My Amazing Husband

My Amazing Husband
Selalu dan Selamanya Mencintaimu


__ADS_3

Elvan melajukan kembali mobilnya menuju rumah, tak sabar ia ingin bertemu kembali dengan istrinya, dan berharap bisa melanjutkan kegiatan mereka yang tadi tertunda. Secara kebetulan, klien yang seharusnya bertemu dengannya hari ini, ternyata merubah jadwal pertemuan mereka. Dan kesempatan itu tak ingin ia lepaskan begitu saja.


Mobil Elvan berhenti tepat di depan rumahnya. Namun, ternyata sudah ada mobil lain yang terparkir di bahu jalan depan rumahnya. Elvan tahu itu mobil siapa, dan ternyata tebakannya benar saat melihat dua pengawal yang berjaga di depan rumahnya. Elvan langsung turun dari mobilnya dan berlari untuk segera melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Rasa khawatir merasuki pikirannya, ia teringat saat Marisa pergi meninggalkannya, dan itu semua karena ulah kakeknya. Elvan bergitu terburu-buru tak ingin kejadian lima tahun lalu terulang lagi.


Perasaanya mulai lega saat mendengar suara istrinya, ia belum terlambat, istrinya masih ada di rumah. Elvan mulai berjalan normal, sembari mendengar apa yang dikatakan wanita yang sangat ia cintai itu.


"Apa mas Elvan sudah setuju untuk menikah lagi?" sela Marisa di tengah isak tangisnya.


"Siapa yang akan menikah lagi?" Elvan yang baru sampai dengan nafasnya yang terengah-engah menerobos masuk begitu saja, tak peduli dengan dua pengawal yang sedang menunggu di teras rumahnya.


Marisa mendongakkan kepalanya, untuk memastikan bahwa ia tak salah dengar.


"Mas …." Marisa berlari untuk memeluk suaminya yang masih berdiri di pintu rumahnya.


"Ada apa sayang?" Elvan melihat wajah istrinya yang basah karena air mata. "Apa yang dikatakan Kakek?" Ia menatap istrinya yang masih menangis, lalu memeluknya agar memberikan rasa aman untuk Marisa. "Jelaskan Kek, apa yang Kakek katakan kepada istriku?" teriaknya kepada Kakek Darma.


"Kakek hanya memberi tahu istrimu supaya bisa berfikir, kalau dia merasa bagian dari keluarga Wiguna, seharusnya dia bisa memutuskan apa yang harus dia lakukan." Kakek Darma beranjak dari sofa, hendak meninggalkan sepasang suami istri yang saling berpelukan itu.


"Jangan pernah mengganggu keluargaku lagi Kek, apalagi sampai mengancam istriku. Aku tidak akan tinggal diam." Elvan begitu marah, matanya berapi-api.


Mata indah Elvan menatap tajam kakek yang pernah memisahkannya dari Marisa selama hampir enam tahun lamanya. Ia teringat bagaimana menderitanya Marisa karena ulah Kakeknya itu. Untuk itu, ia tak akan membiarkan hal yang sama terulang kembali.


"Pikirkan saja apa yang harus kamu lakukan jika keluarga Sylvia tidak terima dengan pemutusan hubungan sepihak ini." Kakek Darma lalu meninggalkan Elvan dan Marisa, masuk ke dalam mobil bersama pengawalnya dan meninggalkan rumah Elvan.


Elvan masih memeluk istrinya, laki-laki itu membawa istrinya ke ruang keluarga, duduk di sofa dan kembali memeluknya erat. Diusapnya lembut punggung sang istri yang membenamkan wajah cantiknya dalam dada bidang Elvan.

__ADS_1


Elvan membiarkan sampai istrinya tenang, membiarkan wanita itu menumpahkan segala tangisnya hingga puas. Namun dalam hati Elvan berjanji, bahwa ini adalah terakhir kali ia melihat air mata kesedihan di wajah Marisa.


Elvan masih mengusap punggung Marisa cukup lama, hingga ibu dari anak-anaknya itu pun mulai tenang.


"Mas, apa kita akan berpisah lagi Mas?" tanya Marissa dengan suara seraknya. Wanita itu mengurai pelukannya dari sang suami.


