
kringgg.. kringg... kringg.. kringg..kringg!!
Bel tersebut berbunyi menandakan waktu pulang. SMA Cendrawasih yang tadinya rame kini sepi menyisakan anak-anak yang sedang mengikuti ekskul basket, OSIS dan yang bertugas piket kelas.
Zenaya berada dibawah atap halte yang tidak jauh dari lingkungan sekolah nya. Mang Sutri mengabari Zenaya, bahwa dia sedang dalam perjalanan namun akan sedikit lambat karna harus singgah ke perusahaan papanya Zenaya untuk mengantarkan dokumen yang diminta oleh majikannya.
.....................
Brukk!
Zenaya saat ini membaringkan tubuhnya kasur yang cukup empuk dengan berbagai hiasan kamar yang sederhana namun berkesan elegan bernuansa Korea dengan ragam judul novel yang berjejer menghiasi rak lemari khusus itu.
Zenanya adalah salah satu orang yang begitu menyukai dunia fiksi yang ada di novel baginya lebih menarik dari pada dunianya. Dia juga sangat menyukai boneka yang kadang dipakai nya untuk tempat mencurahkan keluh kesah yang ibaratnya teman curhat.
Zenaya bukan tipikal orang yang semudah itu mempercayai orang untuk masuk dalam kehidupannya karna dia tidak mau terlalu bergantung dengan orang lain yang tidak ber kepastian. Lebih baik kepada Tuhan sang pencipta.
Koleksi Boneka yang dimiliki nya tidak cukup banyak namun Lumayan seukuran tubuhnya yang nyaman untuk dipeluk. Berwarna putih, peach dan cream. Yang dia dapat sebagai hadiah ulang tahun nya saat berusia 15 tahun. Dana ada juga yang dia beli pakai uang sakunya sendiri.
Boneka-boneka tersebut memiliki nama yang berbeda dan cukup unik. Teddy bear yang berukuran jumbo yang warna cream bernama Fluyi. Boneka beruang jumbo putih itu namanya Olaf yang diambil dari salah satu nama yang ada di Animasi Frozen berwarna putih salju. Dan terakhir Boneka yang ukurannya lebih small berwarna peach berbentuk seorang rubah yang manis itu bernama Chanji.
Zenaya yang kelelahan akhirnya terbuai dalam mimpi indahnya. Dengan ponsel yang masih menyala.
......................
Karna merasa perutnya berbunyi dan meminta asupan makanan. Zenanya yang tadinya berada di kamar kini sudah berpindah dan berada di Minimarket didekat rumahnya. Saat ini Zenaya ingin memanjakan lidahnya dengan makan makanan pedas seperti yang ada di rak per mie instan dihadapannya.
Tak lupa ia juga mengambil Yogurt kesukaan nya dengan rasa Strawberry dan beberapa coklat batang yang ada didekatnya meja kasir.
Saat Zenaya hendak melangkah kan kakinya. Hujan yang tanpa aba-aba jatuh secara terus menerus yang membuat nya mengurungkan niat dan menunggu hujan berhenti supaya dia dapat kembali kerumahnya dan memasak mie instan yang sudah dibelinya.
Zenaya mengutuki dirinya yang lupa membawa ponsel, saat keadaan genting seperti ini. Alhasil ia hanya dapat menunggu awan untuk berhenti menangis kehidupan ini.
Ditengah hujan yang lumayan lebat, yang untung nya tidak mengeluarkan suara dentuman petir yang memekikkan Indra pendengarannya. Naya duduk disalah satu kursi yang tersedia di dekat Minimarket yang saat ini sudah memasang tanda 'closed', yang berarti para pekerjaannya sedang menikmati suasana baru untuk menenangkan pikiran dari lelahnya menghadapi dunia yang kejam ini. Dalam suasana sepi seperti ini, yang hanya bisa dilakukan nya hanyalah memandangi aspal yang mengeluarkan uap air dan lembab yang disebabkan air hujan.
__ADS_1
Tenang dan menyejukkan itulah yang ia rasakan. Zenaya tidak membenci hujan namun jika hujan membawa petir dia akan menjadi seperti seekor anabul yang begitu menakuti petir.
Salah satu ketakutan yang dimiliki Zenaya yang tidak bisa dihilangkan adalah kilat dan petir. 'Astraphobia' berasal dari ketakutan bawaan terhadap suara keras atau trauma yang dimulai sejak kecil. Atau biasa orang mengenal dengan sebutan Astrapofobia.
Tak terasa awan yang sudah tidak mengeluarkan tangisan itu. Dan kembali menampakkan senyumnya dimalam hari.
......................
Suatu ruangan yang saat ini diisi dengan anak-anak yang merupakan anggota dari gang motor ternama yang tidak pernah membuat onar sekolah dan selalu membawa nama baik sekolah dalam setiap perlombaan yang ada tenga berkumpul.
Didepan televisi ada 3 orang anak muda yang masih pelajar sedang memainkan PS. Revendra Gian, Viko Brestan, Pyno Jinoya. Sebenarnya hanya terdapat dua PS yang dimiliki anak Alley Black. Yang dimainkan secara bergantian.
Viko yang bosan menunggu giliran nya untuk bermain namun tak kunjung datang. Menghampiri Keizeo Adelard dan Sang ketua sekaligus Ketos sekolah nya itu yang sedang sibuk dengan dunia masing-masing.
" Kei." panggil Viko pada sang waket. Tidak mendapati respon dari orang tersebut dia kembali berucap. "Keizeo Adelard yang tampan 11-12 dengan gue main yok!" Ucapan Viko sontak membuat Pyno dan Gian sontak merinding dan menoleh dengan tatapan kaget terhadap Viko.
