
Aleta mulai menyapa salah satu seorang gadis, ia nampak lebih cantik dari Salia. Bulu matanya lentik, warna mata nya hijau,kulitnya sedikit berbintik, bibirnya merah merona, rambutnya yang keriting di biarkan berurai,
Tersemat jepitan bunga keci di kepala bagian kanan atas.
" hai,aku Aleta. Boleh berkenalan?"
" hai, viena namaku. Kau nampak kebingungan?"
" ah.. iyaa aku mencari seseorang"
"Siapa? Bolehkah aku tau?"
" Salia"
"Salia? Salia van wirgh? Dia ada di kamar 66"
Setelah mengucapkan terimakasih, Aleta langsung pergi meninggalkan viena dan benerapa temannya. Ia berusaha mencari kamar kamar yang di maksud . Sesampainya di sana Aleta melihat sebuah pintu kayu bernomor 66.
__ADS_1
" ini dia"
Aleta mengetuknya. Tak ada jawaban sama sekali. Berkali kali di ketuk masih juga tak ada jawaban. Aleta pun memberanikan diri membuka pintu kamar itu sendiri lalu menutupnya kembali m, sangat hati hati hingga tak menimbulkan suara sedikit pun. Lampu kamar ini sangat redup. Dan ada yang berbeda dari ruangan ini, tempat tidurnya di batasi sebuah sekat, dan itu tak di miliki Aleta di kamarnya. Jadi saat masuk ke kamar, orang akan melihat meja kecildan dua kursi kayu terlebih dahuku. Sebuah meja kecil berbentuk persegi nampak penuh dengan foto foto Salia.
Semua foto nya berwarna hitam putih. Salia berpose macam macam. Ada yang sendiri da apula yang bersama kedua orang tuanya. Sebuah lemari besi berkarat mirip yang ada di kamarnya nampak terbuka.
Kaki Aleta berjalan mendekati lemari. Matanya ingin sekali melihat isi di dalamnya. Ia melihat sejumlah baju ala noni belanda tergantung di sana. Namun warnanya sangat lusuh, bahkan kecoklatan. Aleta mencoba menyentuhnya.ia terkejut, ini seperti baju baju puluhan tahun yang sudah tidak layak di pakai. Begitu rapuh. Di beberapa bagian sudah bolong, mungkin di makan tikus. Di bagian bawah lemari sudah banyak rayap. " mana mungkin Salia membiarkan lemarinya seperti ini?" Pikir Aleta.
Jantung Aleta berdegup kencang namun kakinya terus ingin berjalan mengatah ke tanjang di baik sekat. Ia yakin salia tengah tidur di sana. Aleta berjalan perlahan.
" Sa..Salia???"
Ditambah lahi wajah cantik salia benar benar terbias di wajah itu" apa ini mamanya?" Atau neneknya? Oh tuhan ada apa ini?" Aleta berharap ini semua hanya mimpi. Namun ia tak ingin mengakhiri ini, ia masih menikmati permainan jamtungnya. Perasaan ini yang tak lernah ia temukan saat ia membaca buku buku horror yang sama sekali tak memacu adrenalin.
Aleta mengelus tangan orang yang berbaring itu. Ia merasakan tubuh itu begitu dingin. Ia mengelus pipi yang hanya terbalut kulit keriput itu. Tanpa di sangka kedua mata perempuan itu terbuka. Aleta tak mampu berkata kata. Mulutnya bungkam. Wanita itu bangun dari tidurnya. Suara sendi seperti orang sedang meregangkan otot terdengar jelas. Perempuan itu membuka mulutnya. Jelas terlihat bibir keriputnya sudah mengelupas. Jejeran giginya menghitam. Namun ia masih terlihat cantik.
" Aleta"
__ADS_1
"Sa.. Salia? Apa kau Salia?"
" siapa yang membawamu kesini?"
"Seseorang mengatakan padaku bahwa ini kamarmu"
" siapa? Apakah nyonya Ramses?"
" bukan! Bukan dia. Tapi seorang gadis . Kalau tidak salah ingat namanya viena."
Salia menunduk. Ia seperti ingin menangis. Aleta kasihan melihatnya.
"Aleta,maafkan aku. Harusnya kau tak sampai di sini. Kau pasti sudah melihat mereka bukan?
" mereka? Mereka siapa?
" gadis gadis yang ada di bangunan ini"
__ADS_1
"
Iya, tapi tunggu! Kau harus menjawab dulu pertanyaanku.