
Di malam ketika bulan purnama bersinar terang. Aku dan Aries berjalan memasuki pintu gerbang sebuah Mansion mewah didominasi warna kelabu yang berpadu dengan warna gold. Di mataku Mansion ini tampak seperti sebuah kerajaaan.
Hhm, memang tadi itu sewaktu kami berada di Danau, Aries bilang mau mengajakku ke rumahnya.
'Jadi, serius nih... , ini rumahnya?' pikirku enggan menanyakannya langsung pada Aries.
"Selamat Datang Tuan Muda, Aries dan-
Nona." ucap seorang pria separuh baya berpakaian setelan black suit layaknya seorang Butler, ia berdiri tidak jauh dari depan pintu masuk. Kemudian ia sedikit membungkukkan badannya ketika Aku dan Aries berjalan semakin mendekat ke arahnya. Ia melirik ke arahku sebentar lalu membungkukan badannya memberi salam kepada kami.
'aku yakin paman Butler pasti bingung, siapa aku yang tiba-tiba datang bersama tuan muda rumah ini.'
'Tapi, aku sendiri masih sangat malu dan tidak tahu harus bagaimana?' Sehingga refleksku hanya tersenyum tipis kepadanya.
Aries menganggukkan kepalanya pelan ke arah Butler itu, "Oya Mr. Han, apa Ayah dan Ibu sudah istirahat di kamarnya?"
"Master dan Madam sudah istirahat di kamar mereka, Tuan Aries." jawab sang Butler sopan.
"Oh, mereka sudah tidur. Terimakasih, Mr.Han. Kalau begitu Aku dan Rere akan langsung ke kamarku." ucap Aries pada sang Butler.
'E-H APA? AKU DAN KAMU KE KAMARMU?' batinku kaget. Aku yang kaget dan bingung cuma bisa membelalakan kedua bola mataku dan menatap Aries untuk mencari penjelasan, apa maksud dari ucapannya barusan.
"Hhm, Rere, ada apa?" tanyanya polos padaku, atau mungkin dia sedang berpura-pura polos sekarang.
"A, aku- aku dan kamu ke kamarmu? aku tidak paham maksudmu?" tanyaku malu, kurasakan wajahku yang memanas menahan malu mengatakan pertanyaan itu padanya, ditambah di sini masih ada paman Butler.
"Oh, memangnya kamu mau tidur di kamar tamu yang luas dan asing sendirian? Apa kamu yakin nggak takut sendirian di sana?" tanyanya to the point padaku.
"Uhm, soal itu. Kalau kamarnya ada lampu dan nggak gelap aku berani. Jadi, kamu pikir aku penakut, ya?" ucapku yakin dan sedikit kesal. Walau pun sebenarnya, aku ragu akan ucapanku yang mengatakan berani berada di kamar yang luas dan asing seorang diri.
"Oke, kalau kamu memang berani... ,"
"Mr. Han, perintahkan maid untuk menyiapkan kamar tamu untuk Miss Rere- ," ucapan Aries terhenti kemudian ia kembali menatapku.
"Rere, tenang saja, Kamarnya nggak gelap. Tapi, belakangan ini, kalau malam begini sering hujan lebat disertai petir... . Jadi, listriknya suka mendadak padam. Tidak apa kan?" ucap Aries melanjutkan ucapan panjang lebarnya sembari menatapku lembut.
'Aduh, Aries ngeselin! Sengaja banget sih nakut-nakutin begini!'
"Kamu sengaja kan bilang begitu supaya aku takut?" ucapku dengan nada kesal padanya.
"Aku cuma menjelaskan keadaan sebenarnya di sini ke kamu, bukannya nakutin loh. Iya kan Mr. Han?" ucap Aries sembari melirik ke arah sang Butler yang masih setia berdiri tidak jauh dari kami.
__ADS_1
"Iya, Miss Rere. Tuan muda Aries tidak berbohong, sekarang ini masih musim Hujan disertai angin kencang dan juga petir." ucap sang Butler sembari tersenyum padaku.
"Oh begitu ya." gumamku bingung dan terdiam berpikir sejenak.
"H-hm, Aries ... ." ucapku ragu memanggil namanya.
"Ya?" ucapnya sembari terseyum.
"Soal tawaranmu sebelumnya, kamu nggak keberatan kalau malam ini aku menumpang tidur di kamarmu?" tanyaku gugup sembari menarik lengan bajunya.
"I don't mind. Tempat tidurku muat untuk empat orang kok." jawab Aries padaku sembari tersenyum, menyeringai.
"Okay, Thanks Aries." Jawabku polos.
HOLY CRAP
'HELL, STUPID, RERE! AKU PASTI SUDAH KEMAKAN PERANGKAP ARIES!'
Kulihat paman Butler tersenyum ketika mendengar obrolan kami.
'YA, TUHAAN AKU MALU BANGET!' gumamku sembari menutup wajahku dangan punggung telapak tangan kananku. Aku pun berjalan mengekori Aries masuk ke dalam Mansion mewahnya. Dari luar saja sudah kelihatan sangat luar biasa. Ternyata desain di dalamnya pun sungguh indah dan berkelas. Kemudian Kami pun berjalan menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Dan akhirnya kami sampai di depan sebuah pintu kamar berdinding warna Putih yang dipadukan dengan warna Gold.
"Rere," gumam Elias memanggil namaku.
"Maaf, kamarku kejauhan ya?" ucapnya meminta maaf, kemudian mengusap rambutku lembut.
