
Devya baru saja kembali dari perpustakaan, kelasnya mendapat tugas dari dosen lantas Devya membutuhkan beberapa buku untuk membantunya menyelesaikan tugasnya
Ponselnya bergetar, lantas Devya mengambilnya melihat pesan yang masuk
Zea
Dev, gue duluan ya, di tunggu di kantin yaa
Soalnya Kean udah nungguin dari tadi :(
Devya
Iya, Lo duluan aja.
Tangannya Devya mengetik balasan pesan dari Zea, kepalanya sibuk tertunduk menatap layar ponselnya
Tanpa sadar dia menbrak bahu seseorang dengan keras membuat orang tersebut jatuh
"Akh!" ringis orang itu membuat Devya tersadar dari fokusnya lantas menengok pada orang yang sedang terduduk di lantai
"Eh? Sorry. Ayo bangun." kata Devya, tangannya terulur untuk membantu gadis yang baru saja ia tabrak dengan tidak sengaja
Gadis itu mendongak menatap heran Devya, "Kenapa?" tanya Devya merasa aneh dengan tatapan gadis tersebut
Gadis itu menatap uluran tangan Devya kemudian kembali menatap Devya, sejenak ia menerima uluran tangan Devya meski ragu menghampiri
"Makasih." ucap orang itu dengan lembut dan tersenyum
"Hm, sama-sama. " gumam Devya, sebenarnya ia sedang buru-buru tapi begitu melihat name tag gadis itu Devya mengurungkan niatnya
Yena Caroline Ivy.
"Lo nggak papa kan?" tanya Devya begitu sadar bahwa gadis di depannya ini baru saja jatuh menghantam lantai
"Aku nggak papa, sekali lagi makasih." ucap Yena lagi dengan senyuman
"Hm," jawab Devya dengan deheman singkat
"Gue Devya," ucap Devya mengulurkan tangannya kembali, lagi dan lagi Yena di buat terdiam
Ia menatap Devya dengan tatapan yang sulit di artikan, kembali dengan ragu-ragu Yena hendak menerima uluran tangan itu
Sedikit lagi Yena hendak menjabat tangan Devya seseorang dengan kasar menepis tangan Devya, membuat gadis itu meringis sakit
"Mau Lo apa lagi hah?!" tanya Alcar dengan tatapan penuh amarah
"Gue nggak sengaja nabrak bahu Yena, Al. Gue cuma bantuin dia," kata Devya menatap Alcar
"Halah Bullshit! Lo pikir gue percaya?! Lo sengaja kan?!" tanya Alcar dengan kesal
__ADS_1
"Gue cuma-"
"Gue muak sama semua kebohongan Lo Dev," Alcar menatap bengis Devya yang kini hanya menatap cowok itu dengan takut-takut
"Al, udah. Devya cuma bantuin aku aja tadi," kali ini Yena yang bersuara
"Dia itu nggak bisa di percaya, orang yang berhati busuk nggak bisa di percaya omongannya!" ucapan Alcar mampu membuat luka di hati Devya
Gadis itu merasa sakit ketika mendengar Alcar menyebutnya sebagai pemilik hati busuk, sudah jelas sekali bahwa Alcar memang sangatlah benci padanya
"Kamu nggak papa kan Yen?" tanya Alcar, kini perhatiannya teralih pada Yena, kekasihnya
"Aku nggak papa kok Al," kata Yena sambil tersenyum
Devya takjub melihat senyuman itu, pantas saja Alcar mencintai Yena gadis itu sangatlah ada pada kriteria cowok macam Alcarza
"Dan Lo! Berhenti buat ulah." ucap Alcar lagi berubah nadanya menjadi datar dan dingin
"Ayo Yen, kita pergi dari sini." ajak Alcar lalu meninggalkan Devya yang masih menantap keduanya
Gadis itu kembali menghela napas sebelum akhirnya melangkah gontai menuju kantin
"Benar ya? Protagonis itu selalu menjadi yang terdepan jika bersama peran utama." Devya tertawa miris, lebih tepatnya menertawakannya kehidupan antagonisnya
"Beda sama gue yang perannya antagonis, sebaik apapun gue tetep jahat bagi peran utama."
