
Suara alarm dari handphone yang terletak di nakas sebelah tempat tidur berbunyi, membangunkan Magika yang sedang tertidur. Tangannya bergerak mencari di mana handphone itu tergeletak untuk mematikan alarm yang mengganggu tidurnya. Karena tak dapat, akhirnya Magika bangun dengan malas dan segera mematikan alarm yang sedari tadi bunyi.
Magika menggerutu sendiri karena ia masih mengantuk, kedua matanya masih menutup terasa sangat lengket dan seolah-olah berat untuk membukanya. Magika duduk sejenak di atas kasur sampai rasa pusing di kepalanya mereda. Lalu ia beranjak keluar dan pergi ke kamar mandi.
Hari ini tanggal 01 Oktober 2012 Magika masuk kuliah pagi dan sebulan sudah ia menduduki bangku kuliah. Setelah selesai Magika segera bersiap untuk berangkat kuliah, sebelumnya ia sarapan dahulu karena Tante Karina sudah menyiapkannya di atas meja makan.
Selama kuliah, Magika tinggal bareng dengan tante dan om nya, karena mereka tidak memiliki anak, jadinya dengan senang hati Tante dan Om membolehkannya tinggal di sana.
Jarak rumah Magika dan orang tuanya, cukup jauh dengan kampus walaupun masih bisa ditempuh, rasanya akan membuat hidup Magika tua di jalan.
Kebetulan orang tua Magika juga tak mengizinkannya tinggal di rumah kos, karena khawatir anak gadisnya akan macam-macam terbawa pergaulan yang bebas. Hanya beberapa Kos saja yang pemiliknya memiliki aturan yang ketat.
“Gee, nanti pulang kuliah jam berapa?” Tanya Tante Karina.
“Biasa Tante sore, kalo ada tugas kelompok mungkin bisa malam pulangnya.” Jawab Magika sambil memakai sepatu.
“Kalo gitu kamu bawa makanan ya, Tante udah beli kemaren camilan kesukaan kamu.” Seru Tante Karina seraya memberikan sekotak camilan coklat chic-choc pada Magika.
“Waaah makasih Tante.” Kata Magika sambil tersenyum senang. “Magika pergi dulu Tante, Assallamualaikum.” Ia pamitan seraya berjalan keluar pintu.
“Walaikumsalam, hati-hati ya Gee.” Teriak Tante Karina dari dalam rumah.
Magika pergi menggunakan scooter vesva kuningnya, ia melesat keluar perumahan, ketika di jalan raya yang besar, Magika sudah di sambut dengan antrean panjang mobil dan motor. Suara klakson mewarnai pagi hari Magika yang akan berangkat ke kampus. Suasana jalanan hari senin, di Bandung Timur yang membuat sedikit gila pengendara jalanan, karena dikejar waktu mereka berebutan saling ingin mendahului.
“Tua di jalan aku, bisa-bisa nyampe kampus aku sudah punya cucu.” Gerutu Magika yang terjebak macet.
__ADS_1
Akhirnya Magika sampai juga di kampus, normalnya hanya butuh waktu sepuluh menit berangkat dari rumah Tante Karina, tapi karena macet, Magika menghabiskan waktu hingga tiga puluh menit untuk sampai ke kampus.
Sebelum masuk Gedung perkuliahan, Magika berkaca pada spion untuk merapikan rambutnya, dirasa sudah sangat telat ia berjalan dengan cepat. Di dalam Gedung perkuliahan, banyak mahasiswa yang berlalu lalang untuk masuk kelas mata kuliah yang akan diambil, dan masih banyak lagi yang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Terlihat Daphnie teman satu jurusan Magika tapi tidak sekelas, menghampiri dan menyapa Magika.
"Buru-buru amat Gee, mau kemana sih? dosennya juga lagi keluar." Sapa Daphnie sambil memberitahu Magika.
"Oh ya? Kok kamu bisa tahu?" Tanya Magika.
"Kamu mau masuk mata kuliah PIH kan? Tadi dosennya bilang setelah memberi materi di kelas aku, mau langsung ngajar kelas b juga, terus aku lihat Dosennya keluar gedung tadi." Jelas Daphnie.