"Eh, it's okay. Justru aku senang ada kesempatan buat lihat-lihat sekeliling rumahmu." jawabku tersenyum padanya.
"Ah, syukurlah kalau kamu senang berada di rumahku. Kalau gitu ayo masuk. Kamu pasti sudah lelah." ucapnya kemudian mengeluarkan magic wand dari sakunya dan mengucapkan mantra untuk membuka pintu tersebut. Kurang dari hitungan satu detik pintu itu telah terbuka.
"Ayo kita masuk, Re!" ajaknya sambil mendorongku lembut masuk ke kamarnya.
'Baru saja menginjakkan kaki di dalam kamarnya, Aku sudah bisa menghirup aroma khas Aries di sepanjang ruangan ini.'
"Rere, kalau kamu mau mandi, di sini ya mandinya." Ucap Aries sambil menunjuk ke sebuah pintu.
"Oh, oke. Hhm, apa pintu itu ada mantranya juga?" tanyaku polos.
"Haha, tenang saja pintu kamar mandiku nggak pakai mantra sihir. Kamu cukup membuka dan menutupnya secara manual, oke?" jelasnya sambil mengelus-elus puncak kepalaku.
"Okay." aku pun memutar knop pintu kamar mandi milik Aries. Dan berendam di dalam bath up yang sudah terisi air hangat.
__ADS_1
"Ah, segarnya." gumamku sembari menenggelamkan setengah kepalaku di dalam air hangat. Aku dapat merasakan seluruh rasa lelahku hilang seketika.
Bagiku, hari ini penuh dengan kejutan dan kebahagiaan. Selama ini hidupku terasa datar dan monoton tiap harinya. Namun, Hari ini sungguh misterius. Aku masih berpikir bahwa aku hanya bermimpi. Tapi, kuharap semua ini adalah kenyataan dan tidak akan pernah berakhir. 'Apa mungkin, ya?'
Setelah selesai mandi, aku kembali memakai pakaianku dan keluar dari kamar mandi.
"Sudah puas mandinya, Rere?" tanya Aries padaku. Ia berjalan menghampiriku sembari memegang magic wand-nya.
"Sudah, sekarang sana gantian kamu yang mandi." jawabku sembari mengeringkan rambutku yang masih setengah basah dengan handuk berwarna putih.
"Iya, habis ini aku mandi." ucapnya sambil mengarahkan magic wand-nya ke arahku. Kemudian mengucapkan mantra yang sama sekali tidak kumengerti. Kilauan cahaya yang merefleksikan sihirnya mengelilingiku. Dalam sekejap rambut sebahuku yang setengah basah menjadi kering dan lembut seperti sudah disisir rapi. Dan pakaian yang kukenakan berganti menjadi piyama tidur baru, berwarna biru muda dengan motif Pinguin.
"Ah, Aries?" tanyaku bingung.
"Kamu kan baru mandi, Re. Masa pakaiannya yang seharian sudah dipakai." jelasnya sambil tersenyum manis.
DEG
'Oh, Tuhan. Jantungku berdebar kencang. Dia manis sekali.'
"Aries, Thank you. You're so sweet!" ucapku membalas senyumnya.
"You're welcome, Milady."
"Oh'ya, kalau kamu sudah ngantuk tidur duluan okay. Aku mandi dulu yaa~." ucap Aries kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Saat ini, Aku tengah duduk di atas ranjang milik Aries sembari menatap langit-langit kamarnya. Ranjang berukuran Queen size ini terasa empuk dan nyaman. Aku masih dapat menghirup aroma khas Aries dari selimut dan bed cover-miliknya ini. Ya, Tuhan, bolehkah aku meminta padamu supaya selamanya hidupku seperti ini?
Kemudian, Aku menarik selimut berwarna Biru Gelap bermotif Orbit Bimasakti menutupi kaki hingga telingaku. 'Ya, ampun, Rere! Baru hari ini bersama Aries tapi rasanya seluruh indraku sudah menghapal aroma tubuhnya yang maskulin ini!
Ah, ini pertama kalinya, Aku merasa sangat nyaman dan hangat di tempat baru nan juga asing seperti ini ... , kedua kelopak mataku yang sudah terasa semakin berat akhirnya terpejam seutuhnya dan Aku pun terlelap.
....
Aries yang baru saja keluar dari kamar mandi melangkah pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara, mendekat ke arah ranjangnya. Ia duduk di sebelah kanan ranjang, di mana sosok perempuan yang sudah berada di alam mimpinya tertidur pulas. Jemari lelaki itu menurunkan selimut yang menutupi wajah perempuan yang terlelap di depannya. 'Cute' gumamnya asik menatap wajah perempuan itu. Senyum tipis terhias diwajah lelaki itu, tangannya sibuk mengelus-elus rambut berwarna dark choco milik perempuan itu dengan penuh rasa sayang. "Rere," gumam lelaki beriris Violet dengan suara husky-nya. Kemudian memberi kecupan di dahi perempuan itu.
"Good night, baby. Have a sweet dream."
'Rere, you don't have to worry about us. My Magic for you. My Magic for our Love. I'll make you the happiest woman in the world.'
Aries pun berbaring di sebelah perempuannya yang sudah tertidur dengan pulas. Dan ia memejamkan kedua matanya hingga terlelap, siap menjelajahi dunia mimpi bersama gadis harta karunnya.
__ADS_1
My Otome Husband (c) 2191.
My Magic For Our Love To Be Continued.