
Aku Inara Malika Najwa, anak dari Ammah Ana dan Babeh Ahsan. Babeh ini seorang guru Matematika di SMP. Sedangkan Ammah seorang Ibu rumah tangga yang berbisnis warung makan didepan rumah.
Aku ini tiga bersaudara, punya satu Kakak laki-laki dan satu Adek laki-laki, jadi aku ini anak tengah dari kedua lelaki yang menyebalkan ini. Kakakku bernama Athalah Malik Ridwan, aku memanggilnya dengan embel-embel sebutan Abang, Bang Malik. Umurnya selisih empat tahun diatasku. Sekarang dia sedang duduk di bangku kuliah semester akhir. Dia adalah sumber uangku setelah Ammah dan Babeh, ya meskipun harus disuruh-suruh dulu, it’s ok, akan kujalani asal tidak berlebihan. Aku akan memanfaanfaatkannya sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Sedangkan yang satu lagi, Adekku ini bernama Alif Faturrahman, si pembuat onar dirumah. Dia ini rese, tengil, ndableg, dan seperti sifat anak kecil pada umumnya yaitu tukang ngadu, udah tukang ngadu cengeng lagi, huhu... dasar bocil. Alif ini selisih sembilan tahun dibawahku. Jadi, dia sekarang umur delapan tahun dan sudah kelas dua SD. Inilah keluarga kecilku.
Oh iya, aku ini ABC lovers, yaitu Art lovers, Badminton lovers, and Cat lovers. Aku suka seni, hanya suka tapi tidak jago. Aku suka badminton tapi aku tidak bisa mainnya, hehe. Aku suka kucing, selain karena salah satu makhluk Tuhan yang paling lucu, juga karena hanya kucing temanku saat aku gabut, hanya kucing yang menemani aku meskipun aku nangus-nangis sampe jam 3 pagi, memang dia tidak bisa berbicara layaknya manusia, tapi dia sudah ada disampingku dan mendengarkanku itu sudah cukup bagiku. Aku juga memiliki kucing. Kucingku ini namanya adalah Opet, bagiku dia sudah ku anggap keluargaku, sahabatku, bahkan sudah ku anggap anakku sendiri. Inilah kisahku, Nara story.
...🍁🍁🍁...
Suatu malam...
Aku sedang menonton TV dengan kucingku si Opet yang berada di pangkuanku dan ku elus-elus dengan penuh kasih sayang. Opet ini dulu aku temukan di selokan yang sudah kering. Dulu...
Flassback 1 tahun lalu
Saat aku sedang berjalan dengan Adekku dipinggir jalan untuk pulang ke rumah, karena menjemput Adekku yang main ke rumah temannya tak kenal waktu, sampe sudah sore begini belum pulang. Jadi aku disuruh Ammah untuk menjemput si bocil ini.
Kami melewati sebuah gerobak es krim yang suka dijual keliling.
“Mba beli es krim dong Mba.” pinta Alif sambil merengek memegang tanganku membuat kita berdua jadi pusat perhatian orang sekitar. Haduhh... memalukan sekali.
“Haduhh... jangan keras-keras dong Dek ngomongnya. Mba yang malu soalnya.” ucapku dengan berbisik ke Alif.
“Tapi beliin ya?” ucapnya juga ikut berbisik.
“Iya.. iya..” ucapku yang akhirnya mengiyakan permintaannya. Aku pun membelikkannya, berjalan kebelakang sedikit untuk menghampiri pemilik gerobak es krim tersebut.
“Bang beli es krimnya.” ucapku sambil memilih es krim yang akan ku beli. Setelah aku memilih yang ku yakin pasti si bocil suka. Saat aku kembali ke tempat semula, si bocil kok sudah tidak ada. Kemanakah dia? Tiba-tiba ...
“Dek?” ucapku sambil mencari dimana Alif berada.
“Mba tolong bantuin Alif Mba, Alif dibawah sini Mbaa...” teriak Alif memberitahuku.
“Lah... kamu ngapain dibawah sana cil?” ucapku yang melihat ke bawah, ternyata Alif ada selokan. Oh iya, aku memang suka memanggil Alif denggan sebutan cil alias bocil.
“Ini Mba” ucapnya menunjukkan harta karun yang ia temukan tapi warnanya bukan emas, tapi malah warna abu gosong.
Meoww... meoww...
“Bawa ya Mba? Kasian tahu.” ucapnya lagi dengan muka yang melas.
“Kamu naik dulu sini!” perintahku. Alif pun naik dengan membawa harta karun yang baru ditemukannya.
__ADS_1
“Ayo pulang!” sambungku.
“Bawa Opet ya Mba? Kasian Mba.” ucap Alif sambil menunjukkan kucing yang sepertinya baru diberi nama Opet olehnya.
Setelah ku lihat-lihat kasian juga kucing ini. “Ya udah iya, ayo cepet pulang! Ammah dah nyariin mulu.” ucapku.
“Yaidah ayo atuh Mba!” ucap Alif dan mengambil es krim yang baru ku beli dan memberi kucing yang baru dia temukan kepadaku. Dasar bocil kurang asem. Tambahlah beban hidupku satu lagi ini.
Meoww...
Flasback off
Saat aku sedang asik-asiknya menonton, tiba-tiba...
“Naraa...” teriak Bang Malik dari kamarnya.
Aku yang mendengarnya pun menghampiri ke kamarnya “Apasih Bang teriak-teriak, mana malem-malem lagi.” ucapku dengan membawa Opet.
“Si Opet nih buang panggilan alam dikasur Abang.” ucap Abang sambil mendumel-dumel.