"Oh gitu baguslah aku gak jadi telat, materinya gimana tadi? Udah masuk bab enam?"
"Masih stuck sih di bab lima, oh ya main dong ke kosan aku, kamu sama Vanilla."
Ke kampus pake jacket denim dan kaos oblong biasa, kok bisa sampai tak ditegur Dosen? Batin Magika. Tapi karena penampilannya yang seperti itu, yang berbeda dengan Mahasiswa lainnya, mampu membuat Magika tertarik, terlebih lagi saat melihat wajahnya yang tampan.
"Ok aku tunggu loh, aku ke toilet dulu ya mumpung kelas yang mau aku masuki masih dipakai jurusan lain."
"Ok bye..."
Daphnie meninggalkannya, Magika kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas dengan perlahan, sambil menatap lelaki yang membuatnya terpesona. Lelaki itu bersandar di dinding sambil fokus memainkan handphone di depan kelas yang mungkin akan dimasukinya.
Magika berjalan di hadapannya sambil mencuri pandang menatapnya, seseorang menyenggol bahu Magika cukup keras dan membuat gelang charm bracelet miliknya terjatuh tepat di kaki lelaki itu.
__ADS_1
"Aww." Rintih Magika seraya mengusap bahunya. Ia menatap sinis orang yang sudah menabraknya tanpa meminta maaf dan pergi begitu saja.
Suara jatuhnya charm bracelet milik Magika membuat perhatian lelaki itu teralihkan, lelaki itu mengambilnya sebelum Magika sempat mengambilnya dan melihat Magika tengah berdiri di hadapannya.
Lelaki itu mendekatinya, sontak kedua mata mereka saling bertatapan, dua bola mata berwarna coklat yang dimiliki lelaki itu, membuatnya semakin terlihat sangat tampan, Magika semakin terpesona olehnya.
"Ini gelangnya." Ucap lelaki itu menyadarkan Magika yang sempat terhipnotis oleh ketampanannya.
"Oh iya, thank you." Sahut Magika seraya mengambil gelang charm braceletnya dari tangan lelaki itu, lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas.
Tuh cowok semester berapa dan jurusan apa ya? He is so adorable, Batin Magika.
Di dalam kelas, Magika menebarkan senyum karena baru saja bertatapan dengan lelaki yang membuatnya tertarik, ia duduk paling depan, bangkunya sudah dicarter oleh teman-temannya untuk dirinya.
“Kenapa Gee kok kelihatan berseri-seri gitu?” Tanya Vanilla dari bangku sebelah kiri yang Magika duduki.
“Lagi semangat aja Nill.” Jawab Magika seadanya.
“Semangat banget kayaknya, sampe dari jauh kelihatan senyum-senyum sendiri.” Zea menimpali, mengingat Magika selalu menunjukkan wajah letih ketika masuk kelas karena bergelut dengan kemacetan sebelumnya. “Tinggal Alin yang belum datang.” Sambung Zea yang tampak sedang membalas pesan dari ponselnya.
Tak lama, Alin datang dengan wajah yang cemberut, sepertinya ia juga sama terjebak macet di jalan. Tapi seketika wajahnya kembali ceria, entah apa yang membuatnya sepeti itu.
Magika memakaikan kembali charm bracelet pada tangannya, namun ada yang hilang salah satu dari bandulnya yang berbentuk topi seleksi di Harry Potter. Charm bracelet milik Magika bandulnya bertema Harry Potter, padahal charm bracelet yang ia pakai hari ini salah satu gelang kesayangannya, karena sulit di dapatkan, Magika sampai harus jauh-jauh ke Korea untuk membelinya.
“Ish jadi ompong gini kelihatannya.” Gerutu Magika.
__ADS_1
Magika kembali keluar kelas untuk mencarinya, siapa tahu masih ada tergeletak di lantai dimana tadi gelangnya terjatuh, namun ketika sedang mencarinya Dosen yang mengajar di kelasnya sudah datang dan melewatinya, terpaksa Magika kembali menuju kelas dengan tangan kosong, ia berjalan menyusul Dosennya sebelum beliau menutup pintu kelas.