
Devya berlari menuju kelasnya, ia hampir terlambat semenit jika saja tidak buru-buru untuk tepat waktu tiba di depan kelas
Gadis itu melangkah masuk dengan napas yang masih tersengal-sengal ia duduk di kursinya laku merebut air minum Zea yang masih utuh di atas meja
"Air minum gue anj-" baru saja Zea hendak mengumpat namun tidak jadi saat melihat Devya yang meminumnya
"Makasih." kata Devya sembari mengembalikan botol minum Zea yang sudah kosong
Cewek itu menatap sebal Devya, "Lo habisin minum gue tolol!" kesal Zea
"Nanti gue ganti," kata Devya kelewat santai
"Tapi ini minum buat Kean, Dev." kata Zea masih tak terima jika Devya menghabiskan seluruh air miliknya
"Dua botol." ucap Devya
"Tap-"
"Plus contekan." sambung Devya membuat mata Zea berbinar
"Deal!" pekik Zea membuat Devya mendelik sebal
"Otak udang." cibir Devya membuat Zea melotot tajam
Tapi Zea tak menanggapi ucapan Devya, beberapa hari bersama Devya dan mendengarkan perkataan pedas sahabatnya itu sudah cukup membuat Zea terbiasa dengan mulut tajam Devya
"Btw, kenapa Lo bisa terlambat?" tanya Zea
Devya yang sudah tenang, mendadak badmood ketika mengingat kejadian pagi tadi
"Si rese' itu ganggu gue anjir!" kesal Devya membuat Zea meringis kembali ketiak melihat Devyabsudah menggebu-gebu
Sepertinya ia salah bertanya untuk perihal itu, "Anjir! Gue kesel abis sama tuh cowok! Sial! Sial, sial, sial! Hidup gue sial!" makin Devya, emosinya bergejolak di dadanya
"Sabar Dev, udah ya Lo mau gue beliin minum lagi biar tenang?" tanya Zea
"Nggak!" jawab Devya dengan ketus
"Lo bisa diem nggak sih?! Nggak usah nanya-nanya dulu, gue lagi badmood anjir!" kesal Devya
Zea menghela napas, jika Devya sedang badmood kemungkinan ia bisa jadi korban semprotan Devya jadi lebih baik ia diam saja
Hingga dosen masuk pun Devya masih tetap dengan kekesalannya, Zea akhirnya angakt bicara
__ADS_1
"Mau sampai kapan muka Lo kayak gitu? Mau ikut gue nggak?" tanya Zea
"Kemana?" kali ini suaranya lebih bersahabat
"Ke kantin lah, gue mau makan laper." kata Zea terkekeh, "Oh ya gue denger hari ini ada menu baru, jadi gue pengen nyobain." sambung Zea
"Yaudah gue ikut." kata Devya
Dengan malas Devya mengikuti Zea ke kantin, sejujurnya ia malas berada di kelas yang banyak sekali mahasiswa, padahal di kantin lebih banyak lagi, dasar Devya
"Bu, Omelet satu." pesan Zea kemudian ikut menyusul Devya yang sudah duduk duluan di salah satu meja
"Lo pesen apa?" tanya Zea
"Nggak ada, gue males ngunyah." jawab Devya asal
"Gue kunyahin." kata Zea membuat Devya mendelik tajam
"Jijik gue. Virus menular." sarkas Devya
"Anjir! Lo pikir gue pembawa pirus?" tanya Zea kesal
"Virus beb, bukan pirus." ralat Devya
Devya hanya mengwdikkan bahunya acuh, "Ada jiwa manusia lain kali di tubuh gue." jawab Devya asal tapi kenyataannya memang begitu
"Ngaco Lo." Zea tertawa kencang
Devya hanya mengedikkan bahunya, mals menaggapi Zea yang tak akan percaya dengan omongannya
"Lah punya gue mana?" tanya Devya saat melihat hanha ada satu Omelet yang tersaji
"Bukannya Lo males ngunyah?" tanya Zea mendelik sebal
"Ya tadi, tapi gue laper," kata Devya membuat Zea semakin kesal
"Lo bener-bener gadis super ternyebelin yang pernah gue temui," kata Zea gemas dengan sahabatnya yang satu ini
"Yaudah gue mati aja lagi, gampangkan?" tanya Devya mwmbiat Zea refleks memukul bibir Devya
Gadis itu meringis ketika merasakan bibirnya nyeri karena pukulan Sea terlalu kencang
"Bibir gue makin seksoy nanti," kata Devya kesal sekaligus membuat Zea ikut gregetan dengannya
__ADS_1
"Lo kalau ngomong nggak bisa di filter dikit ya? Gemes gue pengen cubit tuh mulut," ujar Zea dengan tersenyum manis, manis sekali
Meski Devya menyebalkan gadis itu tetaplah sahabatnya Zea, man mungkin Zea rela membiarkan Devya tidur lagi, ia sudah cukup lama bersabar menunggu Devya bangun selama setahun ini meski tidak bisa bertemu langsung setidaknya Zea slealu mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya
"Daripada Lo marah-marah kagak jelas, mending Lo pergi pesenim makanan buat gue," kata Devya seolah menyuruh Zea seperti babunya
"Gue bukan babu Lo anjir!" Zea jadi kesal sendiri, bisa-bisanya ia punya sahabat minus akhlak seperti Devya
"Kaki gue sakit Ze, kepentok meja Lo tega biarin gue jalan dengan penuh kesakitan?" tanya Devya dengan mata memelas
Zea mendengus sebal, "Beruntung gue punya hati yang baik, gue bantu Lo." kata Zea kemudian beranjak dari sana
Devya terkekeh pelan, kemudian ia melihat-lihat ponselnya yang dipenuhi nontifikasi dari berbagai sosial medianya
Ia meringis ketika melihat followers Instagram yang mendadak naik hanya karena Devya memfollow akun orang lain
Awalnya ia hanya memfollow akun Alcarza, tapi sekarang tidak ia juga tidak mengunfollow akun Alcraza
Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya lalu duduk di sebelahnya, menyadari akan sosok manusia yang duduk di sebelahnya Devya mengalihkan tatapannya
"Loh, Lo?" kaget Devya saat melihat Alden ada di sini
"Ngapain Lo?" tanya Devya dengan nada tak bersahabat
Alden tersenyum, "Lembut dikit bisa?" tanya Alden membuat Devya mendengus
"Alden, Lo ngapain di sini?" Devya mengulangi pertanyaannya kali ini dnwgan nada lembut seperti kata Alden
Bukannya langsung menjawab Alden malah tersenyum tak jelas saat mendengar pertanyaan Devya
"Lo mau jawab pertanyaan gue? Atau malah mau menebar pesona di sini?!" kali ini Devya benar-benar kesal oleh laki-laki itu
Alden terkekeh menyadari kekesalan Devya, "Gue pindah ke sini," Alden menjawab pertanyaan Devya yang sebelumnya
"Hah?!" kagetnya
Tidak itu bukan suara Devya melainkan suara Zea yang entah sejak kapan berdiri di sana membawa Omelet miliknya
"Lo serius pindah ke sini?" tanya Zea kemudian duduk di meja sambil meletakkan makanan milik Devya
Alden mengangguk, "Gue sekelas sama Lo." kata Alden tersenyum kecil pada Devya
"Sial!" batinnya, jantung Devya mendadak berpindah dari tempatnya.
__ADS_1