" Vik, Lo jangan sampai belok ya!" Ucap Pyno dengan nada memprihatinkan. Gian yang ada disampingnya hanya mengangguk menyetujui Pyno. Dia tidak mau jika harus berhadapan dengan orang yang menyukai sesama jenis atau nge-gay. Bukan kah itu dosa?.
Viko mendengar ucapan Pyno tersenyum dan sedetik kemudian. Ptakkkk!!. "Sakit peak kepala gue, Lo pikir gue hewan gitu yang seenaknya Lo lempar!!". Ucap Pyno sambil mengelus kepala nya yang tidak berdosa itu, sungguh menyebalkan!
"Jahatt syekali Abang menyakiti hati adek!!, sungguh teganya." Gian yang sudah tak tahan itu langsung melepaskan tawanya. Arfalgo yang sedari tadi mendengarkan keributan antar duo sejoli itu hanya bisa tersenyum kecil dan geleng-geleng kepala.
Keizeo hanya bisa menahan Viko yang saat ini sudah bersiap menghajar Pyno dengan jurus jitunya. Tersadar akan sesuatu hal Keizeo menghampiri Arfalgo dan bertanya. "Ar.. sekolah kita ga nyiapin event?". Arfalgo geleng kepala dua kali yang berarti (tidak).
"Iya kenapa ga ada event lagi?. Pasti seru kalau kembali dibuat." sahut Gian. Saat ini Gian sudah selesai bermain PS dan yang menggantikan nya adalah Viko.
"Gue ga tau." Balas Arfalgo seadanya. Saat melihat Sang ketua hendak mengenakan jaket kebanggan Alley Black yang berlambangkan Pedang dan kedua sisinya dibalut sayap hitam putih. Dan tidak lupa nama gang motor mereka Alley Black yang berwarna putih.
" Lo mau kemana Ar?" tanya Pyno yang masih memegang PS. Ucapan Pyno hanya berlalu seperti angin Karna Arfalgo menancap kan gas sepeda motor nya dengan kecepatan tinggi menjauhi tempat kumpul mereka.
" Napa sih bos?" tanya Gian yang hanya dibalas dengan dua bahu Keizeo yang tertarik ke atas yang menandakan dia tidak tau.
......................
__ADS_1
Dalam sebuah rumah yang mewah dan megah terdapat Sebuah keluarga harmonis yang didalamnya ada ayah ibu dan seorang anak perempuan yang begitu lucu. Mereka sedang menikmati makan malamnya diruang tamu dengan canda tawa dan penuh dengan kehangatan.
" Ehh Abang dah pulang?, tumben." ucap sang ayah pada anak lelaki satu-satunya itu yang begitu membanggakan. Seorang pengusaha ternama dan pemilik sekolah terkenal yang didalamnya terdapat banyak siswa siswi berbakat dan berprestasi. Seorang yang begitu menyayangi istri dan anak-anaknya. Tuan Axcel Ando Fegren.
"Mau kemana bang?, duduk sini dulu makan." Ucap Bunda Arfalgo yang bernama Bunda Astri Fegren, sosok yang begitu menyayangi kedua putra dan putri nya dengan penuh kasih sayang. Dengan tidak lupa untuk mengajar anaknya untuk melakukan hal-hal yang baik dan tidak merugikan ataupun menyakiti orang lain.
Arfalgo mengurungkan niatnya dan ikut berkumpul dengan keluarganya. Dihadapannya ada seorang gadis kecil yang begitu ia sayangi sekalipun usil dan menyebalkan. Yang hobinya mengoleksi kotak pensil dan anak-anaknya, maniac Ice Cream dan sangat menyukai boneka tidak lupa juga Barbie.
Gadis cilik itu saat ini sedang memeluk boneka yang berbentuk kelinci putih. Namanya Meisya Putri Fegren, yang sikapnya Sanga berbanding terbalik dengan sosok Arfalgo.
" Arfalgo, 2 hari yang lalu Ayah Ada pertemuan metting dengan klien penting dia adalah sahabat dekat ayah saat masih SMA." Ucap Tuan Axcel . Arfalgo menunggu ucapan sang ayah selanjutnya. " Jadi, teman ayah saat itu membawa anak gadisnya, yang menurut ayah sangat cocok dengan kamu." Ucapan Axcel membuat Arfalgo hampir saja menyembur sang ayah dengan cipratan air jus yang ada didalam mulutnya.
Bagaimana tidak kaget, Tuan Axcel selaku ayahnya itu mengatakan seperti tidak ada beban, dan porsinya Arfalgo saat itu sedang menghilangkan dahaganya dengan segelas jus mangga buatan sang bunda.
" Maksud Ayah Abang mau dijodohin?". Ucap Bunda yang semakin menjadi-jadi, Ayah menjentikkan jarinya berarti kan setuju.
" Falgo ga mau yahh." Ucap Arfalgo mengungkapkan ketidak kemauannya. "Coba aja dulu bang, soalnya Ayah liat kamu belum pernah bawa anak gadis kesini, Ayah takut kamu.." ucapan sang ayah yang gantung itu membuat Arfalgo bergidik ngeri.
Arfalgo melangkahkan kakinya menaiki setiap anak tangga menuju kearah kamar dengan pikirannya yang terus memikirkan ucapan sang Ayah.
Zenaya Fanizela's bedroom
Fox Doll : Chanji
The house of the Fegren family
__ADS_1
Fegren's family dining room