Nara Story

Nara Story
Bagian 4×0+ Sin 90°+1 Telat


__ADS_3

             Setelah menyimpan motorku di parkiran luar sekolah. Aku langsung bergegas menuju gerbang sekolah. Gerbang biasanya sudah ditutup pukul 07.10 WIB. Ku lihat jam dipergelangan tanganku sambil berjalan, jam sudah menunjuk pukul 07.20 WIB. Aku sudah telat 10 menit, dan saat sudah sampai didepan gerbang yang diatasnya bertuliskan SMA HARAPAN PELITA dan ya... lagi dan lagi gerbang sudah tertutup. Ku lihat ke belakang, ternyata masih banyak yang terlambat. Hingga akhirnya pintu gerbang dibuka oleh Pak Satpam. Di samping Pak Satpam ada Guru Piket yang sedang bertugas yaitu Bu Sri. Kami yang terlambat disuruh berbaris untuk didata nama kami masing-masing dan kami dihukum untuk membersihkan WC, bagi yang putri membersihkan WC Putri dan bagi yang putra membersihkan WC Putra. Hufftt… mau bagaimana mana lagi, sudah risikonya begini kalo telat. Setelah  selesai mengerjakan hal tersebut, kami semua  disuruh untuk  langsung ke kelas kami masing-masing.


             “Besok jangan telat lagi ya Néng?” ucap Bu Sri saat aku telah menyelesaikan hukumanku.


             “Siap Bu, akan saya usahakan.” balasku kepada Bu Sri.


             “Ya udah sana langsung ke kelas kamu, jangan mampir-mampir ke yang lain!” ucap Bu Sri menasehatiku.


             “Iya Bu, siap.” balasku atas ucapannya. Untung guru piket hari ini gak killer-killer banget.  Karena biasanya bagi siswa yang telat itu akan mendapatkan hukuman dari guru piket berupa dijemur dengan hormat kepada Sang Saka Merah Putih dari jam 8 sampai jam 9, jam yang dimana matahari sedang panas-panasnya. Lalu setelah itu baru membersihkan WC, baru setelah itu boleh masuk ke kelas masing-masing. Hufft... beruntungnya aku hari ini.


              Aku pun berjalan menuju kelasku. Kelasku tidak terlalu jauh juga jika dari gerbang sekolah, sekitar 20 langkah pasti sudah terlihat suasana luar kelasku. Aku ini sudah kelas 12, lebih tepatnya kelas 12 IPA C. Tinggal beberapa bulan lagi aku sudah bukan lagi warga sekolah SMA HARAPAN PELITA  lagi, tapi sudah menjadi warga masyarakat yang seutuhnya.


              Kulihat lagi, sepertinya kelasku sedang jamkos karena aku melihat ada beberapa teman kelasku  masih berkeliaran diluar kelas. Saat aku sudah didepan kelas, tiba-tiba...


             “Woii... Nara dateng, Nara dateng...” ucap Lala yang sedang berdiri didepan pintu kelas.


             “Thola'al badru 'alainaa, mintsaniyyatil wadaa'i…” shalawatnya menyambut kedatanganku. Astaga... ada-ada aja tingkah ini makhluk, kan jadinya seluruh penghuni kelas hampir menatapku. Dasar Lala bocah prik.


             “Ma Syaa Allah Nara. Rekor baru ini. Kamu sekarang ada kemajuan ya? Kemarin kamu masuk jam 07.20 sekarang jam 08.00. Ma Syaa Allah, kamu belajar dengan baik ya dari kesalahan.” ucap Lala tersenyum palsu mengapresiasi atas kemajuanku.


             “Besok-besok jangan diulangi lagi ya Nak.” sambungnya dengan memegang bahuku dan jangan lupa dengan senyum palsunya yang sangat menjengkelkan.


             “Hmmmm...” balasku atas ucapannya dengan. Aku pun langsung menuju ketempat dudukku.


             “Busett... gasik banget ya Mba berangkatnya?” ucap Una sambil cengengesan karena masih terngiang-ngiang ulah Lala terhadapku tadi.


             “Kamu pasti kena hukuman  lagi ya Ra?” tanya Jasmine dengan dugaannya yang sudah jelas bahwa hal itulah yang aku alami.


             “Ya, seperti biasa.” sahutku sambil menaruh tas biruku di kursi dan duduk. Lala pun ikut duduk disampingku. Ya, kami memang sebangku. Kami duduk paling depan dan paling pojok dekat pintu. Sedangkan Una duduk dibelakangku bersama Jasmine. Meraka bertiga itu sahabatku dari awal kita sekolah disini.


