
Aleta memandangi gadis itu dengan sangat teliti. Kakinya menempel di lantai, kulitnya putih bersih bukan putih pucat.
Sepertinya memang dia manusia.
" hai, iya tak apa. Siapa namamu?" Tanya Aleta dengan nada hambar area masih terkejut.
" Aku Salia." Jawabnya singkat.
Setelah kejadian itu keduanya nampak terlihat akrab. Setiap Aleta pulang dari kampus, Salia selalu temani Aleta dalam kamarnya. Mereka berbincang bincang. Salia sangat memahami sejarah.
Terutama saat indonesia ada di jaman belanda. Hingga tahunnya pun Salia hapal di luar kepala. Wajar saja, Salia keturunan belanda. Ayahnya adalah seorang belanda yang bekerja di indonesia, ibunya suku pribumi. Wajahnya bisa di bilang sempurna. Cantik luar dan dalam.
Benerapa minggu berlalu, Aleta mulai merasakan ada yang aneh di rumah kos ini. Ia merasa seakan akan hanya dirinya, nyonya Ramses, dan salia yang tinggal di sana. Karena ia selalu menemukan kos dalam keadaan sepi. Tak ada suara riuh khas kos perempuan. Sampai pada suatu malam saat ia dan salia tengah asik menikmati green tea di kamar Aleta.
"Sal, apa kamu kenal dengan penghuni yang lain?"
" hah? Oh kenal tapi aku jarang berinteraksi dengan mereka. Kenapa Leta?"
" tidak apa, hanya heran sejak awal datang aku hanya melihatmu dan nyonya Ramses."
" kau harus terbiasa dengan kondisi sepi. Seperti aku."
Aleta diam, ia masih penasaran mengapa kos ini nampaknya amat sangat hening. Ia berniat besok saat libur kuliah ia akan menyambangi kamar penghuni lainnya untuk berkenalan.
Hari yang di tunggu tunggu tiba, Aleta mengetuk setiap pintu. Namun baru saja ia sampai pintu ketiga, nyonya Ramses mendekatinya tiba tiba.
" sedang apa Aleta?"
__ADS_1
" emh.. ini.. anu eh saya ingin berkenalan dengan mereka nyonya." Jawab Aleta terbata.
" mereka semua sedang dalam masa liburan. Beberapa ada yang pulang kerumah, sebagian lagi ada yang menginap di luar kota."
" oh begitu, sudah berapa lama nyonya?"
" sudah dua bulan. Apa kau merasa kesepian?"
" tidak juga, hanya saja saya merasa asing dengan lingkungan yang sepi."
" hanya belum terbiasa. Lama lama kau juga akan menikmati berapa indahnya kesunyian."
Aleta pun mengangguk. Ia berjalan kembali ke kamar. Wajah nyonya Ramses jauh dari kata bersahabat. Begitu kaku. Di dalam kamar Aleta mulai membuka buku koleksinya yang rata rata ber genre horror.Sampai akhirnya ada sebuah buku yang sama sekali tak ia kenali. Ia merasa sangat asing dengan covernya. Sebuah tangan besar mencengkram tubuh manusia berukuran kecil.
Aleta mulai membuka halaman demi halaman. Aleta menikmati tiap kalimatnya. Ia terus membaca, sampai halaman tengah aa sebuah mantra.
Mantra tersebut menuliskan bagaimana agar kita bisa merasakan bagaimana menikmati hidup dalam kegelapan seperti hantu hantu yang bergentayangan. Intinya mantra itu bisa membuat kita merasakan bagaimana menjadi makhluk ghaib.di situ di tuliskan bahwa si pembaca mantra harus ikhlas. Tak boleh menyimpan dendam dan penyesalan.
Aleta mulai tertarik denganmantra tersebut,dan ia ingin mencobanya.
Aleta duduk bermeditasi. Ia sedang mengosongkan hati dan pikirannya. Kemudian Aleta mulai membaca mantra tersebut.
Lepas aku dari bumi, biar aku melayang dengan jasad hilang
Ruang ruang sunyi gelap dan angin jahat
__ADS_1
Tak biarkan mata awam
Menangkap bayanganku
Hanya yang sama yang mampu menjadi kawanku
Hilang aku bersama aromaku tanpa jejak tanpa salam
Kembali aku bukan kepadanya tapi pada mereka yang memintaku
Aku lepas napas dan napsuku
Untuk permulaan dalam kegelapan
Perlahan dengan hitungan yang pasti ia membaca dengan hati hati. Sampai di kalimat terakhir. Aleta mulai merasakan kepalanya berat. Pandangannya mulai kabur. Sampai kemudian , " jlebb" ia pun tertidur.
Aleta terkejut , ia sudah berbaring di atas ranjang. Ia ingat betul bahwa tadi ia sedang duduk di lantai dengan sebuah buku asing berisikan mantra. Aleta turun dari pembaringannya. Ia mencoba mencari cari keberadaan buku tersebut. Namun tak juga di temukannya benda itu.
Aleta beranjak keluar dari kamar. Mencoba mencari Salia. Otaknya langsung mengatah kepada gadis itu karena selama ini yang bisa keluar masuk kamarnya hanyalah Salia. Namun baru saja tangan mungilnya ingin membuka pintu ia menghentikan langkahnya. Aleta baru ingat bahwa selama ini Salia tak pernah memberitahukan di mana kamarnya. Apa mungkin ia harusmengetuk ke 49 kamar yang ada?
Gagang pintu di tarik, benerapa langkah keluar dari kamar ia begitu terkejut. Bangunan ini tak lahi sepi. Banyak gadis gadis berpakaian mirip Salia nampak asik berbincang bincang di depan kamar, ada pula yang asik membaca buku.mereka semua berwajah indo. Aleta melongok ke lantai bawah. Di taman ia bisa melihat beberapa gadis asik bermain ayunan, walaupun hari sudah gelap namun wajah mereka masih terlihat jelas lewat bantuan lampu taman yang sudah di nyalakan.
" mungkin mereka sudah kembali dari liburannya.Aku tanyakan saja pada mereka di mana kamar Salia."
Ucapnya dalam hati.
Next\>\>\>\>\>
__ADS_1