
Hari ini terasa begitu indah bagiku, kuharap semua ini bukan sebuah mimpi atau karena daya khayalku yang kuat saja.
Ya, hari ini aku sangat bahagia, aku bisa bertemu dengannya. Aries, pria yang sangat kucintai. Namun, berada di dimensi yang berbeda denganku. Kami benar-benar hidup di dunia yang berbeda. Dia hanyalah karakter fiksi di dalam sebuah Otome Game yang sering kumainkan. Dan aku hanya seorang perempuan yang sering mengkhayal tentangnya.
Aku tidak pernah menduga, ternyata aku bisa merasakan kehangatan genggaman tangannya secara langsung. Sekarang, ia terasa begitu nyata bagiku.
Kisah pertemuan kami dimulai setelah aku selesai mengikuti ceremoni kelulusanku, tanpa tahu sebabnya aku bertemu dengannya. Dia bilang, dia datang karena ingin mengucapkan selamat padaku dan ingin merayakan hari kelulusanku. Ya, memang aku tahu Aries adalah seorang karakter Wizard yang mempunyai magic yang luar biasa dan itu alasan yang ia katakan padaku mengapa ia sampai bisa menemuiku di dimensi tempat aku tinggal ini. Sungguh semuanya sulit dipercaya, tapi jika memang ini hanyalah mimpi, kuharap aku bisa terus bermimpi lebih lama seperti ini.
...
Hari tampak semakin gelap. Akhirnya, kami berada di sebuah tempat yang familiar tapi terasa asing bagiku. Sepertinya ini adalah dunia magic yang ada di dalam Game Otome yang biasa kumainkan. Tempat di mana Aries lahir dan tumbuh. Suasana di sini tidak seramai di dunia nyata tempat kutinggal. Di sini banyak bangunan-bangunan dengan desain Castle bergaya Eropa.
"Hey, Rere! Kenapa melamun?" tanya pria beriris Violet itu padaku dengan wajah cemasnya.
"Eh? Maaf, aku melamun ya?" ucapku, bukannya menjawab pertanyaannya, yang ada aku malah balik bertanya padanya.
"Kau lelah?" tanyanya khawatir dengan nada rendah yang terdengar begitu manis di telingaku sembari menyentuh kedua pipiku dengan jemarinya.
"Hhm ... , sepertinya aku sedikit lelah."
"Ya sudah, kita istirahat dulu ya di dekat danau itu." ucap Aries sembari menunjuk spot untuk duduk. Kami pun beristirahat dan mengobrol di sana.
....
"Rere, selamat ya! kau sudah menyelesaikan studimu. Kau hebat." ucap Aries sembari mengelus puncak kepalaku lembut.
"Terimakasih, Aries. Apa kau tahu betapa bahagianya aku bisa bertemu denganmu seperti ini?" balasku sembari tersenyum lembut padanya.
"Rasanya sulit dipercaya, aku sampai takut jika kekuatan magic spell-mu ini akan berakhir. Hehe." ucapku lagi, sedikit memaksa untuk tertawa.
"Sssttt, jangan berpikir apa-apa lagi. Karena hari ini aku ingin membuatmu bahagia."
"Hhm ..., Rere, coba lihat ini!" ucap Aries sembari berdiri dan memegang Magic Wand-nya.
"!" Aries mengucapkan sebuah mantra sihir, kurang dari hitungan satu detik, magic wand-nya diselimuti cahaya keemasan dan kemudian cahaya itu berpencar ke segala penjuru, menjadi seperti kunang-kunang yang terbang kesana-kemari menyinari gelap malam.
"Wow, Aries! Your magic reaally beautiful!
I really love your magic!"
"Just my magic ability, eh?"
"maybe, yes? Apa kau tidak percaya padaku?"
"Hhm ... , well, akan kubuktikan sendiri apakah aku bisa mempercayaimu atau tidak?" ucapnya sembari terkekeh.
__ADS_1
"Buktikan? maksudmu?" tanyaku menatapnya bingung.
CHU
Bibir lembutnya menyentuh bibirku singkat.
"ARRIIIESSS!? HEY!" protesku spontan terkejut dengan apa yang dilakukannya secara tiba-tiba.
"Hm, Rere... ," gumamnya lembut memanggil namaku. Jarak di antara kami pun semakin menipis. Wajah tampannya semakin tampak jelas dari dekat. Masih terkejut bercampur bingung aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa, mataku terbelalak.
CHU
Kurasakan bibir lembutnya kembali menyentuh bibirku. Perlahan sensasi manis dari dirinya melumatiku, nafas kami saling bertautan. Di malam berselimut kilauan cahaya, pipiku semakin memanas, otakku hanya didominasi olehnya.
"Re, Kau manis." ucap Aries setelah mengakhiri ciuman kami.
