
Keesokkan pagi ....
Silaunya cahaya mentari memancar melewati celah jendela kamar Aries, mulai mengganggu tidurku yang nyaman.
'Hhm,' kututupi wajahku dengan telapak tangan, berniat menghalangi rasa silau yang berusaha membangunkanku dari mimpi indah.
'Wahai Mentari, ku mohon, aku masih ingin bermimpi bertemu dengan Aries. Aku belum ingin kembali menghadapi kenyataan hidup yang sepahit sayur pare, musuhku itu.' batinku sembari membuka kedua bola mataku. Akhirnya, rasa kantuk ini sudah hilang, ketika ku melihat sosok lelaki bersurai Keemasan yang tengah tertidur dengan wajahnya yang innocent bagaikan malaikat di Surga. Ha ha, walau aku sendiri belum pernah bertemu satu pun di antara mereka. Well, ketika Aries tertidur seperti ini, bulu matanya yang panjang terlihat sangat lentik. Dari jarak yang sedekat ini, aku mampu menghirup aroma shampo dari rambutnya yang berkilau. Aroma khas dirinya membuat tanganku bergerak setengah sadar ke arah wajahnya, menyentuh pipi mulusnya dan menyentuh surai keemasan miliknya yang terasa sangat halus di jemariku. 'Oh, Tuhan, dirinya begitu indah!"
'Sesungguhnya Aku tidak begitu mengerti, kenapa aku bisa tidur nyenyak sekali semalam? Padahal aku sangat khawatir jika pagi ini saat ku terbangun, aku kembali ke ranjang milikku yang dingin.' batinku sembari memandangi wajah tampannya yang masih terlelap.
"Aries, good morning." gumamku pelan padanya. Tanpa sadar aku mencium rambutnya.
"Hhm?" gumamnya dengan morning voice yang terdengar serak.
'Apa aku mengganggu tidurnya?'
'Apa dia bangun?' pikirku dalam hati.
"Good Morning, Re ...." gumamnya pelan dengan suara yang masih serak khas seorang saat baru saja bangun tidur.
"Morning, Aries. Maafkan aku, kalau aku membangunkanmu ...," ucapku lembut padanya..
"Tidak masalah bagiku. Kamu sudah nggak mengantuk?" tanyanya padaku sembari menutup mulutnya yang menguap dengan telapak tangannya.
"Aku sudah tidak mengantuk. Karena jiwaku sudah seratus persen terkumpul, He he." jawabku disertai tawa.
"Ranjang super empukmu ini sangat nyaman, jadinya kemarin malam tidurku nyenyak sekali." ucapku panjang lebar sembari tersenyum padanya.
"Aku senang mendengarnya. Jadi, bagaimana kalau seterusnya kamu tidur di ranjang super empuk milikku ini?" ucap Aries disertai seringai jahilnya.
"Sejujurnya aku tidak keberatan. Tapi, aku rasa aku harus pulang ke rumahku." ucapku menolak dengan raut wajah serius.
"Kamu sudah bosan bersamaku?" tanya Aries dengan nada memelas.
"Oh, please, mana mungkin begitu!" ucapku setengah berteriak. Aku tidak ingin Aries salah paham.
"Aries, kamu pasti mengerti, kan! Bukannya aku meragukan kekuatan magic-mu .... Tapi, aku khawatir dengan orangtua dan teman-temanku. Bagaimana dengan kehidupan mereka jika dirimu menghentikan waktu di dunia tempat tinggalku selama ini?" ucapku panjang lebar menjelaskan kekhawatiranku padanya.
"Well, baik lah. Aku akan mengantarmu pulang hari ini. Sekaligus bertemu dengan orangtuamu." ucapnya sembari menatapku lembut.
"Bertemu orangtuaku? Untuk apa?" tanyaku seratus persen tidak mengerti maksud ucapannya.
"Melamarmu." jawabnya singkat dan padat.
"WHUT?"
Cough.... Cough ....
Terlalu shock dengan jawaban singkat yang diutarakannya membuatku sontak terbatuk.
__ADS_1
"Kamu pasti bercanda!?" tanyaku tidak percaya dan mendadak salah tingkah.
"Kenapa kamu malah jadi panik begitu? Kamu tidak mau?" tanyanya dengan raut wajah memelas.
"Bu, bukan begitu, -" ucapku terhenti.
Tok Tok
Terdengar suara ketukan dari pintu ruang kamar Aries.