Lagi-lagi ia menghela napas. Mempercepat langkahnya menuju kantin
"Habis ketemu heroin di jalan." jawab Devya asal
"Heroin? Ngaco Lo." kata Zea menggelengkan kepalanya heran dnegan tingkah Devya
"Gue serius. Habis ketemu pemeran protagonis sama pemeran utamnya barusan," kata Devya lagi
Zea terlihat berfikir sejenak, sebelum akhirnya ia bersuara
"Ohh maksud Lo, Yena?" tanya Zea membuat Devya mengangguk
"Memangnya siapa lagi?" tanya Devya tak acuh
"Terus kenapa muka Lo kusut banget?" tanya Zea lagi menyadari raut muka Devya yang sendu
"Habis di marahin pemeran utama." jawab Devya lagi, kali ini ia menyantap makanan yang sudah di pesan Zea sejak tadi
"Alcarza lagi?" tanya Zea yang sudah bisa menebak perkataan Devya
"Ya."
"Memangnya dia bilang apa sama lo?" tanya Zea
__ADS_1
"Nggak usah di bahas, gue malas bahas dia lagi makan. Hilang nafsu makan gue." kata Devya membuat Zea berhenti membahas tentang Alcarza
***
Devya meregangkan otot tubuhnya saat mata kuliahnya hari ini telah selesai
"Ze, gue pulang duluan ya?" tanya Devya saat melihat isi chat Zea yang akan di antar pulang oleh Kean
"Iya, nggak papa kan Dev?" tanya Zea tak enak
"Nggak papa santai aja kali," kata Devya tertawa, "Yaudah kalau gitu gue duluan," kata Devya, Zea mengangguk
Devya melangkahkan kakinya keluar kelas, masih banyak mahasiswa yang lalu lalang di kampus karena hari juga masih siang, langkahnya terhenti saat melihat Yena yang terduduk sendirian di kursi panjang koridor
"Hai Yen," sapa Devya sambil tersenyum
Yena ikut tersenyum, "Hai Dev, kamu mau pulang?" tanya Yena
Devya mengangguk, "Gue duluan ya," kata Devya membuat Yena mengangguk
Namun baru beberapa langkah Devya berjalan suara ringisan terdengar membuat Devya menoleh ke belakang dan mendapati Devya yang terjatuh akibat ulah beberapa orang iseng
"Astaga Yen!" panik Devya kemudian ia berlari menghampiri Yena yang terjatuh
Devya membantu Yena untuk duduk di lantai, "Lo nggak papa?" tanya Devya cemas
"Astaga, lutut Lo berdarah Yen," cemas Devya, ia ngeri melihat darah merembes keluar, tidak banyak namun cukup membuat Devya, ah bukan melainkan Cika yang phobia darah takut untuk membuka matanya
"DEVYA!!" teriak seseorang yang sangat Devya kenali
Cowok itu berlari mendekat ke arah Devya, "Minggir Lo!" kata AlcarĀ dengan amarah menggebu
"Yena, Lo nggak papa?" tanya Alcarza panik
"Lutut aku sakit, Al," kata Yena meringis menahan perih di bagian lututnya yang berdarah
"Al, aku takut darah," kata Yena dengan suara bergetar, Alcarza tahu, jika Yena phobia darah lantas cowok itu berusaha menutupi luka di lutut Yena
"Al, Al, ak-ku takk-kut," kata Yena sebelum akhirnya pingsan
"Yena!" cemas Alcarza, ia mendongak menatap Devya yang masih mematung di sana
"Masih belum puas Lo nyakitin Yena, hah?!" tanya Alcarza tajam pada Devya
"Al, Lo salah paham. Gue tadi-"
"Persetan dengan semua omongan Lo. Gue udah nggak percaya sama Lo." ucap Alcarza dingin kemudian pergi membawa Yena ke UKS
Sedangkan Devya menatap punggung Alcarza yang berlari kemudian menghilang, ia memegang dadanya sendiri
__ADS_1
"Se-sak," ucap Devya hampir menangis