My Secret Lover

My Secret Lover
Ghibah


__ADS_3

Magika dan Vanilla sudah berada di parkiran motor, terdengar suara mesin motor saling beradu, seluruh Mahasiswa yang kuliah sampai sore pulang beriringan. Magika menancapkan gas scooter vesvanya dan melesat dengan Vanilla yang ia bonceng di jok belakang.


“Berhenti dulu Gee di depan, si Daphnie belum bales.” Kata Vanilla sambil memegang handphone Magika.


Magika menghentikan laju motornya. “Kita ke minimarket aja dulu Nill, beliin dia makanan, jangan sampe gak bawa apa-apa mampir ke kosan dia.”


“Iya, tapi kamu aja ya yang beliin, aku lagi seret.”


“Gampanglah masalah itu mah.”


Vanilla scroll-scroll handphone Magika sambil menunggu balasan dari Daphnie. “Eh dia bales Gee, katanya dia udah ada di kosannya. Yuk gas lagi Gee.”


Magika melajukan lagi scooter vesva nya, meluncur menuju minimarket sebelum ke kos Daphnie. Terlihat dari jauh, Daphnie sudah menunggu kedatangan mereka, ia sudah membukakan pintu gerbang untuk parkir scooter vesva Magika, Daphnie menyambut kedatangan Magika dan


Vanilla dengan senyuman, ia selalu baik pada mereka, walaupun sudah beda kelas dan jarang bertemu, tapi ia selalu terbuka pada kedua temannya itu. Meskipun Magika dan Vanilla datang hanya karena ada butuhnya saja.


Dasar manusia.


“Kalian!! udah lama ya kita gak kumpul.” Seru Daphnie.


“Iya nih, beda kelas sih jadi jarang ketemu.” Tutur Vanilla seraya turun dari scooter vesva Magika, lalu mereka berdua cipika-cipiki layaknya pertemanan ala-ala wanita.


“Nih ada ice cream buat kamu.” Seru Magika seraya memberikan bungkusan yang ada ditangannya.


“Waaa repot-repot amat Gee, makasih ya. Yuk masuk, aku udah siapin banyak makanan untuk kalian.” Ajak Dapnie.


“Jadi ngerepotin banget nih.” Seru Vanilla seraya berjalan masuk mengikut Daphnie.


“Aku mah seneng kalo direpotin kalian, tenang aja anggap kamar sendiri ya.” Ucapnya sambil membukakan pintu kamarnya.


Daphnie memasukan ice cream yang diberikan Magika ke dalam kulkas minibarnya. Tema kamar Daphnie girly banget, di dominasi warna pink dan putih selayaknya kamar perempuan pada umumnya. Magika duduk bersandar pada boneka beruang besar milik Daphnie.


Vanilla duduk membelakangi Magika, ia membuka laptop Daphnie dan bersiap untuk mengirimkan tugasnya melalui e-mail. Terlihat beberapa camilan dan cangkir yang telah tersedia, Daphnie sudah menyiapkan semuanya untuk Magika dan Vanilla, ia benar-benar niat menjamu kedatangan kedua temannya yang aji mumpung itu. Mengingat anak kos biasanya irit dan hemat, tidak berlaku pada Daphnie karena ingin menyenangkan kedua temannya.

__ADS_1


“Daph, comfy banget kamarnya.” Puji Magika yang sedang menikmati sandarannya di boneka beruang besar milik Daphnie.


“Nginep dong Gee di sini, waktu itu bilang kalian bakalan sering ke sini, tapi gak ada terus.” Protes Daphnie.


Vanilla yang sedang sibuk dengan tugasnya menyahut “Aku susah izinnya sama si bude, maunya juga sering nginep di sini.”


“Yaudah deh, kita temenin sampe malem aja ya.” Kata Magika.


Daphnie tersenyum senang, Magika mengambil camilan yang disediakan oleh Daphnie seraya memainkan Handphone nya. Seketika ia teringat lelaki yang mengalihkan perhatiannya tadi pagi, mengingat lelaki itu anak kelas A yang berarti teman sekelas Daphnie, Magika coba tanyakan pada Daphnie siapa nama lelaki yang berhasil membuatnya penasaran.


“Daph, cowok di kelas kamu ada yang ganteng…” Magika menjeda ucapannya, ia berpikir bagaimana cara menggambarkan sosok lelaki tersebut. “Yang tadi pake Jaket denim” Sambung Magika yang tidak jelas menggambarkan seseorang yang ditanyakannya.