"Karena aku sudah membuktikannya sendiri, sekarang aku percaya seratus persen kata-katamu. Ucapnya sambil mengusap puncak kepalaku. Lalu mengacak-acak rambutku dengan teganya.
"Ugh, kau menyebalkan" ucapku menahan malu.
"Ahaha, ekspresimu yang sedang malu itu imut sekali. Aku rasa aku tidak akan bosan memandangimu." ucapnya dengan nada menggoda.
"Kau sangat menyebalkan. Aku mau pulang saja." ucapku setengah kesal akan godaannya padaku.
"Eh? tidak bisa, aku rasa aku harus pulang. Bagaimana kalau nanti orangtuaku mencariku? Kau kan tadi langsung membawaku pergi begitu saja di saat ceremoni kelulusanku selesai. Pasti mereka sekarang berpikir kalau aku hilang!" protesku padanya.
"Tidak usah khawatir, karena kau sedang melakukan time travel denganku saat ini. Tentu saja sangat mudah bagiku untuk mengembalikanmu pulang ke tempat tadi di waktu yang sama seperti tadi.
Bagaimana? Apa kau mau menyudahi kebersamaan kita hari? Apa kau sudah bosan bersamaku?" ucapnya bertubi-tubi dengan nada memelas. Aku baru sadar kalau Aries bisa menjadi secerewet ini.
'Menyebalkan! Bagaimana mungkin aku mengatakan tidak jika dia berekspresi semanis ini padaku.'
"Kau itu, apa kurang jelas kalau aku ingin tetap bersamamu seperti ini selamanya?! Kenapa kau memaksaku untuk mengatakan hal memalukan ini?!" jawabku setengah protes.
"Karena aku ingin mendengar jujur seluruh isi hatimu, apa tidak boleh?" tanyanya lembut.
"Hhm ..., maaf kalau aku terlihat seperti tidak jujur di depanmu. Itu karena ..., kau mengerti kan, aku hanya masih malu dan tidak tahu harus bersikap seperti apa saat ini."
"... Aku masih berpikir bahwa aku sedang bermimpi bertemu denganmu." jawabku menjelaskan.
"Ssstt ..., tidak perlu minta maaf, oke? Tentu aku mengerti perasaanmu. Aku sendiri juga sangat senang bisa bersamamu seperti ini, makanya aku ingin kita menghabiskan waktu lebih lama." ucap Aries penuh perhatian. Ia menarikku ke dalam pelukannya.
"Aries." ucapku memanggil namanya.
"Ya?" balasnya sembari masih memelukku.
__ADS_1
"Kau bilang, kau mau melihatku lebih jujur terhadap isi hatiku kan?" tanyaku sembari membalas pelukannya.
"Ya, tentu saja." balasnya sembari mengeratkan pelukannya padaku. Telapak tangannya yang hangat mengelus lembut puncak kepalaku.
"Tapi apa kau tidak kesal padaku? kalau aku jujur padamu, kalau aku jujur dengan hatiku, bisa saja aku akan menyusahkanmu?"
".... Mungkin saja aku akan terlihat serakah di matamu?" ucapku sembari merenggangkan pelukannya dan menatap iris violet indahnya.
"It's okay. Apapun itu bukan masalah bagiku, asalkan itu membuatmu bahagia." jawabnya sembari membalas menatap kedua bola mataku intens.
"Aries, Please, stay with me? Because, I wanna stay with you forever. Could I?"
"Of course, milady!" balasnya antusias kemudian mengecup jemariku.
"Oh my God, Aries!" seketika itu juga aku yakin wajahku sudah semerah tomat segar yang siap disantap.
"Aries, Kau tahu kan kalau aku sangat mencintaimu?" tanyaku padanya.
"Mungkin aku tidak tahu kalau kau tidak mengatakannya langsung padaku?" jawabnya dengan nada menggoda dan terdengar menyebalkan di telingaku.
"Oke. Kau harus dengarkan aku baik-baik." ucapku dengan penuh penekanan padanya.
"Hhm, silahkan, kupastikan telingaku dalam kondisi on." ucapnya sedikit terkekeh.
"Kau menyebalkan!" protesku sembari menyubit lengannya.
"Hey, kenapa malah menyubitku dan mengatakan kalau aku menyebalkan? Tadi bilangnya mau bicara jujur." ucapnya penuh protes.
"Tidak jadi saja. Aku berubah pikiran." balasku membuang mukaku darinya.
"Rere!" panggilnya berusaha membuatku untuk memandang ke arahnya kembali.
"Hah? Apa?" ucapku ketus.
CHU
Kali ini bibir lembutnya mendarat lembut di keningku.
"I do love you for who you are. Just the way you are. I never let you go. So, let's stay together. Forever. Okay?"
"Okay, Aries!"
My Otome Husband (c) 2191.
Your Beautiful Magic, To Be Continued.
__ADS_1