My Secret Lover

My Secret Lover
Can't Get These Her Face Out of My Mind


__ADS_3

Dosen di kelas Azzrafiq menutup laptopnya, pertanda jam kuliah telah berakhir, Azzrafiq melihat langit yang tertutupi awan kelabu, pertanda akan hujan sore ini, ia segera memasukkan buku tulisnya ke dalam tas ranselnya. Sesekali mengecek ponselnya, menunggu pesan dari Bianca yang tak kunjung datang.


Ia berdecak kesal lalu memasukkan handphone ke dalam tas, dan beranjak dari tempat duduknya. Lagi-lagi Nisrina sudah menunggunya di depan kelas, melihat Nisrina yang seperti itu membuat mood Azzrafiq semakin buruk. Ia tak ingin menyapa siapa pun yang berlagak so kenal padanya.


Azzrafiq keluar kelas dengan wajah datar, Nisrina siap menyambutnya dengan  senyuman manisnya, tapi kali ini Azzrafiq sama sekali tak menanggapinya, ia melewatinya begitu saja.


Ketika dipanggil pun, ia tak menyahut. Teman-teman wanita sekelasnya seolah merasa puas dengan sikap Azzrafiq yang mengabaikan Nisrina.


“Gak tahu malu banget sumpah, masa hampir tiap kelar mata kuliah dia ada depan kelas, demi nyambut Azzrafiq, eh sekarang gak dilihat sama sekali. Puas banget aku lihatnya.” Seru Acha.


“Bikin risi sih, lagian jadi cewek kok gak ada harga dirinya.” Sahut Daphnie seraya mengecek ponselnya.


“Padahal dari kemaren-kemaren aja si Azzrafiq cuekin, jadinya kita gak akan segemas sekarang.” Kata Acha.


“Eh guys, aku cabut duluan ya, teman-teman aku mau pada mampir ke kosan bye.” Daphnie pamitan pada teman-temannya dan terburu-buru keluar dari Gedung


Azzrafiq berjalan sendirian menuju kosnya, dari banyaknya Mahasiswa yang berjalan untuk pulang, tak ada satu pun yang ia kenali, lalu dari belakang seseorang yang tak asing lagi suaranya, memanggil namanya. Ia berhenti dan menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.


“Sendirian aja lo.” Sapa Yudhistira.


“Terus harus se RT gitu?” Tanya Azzrafiq malas, lalu melanjutkan lagi langkahnya.


“Kenapa lo? bad mood banget kelihatannya.” Tanya Yudhistira yang berjalan disisinya.


“Gue lagi risi sama orang-orang yang so kenal sama gue.”


“Di gangguin lagi lo sama kuntilanak?”


Azzrafiq terkekeh. ”Serem gue diikutin terus.”


Yudhistira menepuk Pundak Azzraffiq. “Kayaknya lo harus di ruqiyah, supaya gak digangguin terus.”


“Asal lo yang ruqiyahin gue.”


“Parah lo. Gue juga sama baru diintilin wewe gombel.” Celetuk Yudhistira.


“Cewek jaman sekarang agresif amat ya, sampe bener-bener bikin merinding.” Seru Azzrafiq.


“Lebih parah dari jaman SMA.”

__ADS_1


Di tengah jalan, Azzrafiq bertemu lagi dengan wanita yang sempat membuatnya terpana, wanita itu sedang duduk di scooter vesva bersama teman yang diboncengnya. Namun wanita itu tak melihatnya dan tak sadar ada seseorang yang sedang memperhatikannya, dengan sejuta kekaguman yang dirasakannya. Jantungnya berdegup dengan kencang ketika melihat tambatan hatinya yang baru.


Azzrafiq tersenyum dan mulai penasaran siapa nama wanita yang berhasil mengambil hatinya? tapi ia belum berani menyapanya, belum waktunya. Tak lama wanita itu pun pergi melesat bersama scooter vesva nya. Azrrafiq terus memperhatikan wanita itu hingga tak terlihat lagi di matanya.


Mengingat Bianca yang kini mencampakkannya, semenjak menginjak kuliah dan berbeda kampus, Bianca tak memperhatikannya lagi, ia selalu berdalih karena sibuk kuliah dan banyak tugas, sehingga selalu tak sempat untuk mengabari Azzrafiq.


Tak dapat dipungkiri hatinya mulai beralih pada wanita lain, mungkin memang sudah seharusnya hubungannya dengan Bianca diakhiri, dan mulai membuka lembaran baru.


“Lo percaya cinta pandangan pertama gak?” Tanya Azzrafiq.


Yudhistira menatap sinis Azzrafiq. ”Apaan sih lo, malah bahas gituan.” Cibirnya. Seketika tatapannya kembali biasa, ketika melihat wajah Azzrafiq berseri-seri. Yudhistira sadar wajah Azzrafiq tak semurung tadi, kini ada senyuman di sudut bibirnya.


“Serius nanya gue.”


Yudhistira terdiam sejenak. "Hmm… percaya kalo gue udah ngalamin, tapi selama ini gue belum pernah, jadinya masih mitos.”


“Gue lagi ngalamin sekarang.” Ucap Azzrafiq curcol.


“Udah gue duga, raut wajah lo seketika berubah 180 derajat.” Tebakan Yudhistira sangat benar. “Terus Bianca?”


“Kayaknya gue bakalan putusin dia aja, so sibuk semenjak kuliah.”


“Sialan lo, norak sampe anjing-anjingan gitu?”


“Hahaha, emang kayak anjing sih kadang mantan tuh, tapi gue coba tetap berhubungan baik sama mereka.”


