
Azzrafiq membuka matanya, dan segera mengecek pnselnya yang berada di bawah bantalnya, berharap ada pesan dari Bianca, rupanya tak ada balasan lagi dari kekasihnya yang sudah ia pacari selama hampir dua tahun.
Lagi-lagi Bianca mengabaikannya, perasaan tidak karuan menemaninya pagi ini, dengan malas Azzrafiq turun dari tempat tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi.
Azzrafiq berkaca dan memikirkan Bianca yang berubah, kekasihnya sudah tidak perhatian lagi seperti dulu. Ia membasuh wajahnya dengan facial wash yang diberikan oleh Bianca. Azzrafiq selalu menuruti perkataan Bianca mengenai perawatan wajahnya.
Selesai mandi, ia berpakaian seadanya, ia memakai kaus oblong yang dibalut dengan jaket jeans, peraturan kampus mengharuskan untuk memakai pakaian rapi, jika ingin menggunakan kaos pun harus yang berkerah, tapi Azzrafiq tak memedulikan aturan yang satu itu.
Ia keluar dari kosnya, dan berjalan menuju kampus, beberapa orang yang mengenalnya menyapanya sepanjang jalan. Begitu juga para wanita yang mengagumi ketampanannya tak terlewat menyapanya.
“Azzrafiq.” Sapa seorang wanita ketika Azzrafiq berjalan menuju Gedung perkuliahan.
Azzrafiq mendongakkan kepalanya barangkali saja ia mengenali orang yang menyapanya. Ternyata ia tak kenal. Wanita itu mendekatinya dan memberikan sebuah papper bag padanya.
Azzrafiq bingung, apakah ia harus menerimanya? Rasanya seperti ditodong, bahkan ia saja lupa siapa wanita yang ada di hadapannya ini, tak mungkin juga dapat menolaknya.
“Itu makanan buat sarapan kamu dan bikinan aku sendiri loh, dimakan ya.” Ucap wanita itu dengan nada sedikit menekan.
Dengan sungkan dan dicampur bingung Azzrafiq menerimanya. “Kamu jualan?” Tanya Azzrafiq polos.
Wanita itu terkekeh. “Bukan, ini untuk kamu.”
“Oh… makasih, tapi lain kali gak usah repot-repot begini, saya duluan ya.” Ucap Azzrafiq seraya akan meninggalkan wanita itu.
“Oh ya Azzrafiq…” Tahan wanita itu.
Terpaksa Azzrafiq menolehkan kepalanya lagi pada wanita itu. “Ya kenapa?”
“Boleh minta nomor handphone nya?”
Azzrafiq menaikkan sebelah alisnya, ia menggaruk rambutnya sambil mencari alasan \untuk tidak memberikannya. “Saya gak hafal nomor saya, handphone nya ada di tas, Saya lagi buru-buru, maaf ya.” Ucapnya seraya melanjutkan langkahnya menuju kelas.
Keadaan kelas masih belum terlalu ramai, hanya ada beberapa teman-temannya yang baru datang, Azzrafiq duduk paling depan, ia membuka papper bag yang diberikan oleh wanita tadi, dan mengeluarkan wadah yang ada di dalamnya, isinya onigiri terlihat sangat menarik, kebetulan juga ia belum sarapan.
“Tumben bawa bekal.” Seru Dean yang baru datang.
__ADS_1
Azzrafiq menawarkannya pada Dean sambil melahap onigiri. “Lumayan sih rasanya.”
“Jangan bilang ada yang ngasih lagi, enak banget jadi lo.” Seru Dean seraya mengambil onigiri yang diberikan Azzrafiq.
“Biasalah, namanya juga rezeki anak sholeh.”
“Hati-hati ada peletnya.” Celetuk Dean sambil tertawa.
Baru terpikirkan olehnya, sudah setengah dimakan, Azzrafiq tak melanjutkan makannya lagi. Tiba-tiba rasa laparnya hilang ketika mendengar celetukkan Dean.
“Buat lo aja semuanya sama tempat-tempatnya juga tuh.” Kata Azzrafiq.
“Hahaha gitu doang juga langsung terpengaruh, gue cuma bercanda Fiq.”
“Males, selera makan gue jadi hilang.” Ucap Azzrafiq sinis.
“Jangan sampe kambuh lagi tuh sakit maag.” Dean memperingati.
Tetap saja tak mempengaruhi Azzrafiq yang sudah kadung tak nafsu makan, ia terlalu was-was, bisa saja makanan itu memang ada apa-apanya. Walaupun terkesan konyol, Azzrafiq bertekad mulai saat ini, tak akan sembarangan menerima pemberian dari orang yang belum ia kenal.
***
Mata kuliah pertama selesai, teman-teman Azzrafiq satu-persatu berhamburan keluar untuk masuk mata kuliah selanjutnya. Dengan malas Azzrafiq bangkit dari kursinya. Ia menghampiri teman-temannya yang sedang menunggu kelas yang akan dimasuki, untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya.
“Ini kita yang terlalu cepat keluar atau kelas di dalem yang terlambat keluar sih?” Gerutu Acha.
“Sabar bu, marah-marah muluk, pasti lagi dapet ya.” Ucap Daphnie.
Azzrafiq menyandarkan tubuhnya pada dinding, mendengar keluhan temannya membuatnya risi, sambil menunggu ia mengeluarkan ponselnya, ia tak berharap ada balasan dari kekasihnya, ia hanya mengecek blackberry messenger saja, untuk melihat recent updates.