             Oh ya, akan ku perkenalkan mereka bertiga lebih detail lagi.  Mulai dari makhluk hidup yang duduk bersamaku itu namanya Nabila Aula Madani, biasa dipanggil Lala. Dia temanku dari masih SMP sampe sekarang ini. Alhamdulillah masih berjalan awet. Dia ini palang usil, tengil, kocak dan paling random diantara kami berlima, wkwkwk. Sedangkan makhluk yang duduk dibelakangku itu Una. Nama lengkapnya Siti Maemunah. Dia ini pecinta badminton, sebelas-dua belas denganku. Bahkan kami pernah janjian kalau suatu hari nanti kita sudah besar dan sudah punya uang sendiri, kita bakal pergi ke Istora bareng-bareng untuk menonton pertandingan badminton secara langsung. Kemudian yang duduk dengan Una yaitu Jasmine. Nama lengkapnya Jasmine Criserly Amanda. Nama yang paling keren diantara kami berlima. Jasmine punya panggilan sayang dari kami berlima yaitu Mimin.

__ADS_1


              “Lagian lo ya Raa, kok lo bisa-bisanya telat mulu, gak kapok-kapok apa dihukum?” tanya Una dengan kesal.


             “Bukannya gak kapok, tapi setiap gue mau berangkat sekolah  sok ada aja kendalanya.” ucapku.


             “Hari ini  gue telat tuh gara-gara Bang Malik yang usil sama gue. Balas dendam karena insiden semalem.” Sambungku.


             “Balas dendam kenapa emangnya?” tanya Una.


             “Semalem Opet berak di kasurnya.” jawabku.


             “Peffftttttt…” suara mereka bertiga menahan tawa.


             Aku yang mendengar hal itu kesal.


             “Ketawa aja, ketawa aja.” ucapku dengan kesal.


“*Bwuahaaaaahaaaaaaaahaaa*…..” tawa mereka membahana.


             “Pantesan Abang lo marah Raa. Kalo kasur gue yang diberakin sama si Opet itu, bakal gue gorok tuh si Opet.” ucap Una dengan gerakan tangannya seperti menggorok lehernya, kejam.


             “Ihhh… kalian jahat. Kalo aku, bakal aku kasih Royal Canin. Mungkin kucingnya itu berak dikasur tuh karena sakit perut makan makanan biasa, terus dia sebel sama tuannya makanya dia buat sebel balik tuannya dengan berak dikasurnya. Jadi kita tuh harus kasih makanan yang bagus dan bergizi buat kucing kita ya Nara, Lala, Una!” ucap Mimin si anak tunggal kaya raya yang kalo mau apa-apa tinggal beli.


             “Gilaa…Royal Canin tuh harganya setara dengan uang jajan gue dua minggu.” batinku.


             “Woi… woi… ada guru... ada guru.” ucap Alan, teman kelasku yang tadi saat ku berangkat masih diluar kelas.


             Seisi kelas mendadak sunyi. Beberapa detik kemudian…


             “Mana?” tanya Kaivan karena tidak ada tanda-tanda akan kehadiran guru.


             “Di ruang guru...” ucap Alan berhenti.

__ADS_1


       “Huuuuuuuuuuhhh…” sorak kami sekelas serentak.


             “Dasar kau siAlan!” ucap Kaivan yang gedeg terhadap Alan.


             Sekelas pun riuh dengan sumpah serapah yang dikeluarkan untuk si Alan ini. Ada juga yang mengacak-acak rambutnya, ada yang menarik-narik dasinya. Namun tiba- tiba…


             “Pagi anak-anak?” ucap Bu Eka, guru Matematika.


             “Kenapa pada rame ini téh?” sambungnya dengan menggunakan aksen Sundanya.


             Lah, ternyata bener apa yang dibilang oleh si Alan itu. Kami seisi kelas menarik sumpah serapah kami terhadapnya.


             “Tuh kan apa yang gue bilang itu bener.” ucap Alan.


             “Apaan dah, lo tadi cuma bilang ada guru di ruang guru doang Lan.” ucap Kaivan.


             “Gue tadi tuh belum selesai ngomong, tapi lu… lu pada udah mengamuk massa gue dulu.” ucap Alan menunjuk para pelaku yang telah mendzoliminya.


             “Gue itu tadi mau bilang ada guru di ruang guru… yang lagi jalan mau masuk ke kelas. Gitu kawan-kawan sekalian.” sambungnya lagi.


             “Jeda lo lama banget siAlan.” ucap Lala yang ikut emosi terhadap Alan.


             “Sudah anak-anak. Hari ini kita akan ulangan mengenai Limit Trigonometri!” ucap Bu Eka yang tiba-tiba mengadakan ulangan dadakan.


             “Yaahhhh… kok mendadak Bu? ” ucap makhluk seisi kelas dengan serempak.


             “Yess” ucapku.


             Saat ku mamalingkan wajah untuk melihat ekspresi wajah teman-temanku yang ternyata mereka semua menatapku juga.


             “Lo bukan temen kita” ucap mereka semua.

__ADS_1


              Lah, memangnya apa yang salah?


...🍁🍁🍁...


__ADS_2