
Brakk!
Pintu ruang yang ditutup Arfalgo dengan sedikit tekanan, yang untung saja hanya mengagetkan Jelo yang lagi sendirian didalam ruangan OSIS. Jelo hanya bisa geleng-geleng kepala dengan membatin Nih gue ada salah ape ye kok tuh Anak main banting pintu !!. Jelo dengan ringan tangan mengelus dadanya. Entahlah buat apa
Arfalgo sedikit mempercepat lari kecilnya, entah apa yang membuatnya merasa firasatnya berkata ada yang ga beras dengan gadis tersebut.
Saat sedang menelusuri koridor sekolah yang mengarah ke arah toilet dia sejenak tersentak. "Ngapain gue samperin tuh bad girl?!!" keselnya yang bingung dengan kakinya spontan keluar dari ruang OSIS tadi.
Bagaimanapun dia masih memiliki banyak tugas yang harus segera ia tuntaskan dan menyerahkan nya kepada Bu Mega selaku guru BK yang meminta bantuannya.
Arfalgo adalah tipe orang yang jika bisa ia kerjakan sendiri, maka dia tidak akan meminta bantuan anak buahnya. Bukan tipe ketua yang oper tugas dan lepas tangan.
Saat hendak mengurungkan niatnya itu, tetiba ia mendengar suara dari bilik toilet perempuan yang terus meminta tolong, dengan suara yang sudah serak.
Arfalgo bergegas mendekati pintu toilet tersebut dan menoleh kanan kiri namun tidak mendapati seorang pun di area sekitar toilet.
"Yang diluar tolong bukakan pintu, gue ke kunci !!", Kesal, marah, capek, dan takut situ semua bercampur aduk dipikiran Zenaya. Dia tidak habis fikir dengan nasib yang menimpanya tiada henti di hari yang baru ini.
Bahkan ia sudah tidak mempedulikan roknya yang basah terkena lantai yang belum kering itu. Kakinya yang tidak kuat lagi menopang tubuh nya yang tidak begitu berat namun sedari tadi tidak henti berkerja.
Dengan posisi terduduk dilantai tanpa lesehan dengan kedua kaki yang ditekuk didepan dan kedua tangan yang dipakai untuk tumpuan kepalanya bersandar.
Dia sudah lelah dan ingin segera kembali ke kelas setidaknya untuk mengistirahatkan badannya yang rasanya ingin remuk dan melelahkan.
Pranggg!
Hanya sekali dorongan kuat yang digunakan tubuh kekar seorang Ketua Osis yang most wonted see SMA Cendrawasih itu.
Dia sudah mendobrak pintu yang tadinya terkunci disebabkan oleh usilnya sala seorang atau mungkin sekelompok yang tidak menyukai Zenaya pikir Arfalgo.
" Gue nyuruh Lo nge-beresin, bukan enak-enak gitu!!"
ucapnya Arfalgo tanpa beban. Zenaya yang tadinya mau berterimakasih mengurungkan niatnya Karna sikap Arfalgo yang baginya tak habis fikir sangat menyebalkan.
__ADS_1
Tidak tau kah dia bahwa Zenaya sedari tadi sudah membersihkan semua hingga kinclong dan berakhir terkunci dikamar mandi mana itu sendiri?! .
Namun bukan Zenaya jika tidak berani dengan lawan bicara. "Buta mata Lo?!, Gue keringatan Lo bilang enak-enak gila emang!!" balas nya yang sudah terlanjur kesal dan siap untuk mencakar muka sang ketos menyebabkan sok cool itu, Jika saja Arfalgo bukan laki-laki mungkin Zenaya tidak akan segan untuk menjambak rambut nya hingga tersungkur.
Arfalgo yang memang dasarnya cuek dan tidak berhati itu langsung pergi meninggalkan Zenaya dengan segala ocehan bahkan umpatan yang masih terdengar jelas di Indra pendengarannya itu.
"Wahh..!! siapa sih dia belagu amat, Lo pikir Karna Lo Ketos gue takut haa?!!!" Sungguh menguras tenaga, jiwa dan hati . Bagai mana tidak. Zenaya yang Kesabaran hanya setipis tisu yang dibagi dua lalu dicemplungkan dalam gayung air seperti itulah.
Hanya itu ocehan terakhir yang masih dapat terdengar jelas oleh sang Ketos yang dicap songong dan belagu oleh sih gadis tidak tau berterimakasih itu.
......................
kringgg!! kriinggg!!