“Ya lagian Abang, pintu kamar gak pernah ditutup kan jadinya Opet bisa masuk tadi. Udah tau Abang ini kan banyak dosanya ke Opet. Jadi jangan salahin Opet kalo Opetnya balas dendam. Ya gak Pet?” ucapku kepada Opet.
Meoww...
“Tuh kan... kan... Abang hina lagi. Berarti bener inimah si Opet balas dendam sama Abang.” ucapku sambil mengelus-elus Opet yang masih tetap setia di gendonganku.
“Tau ah.Bersihin! Abang gak mau tahu pokoknya.” ucap Bang Malik yang langsung pergi dari kamar.
Brakkk...
Bunyi pintu yang ditutup dengan keras. Sepertinya Bang Malik marah.
“Huffttt… Opet kamu menambah bebanku saja.” ucapku. Aku pun membersihkan kasur Bang Malik, dimulai dari mengambil seprei kemudian menyuci sepreinya yang sudah ternoda oleh hasil pencernaan Opet dengan aroma yang ehhh… sangat wangi, tapi boong. Bau banget maksudnya.
...🍁🍁🍁...
Sang Raja Siang muncul diufuk Timur. Jam sudah menunjuk pukul 07.00 WIB. Itu tandanya, tandanya aku sudah telattttt. Ammah sudah teriak-teriak memanggil namaku.
“Udah jam tujuh Naraaa...kamu mau berangkat sekolah jam berapaa hah?” tanya Ammah sambil berteriak.
“Iya Ammah...ini bentar lagi, Nara lagi pake baju.” ucapku menjawab pertanyaan Ammah sambil mengancingkan baju seragam putih abu-abuku.
__ADS_1
Saat aku keluar kamar, aku bertemu dengan Bang Malik yang masih menggunakan pakaian semalam yaitu kaos oblong putih dan celana training hitam sedang duduk menikmati sarapan paginya dimeja makan, sepertinya dia masuk jam siang kuliahnya. Sedangkan Babeh Ahsan? Hemmm... sepertinya sudah berangkat sekolah untuk mengajar, Babehku ini memang sangat disiplin dan sangat semangat 45 kalau soal mengajar. Kalo kata teman-temanku guru Matematika itu guru yang paling rajin, masuk kelas selalu on time, dan selalu masuk meskipun cuaca hujan, badai, dan petir menggelegar. Aku pun percaya, karena itulah yang dilakukan Babah, hehe... Sedangkan si bocil Alif? Sepertinya sedang mandi karena aku mendengar bunyi guyuran air dikamar mandi dekat dapur. Dia ini selalu mandi paling akhir karena jam masuk sekolahnya itu jam 07.30 WIB.
“Udah jam berapa nih Naraa? Nih lihot, lihot!” ucap Bang Malik sambil menunjuk-nunjuk jam tangannya yang baru dibeli semalam, padahal dia belum mandi. Sok-sokan gaya pake jam tangan. Dasar bocah narsis.
“Anak sekolah jam segini baru mau berangkat.” sambung Bang Malik dengan senyum smirik meledekku.
“Ini juga gara-gara Abang tadi.” balasku menyalahkannya.
“Ih... mana ada ya gara-gara Abang, kamu sendiri aja yang mandinya lama, malah nyalahin Abang segala.” balas Bang Malik menimpali ucapanku.
“ Ini tuh gara-gara Abang, tadi tuh Nara udah ngantri ya ke kamar mandinya. Tapi Abang tadi yang nyalip Nara dulu. Mana lama banget lagi.” balasku. Maklum ngantri soalnya kamar mandi cuma ada satu dirumah ini.
“Ya gimana lagi, orang udah panggilan alam. Lagian kamu juga harusnya pas Abang udah selesai, mandinya langsung sat-set dong.” ucap Bang Malik tetap membela diri.
“Alah...Abang mah ngeles mulu.” ucapku dengan kesal.
“Aa-........” ucap Abang yang terpotong omongan Alif.
“Ammahh... handuk Alif ketinggalan, Alif lupa.” teriak Alif dari kamar mandi. Dasar bocil, masih kecil udah pelupa.
“Hadeuhh... kebiasaan deh Alif... Alif...” ucap Ammah yang pusing akan tingkah laku Alif.
“Udah sana cepetan berangkat Nara. Kamu makin telat yang ada. Tuh lihat jamnya!” ucap Amma sambil menunjuk jam dinding yang ada di ruang makan.
Aku melihat kearah jam dinding. Jam sudah menunjuk pukul 07.05 WIB. Waktu lima menitku terbuang sia-sia karena perdebatanku dengan Bang Malik.
“Ya udah Ammah, Nara berangkat dulu. Assalamu'alaikum.” salamku sambil mencium tangan Ammah.
“Wa'alaikumussalam.” jawab Amma.
Aku langsung bergegas kearah motorku yang sudah ada dihalaman luar rumah.
“Woi...Nara kamu gak salim sama Abang hah? Naraaa...” teriak Abang memanggil-manggil namaku. Aku pura-pura tak mendengarnya, masih kesal aku sama Abangku itu. Aku langsung menyalakan mesin motor dan langsung tancap gas untuk segera sampai ketempatku menimba ilmu.
Inilah pagi yang diisi perdebatan kecil di keluargaku. Percayalah terkadang perdebatan kecil seperti ini dapat membuat sebuah hubungan semakin erat, semakin dekat dan mungkin suatu saat nanti hal-hal kecil yang seperti inilah yang akan dirindukan pada saatnya.
...🍁🍁🍁...
__ADS_1