"Nggak! Nggak akan sayang, Mas nggak akan biarin siapapun memisahkan kita. Sampai Mas mati pun kamu tetap menjadi satu-satunya istri yang akan selalu dan selamanya Mas cintai. Bahkan Mas berharap kita akan tetap menjadi suami istri sampai ke syurga nanti." Elvan menangkup wajah istrinya, lalu mencium seluruh wajah Marisa yang masih lembab meski air mata sudah terhapus sempurna di wajah cantik itu.


"Gimana dengan pertunanganmu Mas?" tanya Marisa yang berusaha untuk tegar.


"Kamu tidak perlu memikirkan itu, Mas akan selesaikan semuanya, yang paling penting, kamu harus bertahan disisi suamimu ini apapun yang terjadi nanti." Elvan menatap dalam mata istrinya. "Jangan pernah tinggalin Mas lagi, percayalah kita akan melewati semuanya bersama," kata Elvan lalu memeluk erat tubuh langsing istrinya.


"Aku percaya kamu Mas, apapun keputusanmu aku pasti akan mendukungmu." Marisa mempercayakan seluruh hati dan hidupnya pada laki-laki yang telah memberinya dua orang anak yang menggemaskan.


🍀🍀🍀


Sementara Elvan duduk di kursi depan Marisa, ia fokus dengan laptop yang ia letakkan di meja mini barnya. Memeriksa beberapa laporan harian yang dikirimkan Galih saat ia masih perjalanan pulang tadi.


"Walaupun nanti ajal menjemputmu dulu, aku tidak akan pernah menikahi wanita lain, karena yang aku mau hanya kamu istriku," kata Elvan yang memperhatikan istrinya tengah melamun.


"Kenapa Mas bilang begitu?" tanya Marisa yang kini tengah menggoreng tahu.


Elvan berjalan mendekati istrinya, lalu memeluk tubuh wanita yang masih memakai apron itu.


"Karena Mas nggak suka lihat wajah sedih kamu, walau nanti kita berbeda alam, kamu pasti masih bisa melihat Mas, dan Mas nggak mau kamu menangis karena cemburu disana, Mas nggak bisa hapus air matamu," katanya lalu menciumi leher Marisa.


"Mas, jangan gini, aku lagi masak," protes Marisa yang meras geli akibat ulah suaminya.

__ADS_1


"Nanti, kalau Mas yang pergi lebih dulu, kamu boleh lakuin apapun yang bisa buat kamu bahagia. Menikah lagi pun Mas ikhlas, tapi syaratnya kalau kita ketemu di surga, kamu harus pilih Mas jadi suami kamu," bisik Elvan di telinga istrinya.


Marisa mengangkat tahunya yang telah matang, lalu mematikan kompornya.


"Aku nggak akan menikah lagi Mas, aku akan tetap mencintaimu selamanya. Tidak akan ada batasnya." Marisa mengalungkan tangannya di leher Elvan.


Lalu Elvan mencium bibir Marisa, merasakan kadar cintanya semakin bertambah. Dan ciuman lembut itu pun perlahan turun ke leher putih mulus istrinya.


"Mas, udah waktunya jemput anak-anak." Marisa mengingatkan suaminya untuk berhenti menggerayanginya. "Kasihan mereka Mas kalau nunggu lama."


Seketika Elvan langsung melepas ciumannya. "Zayn pasti ngambek kalau Mas telat jemput, kamu ikut ya biar dia nggak marah," pintanya dengan wajah memelas.


Zayn memang sedikit pemarah, jika Elvan terlambat menjemput, bocah laki-laki itu akan merajuk dan memusuhinya seharian.


"Iya Mas, ya udah aku siap-siap dulu ya." Marisa melepas apronnya.


"Jangan dandan, gini aja." Elvan menggandeng lengan Marisa dan membawanya pergi meninggalkan dapur.


"Mas, aku bau minyak gini Mas," protes Marisa yang tak dihiraukan suaminya.


Laki-laki itu tetap membawanya keluar dan  mengunci pintu, lalu berjalan menuju mobil yang terparkir di depan pagar rumahnya.


"Mas, aku malu kalau bau gini Mas."


Elvan tak peduli, ia tetap membukakan pintu untuk istrinya itu. Dan segera mengitari bagian depan mobilnya menuju pintu kemudi. "Kalau malu, di dalem mobil aja, Mas nggak mau kamu dideketin Andra nanti," katanya setelah masuk ke dalam mobil dan segera menjalankan mobilnya menuju sekolah Zayn dan Zea.


Bersambung….

__ADS_1


jangan lupa like dan komentnya ya, gratis 🤗🤗🤗


__ADS_2