibuat dengan cinta oleh istrinya itu.


"Alhamdulillah kenyang banget deh sayang, makasih ya istriku," kata Elvan yang telah menghabiskan dua piring nasi.


"Iya Mas sama-sama." Marisa bangkit untuk membereskan piring sisa makanan.


"Ma, kapan kita ke rumah Bunda," tanya Zea yang sedang mencuci tangan di wastafel bersama Zayn.


"Emm, coba tanya Papa deh sayang," jawab Marisa yang kini telah meletakkan piring-piring kotor di wastafel.


Zea lalu menghampiri Elvan yang masih di ruang makan. Sementara Zayn sedang tersenyum manis kepada Marisa.


"Mama, mau Zayn bantu?" kata Zayn yang sudah selesai mencuci tangannya.


Marisa menatap mata putranya itu, dilihat lebih detail, Zayn memang memiliki wajah yang mirip dengan Zea, walau lebih mirip ke Elvan, tapi Zayn memiliki banyak kesamaan juga dengan Zea. Jadi Zayn dan Zea secara fisik lebih mirip dengan Elvan dibandingkan Marisa.


"Zayn baik banget, ya udah sini bantuin Mama ya."


Ada pancaran bahagia dibalik senyum mungil Zayn saat itu. Bocah itu bahkan menggandeng tangan Mamanya saat setelah selesai mencuci piring. Menghampiri Elvan dan Zea yang sedang sibuk menyusun rencana mereka sendiri.


Zea duduk di pangkuan Elvan, sedang melihat kalender xi ponsel Elvan.


"Ma, hari minggu kita ke kebun binatang habis itu ke rumah Bunda," ucap Zea yang masih duduk di pangkuan Elvan.


"Zayn suka kebun binatang nggak?" tanya Marisa yang juga ingin mendengar pendapat putranya itu.

__ADS_1


"Kemana aja asal ada Mama," jawabnya sambil tersenyum.


"Zayn sama Zea, kalian ke atas dulu ya. Papa mau bicara penting sama Mama," kata Elvan.


Dua bocah itu menurut dan segera naik ke atas untuk tidur siang. Sementara Marisa mengantar mereka sampai ke tangga, lalu menghampiri lagi suaminya yang sudah menunggunya di ruang keluarga.


"Ada apa Mas?" Marisa duduk di sebelah suaminya, karena laki-laki itu telah menepuk-nepuk sofa untuk Marisa duduki.


"Mas akan ketemu Sylvia nanti sore, kamu temenin Mas ya," ucap Elvan yang kini mulai mengusap kepala Marisa lalu membawanya ke dalam dada bidangnya.


"Dia pasti nggak akan mau datang Mas kalau ada aku," kata Marisa.


"Kamu percaya Mas ya, ikuti rencana Mas."


🍀🍀🍀


Di sebuah cafe di pusat perbelanjaan, seorang wanita cantik yang terlihat berkelas tengah duduk dengan anggun menikmati strawberry milkshake di hadapannya. Wanita berusia dua puluh tiga tahun itu masih menatap lekat laki-laki tampan di depannya. Laki-laki yang telah mengalihkan dunianya dua tahun ini, setelah mendapat sakitnya penghianatan dari kekasihnya lima tahun lalu.


"Jadi gimana dengan hubungan kita?" tanya wanita bergaun biru itu. Ia mulai menundukkan kepalanya, takut mendengar keputusan laki-laki di hadapannya.


"Aku tidak akan meninggalkan istriku, kamu wanita baik pasti akan mendapat yang terbaik," ucap laki-laki itu.


Wanita itu mulai mengusap matanya yang basah karena air mata. Namun wajahnya masih tertunduk, pilu.


"Maafkan aku, Syl, tapi pertunangan ini harus diakhiri. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, jadi kapan aku bisa temui orang tuamu untuk jelasin semuanya?" kata Elvan yang seketika menghantam perasaan Sylvia.


Wanita itu sebetulnya tak siap dengan keputusan Elvan untuk mengakhiri hubungan yang hanya didasari oleh bisnis, namun nyatanya Sylvia justru terbawa perasaannya.


"Tidak bisakah kamu berpura-pura bahwa kamu mencintaiku?" Sylvia putus asa, sebenarnya ia tahu bahwa Elvan tak pernah mencintainya, tapi Elvan selalu memperlakukannya dengan baik, memberi perhatian layaknya kekasih. Hal itulah yang membuat harapannya setinggi langit untuk bersama Elvan.


"Kamu lupa, aku sudah punya anak istri, walau berpura-pura aku tidak akan sanggup menyakiti hati istriku," tegasnya agar wanita itu tak mengharapkannya lagi, dan mendapat pengganti yang lebih baik darinya.

__ADS_1


Marisa telah selesai berbelanja baju yang akan dipakai mereka ke kebun binatang nanti. Marisa beserta dua anaknya pergi menemui Elvan yang masih mengobrol dengan Sylvia.


"Mas…." Sapa Marisa saat ia menghampiri Elvan di cafe itu.


"Sayang…." Elvan berdiri lalu memeluk pinggang istrinya, mencium keningnya di hadapan Sylvia.


Elvan melakukan hal yang tak pernah ia lakukan untuknya selama dua tahun ini.


"Papa, kita habis beli baju baru," ucap Zea dengan berisiknya.


Elvan menatap bocah perempuan itu, lalu ia menggendongnya. Sementara Zayn tak pernah melepas pegangan tangannya dari Marisa.


"Sayang, kenalin ini Sylvia." Ucap Elvan kepada Marisa, lalu wanita cantik itu mengulurkan tangannya. "Sylvia kenalin ini istriku," ucap Elvan yang kemudian disambut dengan malas oleh Sylvia.


Sylvia sebenarnya tak tahu jika Marisa dan kedua anaknya ikut datang menemuinya, karena yang ia tahu Elvan mengajaknya sendiri untuk bertemu.


Dua wanita beda usia yang sama-sama cantik itu bersalaman, saling menjabat tangan, dan Marisa pun ikut duduk bergabung dengan Elvan dan Sylvia bersama Zayn dan Zea.


"Papa jadi nikah sama Tante Sylvia?" tanya Zayn yang terdengar tidak menyukai pertemuan itu.


"Papa mau nikah? Terus Mama gimana?" Zea pun ikut-ikutan Zayn.


"Emmmm Papa…."


Bersambung…..


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar nya ya. Biar Author semangat dan nggak segera namatin cerita ini 😅😅. Mumpung hari senin, bagi vote dan hadiahnya juga boleh banget 🤭🤭🤭 yang penting ikhlas ya 🤗🤗🤗


Kalau mau kasih masukan tentang novel ini juga boleh banget kok, jangan sungkan sungkan ya🤭🤭


Terima kasih readers yang masih setia sampai sekarang.

__ADS_1


__ADS_2