Ketika sedang asyik melihat recent updates, ia tersentak dengan suara benda yang terjatuh, ia melihat gelang di dekat sepatunya, lalu berjongkok untuk mengambilnya, ia melihat ada wanita yang berdiri di hadapannya, mungkin itu pemilik gelang yang jatuh tadi, ia mendekati wanita itu, ketika wanita itu menoleh padanya, matanya seketika terperangkap oleh kedua mata wanita itu. Azzrafiq langsung jatuh hati, wanita itu terlihat sangat mempesona bagi dirinya.
Azzrafiq segera mengembalikan gelang yang terjatuh tadi pada pemiliknya, ia khawatir wanita itu malah risi diperhatikan olehnya.
Wanita itu lanjut pergi dan meninggalkan jejak parfum aroma bedak bayi, wangi yang sangat menarik dan unik bagi Azzrafiq.
__ADS_1
“Masa sih ada Mahasiswa yang pake parfum bayi?” Gumam Azzrafiq sambil memandang wanita tadi.
Azzrafiq menginjak sesuatu yang keras di bawah sepatunya, ia memundurkan kakinya dan mendapati bagian gelang wanita tadi yang tertinggal, lantas ia mengambilnya untuk ia kembalikan pada pemiliknya, memberikan kesempatan pada Azzrafiq untuk bertemu lagi dengan wanita yang berhasil meluluhkan hatinya.
"Bentuknya kayak topi seleksi di Harry Potter." Ucap Azzrafiq sambil tersenyum.
***
Siangnya, kelas Azzrafiq masuk ke kelas C dimana Mahasiswa Angkatan 2012 telah berkumpul, tentu saja ada perasaan was-was dalam hatinya karena itu kelas Nisrina, wanita yang selalu mengganggunya.
Ketika masuk kelas Azzrafiq bertemu lagi dengan wanita tadi pagi yang gelangnya terjatuh, ternyata wanita itu teman satu jurusannya, kabar yang bagus untuknya, ia langsung merogoh saku jaketnya, mengambil benda kecil berbentuk topi penyihir bagian dari gelang yang dimiliki wanita itu.
Azzrafiq berjalan menghampiri wanita itu yang duduk di kursi barisan paling depan, wanita itu tersenyum ketika Azzrafiq mengembalikan bagian dari gelangnya. Tampaknya wanita itu sangat senang menerima bagian dari gelangnya yang sempat hilang telah ditemukan, dan tak memedulikan kehadiran Azzrafiq, karena perhatiannya hanya tertuju pada benda kecil itu, sepertinya benda itu sesuatu yang berharga untuknya, Azzrafiq meninggalkannya dan mencari tempat duduk yang masih kosong.
Melihat ada kursi yang masih kosong di belakang, ia langsung tertuju ke sana, dan duduk di kursi itu, ia memperhatikan wanita itu dari tempatnya. Azzrafiq benar-benar terpesona olehnya.
Ketika Azzrafiq sedang asyik memperhatikan wanita itu, tiba-tiba saja wanita itu menoleh ke arahnya dan menatapnya dingin dengan wajah yang datar, Azzrafiq yang sudah terlanjur menatapnya sedari tadi tak sempat berkutik, ketika tertangkap basah sedang memperhatikannya. Lalu wanita itu membalikkan lagi kepalanya, Azzrafiq tersenyum ketika melihat gerak-geriknya.
Perfect!! siapa sih dia? Baru tahu punya teman satu jurusan yang semenarik itu. Batin Azzrafiq.
Selama di dalam kelas Azzrafiq hanya memandangi wanita itu, walau hanya dari belakang saja, sosok wanita itu mampu membuat Azzrafiq tak berhenti memperhatikan gelagatnya, dan tak fokus dengan apa yang dibicarakan kakak tingkat di depan.
Wanita itu mengibaskan rambut panjangnya yang bergelombang dengan tangannya dan memilinkan rambutnya dengan jari telunjuknya, membuat Azzrafiq gemas dibuatnya.
Hingga akhirnya semua Mahasiswa bubar dari kelas ini, wanita itu benar-benar menghipnotisnya, dan tak sadar bahwa informasi yang diberikan kakak tingkat telah usai.
"Udah selesai lagi?" Tanya Azzrafiq pada Dean.
"Gue perhatiin dari tadi lo bengong muluk, lagi mikirin apaan sih?" Dean balik bertanya.
"Banyak yang gue pikirin."
"Yaudah yuk cabut." Ajak Dean seraya bangkit dari kursinya.
Dengan terpaksa Azzrafiq harus meninggalkan kelas ini, sebenarnya ia masih ingin berada di sini, dekat wanita itu dan memperhatikannya, tapi karena situasi yang tak mendukung ia harus keluar. Azzrafiq bangkit dari kursinya dan memakaikan tasnya lagi di punggung, sembari masih memperhatikan wanita itu, depan pintu kelas Azzrafiq menghentikan langkahnya sejenak dan menolehkan kepalanya untuk melihat sang wanita lagi.
__ADS_1
Lalu ia melanjutkan langkahnya menuju kelas selanjutnya, seketika hatinya terasa kembali hampa, mengingat Bianca yang tak kunjung mengabarinya. Azzrafiq berusaha fokus pada mata kuliah terakhirnya.