
Devya meringis ketika merasakan kakinya masih sakit, tadi saat di kantin ia tak sengaja menendang meja yang berakhir naas membuat kakinya sakit
Niat hati ingin menendang kaki Kean karena cowok super ngeselin itu, eh taunya malah berujung karma untuk dirinya sendiri
Sedangkan Zea? Jangan tanyakan sahabatnya yang satu itu entah pergi kemana bersama Kean
Ngomong-ngomong soal Kean, nama dan wajah cowok itu mirip dengan tunangannya dulu
Ah, Cika jadi rindu dengan Kean. Apakah Kean merindukannya juga? Cika tak tahu
Ia menghela napas panjang, ia sudah berjanji untuk membantu gadis ini menjadi protagonis bukan antagonis lagi
Gadis itu berjalan tertatih-tatih, sejujurnya ia malas berjalan sendiri karena sejak ia datang ke sini semua mata menatap ke arahnya dengan tatapan aneh, dan Devya benci menjadi pusat perhatian
Seseorang tengah berjalan sendirian melihat Devya tengah tertatih, cowok itu berdecak sebal saat melihat Devya
"Ck. Nyusahin." ia bergumam kemudian menghampiri cewek itu lalu menggendongnya tanpa sepengetahuan Devya
Gadis itu pun memekik karena pergerakan tiba-tiba, ia bahkan memukul-mukul cowok itu
"Diem Lo. Nyusahin tau!" ketus Alcar
Ya cowok itu adalah Alcar, Devya melotot saat mendengar suara Alcar
"Lo?! Turunin gue!" kata Devya meronta
Alcar tak mendengarkan omongan Devya, ia malah mempercepat langkahnya
"Kelas gue kelewat bego!" kesal Devya karena sejak tadi Alcar tak mendengarkan omongan dan sekarang cowok itu akan membawanya kemana, kelasnya sudah kelewat beberapa meter
"Berisik." desis Alcar namun bukan Devya namanya kalau
"Ya Lo yang bikin gue berisik!" kesal Devya sejak tadi ia hanya bisa memberengut sebal
Beruntung tak banyak siswa siswa yang melihat mereka berdua, kalau tidak mau di taruh di mana muka Devya, pasti akan sangat malu
Alcar membawa gadis itu ke UKS ia menurunkan Devya di atas kasur, kemudian ia membuka sepatu Devya dengan hati-hati
"Kaki Lo berdarah?" tanya Alcar namun Devya tak menjawab ia terlanjur kesal dengan cowok itu
__ADS_1
Alcar berjalan menuju kotak p3k. Mencari alkohol dan kapas. Darahnya tidak terlalu banyak jadi Alcar membersihkannya pakai kapas dan juga alkohol
"Kaki Lo lurusin." kata Alcar namun Devya tak menurut membuat Alcar dengan paksa menarik kaki gadis itu
Devya hanya memperhatikan gerak gerik Alcar sejak tadi, Alcar sadar dirinya sedang di perhatikan lantas ia berdehem
"Jangan kepedean Lo," kata Alcar membuat Devya tersentak kaget
"Gue ngobatin Lo karena permintaan Mamah gue." ucap Alcar datar dan dingin
"Hah? Maksud Lo apa?" tanya Devya tak paham
"Kaki Lo udah gue obatin." Alcar kembali meletakkan obat-obatan di tempatnya kemudian meninggalkan Devya yang masih bingung dengan ucapan Alcar barusan
"Berhenti nyusahin gue." ucap Alcar datar membuat Devya kembali tersentak
Ternyata laki-laki itu belum benar-benar pergi, dia masih di ruangan itu
"Lo itu benar-benar bikin gue sengsara." sarkas Alcar membuat hati Devya sakit
"Gue emang hilangan ingatan, jadi gue nggak tau sejahat apa gue sama lo dulu," kata Devya dengan suara bergetar
Devya hanya bisa memandang sendu pintu ruangan uksnya, kenapa Alcarza sejahat itu padanya? Kenapa harus sekasar itu padanya meski bukan fisik tapi ucapannya itu sangat menusuk
Devya bingung tak tahu harus apa, sementara dirinya bukanlah jiwa asli gadis ini, tapi ia hanya sekedar menumpang raga
Dan kenapa pula dia harus masuk ke raga gadis yang berperan antagonis? Apakah semesta ingin dia mengubah gadis ini? Menyelesaikan teka-teki antagonis gadis ini?
Devya menghela napasnya pelan, ia memutuskan untuk istirahat sejenak ketimbang memikirkan hal-hal yang menurutnya tidak akan semudah itu untuk di pahami
***
"Astagaa Devya!! Lo udah bangun?!" teriak seseorang tepat di sampingnya bukan lebih tepatnya pada telinga Devya yang mendadak pengang seketika
"Anjir! Telinga gue pengang goblok!" umpat Devya membuat Zea tersentak
"Lo bangun dari tidur nggak lucu anjir!" kali ini Zea bersuara
"Ya Lo yang salah! Gue bangun tidur bukannya di sambut ramah tamah malah di teriakin, mana pas di telinga pula." kesal Devya ia masih mengusap telinganya untuk beberapa saat sebelum akhirnya turun dari kasur
__ADS_1
"Eh, eh Lo mau kemana?" tanya Zea panik ketika Devya hendak turun
"Ya pulang lah, ini udah jam pulang gue mau pulang terus bobo," kata Devya
"Kebo Lo." ledek Zea
"Teman Lo." sahut Devya tak kalah
"Bukan temen gue." kata Zea
"Yaudah jangan minta contekan dan traktiran," jawab Devya membuat Zea panik
"Eh, tau dari mana Lo gue sering minta contekan?" tanya Zea heran pasalnya ia belum cerita tentang itu
Devya mengedikkan bahunya acuh, "Hanya menebak, siapa sangka tebakan gue bener." jawabnya asal kemudian berlalu begitu saja
"Devya anj-" umpatan Zea tertahan ia mengusap dada perlahan, "Sabar Ze, Lo nggak boleh marah atau si kebo itu bakal mancing emosi Lo" monolog Zea kemudian ikut menyusul Devya ke kelas
Devya baru saja tiba di kelas, namun alangkah terkejutnya ia saat menemukan Alcarza tengah duduk anteng di kursinya, bukan lebih tepatnya di kursi Devya
Lantas gadis itu segera menghampirinya, "Ngapain Lo di sini?" tanya Devya tak ramah
"Nunggu Lo." jawab Alcarza, seperti biasa datar dan dingin
"Ngapain nunggu gue?" tanya Devya masih dengan nada tak bersahabat
"Pulang bareng." jawab Alcarza membuat bola mata Devya membola seketika
"Nggak! Gue nggak mau!" tolak Devya mentah-mentah
"Lo pikir gue mau nganterin Lo pulang?" tanya Alcarza sinis
"Yaudah Lo tinggal pulang gampang kan?" kata Devya kesal
"Dan Lo pikir semudah itu?" tanya Alcarza, kali ini tatapannya sangatlah tajam membuat Devya sedikit takut melihatnya
"Lo pulang sama gue, di tunggu di parkiran." kata Alcarza tak terbantahkan, kemudian pergi dari sana
Devya menatap Alcarza yang sudah menghilang dari balik pintu dengan tangan terkepal
__ADS_1
"Alcarza sialan!" maki Devya kesal