"Ya, tunggu sebentar." ucap Aries sembari bangun dari ranjangnya. Kemudian ia meraih Magic Wand miliknya. Ia menyimpan di dalam laci drawer yang berada di samping ranjang Queen Size miliknya, lalu ia mengucapkan mantra sihir untuk membuka pintu kamarnya itu.
"Tuan Muda Aries dan Nona Rere, Selamat pagi." sapa seorang wanita berpakaian maid yang berada tidak jauh dari pintu lalu ia membungkukkan badannya sekitar tiga puluh derajat.
"Master dan Madam menunggu Tuan dan Nona di ruang makan untuk sarapan bersama." ucap sang Maid menjelaskan. Kemudian ia menegakkan badannya kembali dan menatap ke arahku dan Aries.
"Ya, Kami akan segera ke bawah." jawab Aries singkat padanya.
"Baik, Tuan. Saya permisi." Sang Maid segera membungkukkan badannya lalu melangkah keluar dari pintu kamar dan menutup kembali pintu tersebut.
"Hhm, Aries?" gumamku memanggilnya.
"Ya?" ia menatapku dalam kemudian tersenyum manis.
"Orangtuamu sudah tahu kalau aku ada di sini?" tanyaku mendadak menjadi gugup.
"Ya, kurasa Mr. Han yang memberitahu mereka." jawabnya sembari menyentuh pipiku lembut.
"Atau .... apa kamu mau mandi denganku?" bisiknya dengan nada menggoda.
"Geez, ARIIEEES!!" teriakku sembari mendorongnya sekuat tenaga. Dengan wajah semerah Strawberry Aku melarikan diri darinya, masuk ke dalam kamar mandi yang ada di ruang kamarnya, lalu mengunci pintunya dari dalam.
"PPFFT!" Aku masih bisa mendengar Aries tertawa puas melihatku yang kabur secepat kilat.
.....
"Ayah, Ibu, Selamat Pagi. Maaf membuat kalian menunggu." ucap Aries kepada sosok wanita separuh baya, namun masih sangat cantik duduk dengan anggun di kursi meja makan keluarga yang berdesain elegan dan sosok pria separuh baya yang tampak begitu berwibawa, garis-garis ketampanan di masa muda masih terukir jelas di wajahnya.
Semenjak keluar dari ruang kamar Aries hingga sekarang kami berada di depan meja makan, berhadapan dengan kedua orangtuanya, ia masih menggenggam tanganku erat. Kurasakan telapak tanganku yang ia genggam mulai berkeringat. Ya, Tuhan ..., Aku sangat gugup.
"Oh'ya, Ayah, Ibu. Perkenalkan ini Rere, kekasihku yang sebelumnya kuceritakan pada kalian." Jelas Aries pada kedua orangtuanya.
"Tuan dan Nyonya Goldfoy, suatu kehormatan bagi saya dapat bertemu dengan kalian." ucapku sembari tersenyum sopan kepada kedua orangtua Aries dan sedikit membungkukkan badanku ke arah mereka.
Detak jantungku saat ini berdebar tiga kali lebih cepat dari biasanya. Bagaimana tidak? Hal ini merupakan salah satu sejarah dalam hidupku. Karena pertama kalinya aku memperkenalkan diri di hadapan orangtua calon suamiku (ha ha ha). Ada rasa khawatir, bila mereka tidak menyukaiku atau mungkin saja langsung mengusirku dari sini dan menyuruhku pergi meninggalkan Aries untuk selamanya. Hhm, well .... apapun kesan yang mereka berikan padaku nanti. Aku akan menerimanya dengan sepenuh hati. Mungkin sudah waktunya aku terbangun dari mimpi indahku ini, ya mungkin cukup sampai di sini saja khayalanku untuk selalu bersama dengan Aries.
"Wah, Kami senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan Rere langsung~ Selama ini Kami cuma mendengar cerita tentang Kamu dari Aries saja. Ternyata Pacar Aries sangat sopan dan manis loh. Iya kan, Ayah?" ucap Nyonya Goldfoy antusias sembari tersenyum ramah kepadaku.
'AH, THANK YOU, GOD!'
__ADS_1
Beban berat yang sedari tadi menekanku terasa langsung diangkat dan dipindahkan dari atas bahuku. Aku menoleh ke arah Aries dan sekarang tersenyum lebih rileks.
"Ayo, silahkan duduk. Nanti saja kita lanjut mengobrolnya. Sekarang Kita sarapan dulu." ajak Kepala Keluarga Goldfoy kepada kami berdua yang masih berdiri di depan mereka.
