
Setelah menyelesaikan makalah, kami semua masuk ke kamar Una. Disana kami menonton TV yang sedang menyiarkan pertandingan final badminton antara Indonesia vs China di Thomas Cup yang sedang diselenggarakan di Denmark.
Biar ku jelaskan sedikit mengenai Thomas Cup. Jadi Thomas Cup ini adalah pertandingan besar sebuah grop dari berbagai negara. Thomas Cup ini hanya dikhususkan untuk lelaki, jika khusus untuk wanita namanya Uber Cup. Pertandingan ini terdiri dari 3 mach, maksimal 5 mach. Pertandingan ini diikuti oleh 2 sektor, yaitu sektor tunggal putra/ Mens Singgle dan ganda putra/ Mens Double. Pola permainan sektornya yaitu tunggal putra, ganda putra, tunggal putra, ganda putra dan tunggal putra. Jadi, diawali tunggal putra dan diakhiri tunggal putra. Thomas Cup ini diadakan setiap 2 tahun sekali.
Pada tahun ini Indonesia telah masuk Final Thomas Cup adalah sebuah pencapaian yang besar. Ada harapan untuk menang setelah 19 tahun tak menjuarai Thomas Cup lagi. Namun, untuk membawa piala Thomas Cup pulang ke Indonesia tentunya tidak mudah. Untuk tembus ke final saja, squad Indonesia harus melawan grop neraka yakni Negeri tetangga yakni Malaysia bahkan Sang Tuan Rumah yaitu Denmark, dan kali ini difinal, squad Indonesia kali ini harus melawan sang juara bertahan dari tahun 2018 yaitu China.
"Ayoooo... Tingg!" ucapku berteriak seolah menyemangati pemain.
Di mach pertama ini Indonesia mengeluarkan Anthony Sinisuka Ginting sebagai Mens singgle 1. Mach dari Ginting lah sebenarnya yang ku tunggu-tunggu. Aku ini penggemar Ginting sudah lama, sekitar dari tahun 2019 saat pertandingan BWF Word Tour Final di Guangzho, China. Pada saat itu Ginting memiliki julukan yakni Giant Killer karena memiliki kemampuan pukulan smash yang cepat, kuat dan akurat. Di mach kali ini Ginting melawan Lu Guan zho dari China.
“Ayo... Ginting!” ucapku dan Una.
“Ayo satu lagi... satu lagi...” ucap Jasmine dan Lala.
“Yaaaa... yesss...” ucap kami bersama serempak karena Sang lawan melakukan kesalahan sendiri dengan melakukan pukulan lob sehingga shuttlecock keluar lapangan, maka Ginting berhasil mengalahkan lawan dengan skor 18-21, 21-14, 21-16. Dengan kemenangan Ginting ini telah menyumbangkan 1 poin, maka 1 vs 0 untuk Indonesia. Kemudian mach kedua diwakilkan oleh Mens double 2 yaitu Fajar Alfian / Muhammad Rian Ardianto atau biasa disebut FajRi..
__ADS_1
“Gila sih ini... pasangan ganda putra ini lagi gacor-gacornya. Bakal ngereog sih ini mah. Optimis, kayanya menang sih ini.” Ucapku yang sudah optimis sambil memakan camilan. Terbukti sudah, pasangan ganda putra ini mengalahkan pasangan China yaitu He Ji Ting/ Zhou Hao Dong dengan straigh game alias dua set langsung, dengan skor 21-12, 21-19 Dengan kemenangan FajRi ini telah menyumbangkan 1 poin lagi untuk Indonesia, maka 2 vs 0 untuk Indonesia.
“Ini masih lama apa Raa? Huaaa.... ngantuk aku.” ucap Jasmin sambil menguap. Maklum saja jam sudah menunjuk ke angka 11 malam pasti sudah malam sekali bagi Jasmine yang selalu tidur awal.
"Ini kalo di mach ketiga Indonesia menang lagi, udah... Indonesia yang menang.” jawabku.
“Kalo lo udah ngantuk, tidur aja Min!” ucapku yang masih setia mononton pertandingan ini dengan Una dan Lala, meskipun Lala sudah merem melek menontonnya.
“Heem Min.” saut Una. Jasmine yang mendengar hanya mengucek-ngucek matanya dan mulutnya yang terus menguap.
“Ya ampun Mas Jojo ganteng banget sih!” ucap Una heboh sambil menggoyangkan tanganku.
“Ya emang ganteng, tapi gue tetep masih terginting-ginting.” sautku.
Beberapa saat kemudian di set ke-2 ini Jojo agak banyak melakukan kesalahan, sehingga di set ke-2 ini lawan yang memenangkan game ini.
__ADS_1
Inilah set terakhir yang akan menentukan apakah akan memberi peluang China untuk menang dengan tetap berlanjut permainan ini atau Indonesia menang 3-0 terhadap China. Di set ke-3 ini Jojo sudah kembali ke performa awal sehingga ia memimpin di interval. Setelah interval, kedua kubu pemain menampilkan permainan yang sama-sama bagus sehingga poin susul-menyusul. Saat poin sudah mencapai 21-14, 18-21, 20-14. Jojo memimpin, 1 poin lagi dibutuhkan Jojo untuk memenangkan pertandingan ini. Service lawan layangkan yang dibalas dengan pukulan oleh Jojo, hingga terjadi saling balas-membalas pukulan hingga lawan melakukan kesalahan sendiri dengan shuttlecock yang menyangkut di net dan jatuh di area sendiri, membuat Jojo memenangkan mach ini dan mengakhiri laga ini dengan 3 vs 0 untuk Indonesia.
“Yeessssssssss... Win... win...” teriakku dan Una bersorak dengan mengangkat tangan yang dikepalkan.
“Hah... Apa? Apa?” ucap Lala yang kaget atas kehebohan yang terjadi karena menonton sambil merem, wkwkwk.
“Akhirnya setelah sekian lama, Pak Thomas pulang juga ke Indo.” ucapku.
“Indonesia menang yah?” ucap Jasmine. Aku dan Una pun menggagukkan kepala dan menunjuk ke layar TV untuk memberitahu Lala.
“Wouuhhhuuy...” teriak Lala heboh padahal cuma nonton endingnya saja.
Ku lihat kelayar TV lagi. Disitu semua tim squad Indonesia datang menghampiri Jojo, saling berpelukan, saling merangkul satu sama lain dengan tangis haru, dan tidak lupa bendera merah putih yang selalu mereka kibarkan dengan tangan mereka. Aku yang melihatnya merasa bangga sebagai bangsa Indonesia. Bangga telah menemani perjalanan squad ini dari awal, dan menjadi saksi bahwa Indonesia membawa kembali piala Thomas dari Sang juara bertahan dengan perjuangan yang tidaklah mudah untuk melewatinya. Riwayat manis yang terulang kembali setelah 19 tahun penantian.
🍁🍁🍁
__ADS_1