
"Alcarza sialan!" maki Devya kesal
Ingin rasanya ia membunuh cowok itu jika bukan mengingat bahwa dia antagonis dan tak ingin menyebarkan namanya menjadi buruk lagi
Devya meraih tasnya kasar, kemudian pergi keluar kelas, tapi saat di pintu ia bertemu Zea
"Eh Dev, Lo mau kemana?" tanya Zea
"Kan gue tadi udah bilang di kelas, mau pulang, Lo tuli? Bongek? Atau apa?" kesal Devya, ia masih teringat cowok bernama Alcarza yang harus bukan, wajib di hindari
"Anjir! Lo sekalinya ngomong pedes, Lo kenapa hah? Muka Lo kusut, jelek kayak bebek." ledek Zea membuat Devya mendelik sebal
"Alcarza maksa gue pulang bareng." kata Devya akhirnya, ia menghela napas panjang
"Bukannya Lo yang sering maksa Alcarza buat bisa pulang bareng?" tanga Zea membuat Devya menoleh tak paham
"Lagian biasanya juga kalau Alcarza ngajak Lo pulang bareng Lo bakalan senang," lanjutnya, Devya semakin tak paham
"Dan Lo pikir gue ingat?!" kesal Devya karena Zea yang berbicara seolah dirinya masih yang dulu
Zea menepuk jidatnya, "Oh iya gue lupa, sorry." ringis Zea membuat Devya semakin kesal
"Sekarang gue mau Lo ceritain." kata Devya
"Bukannya Lo mau pulang?" tanya Zea, namun Devya tak menjawab ia malah menarik Zea masuk ke kelas kemudian duduk di tempat duduknya
"Kasihan Alcar, Dev," kata Zea lagi
"Bodo amat. Emang gue pikirin? Lagian gue udah bilang tadi suruh pulang duluan, anaknya aja yang keras kepala." gerutu Devya kemudian ia ikut duduk di sana
"Jadi gimana ceritanya?" tanya Devya
"Jadi sebenarnya, dulu itu Lo suka banget nyamperin Alcar buat nganterin Lo pulang bahkan kayaknya Lo juga sering di jemput tuh sama Alcar,"
"Awalnya Alcar suka nolak Lo, tapi Lo ngomong lagi entah apa itu gue nggak tau, yang jelas Alcar dengan berat hati mengikuti kemauan Lo."
"Pernah waktu itu Alcar mau jemput Yena, gue tahu karena Kean yang cerita, nah waktu itu Lo juga nggak sengaja denger dari tongkrongan anak-anak, akhirnya Lo marah dan kesal,"
__ADS_1
"Lo berusaha buat nyuruh Alcar jemput Lo dan Lo nggak mikirin Yena yang udah nunggu Berjam-jam di tambah hujan deras, dan Alcar tetep milih buat jemput Lo."
"Dan berakhir Yena masuk rumah sakit karena demam tinggi, dan itu membuat Alcar semakin benci sama Lo." jelas Zea dengan panjang lebar
Devya yang sejak tadi hanya menyimak seketika memegang dadanya sesak, matanya menatap kosong ke depan
Zea yang melihat sahabatnya seperti itu jadi panik sendiri, "Eh, Dev Lo nggak papa kan? Dada Lo sakit?" tanya Zea, "Gue teleponin nyokap Lo ya?"
Devya menggeleng, "Seburuk itu gue di mata Alcar, Ze?" tanya Devya
Zea mengangguk jujur, memang begitu faktanya dan dia tak ingin menutup-nutupinya
"Tadi siapa? Pacarnya Alcar?" tanya Devya membuat Zea menoleh terkejut
"Tenang gue nggak akan nyakitin Yena, gue cuma mau tahu," ungkap Devya seolah tau apa yang sedang di pikirkan Zea
"Yena Caroline Ivy, dia gadis yang baik hati, pintar dan penyayang," ujar Zea memberi tahu
Devya mengangguk, kemudian menghela napas panjang, "Waktu gue jadi antagonis udah selesai, saatnya gue berubah dan menatap masa depan yang lebih baik, tanpa Alcar dan Yena,"
"Kenapa emangnya?" tanya Devya heran
"Karena Lo yang selalu minta Alcar buat nempel sama Lo," kata Zea membuat Devya bergidik membayangkan dirinya terus menempel dengan Alcar
"Kali ini nggak, gue nggak mau lagi berurusan sama tu cowok, udah cukup."
"Yaudah thanks ya Ze, Lo mau ceritain ke gue. Gue pulang dulu bye!" kata Devya lalu melangkah keluar meninggalkan Zea sendirian
Zea yang tak sadar ketika ia sedang membalas pesan dari Kean, kemudian menoleh "Dev-"
Ucapannya tertahan ketika tak mendapati siapapun di kelas itu kecuali dirinya sendiri
"Devya tai!" umpat Zea tak tertahankan, "Lo ninggalin gue sendirian babi!" kesalnya lagi sudah mencak-mencak sendirian
Ia sudha berjalan dengan muka kesal keluar kelas, "Lo mau kemana?" tanya Kean
"Pulang." jawab Zea, "Anterin gue."
__ADS_1
"Ayo." kata Kean kemudian melangkah ke parkiran di ikuti Zea
Di sisi lain Devya sedang melangkah dengan perasaan bercampur aduk, ia benci Alcar dengan segala perkataan kasarnya
Baru saja Devya menginjakkan kakinya di luar gedung tepatnya di dekat parkiran seseorang berkata dingin
"Lama." sindir cowok itu membuat Devya tersentak lantas menoleh
"Alcar? Maksud gue Lo?! Ngapain Lo di sini?" tanya Devya
"Nunggu Lo." jawab Alcar lagi
"Gue udah bilang kan pulang duluan? Ngapain harus nungguin gue? Bego." kata Devya sengaja memelankan kata 'bego' takut jika Alcar marah
"Iya gue bego. Karena mau-maunya di peralat sama Lo." kata Alcar datar
Tangan Devya mengepal kala Alcar mengatakan dirinya memperalat cowok ini, sebenarnya apa sih masalah Alcar pada Devya? Gadis itu tak paham lagi dengan jalan pikiran Alcar
"Gue mau pulang sendiri." kata Devya hendak melangkah pergi
"Terus nanti Lo bilang ke nyokap gue bahwa Lo pulang sendirian dan gue nggak mau nganterin Lo, ya kan?" tanya Alcar sinis
"Gue udah hapal watak Lo, Dev. Nggak usah nyari-nyari kesalahan gue," kata Alcar dingin
"Lebih baik Lo ngaca, cari kesalahan Lo di sana dan perbaiki bukan malah bikin makin rumit keadaan gue." kali ini Alcar seolah berkata bahwa dia sangat-sangat membenci Devya
Devya menatap Alcar dengan tangan terkepal kuat bahkan kukunya pun menembus kulit telapak tangannya
"Gue udah muak sama semua kebohongan Lo Dev." kata Alcar menatap Devya dingin
"Gue mau pulang." kata Alcar kemudian menjalankan motornya hendak keluar gerbang kampus
"Lo kalau mau pulang bisa sendiri. Gue udah muak sama Lo." kata Alcar lagi kemudian dia pergi
Benar-benar meninggalkan Devya yang masih menatap kosong ke depan, membayangkan betapa sial hidupnya di dalam tubuh gadis ini
Dan yang paling sial lagi, betapa di bencinya ia oleh seorang pria yang seharusnya menjadi tokoh utama dalam kehidupan Devya
__ADS_1