"Iya, terimakasih." balasku dengan nada sesopan mungkin. Aku melirik ke arah Aries yang tersenyum tipis, ia tampak senang. Kemudian Kami berempat pun sarapan bersama.
....
Setelah selesai sarapan kami berbincang mengenai banyak hal. Sampai beberapa pertanyaan terkait hubunganku dan Aries pun mulai bermunculan.
"Kalian kan sudah bertunangan jadi kapan kalian menikah?" tanya Nyonya Goldfoy sangat antusias kepada kami.
Cough Cough
'.... Kapan aku dan Aries sudah bertunangan?' pikirku bingung.
Cough Cough**
'.... Menikah?'
Aku dan Aries yang kaget mendengar pertanyaan itu tidak kuasa terbatuk bersamaan, di situasi seperti ini kami memang sangat kompak.
"Kami-" ucapku terhenti, bingung harus mengatakan apa.
"Ibu, Kami sedang memikirkan semua persiapannya. Kalau sudah pasti, akan kami bicarakan pada kalian." jelas Aries berusaha setenang mungkin menjawab pertanyaan Ibunya. Aku yang mendengar jawabannya, akhirnya hanya bisa tersenyum dan menggangguk pasrah.
"Dan karena aku harus meminta restu dari kedua orangtua Rere, aku ingin meminta izin kalian, aku akan mengantar Rere pulang ke Three D World." ucap Aries melanjutkan.
"Eh?" gumamku sembari menoleh ke arahnya.
"Oke, Kami izinkan kau pergi. Dan untuk project Goldfoy Company terkait Magic Technology 5.0. bisa sekalian kau lakukan riset di sana kan, Aries?" ucap Kepala Keluarga Goldfoy sembari mengesap teh dari cangkir yang dipegangnya. Sejujurnya aku tidak tahu sama sekali mengenai project apa yang dikatakan oleh ayah Aries, tapi kurasa aku tidak berhak menanyakan hal itu. Bagaimana pun aku hanya lah orang luar yang tidak ada kaitannya. Ya, sudah lah, aku hanya mendengarkan pembicaraan mereka saja.
"Riset Projek itu akan kulaksanakan di sana. Setelah selesai mendapatkan data yang valid pasti segera kulaporkan." jawab Aries dengan raut wajah serius.
"Kalau begitu semua kupercayakan padamu." lanjut Kepala Keluarga Goldfoy sembari mengangguk setuju.
"Oh'ya, Kalian berdua harus selalu hati-hati dan jaga kesehatan ya ..., Rere, Ibu titip Aries, okay. Dan Aries jaga Rere, okay!" nasihat Nyonya Goldfoy dengan begitu lembut kepada kami.
Sehabis selesai berbincang-bincang bersama Keluarga Goldfoy, Aries dan aku pun berpamitan untuk pulang ke Three D World, dimensi tempatku tinggal.
Di perjalanan menuju pintu gerbang Manor Keluarga Goldfoy, kami berdua melangkah beriringan. Hal sederhana yang mampu membuatku bahagia ketika berjalan berdua seperti ini telapak tangannya yang hangat selalu menggenggamku erat, segaris senyuman terukir jelas di wajahku..., aku pun membalas genggaman tangannya. Dalam hitungan detik kehangatan dari dirinya langsung menjalar ke seluruh aliran darahku. Hingga jantungku berdebar tidak karuan. Kali ini, bukan karena kekhawatiran dan rasa cemas. Tetapi, karena bunga-bunga di hatiku yang tengah bermekaran oleh sihirnya. His Magic really made My Love Blossom. Mungkin kah saat ini aku tengah berada di dalam lingkaran sihirnya?
....
"Kau serius mengizinkan Aries bersama dengan gadis itu?" tanya pria paruh baya bersurai keemasan yang masih terlihat tampan kepada sosok istrinya.
"Tentu saja. Apa kau lupa, sayang. Legenda Fairy King yang menikahi wanita dari Three D World, dimensi tempat manusia berada. Prince of Fairy, anak mereka yang memiliki energy of nature* yang sangat luar biasa, menjadikan keluarga mereka dikenal sebagai pemilik Magic of Energy and Nature yang tidak terbatas. Dan aku bisa merasakan Energy of Nature* yang kuat dari diri Rere." jelas wanita paruh baya bersurai ikal sebahu dengan senyum seringainya.
"Kau benar, sayang. Keluarga Goldfoy dapat mengulang Legenda dengan memanfaatkan kedekatan Aries dan perempuan itu."
__ADS_1
My Otome Husband (c) 2191.
His Magic Love Blossom To Be Continue.