“Itu karena lo gak bisa move on, makannya lo masih berhubungan baik, ditambah lo gak mau keluar dari zona nyaman.” Tutur Azzrafiq.


“Gue pernah baca, menjaga tali silaturahmi itu bisa memperpanjang umur dan menambah rezeki. Ya gue teladani aja.” Seru Yudhistira.


“Menambah jatah mantan juga gak?”


“Damn you !!”


“Hahaha...”


“Eh ujan, gue gak bawa payung lagi.” Gerutu Yudhistira seraya melindungi kepalanya dengan tangan dari percikan air hujan.


Azzrafiq dan Yudhistira berlari untuk berteduh, menunggu hujan yang sangat deras berhenti. Suara rintik hujan yang jatuh di atas tanah yang berbalut aspal, menggema terdengar sangat merdu walaupun sebenarnya kedatangannya, membuat sebagian orang kesal.

__ADS_1


Azzrafiq mengecek ponselnya, ada balasan pesan dari Bianca, tapi ia tak menghiraukannya. Bukan Bianca lagi yang kini ia tunggu, Ia teringat lagi pada wanita itu, perasaan menggebu dalam hatinya hadir kembali, setelah beberapa lama ia tak merasakannya.


Terakhir kali ia rasakan ketika bertemu dengan Bianca, dua tahun lalu, semenjak menjalin hubungan dengan Bianca rasanya flat, tapi entah kenapa ia tetap mempertahankan hubungannya itu, padahal banyak wanita yang menyukainya, tapi Azzrafiq tipe orang yang tak suka bila ada wanita yang selalu mengejarnya.


Ia tipe lelaki yang suka mengejar bukan dikejar, ia bahkan berani menilai, seorang wanita itu rendahan apabila terlalu agresif mengejar-ngejar cowok. Selama menjalani hubungan yang flat dengan Bianca, tak pernah terpikirkan olehnya untuk mencari wanita lain, karena menurut Azzrafiq tak ada wanita yang bisa menarik hatinya, sampai akhirnya ia bertemu dengan wanita yang ia jumpai tadi pagi.


Ketika membayangkan wajah wanita itu, Azzrafiq selalu tersenyum, bahkan ia tak sadar Yudhistira sedang memperhatikannya, ada yang tak beres dengan Azzrafiq.


“Siapa sih cewek yang bisa buat lo beralih dari Bianca?” Tanya Yudhistira dengan nada mengejek, mengingat temannya itu selalu menolak ketika ada wanita lain yang mendekatinya, padahal kebanyakan yang mendekatinya bukan wanita sembarangan.


”Gue gak tahu siapa nama itu cewek, dia temen sejurusan."


“Berarti tuh cewek panas banget ya, bisa mencairkan hati lo yang beku gara-gara Bianca. Dulu satu sekolah tahunya lo itu benar-benar memuja Bianca. Sampai si Alisha yang model aja, yang cantiknya gak ketulungan lo tolak.”


“Cantik aja itu gak cukup, pemahaman gue dulu setia sama satu cewek itu hal yang sangat dibanggakan, gue membangun image itu ke orang-orang kalo gue itu tipe cowok setia, dan berhasil.”


“Terus lo dapet apaan setia sama Bianca? Image doang? Hahaha bener-bener naif lo. Padahal hubungan lo berdua juga gak asik-asik amat yang gue lihat.” Sahut Yudhistira dengan nada mengejek.


“Kadang dia tuh ngerti sih apa yang gue butuhkan, makannya kita masih sama-sama, dan kebetulan emang gak ada cewek yang berhasil menarik hati gue sampai berakhir tadi siang.” Jelas Azzrafiq.


“Cinta emang datangnya tiba-tiba ya.”


“Kali ini gue bener-bener mau putus dari Bianca.”


“Semoga berhasil, dan cewek yang lo suka, bisa lo dapetin.”


“Gue gak tahu bisa dapetin apa enggak, gue ragu, dia beda sama cewek lainnya, dia cuek sama gue.”


“Jadi itu daya tariknya, cewek yang cuek sama lo. Gak usah pesimis gitu, manfaatin aja wajah lo, palingan juga tuh cewek gak akan lama di dapetin.” Kata Yudhistira menyepelekan wanita yang disukai Azzrafiq.


Azzrafiq menatap sinis Yudhistira, ia tak suka jika wanita yang disukainya diremehkan. “Lo bilang kayak gitu karena lo belum lihat dia.” Sanggahnya.


“Emang kayak gimana sih tuh cewek rupanya?”


“Well, She is pretty, selain itu tatapan matanya yang dingin pas lihat gue, yang entah kenapa gue langsung bertekuk lutut dibuatnya.” Ucap Azzrafiq menceritakannya dengan penuh kekaguman.


“Cantik itu relatif ya, siapa tahu menurut lo cantik tapi menurut gue engga.” Kata Yudhistira seraya memandang Azzrafiq ngeri dan penuh dengan kekhawatiran, karena Azzrafiq tak berhenti tersenyum. “Lo bener-bener udah gak waras Fiq.” Sambungnya.


“Terserah lo mau bilang apa. I can’t get her face out of my mind.”

__ADS_1


Yudhistira menggelengkan kepalanya, Azzrafiq memang terlihat sangat aneh dari biasanya, ia tak berhenti tersenyum. Yudhistira jadi penasaran seperti apa sosok yang dipuja oleh Azzrafiq itu? Tak lama berteduh, hujan akhirnya mereda, langit yang awalnya gelap kelabu  berubah menjadi oranye. Azzrafiq dan Yudhistira melanjutkan langkahnya untuk pulang.


__ADS_2