Daphnie menahan tawanya “Siapa Gee? Di kelas aku cowoknya pada ganteng, tapi biasanya yang paling sering ditanyain tuh Azzrafiq.” Ucap Daphnie seraya mengambil Handphone nya seolah ia ingin menunjukkan sesuatu.


“Yang ini bukan cowok yang kamu maksud?” Tanya Daphnie seraya menunjukkan foto lelaki yang mengalihkan dunia Magika dari Facebook.


Vanilla menilik foto yang ditunjukkan Daphnie pada Magika, Vanilla menarik Handphone Daphnie ke arahnya.


“Nah iya, yang itu Daph, si Alin sampe kayak kerasukan kuda lumping tadi penasaran sama cowok itu. Emang ganteng sih anaknya.” Celetuk Vanilla setelah memperhatikan fotonya.


“Si Alin yang suka.” Sahut Vanilla yang mewakili jawaban Magika.


"Yakin nih Gee kamu gak suka? Aku kalo belum punya pacar pasti bakalan suka juga sih sama Azzrafiq." Kata Daphnie.


"Jujur sih doi emang ganteng sih, tapi bukan selera aku, mungkin juga bukan selera Magika, tapi selera si Alin." Tukas Vanilla.


“Alin tukang caper?” Tanya Daphnie dengan raut wajah yang kesal.


“Caper ada tukangnya ya?” Tanya Magika sambil tertawa kecil.


“Ya ampun, kasian Azzrafiq disukain sama cewek jenis begitu.” Cibir Daphnie.


Ternyata yang suka sama Azzrafiq bukan hanya Magika dan Alin saja, tapi banyak wanita yang lain juga. Jadi Azzrafiq idola di kalangan kaum hawa. Pantas saja radar Magika melihat lelaki tampan tidak pernah meleset. Ternyata emang idaman para wanita.

__ADS_1


Mendengar hal itu, kadar ketertarikan Magika pada Azzrafiq jadi berkurang. Rasanya malas saja harus bersaing dengan banyak wanita lainnya. Sama seperti menyukai artis tampan kesukaannya. Mustahil untuk di dekati.


“Kenapa sih perasaan semua orang pada kayak gak suka sama dia?” Tanya Vanilla heran.


“Banyak yang sensi juga ya sama Alin.” Kata Magika.


Ucapan Magika seperti membuka obrolan untuk ghibah, Daphnie seperti ada kesempatan untuk membicarakan Alin.


“Di kelas A gak ada satupun cewek yang suka sama dia.” Ujar Daphnie seraya memelototkan matanya. “Bayangin aja tuh anak emang capernya udah kelewatan. Inget kan waktu ospek Universitas? dia yang paling so tahu segalanya, sampe semua orang di komentarin.”


“Kalo aku, selama gak merugikan dan gak menyebalkan sama aku, ya gak masalah.” Ucap Vanilla.


“Iya tapi kan ngeselin gitu. Males aja kalo ada dia.” Pekik Daphnie seraya mengunyah makanannya. “Bilangin ke si Alin, Azzrafiq udah punya cewek, jangan ngarep.” Sambung Daphnie.


Magika dan Vanilla saling bertatapan ketika melihat Daphnie yang sewot membicarakan Alin.


“Duh udah parah berarti si Alin kalo Daphnie udah nyerocos gitu.” Celetuk Vanilla.


“Ya begitulah dia.” Ucap Magika datar dan tak ingin membahas soal Alin lagi.


“Kamu bilang Azzrafiq udah punya pacar itu beneran? Apa kamu kebawa kesal aja?” Tanya Vanilla.


Daphnie nyengir seraya menggaruk-garukkan kepalanya. “Ya pokoknya bilangin gitu aja, biar gak caper ke kelas aku. Kayak anak kelas C siapa itu namanya lupa, ngejar-ngejar si Azzrafiq kayak orang kesurupan.”


“Kira-kira kesurupan apaan tuh Daph?” Tanya Magika sambil terkekeh.


“Ah gak tahu deh, aneh pokoknya. Lagian kita ini cewek, masa ngejar-ngejar cowok sih kayak gak punya harga diri.” Gerutu Daphnie yang resah dengan orang-orang yang menyukai Azzrafiq.


“Kan emansipasi wanita.” Ucap Magika.


“Udah deh gak usah bahas mereka, keenakan banget kayak artis aja diomongin.” Celetuk Vanilla.


“Iya bener juga, oh iya aku punya film terbaru di laptop, kita nonton yuk.” Ajak Daphnie.

__ADS_1


“Yuk, nonton lebih bermanfaat.” Kata Magika.


__ADS_2