Bunyi bel yang berjumlah 2 itu menandakan waktu nya masuk ke jam pelajaran selanjutnya, kelas yang tadinya begitu ribut dan berantakan karena jamkos selama 2 jam kini sudah duduk ditempat masing-masing menunggu kehadiran guru mapel berikutnya.
Zeanya yang notabene nya kawan sebangku Zenaya mulai panik karna Zenaya yang belum juga menampakkan batang hidungnya itu. Bagaimana tidak, mereka saat ini sedang ada praktek Bahasa Inggris tentang percakapan yang pasangnya dengan temanas sebangku.
Mam Eni termasuk dalam kategori guru killer bagi anak anak seantero Cendrawasih. Walaupun jarang terdengar Marah. Namun lebih baik diajar oleh guru yang Galak dari pada guru yang pendiam dan tidak lupa diam-diam main nilai. Lebih Ekstrim.
Zeanya berharap agar Zenaya sesegera mungkin datang jika tidak, maka dia tidak akan segan mengacu kan Zenaya selama 2 hari.
Brukk!!.
Ga sia-sia gue ngancem Lo nay. Ucap Zeanya dengan rasa syukur atas kehadiran sang sahabat sekaligus partner Bahasa Inggris nya.
Tak!tak! takk!
Suara hentakan kaki yang sengaja dilakukan Zenaya yang dapat dipastikan bahwa ada yang mengacaukan hatinya yang terlihat dari tindakannya itu, tidak diambil pusing oleh anak-anak IPA 2.
Eranita dan Isyana langsung memutar badannya menghadap Sang sahabat yang sedari jam pertama hilang tanpa kabar itu.
"Belagu amat Tuh cowok minta di colok matanya!". Satu kata yang keluar dari mulut Zenaya yang membuat Sahabat-sahabatnya bingung dan dengan sabar menunggu kelanjutan cerita.
__ADS_1
Okta yang melihat belum ada tanda-tanda Ibu Eni datang langsung menghampiri Zenaya dan bertanya, "Lo dari mana aja sih Nay?, ga tau kalo kita kawatir?".
Ya! Okta sangat kawatir akan Zenaya sedari tadi.
"Iya Lo dari mana?,Cabut ga ngajak!" Balas Eranita yang tidak tau suasana. Zeanya yang dihadapannya Langsung menggeplak kepala Era dengan sedikit tekanan.
"Ehh peak sakit dodol!!" Kesel Era padanya. Zeanya hanya masa bodo dan kembali mendengar Zenaya kembali. Saat Zenaya siap untuk menjelaskan, namun.
"Selamat Pagi menjelang siang anak-anak. Hari ini apakah ada tugas?". Tanya Mam Eni
"Ada Buu!!" Jawab mereka serentak.
Pembelajaran pun terus dilanjutkan yang diawali dengan absen. Dilanjutkan dengan praktek percakapan, untung nya Zenaya sudah menguasai teks nya sehingga dia dan Zeanya mendapatkan nilai di atas KKM yaitu 85 tidak begitu besar namun cukup baik.
......................
Bel istirahat sudah berbunyi
Disini Zenaya, Era, Okta, Isyana dan Zea Duduknya di kursi tengah depan warung Sireh kafe. Tempat yang dikerumuni oleh people's yang sudah kelaparan yang siap untuk menghabiskan setengah dari uang saku atau bahkan tidak bersisa.
Tempat yang begitu padat dan berisik seperti pasar itu adalah tempat favorit siswa siswi SMA Cendrawasih yang bagi mereka surganya perut.
Isyana dan Era sudah menyelonong masuk ditengah tengah kerumunan orang-orang lapar. Sekali pun anak-anak di sana terbilang dari keluarga yang kaya , Namaun tiada yang bisa menghalanginya orang yang sedang kelaparan bukan?!.
"Naya, coba Lo ga mau jelasin ke kita?". Ucap Zea yang masih penasaran. Yang dibalas anggukan kecil dari Okta . Zenaya yang merasa moodnya tidak baik hari ini. Hanya menjawab dengan Tarikan Bahu yang berarti (ga tau).
Zea dan Okta yang melihat hanya bisa berdehem kesal. "Buset Lo pada tau ga sempit banget gue disitu, mana ada yang bau keti lagi iuh!". Ucap Era tanpa filter. "Iya.. untung gue bisa menyelinap." Balas Isyana.
Mereka melanjutkan aktivitas mengisi perut hingga tandas.
Kantin Sma Cendrawasih
__ADS_1